Seratus Juta Untuk Sebuah Restu

Reads
410
Votes
24
Parts
12
Vote
Report
Seratus juta untuk sebuah restu
Seratus Juta Untuk Sebuah Restu
Penulis Rista

Bab 2 Mudik

Keputusan itu akhirnya Nadia ucapkan tiga hari setelah percakapan di kafe.

Mereka kembali duduk di tempat yang sama, di sudut dekat jendela. Jakarta semakin riuh. Kantor-kantor mulai sepi karena sebagian karyawan sudah mengambil cuti lebih awal. Grup-grup obrolan dipenuhi foto koper dan tiket perjalanan.

Nadia menarik napas panjang sebelum berbicara.
“Aku pulang tahun ini.”

Daniel yang sedang menyeruput kopi langsung menatapnya. “Serius?”

Nadia mengangguk pelan. “Kalau memang kamu ingin mengenal keluargaku… aku nggak keberatan kamu ikut. Kita sekalian Lebaran di sana.”

Wajah Daniel langsung berubah cerah. Senyum lebar itu membuat Nadia sejenak lupa pada ketakutannya sendiri.

“Thank you, Nad,” ucapnya tulus. “Aku janji akan bersikap baik.dan gak akan mengecewakan didepan keluargamu.”

Tanpa menunda, Daniel langsung membuka ponselnya. “Kita naik pesawat saja. Supaya nggak capek. Kamu pasti sudah cukup tegang, jangan ditambah perjalanan darat yang berjam-jam.”

“Sekalian aku pesan kamar hotelnya.” Dengan antusias Daniel mulai booking kamar hotel yang jaraknya tak jauh dari rumah Nadia.

Nadia terdiam sejenak.

Ia terbiasa naik bus ekonomi setiap kali dulu masih rutin pulang. Duduk berdesakan, perjalanan panjang dengan AC yang kadang mati. Ia tak pernah mengeluh. Baginya itu biasa.

Namun melihat Daniel begitu sigap memesan tiket pesawat tanpa ragu, ada rasa hangat yang menjalar di dadanya.

“Kamu nggak keberatan keluar uang untuk beli tiket pesawat?” tanyanya pelan.

Daniel tersenyum. “Untuk calon istriku? Nggak ada yang namanya keberatan. Dan gak ada ruginya juga.”

Kata-kata itu membuat Nadia menunduk, menahan haru.

Namun satu pertanyaan mengganjal di benaknya.
“Dan… orang tuamu?” tanyanya hati-hati. “Mereka setuju?”

Daniel terlihat santai. “Nggak perlu khawatir. Mereka bukan orang kolot. Mereka percaya sama pilihanku.”

“Tapi kamu anak tunggal,” Nadia mengingatkan. “Dan mereka nggak tinggal serumah sama kamu.”

Daniel mengangguk. “Iya. Mama di Bandung, Papa lebih sering di luar negeri. Tapi mereka nggak pernah ikut campur berlebihan. Toh kamu sudah pernah kenal Mama, kan? Dua kali ketemu juga beliau sudah bilang kamu kelihatan baik.”

Nadia teringat pertemuan singkat itu. Ibunya Daniel memang terlihat elegan dan ramah, tapi interaksi mereka tak pernah lebih dari basa-basi sopan. Dan tak juga membicarakan hubungannya dengan Daniel secara detail. Sepertinya tipe orang yang easy going.

“Kita nggak perlu khawatir soal itu,” lanjut Daniel meyakinkan. “Sekarang fokusnya kamu. Aku ingin kenal keluargamu dulu. Semoga saja mereka menerima diriku dengan baik.”

Nadia hanya mengangguk. Baginya, persoalannya bukan pada keluarga Daniel.

Yang membuatnya gelisah adalah bayangan wajah ibunya saat ia muncul tiba-tiba di depan rumah nanti.
Apakah akan ada pelukan? Atau pertanyaan pertama tetap tentang uang?

Ia sengaja tak memberi kabar kepulangan. Ia ingin melihat reaksi yang murni. Tanpa persiapan. Tanpa sandiwara.

Beberapa hari kemudian, mereka sudah duduk berdampingan di dalam pesawat.

Dari balik jendela, ia bisa melihat bumi dari atas. Mesin pesawat berdengung lembut, berbeda jauh dengan suara berisik bus malam yang dulu sering Nadia tumpangi. Ini pertama kalinya dia naik pesawat. Sedikit nervous tapi ada rasa bangga karena akhirnya mimpinya naik pesawat bisa terjadi.
Dan itu semua berkat Daniel. Pasti tunjangan hari raya dia kali ini habis untuk ongkos.

Sepanjang perjalanan, kenangan masa kecil seperti diputar ulang dalam kepalanya.

