The Last Escape

Reads
5.9K
Votes
486
Parts
46
Vote
Report
The last escape
The Last Escape
Penulis Ezafareza

BAB 44 | "Frekuensi Yang Tertanam"

Kamar kosan itu terasa sempit, pengap, dan dipenuhi oleh keheningan yang menyesakkan. Nadia duduk di tepi kasurnya, menatap sebuah botol plastik berisi sampel air laut yang sempat ia ambil secara tidak sadar saat di sekoci. Lampu kamar yang berpijar kuning redup membuat bayangan benda-benda di sekitarnya tampak memanjang dan mendistorsi kenyataan.


Bab 44: Frekuensi yang Tertanam


Nadia merasa ada yang salah dengan indranya. Sejak menyentuh tangan Dina untuk terakhir kalinya, pendengarannya menjadi terlalu tajam. Ia bisa mendengar detak jantung ibu kos yang sedang menonton TV di lantai bawah, ia bisa mendengar gesekan kecoa di balik lemari, dan yang paling mengerikan, ia bisa mendengar denyut nadinya sendiri yang terdengar seperti ketukan logam yang berirama.

"Gue nggak boleh gila," bisik Nadia pada dirinya sendiri. Tangannya yang gemetar meraih stetoskop lamanya. Ia menempelkan alat itu ke dadanya sendiri.

Deg... deg... ting.

Nadia tersentak. Ada bunyi denting tipis di setiap akhir detak jantungnya. Bunyi itu bukan berasal dari jantung manusia normal. Itu adalah frekuensi. Frekuensi yang sama dengan yang dipancarkan oleh Dina sebelum ia menyelam ke dasar Teluk Emas.

Ia segera mengambil ponselnya dan menelepon Bram.

"Halo, Bram? Lu ngerasain sesuatu yang aneh nggak?" tanya Nadia tanpa basa-basi. Suaranya pecah, penuh ketakutan yang dewasa, bukan lagi ketakutan anak kecil yang melihat hantu, tapi ketakutan seorang calon dokter yang tahu bahwa tubuhnya sedang dikhianati oleh selnya sendiri.

Di seberang telepon, suara Bram terdengar berat. "Nad... gue baru mau telepon lu. Gue lagi di dapur kosan. Gue nggak sengaja nyenggol pisau daging, dan pisaunya kena tangan gue."

"Terus? Lu luka parah?"

"Masalahnya itu, Nad. Darah gue... warnanya bukan merah pekat lagi. Ada kilauan biru tipis. Dan lukanya... lukanya nutup sendiri dalam hitungan detik. Gue takut, Nad. Gue bener-bener takut kita bawa 'oleh-oleh' dari Pulau Seribu Hening."

Sementara itu, di kamar kosannya yang jauh lebih mewah dan rapi, Maya sedang duduk di depan meja rias. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Maya selalu dikenal sebagai "si cantik yang tangguh" di antara teman-temannya. Ia adalah anak seorang pejabat daerah yang selalu dituntut untuk tampil sempurna dan tanpa cela.

Namun malam ini, Maya tidak mengenali wajah di cermin itu. Ia melihat ada garis-garis halus berwarna kebiruan yang merayap di bawah kulit lehernya, tepat di tempat di mana Adit sempat memegangnya untuk menenangkannya di sekoci.

Maya mengambil lipstik merah kesukaannya dan mencoba memoles bibirnya, namun tangannya terus bergoyang. "Aris... kalau lu liat gue sekarang, lu pasti bakal bilang gue mirip zombi di film-film murahan," gumam Maya sambil tertawa getir.
Ia teringat betapa Aris sangat mencintai garis rahangnya. Kini, rahang itu terasa kaku. Maya menyadari satu hal yang selama ini ia sembunyikan dari semua orang: ia sebenarnya sangat benci menjadi pusat perhatian.

Alasan dia selalu tampil mewah adalah agar orang hanya melihat "permukaannya" saja, bukan kesepian yang ada di dalamnya. Dan sekarang, monster di dalam tubuhnya mulai memakan permukaan itu.

Adit selalu menjadi misteri bagi mereka semua. Dialah yang mengorganisir liburan ini. Dialah yang menemukan peta kuno itu. Sambil menatap garis biru di lehernya, Maya teringat percakapan rahasia antara Adit dan Tora di malam kedua, saat semua orang sudah tidur di pinggir api unggun.

Adit saat itu memegang sebuah batu kecil berwarna hitam yang bergetar. "Ini kunci buat buka gerbang ketenangan, Tor. Lu mau kan ngerasain kekuatan yang nggak pernah lu dapet di gym?" kata Adit dengan nada yang sangat rendah, hampir seperti orang yang sedang kerasukan.

Maya saat itu tidak mengerti. Ia pikir itu cuma candaan cowok-cowok yang sudah kebanyakan minum kopi. Tapi sekarang, Maya tersadar. Adit bukan hanya korban. Adit adalah "pembuat jalan".
"Dit... apa yang lu lakuin ke kita?" bisik Maya dengan ekspresi yang penuh luka dan pengkhianatan.

Nadia, dengan sisa-sisa pemikiran logisnya, mulai menuliskan catatan di buku harian kedokterannya. Ia mencoba merangkai potongan informasi secara sangat mendetail tentang kenapa mereka tiga orang yang tersisa mulai mengalami perubahan fisik yang aneh.

"Ini bukan virus," tulis Nadia. "Ini adalah radiasi."

Ia menjelaskan secara mendalam bahwa predator di Pulau Seribu Hening tidak menyebarkan penyakit melalui kuman, tapi melalui frekuensi suara dan sentuhan. Ketika Dina berubah menjadi "jembatan", ia memancarkan gelombang yang mengubah struktur protein dalam tubuh orang-orang di sekitarnya.

