BAB 41 | "Struktur Kedamaian"
Air laut di Teluk Emas terasa begitu tenang, seolah-olah baru saja menelan semua rahasia gelap yang selama ini menghantui mereka. Sisa-sisa pendar biru dari tubuh Dina menghilang sepenuhnya di bawah permukaan, meninggalkan lingkaran riak kecil yang perlahan merata dengan samudera. Di kejauhan, perahu kecil yang membawa Nadia, Bram, dan Maya menjauh dengan berat hati, ditarik oleh arus yang dipaksakan oleh takdir.
Bab 41: Struktur Kedamaian
Adit berdiri di air setinggi dada. Dinginnya air laut meresap ke dalam tulang, namun ia tidak bergeming. Tangannya masih terasa dingin, bekas genggaman terakhir Dina seolah masih membekas di kulitnya. Ia menatap ke kedalaman air yang kini benar-benar gelap. Tidak ada lagi suara denging, tidak ada lagi frekuensi yang menyakitkan. Hanya ada kesunyian yang jujur.
"Din... kalau lu denger gue," bisik Adit, suaranya parau tertiup angin fajar. "Gue bakal pastiin mereka bertiga sampai ke rumah. Gue bakal jadi 'arsitek' buat kehidupan mereka yang baru, meskipun tanpa gue di dalamnya."
Di atas perahu, Nadia ambruk. Ia tidak lagi menangis dengan suara keras; tangisannya telah habis diubah menjadi kehampaan. Ia menatap telapak tangannya sendiri.
Sebagai mahasiswi kedokteran, ia terbiasa memegang kendali atas hidup dan mati, setidaknya di atas meja praktik. Namun hari ini, ia belajar bahwa ada beberapa kehidupan yang hanya bisa diselamatkan dengan cara melepaskannya.
Bram terus mendayung, meskipun bahunya terasa seperti akan lepas dari engselnya. Matanya tertuju lurus ke depan, ke arah dermaga utama yang mulai terlihat samar-samar. Ia tidak berani menoleh ke belakang, karena ia tahu, jika ia melihat Adit sendirian di tengah air, pertahanannya akan hancur.
"May, jangan liat ke belakang," kata Bram, suaranya sangat berat dan sangat dewasa. "Kalau lu liat, lu nggak bakal sanggup buat jalanin hari esok."
Maya mengangguk pelan, kepalanya tertunduk lesu. Ia memegang botol parfum kecil yang ia temukan di tasnya, parfum yang dulu ia pakai untuk menarik perhatian teman-temannya saat nongkrong di kafe mahal Jakarta. Ia membuka tutupnya dan menuangkan seluruh isinya ke laut.
"Wangi ini buat lu, Aris. Buat lu juga, Dit. Biar kalian nggak cuma nyium bau amis air garam di sana," gumam Maya.
Adit perlahan berjalan kembali ke tepian pantai. Setiap langkahnya terasa sangat berat, seolah-olah pasir hisap sedang mencoba menahannya untuk tetap tinggal bersama kenangan teman-temannya. Adit teringat ayahnya yang selalu berkata bahwa seorang arsitek harus siap melihat bangunannya dihancurkan jika fondasinya sudah tidak lagi mampu menahan beban.
Ia menyadari bahwa liburan ini adalah "bangunan" yang ia rancang dengan buruk. Namun, di babak terakhir ini, ia berhasil merancang sebuah "struktur kedamaian". Dengan membiarkan Dina melakukan proses pembekuan parasit di bawah air, ia telah memutus sinyal terakhir yang bisa mengundang kawanan predator lain ke pemukiman manusia.
"Gue nggak bakal biarin pengorbanan Dina sia-sia," ucap Adit dalam hati. Ia melihat mobil-mobil otoritas pusat yang tadi terjebak gas tidur kini mulai menunjukkan tanda-tanda aktivitas kembali. Ia harus segera bergerak.
Nadia, di atas perahu, mulai menyadari alasan sebenarnya kenapa Adit tetap tinggal. Ia menjelaskan hal ini kepada Bram dan Maya dengan nada yang sangat emosional.