Daniel yang duduk di sebelahnya tampak antusias. “Rumahmu dekat kota atau agak masuk desa?”

“Masuk sedikit,” jawab Nadia. “Dulu jalanannya belum diaspal. Sekarang katanya sudah lebih bagus.”

“Kamu dulu sering main apa sih waktu kecil?”

Pertanyaan Daniel begitu random hanya untuk menghabiskan waktu dengan mengobrol ringan. Dia tahu, Nadia tipe wanita pendiam. Yang gak akan bicara jika tak diajak ngobrol duluan.

Nadia tersenyum kecil. “Main? Nggak terlalu banyak waktu buat main.”

Daniel menoleh tapi dengan kening mengernyit. “Maksudnya?”

Nadia memandang ke luar jendela sebelum menjawab. “Aku dari keluarga miskin, Dan. Ayahku pergi waktu aku masih kecil. Katanya ada masalah dengan Ibu. Ibu cuma bilang Ayah punya selingkuhan. Habis itu… nggak pernah kembali.”

Daniel terdiam, memberi ruang.

“Kami hidup pas-pasan. Sepulang sekolah aku bantu Ibu jualan kue keliling. Kadang sampai malam.”

Daniel mengerutkan dahi. “Kakakmu juga?”

Nadia tertawa kecil, tapi ada nada getir di dalamnya. “Nggak. Kakakku nggak pernah disuruh.”

“Loh kenapa?”

Nadia mengangkat bahu. “Katanya kakakku lambat. Tapi dia cantik. Lebih cantik dari aku. Ibu pernah bilang dia mirip dirinya. Sedangkan aku…” Ia tersenyum hambar. “Aku mirip Ayah.”

Kalimat itu menggantung.
“Mungkin karena Ibu benci Ayah,” lanjutnya pelan. “Jadi… entahlah. Aku yang lebih sering diminta kerja keras.”
“Dan lagi ibuku tak membolehkan kakakku berjualan karena takut kulitnya gosong. Jadi sekalian saja aku yang berkulit sawo matang ini dikaryakan.”

Ia mengatakannya dengan nada bercanda, tapi Daniel bisa merasakan luka yang tersembunyi di balik tawa itu.

“Berarti jiwa dagangmu sudah ada dari kecil, dong,” kata Daniel ringan, mencoba mencairkan suasana.

“Mungkin Ibumu lihat potensi marketing-mu sejak dini.”

Nadia tertawa lebih lepas kali ini. “Iya ya. Berarti aku ini produk sukses dari didikan keras.”

Namun dalam hati Daniel tahu, itu bukan sekadar didikan keras. Itu ketidakadilan.

Dan semakin banyak Nadia bercerita, semakin besar rasa kagumnya tumbuh.

Wanita ini tumbuh dari kekurangan. Dari luka. Dari perasaan tidak pernah cukup. Namun ia tetap berdiri tegak.

Pesawat mulai menurunkan ketinggian. Kota kecil itu terlihat dari atas, dengan hamparan sawah dan rumah-rumah beratap merah.

Nadia menelan ludah. Perjalanan fisik mereka hampir selesai. Tapi perjalanan emosionalnya baru akan dimulai.

Tiba-tiba keringat membanjiri tubuhnya. Kakinya melangkah lambat seolah ingin kembali saja ke Jakarta.

“Kenapa Nad? Kok malah bengong.” Daniel yang tadinya beberapa langkah didepan kembali menghampiri, sambil menggeret koper.

Nadia hanya menggeleng pelan. “Bisa nggak kita mampir dulu untuk beli minum.”

Ia berkata bersamaan dengan adzan magrib berkumandang.

“Oh gitu, ya udah ayok.”

Tanpa banyak tanya, Daniel yang menggeret dua koper, berbelok ke sebuah resto yang ada didalam bandara. Tanpa tanya lagi dia segera memesan minuman kesukaan Nadia yaitu orange juice.

“Apa kamu mau makan juga? Sekalian kita buka puasa disini.”

Ajakan itu segera diangguki olehnya. Iya, dia butuh makan. Butuh mengenyangkan perutnya. Agar nanti tak kaget dengan kerandoman keluarganya. Entah mengapa ia merasa akan ada drama baru saat ia tiba dirumah nanti.





Other Stories
Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)

Aku pernah mengalami hal aneh seperti bertemu orang mati, kebetulan janggal, hingga melint ...

Mozarella (bukan Cinderella)

Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseora ...

Nyanyian Hati Seruni

Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...

My Love

Sandi dan Teresa menunda pernikahan karena Teresa harus mengajar di Timor Leste. Lama tak ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Relung

Edna kehilangan suaminya, Nugraha, secara tiba-tiba. Demi ketenangan hati, ia meninggalkan ...

Download Titik & Koma