Seratus Juta Untuk Sebuah Restu

Reads
410
Votes
24
Parts
12
Vote
Report
Seratus juta untuk sebuah restu
Seratus Juta Untuk Sebuah Restu
Penulis Rista

Bab 1 Liburan Panjang Lebaran

Suasana Jakarta menjelang Lebaran selalu berubah wajah. Lebih gemerlap dan lebih berwarna.

Lampu-lampu hias menggantung di pusat perbelanjaan. Lagu-lagu religi mengalun di setiap sudut mall. Iklan diskon terpampang besar dengan warna-warna mencolok, seakan kebahagiaan bisa dibeli dan dibungkus dalam kantong belanja.

Di trotoar, para pedagang musiman menjajakan kue kering dalam toples-toples bening. Aroma nastar dan kastengel bercampur dengan asap kendaraan yang tak pernah benar-benar reda.

Orang-orang bergegas mencari takjil menjelang berbuka puasa. Dan para pegawai tak lupa merencanakan liburan panjang ini.

Mereka berbicara tentang jadwal mudik, tiket kereta yang hampir habis, jalan tol yang akan macet, dan menu apa yang akan disajikan saat hari raya. Di kantor Nadia, obrolan itu menjadi tema utama sejak dua minggu terakhir. Seolah liburan panjang ini jadi ajang untuk bersilaturahmi dengan keluarga yang lama tak mereka jumpai.

“Kamu mudik tanggal berapa, Nad?” tanya Rani, rekan satu divisinya, sambil memasukkan dokumen ke dalam map.

“Belum tahu,” jawab Nadia singkat.

Rani tertawa kecil. “Ah, jangan bilang kamu nggak pulang lagi tahun ini? Kasihan keluargamu, lho.”

“Kamu nggak kangen ibumu? Aku lihat kamu santai banget kalau mendekati lebaran. Gak kayak kita-kita. Heboh banget.”

Nadia tersenyum tipis. Senyum yang sudah ia latih selama bertahun-tahun agar terlihat wajar. “Lihat nanti, aja deh.”

Jawaban itu sudah ia pakai tiga tahun terakhir.
Tiga Lebaran tanpa pulang.

Tiga Lebaran dengan alasan berbeda: proyek belum selesai, tiket mahal, dan tiba-tiba sakit. Alasan-alasan yang terdengar masuk akal bagi orang lain, tetapi tak pernah benar-benar ia jelaskan panjang lebar.

Tak ada yang tahu bahwa setiap menjelang Lebaran, perut Nadia selalu terasa melilit. Gejala gerd selalu mengiringi. Seolah-olah ada tangan tak kasatmata yang meremas-remas isi dadanya.

Ia berdiri di depan jendela kantor sore itu. Dari lantai dua belas, Jakarta tampak seperti lautan beton yang berkilau diterpa matahari senja. Mobil-mobil bergerak seperti semut, tak pernah berhenti. Di kejauhan, spanduk bertuliskan “Mudik Aman dan Nyaman” berkibar tertiup angin.

Mudik.

Kata itu terdengar sederhana.
Membayangkannya saja sudah menimbulkan rindu dan perasaan hangat. Penuh pelukan dan tawa saat berkumpul dengan keluarga.

Namun bagi Nadia, mudik adalah kembali pada luka yang belum pernah benar-benar sembuh.

Malam itu, di kamar kosnya yang sempit, Nadia duduk di tepi ranjang. Satu koper kecil tergeletak di sudut ruangan, masih kosong. Ia belum berani membukanya.

Ponselnya bergetar. Notifikasi grup keluarga.
Ibu: Jangan lupa kirim uang bulan ini. Kebutuhan lebaran kita banyak.

Nadia menatap pesan itu lama. Bulan ini ia memang belum mengirim. Bukan karena tak mau, tetapi karena bonus tahunan belum cair sementara cicilan laptop dan biaya hidupnya sendiri membuat rekeningnya nyaris menyentuh angka merah.

Ia mengetik balasan, lalu menghapusnya. Mengetik lagi, lalu menghapus lagi.

Tiba-tiba, suara itu muncul lagi. Jelas. Tajam. Seolah ibunya berdiri tepat di belakangnya.

“Kamu itu kalau nggak mau bantu orang tua, hidupmu bakal susah!”

Kalimat itu. Kalimat yang diucapkan ibunya bertahun-tahun lalu, saat Nadia menolak mencari pinjaman untuk tambahan biaya pernikahan kakaknya.

Saat itu Nadia sudah mengirim hampir seluruh tabungannya untuk biaya sekolah adiknya. Ia hanya menyisakan sedikit untuk bertahan hidup di Jakarta. Ia sudah menjelaskan berkali-kali bahwa ia tak punya simpanan lagi.