"Kalian tau kenapa Adit nyuruh kita pergi?" tanya Nadia, matanya menatap kosong ke arah riak air.
"Karena dia mau jagain Dina?" tebak Bram.
"Bukan cuma itu," jawab Nadia secara mendetail. "Adit tau kalau otoritas pusat itu nggak bakal berhenti ngejar kita kalau mereka nggak nemu 'kambing hitam'. Adit mutusin buat jadi orang yang bakal ngasih penjelasan palsu ke mereka. Dia bakal bilang kalau Dina udah meledak dan nggak ada sisa. Dia bakal nyerahin diri supaya pengejaran terhadap kita berhenti."
Nadia menarik napas panjang, mencoba menahan sesak di dadanya. "Dia arsiteknya, Bram. Dia ngerasa dia yang harus nutup pintu terakhir supaya kita benar-benar bisa pulang tanpa bayang-bayang."
Mendengar itu, Maya memeluk lututnya lebih erat. "Jadi, dia beneran mau ngorbanin masa depannya buat kita? Dia kan anak paling pinter di angkatan kita, Nad. Dia punya cita-cita bangun gedung tertinggi di Jakarta."
"Dia baru saja bangun gedung yang jauh lebih tinggi dari itu, May," sahut Bram. "Dia bangun perlindungan buat kita."
Di tepian pantai, Adit dicegat oleh Pak Hendra yang baru saja tersadar dari efek gas tidur. Pak Hendra tampak marah, namun ada raut ketakutan yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Di mana gadis itu? Di mana teman-temanmu yang lain?" raung Pak Hendra. Tangannya memegang walkie-talkie yang sudah tidak berfungsi karena gangguan frekuensi tadi.
Adit menatap Pak Hendra dengan tenang. Tatapannya begitu dewasa, hingga membuat pria paruh baya itu terdiam. "Gadis itu sudah tidak ada, Pak. Dia memilih untuk menyatu dengan apa yang kalian takuti. Dan teman-teman saya... mereka sudah hilang dibawa arus. Bapak bisa cari mereka, tapi Bapak nggak akan nemuin apa-apa selain air garam."
"Kamu akan dipenjara karena ini, Adit! Kamu menghalangi penyelidikan negara!"
"Silakan, Pak," jawab Adit sambil menyodorkan kedua tangannya untuk diborgol. "Penjara mana pun nggak akan lebih buruk daripada Pulau Seribu Hening. Setidaknya di penjara, saya tau kalau temboknya nggak bakal mencoba makan saya."
Sambil digiring menuju mobil, Adit melihat ke arah laut untuk terakhir kalinya. Ia teringat penjelasan Dina tentang bagaimana predator ini bisa mati. Ia memikirkan hal itu secara mendalam, sebuah pesan yang tidak ia katakan pada siapa pun.
Parasit itu sebenarnya adalah "memori rasa sakit". Mereka bertahan hidup dengan memakan ketakutan manusia karena ketakutan adalah bahan bakar paling stabil. Namun, ketika mereka dipaksa untuk merasakan empati dan kedamaian melalui Dina, sistem saraf mereka mengalami overload.
Mereka tidak dirancang untuk merasakan kasih sayang. Itulah kenapa Sang Pemimpin berterima kasih, ia akhirnya bisa merasakan sesuatu yang bukan rasa lapar sebelum dia lenyap.
Adit sadar bahwa penderitaan berabad-abad di Pulau Seribu Hening telah berakhir bukan karena senjata, tapi karena seorang gadis yang memilih untuk merasa kasihan daripada merasa takut.
Nadia, Bram, dan Maya berjalan menjauhi dermaga, menyusuri jalan setapak menuju jalan raya. Mereka tidak menoleh lagi. Di saku Nadia, ada sebuah kompas kecil yang diberikan Adit sebelum mereka berpisah.
Kompas itu sudah patah, jarumnya tidak menunjuk ke arah utara, melainkan berputar-putar tak tentu arah.
Namun bagi mereka, kompas yang patah itu adalah simbol kebebasan. Mereka tidak perlu lagi mengikuti arah yang ditentukan oleh orang lain atau oleh rasa takut. Mereka akan menentukan arah mereka sendiri, membawa luka dan kenangan sebelas teman mereka yang terkubur di samudera.
