Bab 1 | Dimana?
Kringggg…
Alarm berbunyi. Tanda aku harus bangun dari mimpi. Mematikan jam weker dan membuka jendela dengan hati yang berbahagia. Karena ini saatnya mengunjungi rumah oma. Namaku Anin. Aku masih duduk dibangku SMA. Namun kebanyakan orang menganggapku sudah dewasa. Karena perawakanku yang besar. Bongsor kalo kata oma. Sekarang ini aku sedang menjalani liburan kenaikan kelas. Waktunya mengistirahatkan pikiran setelah kesemrawutan menghadapi ujian. Pergi ke rumah oma saat liburan memang tradisi keluarga. Namun tahun ini, aku kesana sendiri. Karena mama dan papa sedang sibuk dikantornya masing masing dan tidak bisa ambil cuti.
Aku menuruni tangga dan sudah siap dengan rambutku yang ku kepang dua, kaos putih, celena bahan panjang warna cream, dan tas ransel warna pink.
“Ngga ada yang ketinggalan dek?” tanya mama memastikan.
“Aman ma” jawabku.
Aku pergi ke terminal diantar mama. Sekalian mama berangkat kerja. Ini kali pertamaku. Pergi sendiri menggunakan transportasi umum. Senang sekaligus deg deg an. Senang karena akhirnya aku bisa mandiri. Deg degan karena aku sendiri. dan tidak menggunakan transportasi pribadi.
“Jaga diri ya dek” ucap mama sambil mencium keningku.
“Iya ma” jawabku
“Nanti kalo udah sampe cepet cepet kabarin mama” ucap mama.
“Iya mamaku sayang” jawabku.
Bus tujuanku sudah datang. Aku berpamitan dengan mama dan masuk setelah memberikan tiketku kepada petugas di pintu masuk. Melihat belum ada satupun penumpang disana. Jadi aku bisa memilih kursi sesukaku. Dan aku pilih kursi baris kedua paling belakang dekat jendela kemudian duduk. Setelah lumayan lama menunggu dan belum ada yang masuk juga aku memutuskan untuk tidur saja dulu karena mataku tiba tiba mengantuk.
Ditengah perjalanan aku terbangun karena merasakan bus yang tergoyang. Aku melihat kanan kiri. Kudapati awan disekeliling. Awan? tanyaku dalam hati. Lalu aku benar benar mendekat ke jendela dan kulihat kebawah ternyata bus ini benar benar melayang. Ku cubit pipiku berkali kali. Kalau kalau aku hanya bermimpi. Ternyata ini asli. Aku berteriak takut bus ini terjun ke jurang dan takut ketika ini sudah bukan didunia lagi. Aku mulai berteriak kelabakan. Namun sadar tak seorang pun ada disana. Aku sendirian. Lalu aku berjalan ke arah pak supir dengan berpegangan karena bus masih bergoyang.
“Pak ini busnya kenapa?” tanyaku dengan penuh khawatir.
Pak supir menoleh kearahku tanpa mengucapkan sepatah katapun. Hanya tersenyum.
Perlahan bus ini bergerak turun. Seperti pesawat yang mau mendarat. Pelan pelan terlihat dengan jelas pemandangan disekitarku. Gunung berwarna jingga, pohon pohon yang daunya berwarna serupa seperti musim semi di belahan eropa. Aku turun dari bus berjalan kedepan sambil memandang takjup apa yang kulihat sekarang. Rumah dengan tembok kayu, Jalan yang belum beraspal, dan satu mobil yang sepertinya sudah tidak layak pakai terparkir di salah satu rumah itu. Seakan dihipnotis aku terus memandangi sekeliling sampai akhirnya sadar dan menoleh kebelakang, bus yang kutumpangi sudah menghilang.
Ada rasa aneh yang kurasakan. Walau asing aku tidak merasa takut. Justru malah merasa aman dengan tempat yang aku tak pernah datang. Aku terus berjalan. Satu persatu rumah kayu telah ku lewati. Namun tak ada satupun orang yang kutemui. Sampai akhirnya aku masuk ke satu rumah kayu yang terletak diujung desa.
Tok tok
Ku ketuk pintu kayu itu. Tak ada sahutan.
Tok tok.
Sekali lagi.
Tapi nihil. Akhirnya kuberanikan diri untuk masuk.
"Kenapa?" tanyaku setelah masuk rumah dan mendapati ada orang yang menarikku lalu dengan sigap menutup pintu.
