The Last Escape

Reads
5.9K
Votes
486
Parts
46
Vote
Report
Penulis Ezafareza

BAB 43 | "Sisa-Sisa Di Jakarta"

Bus kota yang membawa mereka dari bandara menuju pusat Jakarta terasa sangat asing. Padahal, hanya seminggu yang lalu mereka berebut kursi di bus yang sama dengan tawa yang memekakkan telinga. Sekarang, kursi-kursi di sekitar Bram, Nadia, dan Maya terasa sangat luas, seolah bayangan sebelas teman mereka yang lain masih duduk di sana, namun tak kasat mata.


Bab 43: Sisa-Sisa di Jakarta


Lampu jalanan Jakarta yang kuning dan temaram mulai menyapa wajah mereka lewat jendela kaca yang bergetar. Suara klakson dan deru knalpot motor yang biasanya terdengar menyebalkan, kini terasa seperti musik yang sangat mewah. Mereka kembali ke peradaban, kembali ke tempat di mana predator hanyalah sebutan untuk orang jahat di berita kriminal, bukan makhluk dengan cairan biru di punggungnya.

Bram duduk dengan tangan yang masih gemetar setiap kali bus menginjak lubang. Ia menatap telapak tangannya. Otot-ototnya masih ada, kekuatannya masih sama, tapi ia merasa seperti orang tua yang baru saja pulang dari perang yang berlangsung selama puluhan tahun.

"Gue nggak tahu harus mulai dari mana pas nyampe kosan nanti," bisik Bram. Suaranya tenggelam di antara suara mesin bus.

Nadia yang duduk di sampingnya hanya menatap kosong ke arah jalanan. Tas kedokterannya yang selalu rapi kini sudah usang dan robek. Di dalamnya tidak ada lagi stetoskop yang berfungsi, hanya ada sisa perban yang ternoda dan sebuah rahasia yang terlalu besar untuk diceritakan pada dunia.

"Kita bakal mulai dengan satu hal, Bram," sahut Nadia dengan nada yang sangat dewasa dan tenang, meski matanya berkaca-kaca. "Kita bakal mandi, kita bakal pakai baju yang bersih, dan kita bakal siapin mental buat ketemu sama mereka yang nunggu kabar di rumah."

Maya yang duduk di kursi depan mereka tiba-tiba menoleh. Rambutnya sudah dipotong pendek secara asal-asalan menggunakan pisau lipat saat mereka masih di pesisir, demi membuang sisa-sisa lengket cairan biru yang tak bisa hilang.

"Dit..." Maya menyebut nama itu dengan sangat lirih. "Lu beneran yakin Adit nggak bakal apa-apa di sana? Dia sendirian sama orang-orang pemerintah itu, Nad. Dia nggak punya siapa-siapa buat ngebelain kalau dia dianggap gila."

Di lokasi yang jauh dari kebisingan Jakarta, di dalam sebuah ruangan ber-AC yang suhunya diatur sangat rendah, Adit duduk diam. Ia tidak lagi diborgol, tapi ia dikelilingi oleh orang-orang berpakaian rapi yang memegang buku catatan.

Adit merasa ada sesuatu yang aneh di dalam dadanya. Sejak sentuhan terakhir Dina di dalam air laut Teluk Emas, ada sebuah getaran lembut yang terus berdenyut di pangkal tenggorokannya. Ia tahu, secara medis (menurut apa yang pernah Nadia jelaskan), ia seharusnya sehat. Tapi secara "frekuensi" istilah yang sering Dina gunakan, ia merasa tidak lagi sendirian.

Ia teringat saat Dina memegang tangannya di bawah air. Dina tidak bicara, tapi melalui air yang dingin itu, Adit bisa merasakan ribuan tahun kesepian para predator. Ia merasakan bagaimana mereka awalnya adalah manusia yang mencari perlindungan di Pulau Seribu Hening, lalu terpapar oleh sesuatu dari alam yang mengubah mereka menjadi pemangsa demi bertahan hidup.

"Nak Adit, bisa Anda jelaskan sekali lagi kenapa tidak ada satu pun jasad yang tersisa di kapal tanker itu?" tanya salah seorang petugas.

Adit menatap petugas itu dengan tatapan yang sangat dalam. "Karena di pulau itu, Pak, nggak ada yang benar-benar tersisa. Tanah di sana nggak mau nerima kematian yang dipaksakan. Semuanya habis dimakan oleh rasa lapar yang sudah jadi udara di sana."

Petugas itu saling pandang, lalu menulis: Trauma berat, gangguan persepsi kenyataan.

Maya menutup matanya dan tiba-tiba teringat kejadian tiga bulan lalu di kantin fakultas. Saat itu Aris sedang sibuk menggambar sketsa wajah teman-temannya di buku catatan.

"May, jangan gerak. Dagu lu kalau dari samping kelihatan kayak pahlawan wanita di komik-komik jadul," ledek Aris waktu itu sambil tertawa.

"Pahlawan apa? Pahlawan kesiangan?" balas Maya sambil melempar tisu.

Aris kemudian merobek kertas itu dan memberikannya pada Maya. "Ini simpen. Nanti kalau kita liburan, gue bakal gambar lu di depan pantai yang paling bagus."

Maya meraba saku jaketnya. Kertas itu masih ada, meski sudah basah dan hancur menjadi bubur kertas yang tak berbentuk. Air mata Maya jatuh tanpa suara. Ia kehilangan Aris, ia kehilangan separuh dari jiwanya yang paling ceria.