•••
Bab 41: Struktur Kedamaian
Adit berdiri di air setinggi dada. Dinginnya air laut meresap ke dalam tulang, namun ia tidak bergeming. Tangannya masih terasa dingin, bekas genggaman terakhir Dina seolah masih membekas di kulitnya. Ia menatap ke kedalaman air yang kini benar-benar gelap. Tidak ada lagi suara denging, tidak ada lagi frekuensi yang menyakitkan. Hanya ada kesunyian yang jujur.
"Din... kalau lu denger gue," bisik Adit, suaranya parau tertiup angin fajar. "Gue bakal pastiin mereka bertiga sampai ke rumah. Gue bakal jadi 'arsitek' buat kehidupan mereka yang baru, meskipun tanpa gue di dalamnya."
Di atas perahu, Nadia ambruk. Ia tidak lagi menangis dengan suara keras; tangisannya telah habis diubah menjadi kehampaan. Ia menatap telapak tangannya sendiri.
Sebagai mahasiswi kedokteran, ia terbiasa memegang kendali atas hidup dan mati, setidaknya di atas meja praktik. Namun hari ini, ia belajar bahwa ada beberapa kehidupan yang hanya bisa diselamatkan dengan cara melepaskannya.
Bram terus mendayung, meskipun bahunya terasa seperti akan lepas dari engselnya. Matanya tertuju lurus ke depan, ke arah dermaga utama yang mulai terlihat samar-samar. Ia tidak berani menoleh ke belakang, karena ia tahu, jika ia melihat Adit sendirian di tengah air, pertahanannya akan hancur.
"May, jangan liat ke belakang," kata Bram, suaranya sangat berat dan sangat dewasa. "Kalau lu liat, lu nggak bakal sanggup buat jalanin hari esok."
Maya mengangguk pelan, kepalanya tertunduk lesu. Ia memegang botol parfum kecil yang ia temukan di tasnya, parfum yang dulu ia pakai untuk menarik perhatian teman-temannya saat nongkrong di kafe mahal Jakarta. Ia membuka tutupnya dan menuangkan seluruh isinya ke laut.
"Wangi ini buat lu, Aris. Buat lu juga, Dit. Biar kalian nggak cuma nyium bau amis air garam di sana," gumam Maya.
Adit perlahan berjalan kembali ke tepian pantai. Setiap langkahnya terasa sangat berat, seolah-olah pasir hisap sedang mencoba menahannya untuk tetap tinggal bersama kenangan teman-temannya. Adit teringat ayahnya yang selalu berkata bahwa seorang arsitek harus siap melihat bangunannya dihancurkan jika fondasinya sudah tidak lagi mampu menahan beban.
Ia menyadari bahwa liburan ini adalah "bangunan" yang ia rancang dengan buruk. Namun, di babak terakhir ini, ia berhasil merancang sebuah "struktur kedamaian". Dengan membiarkan Dina melakukan proses pembekuan parasit di bawah air, ia telah memutus sinyal terakhir yang bisa mengundang kawanan predator lain ke pemukiman manusia.
"Gue nggak bakal biarin pengorbanan Dina sia-sia," ucap Adit dalam hati. Ia melihat mobil-mobil otoritas pusat yang tadi terjebak gas tidur kini mulai menunjukkan tanda-tanda aktivitas kembali. Ia harus segera bergerak.
Nadia, di atas perahu, mulai menyadari alasan sebenarnya kenapa Adit tetap tinggal. Ia menjelaskan hal ini kepada Bram dan Maya dengan nada yang sangat emosional.
"Kalian tau kenapa Adit nyuruh kita pergi?" tanya Nadia, matanya menatap kosong ke arah riak air.
"Karena dia mau jagain Dina?" tebak Bram.
"Bukan cuma itu," jawab Nadia secara mendetail. "Adit tau kalau otoritas pusat itu nggak bakal berhenti ngejar kita kalau mereka nggak nemu 'kambing hitam'. Adit mutusin buat jadi orang yang bakal ngasih penjelasan palsu ke mereka. Dia bakal bilang kalau Dina udah meledak dan nggak ada sisa. Dia bakal nyerahin diri supaya pengejaran terhadap kita berhenti."