"stttt"
Alarm berbunyi. Tanda aku harus bangun dari mimpi. Mematikan jam weker dan membuka jendela dengan hati yang berbahagia. Karena ini saatnya mengunjungi rumah oma. Namaku Anin. Aku masih duduk dibangku SMA. Namun kebanyakan orang menganggapku sudah dewasa. Karena perawakanku yang besar. Bongsor kalo kata oma. Sekarang ini aku sedang menjalani liburan kenaikan kelas. Waktunya mengistirahatkan pikiran setelah kesemrawutan menghadapi ujian. Pergi ke rumah oma saat liburan memang tradisi keluarga. Namun tahun ini, aku kesana sendiri. Karena mama dan papa sedang sibuk dikantornya masing masing dan tidak bisa ambil cuti.
Aku menuruni tangga dan sudah siap dengan rambutku yang ku kepang dua, kaos putih, celena bahan panjang warna cream, dan tas ransel warna pink.
“Ngga ada yang ketinggalan dek?” tanya mama memastikan.
“Aman ma” jawabku.
Aku pergi ke terminal diantar mama. Sekalian mama berangkat kerja. Ini kali pertamaku. Pergi sendiri menggunakan transportasi umum. Senang sekaligus deg deg an. Senang karena akhirnya aku bisa mandiri. Deg degan karena aku sendiri. dan tidak menggunakan transportasi pribadi.
“Jaga diri ya dek” ucap mama sambil mencium keningku.
“Iya ma” jawabku
“Nanti kalo udah sampe cepet cepet kabarin mama” ucap mama.
“Iya mamaku sayang” jawabku.
Bus tujuanku sudah datang. Aku berpamitan dengan mama dan masuk setelah memberikan tiketku kepada petugas di pintu masuk. Melihat belum ada satupun penumpang disana. Jadi aku bisa memilih kursi sesukaku. Dan aku pilih kursi baris kedua paling belakang dekat jendela kemudian duduk. Setelah lumayan lama menunggu dan belum ada yang masuk juga aku memutuskan untuk tidur saja dulu karena mataku tiba tiba mengantuk.
Ditengah perjalanan aku terbangun karena merasakan bus yang tergoyang. Aku melihat kanan kiri. Kudapati awan disekeliling. Awan? tanyaku dalam hati. Lalu aku benar benar mendekat ke jendela dan kulihat kebawah ternyata bus ini benar benar melayang. Ku cubit pipiku berkali kali. Kalau kalau aku hanya bermimpi. Ternyata ini asli. Aku berteriak takut bus ini terjun ke jurang dan takut ketika ini sudah bukan didunia lagi. Aku mulai berteriak kelabakan. Namun sadar tak seorang pun ada disana. Aku sendirian. Lalu aku berjalan ke arah pak supir dengan berpegangan karena bus masih bergoyang.
“Pak ini busnya kenapa?” tanyaku dengan penuh khawatir.
Pak supir menoleh kearahku tanpa mengucapkan sepatah katapun. Hanya tersenyum.
Perlahan bus ini bergerak turun. Seperti pesawat yang mau mendarat. Pelan pelan terlihat dengan jelas pemandangan disekitarku. Gunung berwarna jingga, pohon pohon yang daunya berwarna serupa seperti musim semi di belahan eropa. Aku turun dari bus berjalan kedepan sambil memandang takjup apa yang kulihat sekarang. Rumah dengan tembok kayu, Jalan yang belum beraspal, dan satu mobil yang sepertinya sudah tidak layak pakai terparkir di salah satu rumah itu. Seakan dihipnotis aku terus memandangi sekeliling sampai akhirnya sadar dan menoleh kebelakang, bus yang kutumpangi sudah menghilang.
Ada rasa aneh yang kurasakan. Walau asing aku tidak merasa takut. Justru malah merasa aman dengan tempat yang aku tak pernah datang. Aku terus berjalan. Satu persatu rumah kayu telah ku lewati. Namun tak ada satupun orang yang kutemui. Sampai akhirnya aku masuk ke satu rumah kayu yang terletak diujung desa.
Tok tok
Ku ketuk pintu kayu itu. Tak ada sahutan.
Tok tok.
Sekali lagi.
Tapi nihil. Akhirnya kuberanikan diri untuk masuk.
"Kenapa?" tanyaku setelah masuk rumah dan mendapati ada orang yang menarikku lalu dengan sigap menutup pintu.
"stttt"
Other Stories
Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik
Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...
Mauren Lupakan Masa Lalu
Mauren menolak urusan cinta karena trauma keluarga dan nyaman dengan tampilannya yang mask ...
Langit Di Atas Warteg Bu Sari
hari libur kita ngapain yaa ...
Rahasia Desa Teluk Roban
Farhan selalu tak betah ketika libur akhir tahun harus kembali ke Desa Teluk Roban. Desa i ...
Cinta Harus Bahagia
Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...
Don't Touch Me
Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...