Aris mati karena mencoba melindungi Maya saat salah satu predator menyelinap ke dapur penginapan di malam ketiga. Aris tidak punya otot seperti Bram, tapi dia punya keberanian yang membuat predator itu kewalahan sebelum akhirnya merobek dadanya.

Saat bus berhenti di halte dekat kosan mereka, mereka turun dengan langkah gontai. Bram melihat sebuah gerobak tukang bakso yang sering mereka datangi bersama Rico.

"Inget nggak," kata Bram sambil menunjuk gerobak itu. "Rico pernah nantang Tora lomba makan sambal di sini. Terus mereka berdua berakhir di puskesmas gara-gara diare massal."

Nadia tersenyum kecil, sebuah senyum yang terasa sangat perih di dada. "Iya. Terus Lala yang sibuk ngomelin mereka sambil bawa-bawa botol obat. Padahal dia sendiri yang paling panik pas liat Tora pingsan."

"Gue kangen suara ketawa Rico yang kayak bebek kejepit itu," gumam Maya. "Sekarang dunia rasanya sepi banget ya? Walaupun Jakarta ini berisik, rasanya kayak ada yang kurang."

Sambil berjalan kaki menuju lorong kosan, Nadia mencoba menganalisis kenapa takdir memilih mereka bertiga dan Adit untuk tetap bernapas. Ia menjelaskan ini kepada Bram dan Maya dengan nada yang sangat emosional namun tetap rasional.

"Kalian sadar nggak kenapa kita bertiga yang masih di sini?" tanya Nadia.

Bram menggeleng. "Keberuntungan?"

"Bukan cuma itu," lanjut Nadia secara mendetail. "Bram, lu selamat karena lu punya insting pelindung yang murni. Lu nggak pernah mikir buat kabur sendirian. Maya, lu selamat karena kejujuran lu. Lu nggak pernah nutup-nutupi rasa takut lu, dan itu bikin parasit di pulau itu nggak tertarik sama frekuensi otak lu yang 'bersih'. Dan gue... gue selamat karena gue harus jadi saksi buat kalian."

Nadia menelan ludah. "Tora mati karena ego. Santi mati karena kepasrahan. Gilang mati karena kehilangan arah. Tapi kita... kita punya satu benang merah yang sama: Kita masih mau saling memaafkan bahkan di tengah maut."

Nadia berhenti melangkah dan menatap mereka berdua. "Kita adalah sisa-sisa dari struktur yang dibangun Adit. Kalau salah satu dari kita menyerah sekarang, maka bangunan yang Adit jaga di penjara itu bakal runtuh."

Tepat di depan gerbang kosan, sebuah mobil mewah berwarna hitam sudah terparkir. Seorang wanita paruh baya dengan wajah yang hancur oleh tangis keluar dari mobil itu. Itu adalah Ibu Lala.

"Nadia! Bram! Di mana Lala?" teriak wanita itu sambil berlari menerjang mereka. "Kenapa cuma kalian yang pulang? Kenapa handphone Lala nggak bisa dihubungi seminggu ini?"

Bram membeku. Ia yang biasanya paling kuat, kini hanya bisa menunduk. Nadia maju selangkah, ia memegang tangan Ibu Lala dengan sangat empati. Tangannya yang dingin bertemu dengan tangan Ibu Lala yang gemetar.

"Tante..." suara Nadia pecah. "Maafin kami. Kami nggak bisa bawa Lala pulang."

"Apa maksud kamu? Dia kecelakaan? Dia di rumah sakit mana?" tanya Ibu Lala dengan histeris.

"Kapalnya... kapalnya meledak di tengah laut, Tante," bohong Nadia, sesuai dengan kesepakatan rahasia yang diberikan Adit lewat sinyal terakhir. "Kami sudah coba pegang tangan Lala, tapi arusnya terlalu kuat. Maafin kami..."

Melihat Ibu Lala jatuh pingsan di depan mata mereka adalah luka baru yang lebih tajam dari cakar predator mana pun.

Di sana, di depan gerbang kosan yang penuh kenangan, mereka menyadari bahwa pulang ke rumah bukan berarti peperangan berakhir. Peperangan yang sesungguhnya, perang melawan rasa bersalah dan kenangan, baru saja dimulai.

Malam itu, Bram duduk sendirian di kamarnya. Ia tidak menyalakan lampu. Ia hanya menatap tas punggung Rico yang masih tertinggal di atas meja belajar, lengkap dengan stiker klub bola kesayangannya.

Di sisi lain kota, di dalam sel isolasi, Adit mulai berbisik pada dinding beton. Ia merasakan ada sebuah suara di kepalanya, sebuah suara yang mirip dengan Dina, namun lebih kuno.

"Terima kasih, Arsitek... kamu sudah menjaga benihnya tetap hidup."

Adit membuka matanya. Di dalam kegelapan sel, pupil matanya berkedip sekali, mengeluarkan pendar biru neon yang sangat tipis sebelum menghilang kembali.


•••



Other Stories
Hanya Ibu

kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...

Jjjjjj

ghjjjj ...

Cinta Bukan Ramalan Bintang

Valen sadar Narian tidak pernah menganggap dirinya lebih selain sahabat, setahun kedekat ...

Bayangan Malam

Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...

Turut Berduka Cinta

Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...

Melinda Dan Dunianya Yang Hilang

Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...

Download Titik & Koma