The Last Escape

Reads
5.9K
Votes
486
Parts
46
Vote
Report
The last escape
The Last Escape
Penulis Ezafareza

BAB 45 | "Fondasi Terakhir" (TAMAT)

Gelombang laut menghantam lambung kapal nelayan tua itu dengan irama yang terdengar seperti detak jantung raksasa yang sedang sekarat. Di ufuk timur, Pulau Seribu Hening tidak lagi terlihat seperti surga tropis yang mereka datangi dengan tawa di bab-bab awal. Sekarang, pulau itu tampak seperti tumpukan tulang belulang hitam yang menyembul dari perut samudera, diselimuti kabut biru tipis yang bergetar.

Bab 45 : Fondasi Terakhir (Tamat)

Nadia berdiri di haluan, tangannya mencengkeram erat pagar kayu yang sudah lapuk. Ia bisa merasakan frekuensi itu semakin kuat, sebuah dengung di belakang kepalanya yang memberitahu bahwa sang "Arsitek" sedang menunggu. Di belakangnya, Bram sedang memeriksa sisa bahan bakar minyak dan beberapa botol gas yang mereka curi dari gudang pelabuhan. Sementara Maya, dengan tatapan mata yang sudah tidak lagi mengenal rasa takut, sedang mengasah parang panjangnya.

"Gue nggak pernah nyangka kita bakal balik ke tempat ini," suara Bram memecah kesunyian. Suaranya terdengar sangat dewasa, tanpa ada lagi jejak keceriaan mahasiswa yang dulu suka pamer otot di lapangan basket.

"Kita nggak balik buat liburan, Bram," sahut Maya tanpa menoleh. "Kita balik buat ngebakar kenangan kita sendiri."

Nadia menarik napas panjang, udara laut yang masuk ke paru-parunya terasa tajam, seperti mengandung serpihan kaca. "Adit nggak di sana sendirian. Seluruh kawanan yang tersisa, semua bibit yang baru, semuanya berkumpul di titik tengah pulau. Mereka nunggu satu sinyal untuk menyebar. Kalau kita nggak matiin sinyal itu sekarang, Jakarta cuma tinggal nunggu waktu."

Di tengah pulau, di dalam sebuah gua alami yang dindingnya dilapisi oleh kristal biru yang tumbuh dari sisa-sisa metabolisme predator selama berabad-abad, Adit duduk diam.

Ia tidak lagi memakai baju manusia. Kulitnya sudah berubah menjadi lapisan keras berwarna perak kebiruan, namun wajahnya tetap wajah Adit. Matanya yang kini biru neon menatap lurus ke arah kegelapan.

Adit ingat saat dia masih kecil, selalu ingin membangun sesuatu yang abadi. Dia menjadi arsitek karena dia benci melihat segala sesuatu runtuh. Dan sekarang, dia menjadi arsitek bagi sebuah ras yang sudah ada sebelum manusia mengenal aksara. Predator ini bukanlah alien dari bintang yang jauh, mereka adalah manusia yang ribuan tahun lalu menemukan rahasia untuk tidak pernah mati, namun mereka lupa cara untuk memiliki perasaan.

"Kalian datang..." suara Adit menggema di dalam kepala Nadia, Bram, dan Maya saat kapal mereka merapat ke pantai pasir putih yang kini tampak kelabu.

Mereka bertiga melompat ke pantai. Tidak ada sambutan cakar atau taring. Seluruh predator yang tersisa berdiri mematung di antara pohon-pohon kelapa, kepala mereka tertunduk ke arah Adit.

"Kita punya waktu sepuluh menit sebelum mereka sadar kalau kita datang buat ngebunuh mereka, bukan buat gabung," bisik Nadia. Ia mengeluarkan sebuah alat pemancar frekuensi sederhana yang ia rakit menggunakan sisa komponen radio kapal.
"Bram, Maya, kalian tahu apa yang harus dilakuin," perintah Nadia.

Bram mulai menyiramkan minyak ke sekeliling area pusat sarang yang berbentuk lingkaran sempurna itu. Ini adalah struktur yang paling cerdik. Mereka tidak menyerang secara frontal. Mereka memanfaatkan kelemahan predator itu sendiri: ketergantungan pada pemimpin.

Jika sang pemimpin merasakan panas yang luar biasa secara tiba-tiba, seluruh kawanan akan mengalami shock syaraf karena mereka terhubung dalam satu jaringan pikiran.

Di tengah keseriusan itu, Bram sempat menoleh ke arah Maya yang sedang memasang sumbu ledak.
"May, kalau ini beneran hari terakhir kita... gue mau jujur. Gue sebenernya yang ngerusak jam tangan mahal lu pas kita semester dua dulu," ucap Bram dengan senyum kecil yang sangat getir.

Maya berhenti sejenak, menatap Bram dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh kasih. "Gue udah tahu, Bram. Gue cuma pengen denger lu ngaku aja sebelum kita mati atau jadi pahlawan. Lu emang payah kalau urusan bohong."

"Makasih ya, udah mau temenan sama cowok payah kayak gue," balas Bram.