Namun ibunya tetap berkata dengan nada penuh amarah, “Kalau memang kamu anak yang tahu balas budi, kamu pasti cari cara. Pinjam ke teman kek, ke bank kek. Masa orang tua minta sedikit saja nggak bisa?”

Sedikit? Kata itu terasa seperti ejekan. Begitu mudah diucapkan. Mereka tak tahu saja, di Jakarta ia cuma makan dua kali sehari agar bisa ngirit dan mengirim uang ke kampung.

Dan ketika Nadia tetap tak sanggup memenuhi permintaan itu, ibunya mengucapkan kalimat yang hingga kini menjadi gema paling menakutkan dalam hidupnya.

“Kamu itu kalau nggak mau bantu orang tua, hidupmu bakal susah!”
“Ingat, kamu bisa sukses begini karena usaha ibu juga.”

Sejak saat itu, setiap kali Nadia gagal—ketika ia tak lolos promosi, ketika ia sakit, ketika rekeningnya minus—kalimat itu muncul kembali.

Mungkin ini karma karena ia tak bisa memenuhi semua kebutuhan rumah. Mungkin ini hukuman karena tak mau berusaha sampai titik penghabisan cari pinjaman buat dikirim ke ibunya.Mungkin...semua kemungkinan buruk muncul di otaknya dan pada akhirnya ia menyalahkan dirinya.

Nadia memejamkan mata. Dada sesak.
Ia teringat malam ketika ia harus dirawat inap sendirian.

Demam tinggi dan infeksi lambung membuatnya tak mampu berdiri. Dengan suara lemah, ia menelepon ibunya, meminta bantuan pinjaman sementara untuk biaya rumah sakit.

Namun jawaban yang ia terima begitu datar.
“Ibu lagi nggak ada uang. Keperluan rumah banyak. Kamu kan kerja di Jakarta, masa nggak punya simpanan?”

Saat itu, Nadia benar-benar di buat kecewa. Kecewa karena keluarganya tak berusaha sampai ujung untuk membantunya. Ibunya seolah menganggap dia baik-baik saja meski tak dibantu. Mereka tak tahu kalau ia terkapar di IGD , memikirkan sakitnya plus memikirkan uang disaat bersamaan.

Nadia merasa sendirian dan tak punya siapa-siapa.Beruntung teman kosnya, Siska, membantunya mengurus administrasi rumah sakit dan meminjamkan sebagian uang.

Keluarganya? Tak satu pun datang. Orang yang paling dekat dan selalu ia prioritaskan tak ada disaat ia sedang sekarat.

Apakah ini namanya keluarga? Atau ia cuma jadi tumbal buat menyenangkan keluarganya?

Pengalaman itu seperti garis tegas yang memisahkan Nadia dari keluarganya. Rasa sakit hati itu masih ia rasakan sekarang. Dan perlahan ia menyadari kalau cuma jadi mesin uang buat ibu dan saudaranya.

Sejak saat itu, ia tetap mengirim uang—tetapi hatinya perlahan mati rasa.
Ia merasa seperti mesin ATM berjalan. Dicari saat dibutuhkan, diabaikan saat ia sendiri rapuh.

“Nadia.”

Suara Daniel membuyarkan lamunannya. Ia menoleh dan melihat Daniel sudah ada di belakangnya.

“Hobi banget ngelamun.” Daniel duduk disebelahnya dan menatapnya lembut. Pria itu selalu memiliki cara menatap yang membuat Nadia merasa aman. Rambutnya rapi, kemeja birunya digulung sampai siku, dan senyum tipisnya selalu menenangkan.

“Aku gak ngelamun kok cuma...” Nadia kemudian tertawa sendiri lakuntak melanjutkan ucapannya. “Pekerjaanmu udah selesai?”

“Udah. Bentar lagi magrib, yuk turun ke kantin bawah.”

Nadia mengangguk saja. Mereka kemudian turun ke lantai dasar dan segera memesan minuman dan makanan. Tak berselang lama kumandang adzan magrib terdengar. Hening sesaat.

“Kamu belum jawab,” kata Daniel pelan. “Tahun ini kamu pulang nggak?”

Nadia mengaduk minumannya tanpa benar-benar melihat. “Belum tahu.”

Daniel mengamati wajahnya lebih lama dari biasanya. “Kamu nggak pernah cerita banyak soal keluargamu.”

Nadia terdiam. Ia ingin bercerita. Ingin menumpahkan semuanya. Tentang tuntutan, tentang sumpah, tentang rasa bersalah yang tak pernah hilang. Tapi setiap kali membuka mulut, yang keluar hanya potongan-potongan kalimat tak utuh.

