Bab 8 Bukti Sebuah Pengkhianatan
Begitu pintu kamar hotel ditutup, Nadia tak setegar tadi.
Ia lanjutkan lagi isak nya seperti di rumah tadi. Tangisnya pecah. Tubuhnya gemetar. Ia terduduk di lantai, bersandar pada sisi ranjang, seolah kakinya tak mampu lagi menopang beban yang baru saja ia pikul.
Daniel berlutut di depannya. Pria yang sejak tadi berusaha menenangkan dirinya.
“Nadia… lihat aku.”
Tapi Nadia menggeleng. Tangannya menutup wajahnya sendiri.
“Pergilah Daniel. Aku wanita hina. Jangan dekati aku lagi.” Ucapnya disela-sela tangis.
“Kamu ngomong apa sih. Seribu kali kamu bilang begitu. Aku tak akan mengikuti. Aku tak akan pergi.”
Ucap Daniel dengan tegas. Dan mendengar itu tangis Nadia semakin keras.
“Jangan jadi bodoh Daniel. Diluar sana kamu akan mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku. Wanita yang lebih sempurna.”
“Aku hanyalah wanita yang tak jelas asal usulnya, terus bagaimana kalau kita punya keturunan nanti? Apa yang bisa aku ceritakan pada anak kita kalau mereka bertanya kakek neneknya?”
“Bahwa aku lahir tanpa mengetahui asal usul ibunya? Bahwa aku anak....,” Dan Nadia kembali menangis . Perih jika membayangkan itu semua terjadi.
Daniel cuma menghela napas saja. Dia terdiam dan tak mau mengomentari ucapan Nadia yang sedang marah.
“Aku juga bodoh…” isaknya. “Selama ini aku mikir aku cuma kurang disayang. Ternyata aku memang bukan siapa-siapa. Seharusnya aku paham kalau semua tingkah laku ibu adalah tak wajar. Mana ada sih ibu kandung tega menyuruh anaknya jualan meski tahu anaknya sedang sakit?”
“Aku jadi teringat hal itu. Saat aku kelas dua SD, hujan deras, kue belum semuanya terjual. Sedang saat itu badanku demam tapi ibu tetap menyuruh ku jualan di jalan. Kalau kue belum habis aku gak boleh pulang.”
“Kalai ingat saat aku, aku begitu nelangsa. Tapi hati kecilku tetap bertahan dengan harapan kalau aku pulang bawa banyak uang ibu akan kembali senyum sama aku dan aku kembali di perhatikan.”
Daniel yang mendengar itu kembali dibuat terkejut. Ia pandangi Nadia yang bercerita dengan menangis dan meringkuk.
“Aku menyadari sekarang. Itu bukan cara mendidik aku untuk tangguh tapi sebuah balas dendam. Balas dendam seorang ibu angkat pada wanita selingkuhan suaminya yang tak kesampaian.”
“Aku...aku seharusnya mati saja.”
“Nad, istighfar .”
Daniel memegang pergelangan tangannya pelan, menurunkannya dari wajahnya.
“Aku beda dari kecil, Daniel,” katanya dengan suara pecah. “Aku selalu ngerasa ada yang salah. Tapi aku nggak tahu apa.”
Ia menatap kosong ke depan, seperti memutar ulang hidupnya.
“Waktu kecil… aku yang disuruh nyapu, ngepel, cuci piring. Mbak Rani boleh main. Kalau aku capek dan ngeluh, Ibu bilang aku harus tahu diri.”
Daniel diam. Mendengarkan.
“Sepulang sekolah aku bantu jualan kue. Hujan-hujanan. Kadang belum ganti seragam.” Nadia tersenyum pahit. “Mbak Rani tetap di rumah. Katanya dia nggak kuat panas.”
Air matanya jatuh lagi.
“Aku pikir itu karena aku lebih kuat. Karena Ibu percaya sama aku.” Ia tertawa kecil, getir.
“Ternyata bukan. Itu memang disengaja.”