Nadia hanya bisa tersenyum sedih melihat mereka. "Cukup drama-nya, kalian berdua. Kita punya satu arsitek yang harus kita ajak 'pensiun'."

Saat mereka merangsek masuk ke dalam gua, Adit berdiri. Ia menatap mereka dengan tatapan yang sangat dalam. Ia menjelaskan secara mendetail kenapa ini harus berakhir dengan pengorbanan.

"Nadia, kamu benar tentang resonansi itu," kata Adit, suaranya kini terdengar sangat lelah. "Tapi kamu salah satu hal. Parasit ini nggak bisa mati cuma dengan dibakar. Mereka butuh wadah yang mau mengunci mereka di dalam satu tubuh, lalu menghancurkan tubuh itu secara total dari dalam."
"Gue bakal jadi wadah itu, Dit! Lepasin mereka!" teriak Bram.

"Nggak bisa, Bram. Kamu terlalu kuat secara fisik, tapi mentalmu masih punya celah amarah. Maya terlalu rapuh dalam sedihnya. Cuma ada satu orang yang frekuensi otaknya cukup stabil untuk menahan ribuan kesedihan predator ini tanpa menjadi gila," Adit menatap Nadia.

Nadia menyadari pesan tersirat dari tatapan Adit. Ini bukan soal siapa yang paling berani, tapi soal siapa yang paling mampu memikul beban tanpa rasa benci.

"Terima kasih sudah datang, teman-teman," ucap Adit. "Pemimpin lama benar, kematian adalah hadiah terindah yang pernah ada. Dan hari ini, saya mau kasih hadiah itu ke kalian semua... dan ke diri saya sendiri."

Adit memicu frekuensi di tubuhnya. Kristal-kristal di dalam gua mulai pecah. Seluruh kawanan predator di luar gua tiba-tiba menjerit kesakitan. Mereka mulai berlari masuk ke dalam gua, mencoba melindungi pemimpin mereka, namun itu justru bagian dari rencana Adit.

"Bram! Maya! Lari ke kapal! Sekarang!" raung Nadia.

"Nggak! Kita bareng-bareng!" teriak Maya.

"LARI! INI PERINTAH DOKTER!" Nadia mendorong mereka keluar sementara langit-langit gua mulai runtuh.

Ledakan frekuensi itu tidak menghasilkan api yang besar, melainkan gelombang cahaya biru yang menyapu seluruh Pulau Seribu Hening. Dalam sekejap, seluruh predator, termasuk Adit, berubah menjadi debu halus yang tersapu angin laut. Pulau itu kembali menjadi pulau biasa, sepi, hening, dan mati.

Di atas kapal nelayan yang sudah menjauh, hanya ada satu orang yang berdiri.

Bram dan Maya tidak berhasil keluar tepat waktu dari zona radiasi frekuensi yang menghancurkan sel hidup tersebut. Mereka mati dalam pelukan satu sama lain di pintu gua, wajah mereka tampak tenang, seolah-olah mereka akhirnya menemukan liburan yang benar-benar damai.

Nadia duduk sendirian di kemudi kapal. Ia menatap ke arah pulau yang kini tenggelam dalam kegelapan malam.

Ia meraba dadanya. Bunyi denting di jantungnya sudah hilang. Ia kembali menjadi manusia biasa. Namun, di tangannya, ia memegang buku sketsa Aris yang sudah hancur, kompas patah dari Adit, dan botol parfum Maya.

Nadia memutar kemudi menuju Jakarta. Ia akan pulang. Ia akan menceritakan kebohongan yang indah kepada dunia tentang kapal yang meledak, namun ia akan menyimpan kebenaran yang pahit di dalam hatinya selamanya.

Hutan di Pulau Seribu Hening seolah bernapas bersama mereka, sebuah napas yang berat, amis, dan penuh dengan ancaman yang tak kasat mata. Cahaya bulan yang masuk melalui sela-sela daun pohon raksasa menciptakan pola-pola aneh di tanah, membuat bayangan ranting terlihat seperti jemari panjang yang siap mencengkeram pergelangan kaki siapa pun yang lengah.

Nadia berdiri di ambang pintu gua yang runtuh, debu perak sisa tubuh predator yang menguap menempel di helai rambutnya seperti salju yang terkutuk. Ia menoleh ke arah pantai, berharap melihat sosok Bram dan Maya sedang melambaikan tangan dari atas kapal nelayan. Namun, yang ia dapati hanyalah sunyi yang mutlak.

Kapal itu masih di sana, terombang-ambing tak berdaya oleh arus. Di dalam gua, di bawah reruntuhan kristal biru yang kini telah kehilangan cahayanya, ia melihat sepotong kain dari jaket Bram yang menyembul di balik bongkahan batu besar.

Di sebelahnya, tangan Maya yang kecil tampak masih menggenggam erat ujung kaos Bram. Mereka tidak menderita. Adit, dalam sisa-sisa kesadaran manusianya sebelum lenyap, telah memastikan bahwa frekuensi itu mematikan syaraf mereka secepat kilat, sebuah tindakan kasih sayang yang paling sadis.