Adit adalah yang paling lama terpapar karena dia yang paling dekat dengan Dina. Bram terpapar melalui darah predator yang sering mengenai lukanya saat bertarung. Maya terpapar melalui kontak kulit yang intens di sekoci.

"Predator ini cerdas," gumam Nadia sambil menulis. "Mereka tahu kalau mereka mati di laut, mereka butuh inang baru untuk kembali ke daratan. Dan inang itu adalah kami. Kami bukan cuma penyintas. Kami adalah bibit yang sedang menunggu musim untuk tumbuh."

Nadia menyadari kenapa pemimpin predator itu berterima kasih. Dia bukan hanya berterima kasih karena bisa mati, tapi karena akhirnya dia berhasil memindahkan "beban hidup abadi" itu ke pundak generasi yang baru.

Keesokan paginya, sesuai kesepakatan lewat telepon, Bram, Nadia, dan Maya bertemu di sebuah sudut taman kota yang sepi. Mereka memakai baju tertutup, syal, dan kacamata hitam, meski cuaca Jakarta sangat terik.

"Liat kita," ucap Bram sambil mencoba duduk di bangku taman. "Kita kayak agen rahasia yang lagi kena penyakit kusta."

"Atau kayak orang banyak utang yang lagi berusaha sembunyi dari tagihan hutang," timpal Maya, berusaha mempertahankan humor sinisnya meski wajahnya tampak sangat pucat.

Nadia tidak tertawa. Ia menatap kedua temannya dengan serius. "Gue udah analisis semuanya. Kita nggak punya banyak waktu. Frekuensi di dalam tubuh kita makin kencang. Kalau kita nggak balik ke sumbernya, kita bakal meledak atau berubah total di tengah kota Jakarta ini."

"Balik ke sumbernya? Maksud lu... kita harus balik ke Pulau Seribu Hening?" tanya Bram dengan nada yang sangat emosional. "Setelah semua teman kita mati di sana? Setelah Aris, Rico, Lala... semuanya jadi santapan? Lu mau kita balik ke sana?"

"Bukan buat liburan, Bram," jawab Nadia tegas. "Tapi buat matiin sumbernya. Adit masih ada di sana. Gue yakin dia nggak dipenjara. Itu cuma tipuan dia supaya kita pergi. Adit pasti lagi nunggu kita buat nyelesein apa yang dia mulai."

Tiba-tiba, ponsel mereka bertiga bergetar secara bersamaan. Ada sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak dikenal. Pesannya hanya berupa koordinat lokasi dan satu kalimat pendek:
"Struktur ini belum selesai. Arsitek butuh fondasinya kembali. Datang ke dermaga tua jam dua pagi."

"Itu gaya bahasa Adit," ucap Maya, tangannya bergetar hebat hingga ponselnya hampir jatuh. "Suaranya... gue bisa denger suara Adit di dalem kepala gue pas gue baca pesan ini."

Bram mengepalkan tinjunya. "Ini jebakan. Adit yang kita kenal udah nggak ada. Yang ada cuma sisa-sisa predator yang minjem tubuh dia."

"Justru itu, Bram," sahut Nadia dengan empati yang mendalam. "Kita harus selametin Adit. Kalau dia berubah jadi monster yang lebih kuat dari pemimpin sebelumnya, dunia ini bakal jadi Pulau Seribu Hening yang super besar."

Sambil mereka bersiap untuk berangkat kembali, Nadia menceritakan satu detail terakhir yang ia temukan dari catatan kuno yang sempat ia curi dari meja Pak Hendra di kamp pengasingan.

"Ternyata, predator itu bukan alien, Bram, May. Mereka adalah hasil dari eksperimen manusia berabad-abad lalu yang pengen hidup abadi," jelas Nadia secara mendetail. "Mereka nemuin zat di pulau itu yang bisa bikin sel terus membelah tanpa henti. Tapi harganya adalah hilangnya rasa kemanusiaan dan munculnya rasa lapar yang abadi."

"Jadi pemimpin predator itu sebenernya adalah korban pertama?" tanya Maya.

"Iya. Dan dia nunggu Adit. Dia nunggu seseorang yang punya otak cerdik buat jadi pengganti dia yang lebih sempurna. Adit bukan dijebak, Adit sengaja menyerahkan diri karena dia ngerasa itu satu-satunya cara buat jagain kita. Tapi dia salah. Dengan dia jadi pemimpin baru, dia malah bikin kita makin terikat sama pulau itu."

Malam itu, Jakarta tampak sangat gelap bagi mereka bertiga. Mereka menyewa sebuah kapal nelayan kecil dengan sisa uang yang mereka punya. Saat kapal itu mulai membelah ombak menjauhi gemerlap lampu kota, mereka melihat ke arah cakrawala.

Di kejauhan, ada sebuah pendar biru raksasa yang muncul dari arah laut lepas, seolah-olah ada matahari kedua yang terbit dari bawah air.

"Hanya tersisa kita bertiga," bisik Bram. "Biasanya cuma satu orang yang akan selamat di ending, kan? Itu yang sering dibilang Adit pas kita main game horor dulu."

"Jangan ngomong gitu, Bram," tegas Nadia. "Kita bakal survive bareng-bareng."

•••




Other Stories
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara

Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...

Kado Dari Dunia Lain

"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...

Bumi

Seni mencintai terkadang memang menyenangkan, tetapi tak selamanya berada dalam titik mani ...

Akibat Salah Gaul

Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Pahlawan Revolusi

tes upload cerita jgn di publish ...

Download Titik & Koma