Daniel merasakan dadanya sesak mendengar itu.
“Aku yakin sekarang,” lanjut Nadia pelan. “Perlakuan beda itu bukan kebetulan. Itu pelampiasan.”
Ia menatap Daniel dengan mata sembab.
“Tiap kali Ibu lihat aku, dia lihat luka hidupnya. Luka karena Ayah selingkuh. Dan aku bukti pengkhianatan bapak.”
Suara Nadia melemah.
“Tatapan kebencian itu… sekarang aku paham. Itu bukan karena aku nakal. Tapi karena aku ada.”
Daniel menggeleng pelan. “Kamu nggak pernah salah karena dilahirkan.”
“Tapi keberadaanku bikin dia sakit,” Nadia berbisik.
Ia menarik napas panjang yang bergetar. “Bikin dia menderita batin seumur hidup.”
“Mungkin selama ini aku dipaksa kerja keras bukan cuma karena bakti. Tapi karena Ibu ingin sesuatu kembali. Balasan atas rasa sakit yang dia tanggung.”
Daniel tak menyangkal perasaan itu. Ia tahu, bagi Nadia, kesimpulan itu terasa masuk akal.
“Aku kirim uang bukan cuma karena tanggung jawab,” Nadia melanjutkan. “Aku kirim karena aku pengen diakui. Pengen dia bilang aku anaknya yang berguna. Meski kadang aku muak karena dijadikan ATM berjalan.”
Tangisnya membesar lagi.
“Tapi ternyata aku cuma pengingat dosa suaminya.”
Daniel memeluknya. Nadia menangis di dada pria itu tanpa menahan diri.
“Aku ini paling malang di dunia, Daniel…” suaranya serak. “Punya ibu tapi sebenarnya yatim piatu. Nggak tahu siapa ibu kandungku. Nggak tahu darah siapa yang mengalir di tubuhku.”
Daniel mengusap rambutnya pelan.
“Kamu bukan yatim piatu.”
“Aku nggak punya siapa-siapa,” Nadia membantah. “Identitasku aja nggak jelas.”
Ia menjauh sedikit dari pelukan Daniel.
“Daniel… lupakan aku saja.”
Daniel menegang. “Apa lagi, Nad. Kenapa kata-kata itu selalu kau ulang-ulang?”
“Karena memang kita harus putus. Kita batalkan saja semuanya. Aku nggak mau bikin malu keluargamu.”
“Kamu nggak memalukan.” Ucap Daniel dengan tatapan kesal. Kesal karena Nadia sekarang malah minta putus.
“Kamu anak tunggal. Keluargamu pasti punya nama. Punya kedudukan.” Suaranya makin gemetar. “Kalau mereka tahu aku anak haram? Anak hasil perselingkuhan?”
Daniel memegang kedua bahunya. “Berhenti ngomong begitu.”
Tapi Nadia terus bicara, seperti air yang sudah jebol dari bendungan.
“Aku ini kutukan, Daniel. Bukti pengkhianatan. Aku takut kalau kita berjodoh, hidupmu nggak akan tenang.”
“Nadia...”
“Aku nggak mau kamu menderita karena aku!” teriaknya tiba-tiba. “Aku nggak mau orang-orang bisik-bisik di belakangmu! Istrinya anak haram! Istrinya nggak jelas asal-usulnya!”
Ia terisak sampai sulit bernapas.
“Lebih baik kamu cari perempuan lain. Yang baik-baik. Yang keluarganya jelas. Yang nggak bawa masalah.”
Daniel menariknya dalam pelukan lebih kuat.
“Aku bahkan nggak pengen hidup lagi,” Nadia berbisik di sela tangis. “Capek, Daniel. Capek banget.”
Kalimat itu membuat Daniel langsung menjauh sedikit dan menatap wajahnya.
“Jangan pernah bilang begitu lagi.Aku benci kamu bilang gitu Nadia.”
Matanya tegas. Tidak marah. Tapi serius.