Nadia berjalan gontai menuju tepi air. Langkah kakinya terasa berat, seolah setiap butir pasir di pulau ini memohon padanya untuk tetap tinggal dan menemani mereka yang telah terkubur.

Sambil menyeret tubuhnya ke atas kapal nelayan, Nadia mulai bicara sendiri. Suaranya serak, hampir habis karena teriakan dan tangis selama berhari-hari.

"Rico... gue menang, kan?" bisiknya sambil menatap kursi kosong di dek kapal tempat biasanya Rico duduk sambil memamerkan umpan pancingnya. "Gue menang, tapi kenapa rasanya gue pengen tuker kemenangan ini sama satu bungkus kacang goreng lu?"

Ia beralih menatap kemudi kapal. Di sana, ia seolah melihat bayangan Adit yang sedang tersenyum tipis, arsitek yang akhirnya meruntuhkan seluruh karyanya sendiri demi menyelamatkan satu nyawa.

"Lu emang cerdik, Dit. Lu tahu kalau gue yang selamat, gue bakal ceritain semuanya dengan bener. Tapi lu salah satu hal... lu pikir hidup sendirian itu hadiah? Ini hukuman, Dit. Hukuman yang paling berat."

Nadia menghidupkan mesin kapal. Suara deru mesin tua itu memecah keheningan pulau yang sudah berabad-abad terkunci dalam teror. Sambil kapal perlahan menjauh, ia melihat Pulau Seribu Hening untuk terakhir kalinya.

Secara mendetail, ia menyadari apa yang terjadi. Predator-predator itu bukan sekadar mati; mereka telah 'dikembalikan'. Dengan hancurnya pusat frekuensi di otak Adit, sel-sel abadi di dalam tubuh mereka kehilangan instruksi untuk membelah.

Mereka menua ribuan tahun hanya dalam hitungan detik. Pulau itu kini bukan lagi sarang monster, melainkan pemakaman masif yang tertutup oleh debu kalsium. Ekosistem predator itu telah punah sepenuhnya, meninggalkan rahasia tentang pencarian keabadian manusia yang berujung pada kutukan.

Nadia menemukan sebuah termos di bawah kursi kemudi. Ia membukanya, berharap ada air bersih. Ternyata, itu adalah kopi pahit milik nelayan yang mereka sewa kapalnya. Ia meminumnya satu teguk, lalu meringis.

"Pahit banget... persis kayak selera kopinya Gilang," gumamnya sambil tertawa kecil, meski air matanya jatuh ke dalam termos itu.

Tawa itu adalah sisa-sisa terakhir dari mahasiswi umur 22 tahun yang ceria. Setelah ini, yang tersisa hanyalah seorang wanita yang memikul sejarah sebelas nyawa di pundaknya.

Saat fajar benar-benar menyingsing dan garis pantai Jawa mulai terlihat di cakrawala, Nadia merasakan gatal yang luar biasa di telapak tangan kanannya. Ia membuka telapak tangannya dan membeku.

Di sana, di bawah kulitnya, ada sebuah pola kecil berbentuk garis-garis halus yang membentuk struktur sebuah bangunan, sebuah denah. Itu bukan luka, bukan juga infeksi biru. Itu adalah sebuah "pesan" yang ditinggalkan Adit saat mereka bersentuhan di dermaga kemarin.

Adit, sang arsitek sejati, tidak hanya menghancurkan pulau itu. Ia meninggalkan sebuah lokasi koordinat lain di tangan Nadia. Sebuah lokasi di mana mungkin, hanya mungkin, sisa-sisa kemanusiaan dari mereka yang terinfeksi masih bisa diselamatkan atau setidaknya diberikan penguburan yang layak secara medis.

Nadia menatap koordinat itu. Ia menyadari bahwa perannya bukan hanya sebagai penyintas. Ia adalah kurator dari sebuah tragedi yang belum sepenuhnya selesai.

Nadia mematikan mesin kapal saat jaraknya sudah cukup dekat dengan pelabuhan rakyat. Ia tidak akan merapat seperti orang biasa. Ia akan membiarkan kapal ini ditemukan, sementara ia sendiri akan menghilang ke dalam kerumunan pasar ikan, membawa rahasia besar yang akan ia simpan sampai napas terakhirnya.

Ia mengambil tas kecilnya, meninggalkan semua barang milik teman-temannya di atas kapal sebagai monumen bisu. Saat ia melompat ke dermaga kayu yang ramai dengan aktivitas nelayan pagi, ia berpapasan dengan seorang anak kecil yang sedang tertawa sambil membawa es krim.

Nadia berhenti sejenak, menatap anak itu, lalu tersenyum, sebuah senyum yang sangat tulus namun penuh rahasia.


~TAMAT~

•••








Other Stories
Balada Cinta Kamilah

Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...

Kehidupan Yang Sebelumnya

Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang b ...

Absolute Point

Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...

JEJAK SENI BUDAYA DI TANAH BADUY

Dua mahasiswa antropologi dengan pandangan yang bertolak belakang harus mengesampingkan eg ...

Tersesat

Qiran yang suka hal baru nekat mengakses deep web dan menemukan sebuah lagu, lalu memamerk ...

Download Titik & Koma