“Aku gak cerita karena memang gak ada yang menarik untuk diobrolkan,” ujarnya akhirnya.

Daniel mengangguk pelan. Ia tak memaksa.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang canggung.

Lalu Daniel menarik napas dalam. “Nadia.”

Nada suaranya berubah. Lebih serius. “Aku sudah memikirkan ini lama.”

Jantung Nadia berdetak lebih cepat. “Aku ingin hubungan kita lebih jelas. Aku ingin menikah denganmu.”

Kata-kata itu meluncur lembut, tapi menghantam dada Nadia seperti gelombang besar.

Ia menatap Daniel, tak yakin apakah ia salah dengar.

Daniel tersenyum, kali ini sedikit gugup. “Aku tahu mungkin ini mendadak. Aku tahu kita baru pacaran enam bulan. Tapi aku serius. Aku ingin mengenal orang tuamu. Aku ingin datang baik-baik.”

Kalimat itu membuat tubuh Nadia membeku. Orang tuanya. Datang baik-baik.

Bayangan wajah ibunya muncul di benaknya. Tatapan tajam. Nada suara yang selalu penuh tuntutan. Dan gema kalimat itu kembali terdengar, lebih keras dari sebelumnya.

“Kamu itu kalau nggak mau bantu orang tua, hidupmu bakal susah!”

“Ingat kamu bisa sukses begini karena usaha orang tua juga.”

“Ngirim uang dari hasil kamu kerja itu sudah jadi bentuk timbal balik atas pengorbanan ibumu ini.”

Kata itu memenuhi otaknya. Uang.

Bagaimana jika ibunya menganggap Daniel sebagai ladang baru? Bagaimana jika semua tuntutan itu beralih kepadanya? Bagaimana jika Daniel akhirnya melihat sisi keluarganya yang selama ini ia sembunyikan—dan memutuskan pergi?

Ketakutan itu jauh lebih besar daripada sekadar pulang kampung. Rasa malu kalau keluarganya mata duitan.

“Nad?” Daniel menggenggam tangannya. “Kamu kenapa?”

Nadia tersenyum, tapi matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku cuma…” Ia menelan ludah. “Aku takut.”

“Takut apa?”

Takut kehilangan kamu. Takut keluargaku menghancurkan semuanya. Takut sumpah itu jadi kenyataan.

Namun yang keluar hanya satu kalimat lirih.
“Aku takut kamu berubah pikiran setelah mengenal keluargaku.”

“Maksudku, keluargaku bukan dari orang berada, Daniel. Takut kamu kaget saja.”

Daniel terdiam sejenak, lalu mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. “Aku mencintaimu, Nadia. Bukan keluargamu. Tapi kalau aku ingin menikahimu, aku juga harus menghormati mereka. Karena itu aku ingin mengenal mereka dulu.”

Menghormati. Kata itu terasa begitu berat dan meresahkan. Akankah Daniel akan tetap hormat pada saudaranya terutama ibunya, setelah tahu sifatnya?

Di luar kafe, suara klakson bersahut-sahutan. Lampu-lampu kota mulai menyala, menciptakan ilusi hangat di tengah hiruk-pikuk Jakarta.

Semua orang tampak bersiap menyambut hari-hari terakhir menjelang hari kemenangan untuk umat muslim.

Sementara Nadia merasa seperti akan kembali ke medan perang yang belum selesai.

Daniel tersenyum meyakinkan. “Jadi… kapan kita pulang? Aku udah gak sabar pingin kenalan sama mereka.”

Nadia menatapnya. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, pilihan itu tak lagi tentang dirinya sendiri. Ada masa depan yang dipertaruhkan. Ada cinta yang harus ia jaga.

Namun di balik semua itu, ada ketakutan yang tumbuh lebih besar dari sekadar perjalanan pulang.

Ia tahu, jika Daniel benar-benar datang ke rumahnya, segalanya tak akan pernah sama lagi.

Bisa jadi setelah ini Daniel ilfill dan memutuskan dia.



Other Stories
Bunga Untuk Istriku (21+)

Laras merasa pernikahannya dengan Rendra telah mencapai titik jenuh yang aman namun hambar ...

Pesan Dari Hati

Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...

Uap Dari Panas Bumi

Liburan seharusnya menjadi pelarian paling menyenangkan bagi Aluna. Setelah berbulan-bulan ...

The Labsky

Keyra Shifa, penggemar berat kisah detektif, membentuk tim bernama *The Labsky* bersama An ...

Suara Dari Langit

Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...

Melepasmu Untuk Sementara

Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...

Download Titik & Koma