Nadia menarik napas panjang, mencoba menahan sesak di dadanya. "Dia arsiteknya, Bram. Dia ngerasa dia yang harus nutup pintu terakhir supaya kita benar-benar bisa pulang tanpa bayang-bayang."
Mendengar itu, Maya memeluk lututnya lebih erat. "Jadi, dia beneran mau ngorbanin masa depannya buat kita? Dia kan anak paling pinter di angkatan kita, Nad. Dia punya cita-cita bangun gedung tertinggi di Jakarta."
"Dia baru saja bangun gedung yang jauh lebih tinggi dari itu, May," sahut Bram. "Dia bangun perlindungan buat kita."
Di tepian pantai, Adit dicegat oleh Pak Hendra yang baru saja tersadar dari efek gas tidur. Pak Hendra tampak marah, namun ada raut ketakutan yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Di mana gadis itu? Di mana teman-temanmu yang lain?" raung Pak Hendra. Tangannya memegang walkie-talkie yang sudah tidak berfungsi karena gangguan frekuensi tadi.
Adit menatap Pak Hendra dengan tenang. Tatapannya begitu dewasa, hingga membuat pria paruh baya itu terdiam. "Gadis itu sudah tidak ada, Pak. Dia memilih untuk menyatu dengan apa yang kalian takuti. Dan teman-teman saya... mereka sudah hilang dibawa arus. Bapak bisa cari mereka, tapi Bapak nggak akan nemuin apa-apa selain air garam."
"Kamu akan dipenjara karena ini, Adit! Kamu menghalangi penyelidikan negara!"
"Silakan, Pak," jawab Adit sambil menyodorkan kedua tangannya untuk diborgol. "Penjara mana pun nggak akan lebih buruk daripada Pulau Seribu Hening. Setidaknya di penjara, saya tau kalau temboknya nggak bakal mencoba makan saya."
Sambil digiring menuju mobil, Adit melihat ke arah laut untuk terakhir kalinya. Ia teringat penjelasan Dina tentang bagaimana predator ini bisa mati. Ia memikirkan hal itu secara mendalam, sebuah pesan yang tidak ia katakan pada siapa pun.
Parasit itu sebenarnya adalah "memori rasa sakit". Mereka bertahan hidup dengan memakan ketakutan manusia karena ketakutan adalah bahan bakar paling stabil. Namun, ketika mereka dipaksa untuk merasakan empati dan kedamaian melalui Dina, sistem saraf mereka mengalami overload.
Mereka tidak dirancang untuk merasakan kasih sayang. Itulah kenapa Sang Pemimpin berterima kasih, ia akhirnya bisa merasakan sesuatu yang bukan rasa lapar sebelum dia lenyap.
Adit sadar bahwa penderitaan berabad-abad di Pulau Seribu Hening telah berakhir bukan karena senjata, tapi karena seorang gadis yang memilih untuk merasa kasihan daripada merasa takut.
Nadia, Bram, dan Maya berjalan menjauhi dermaga, menyusuri jalan setapak menuju jalan raya. Mereka tidak menoleh lagi. Di saku Nadia, ada sebuah kompas kecil yang diberikan Adit sebelum mereka berpisah.
Kompas itu sudah patah, jarumnya tidak menunjuk ke arah utara, melainkan berputar-putar tak tentu arah.
Namun bagi mereka, kompas yang patah itu adalah simbol kebebasan. Mereka tidak perlu lagi mengikuti arah yang ditentukan oleh orang lain atau oleh rasa takut. Mereka akan menentukan arah mereka sendiri, membawa luka dan kenangan sebelas teman mereka yang terkubur di samudera.
•••
Other Stories
Mewarnai Bawah Laut
ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...
Wajah Tak Dikenal
Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...
Dream Analyst
Frisky, si “Dream Analyst”, bersama teman-temannya mengalami serangkaian kejadian meny ...
After Meet You
kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...
Kau Bisa Bahagia
Airin harus menikah dalam 40 hari demi warisan ayahnya, namun hatinya tetap pada Arizal, c ...