“Kamu dengar aku? Jangan pernah.”
Nadia menunduk, bahunya masih berguncang.
Daniel mengangkat dagunya pelan agar Nadia menatapnya.
“Kamu bukan dosa siapa-siapa. Kamu bukan kesalahan. Kamu bukan kutukan.”
“Tapi aku lahir dari kesalahan,” Nadia berbisik.
“Kamu lahir dari keputusan orang dewasa yang salah,” Daniel membalas. “Itu bukan salahmu.”
Hening beberapa detik.
Daniel menatapnya dalam-dalam.
“Yang aku lihat dari kamu bukan asal-usulmu,” katanya pelan. “Yang aku lihat adalah perempuan yang kerja keras. Yang tangguh. Yang nggak pernah menyerah meski diperlakukan nggak adil.”
Air mata Nadia masih jatuh, tapi tangisnya mulai mereda.
“Kalau dunia mau menilai kamu dari masa lalu orang tuamu, itu urusan mereka,” lanjut Daniel. “Tapi aku menilai kamu dari siapa kamu hari ini.”
Nadia menggigit bibirnya. Ucapan Daniel itu sedikit menghiburnya.
“Aku nggak malu punya calon istri seperti kamu,” Daniel berkata tegas. “Aku bangga.”
Kalimat itu membuat dada Nadia kembali bergetar—kali ini bukan karena sakit.
“Alu pun bukan lelaki yang sempurna. Dan di mataku, kamu perempuan yang sempurna.”
“Aku takut, Daniel, ” bisiknya. “Takut kamu nanti menyesal. Sedang pernikahan adalah seumur hidup. Aku ingin pernikahan yang langgeng, Daniel.”
Daniel tersenyum tipis, sedih. Nadia seperti anak yang kehilangan rasa aman dan terlihat rapuh. Sangat kontras dengan Nadia yang biasa dia lihat dikantor. Tegas dan ceria.
“Itu juga yang kuinginkan Nadia. Menikah dan menua bersamamu. Kau tahu, kalau ada yang harus takut kehilangan, itu aku. Bukan kamu.”
“Kamu sangat berharga di hidupku. Meski kita pacaran belum lama, tapi sepanjang hidupku baru kali ini aku yakin ingin melangkah ke jenjang pernikahan. Tanpa paksaan atau keraguan.”
“I love you just the way you are, Nadia.”
Nadia menatap kekasihnya, matanya sembab dan masih merah. Untuk pertama kalinya sejak mendengar kebenaran itu, ia merasa ada sesuatu yang masih utuh di dunia ini.
Bukan identitas, status sosial. Ataupun asal usulnya.Tapi seseorang yang memilihnya, melainkan karena dirinya.
Ia lanjutkan lagi isak nya seperti di rumah tadi. Tangisnya pecah. Tubuhnya gemetar. Ia terduduk di lantai, bersandar pada sisi ranjang, seolah kakinya tak mampu lagi menopang beban yang baru saja ia pikul.
Daniel berlutut di depannya. Pria yang sejak tadi berusaha menenangkan dirinya.
“Nadia… lihat aku.”
Tapi Nadia menggeleng. Tangannya menutup wajahnya sendiri.
“Pergilah Daniel. Aku wanita hina. Jangan dekati aku lagi.” Ucapnya disela-sela tangis.
“Kamu ngomong apa sih. Seribu kali kamu bilang begitu. Aku tak akan mengikuti. Aku tak akan pergi.”
Ucap Daniel dengan tegas. Dan mendengar itu tangis Nadia semakin keras.
“Jangan jadi bodoh Daniel. Diluar sana kamu akan mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku. Wanita yang lebih sempurna.”
“Aku hanyalah wanita yang tak jelas asal usulnya, terus bagaimana kalau kita punya keturunan nanti? Apa yang bisa aku ceritakan pada anak kita kalau mereka bertanya kakek neneknya?”
“Bahwa aku lahir tanpa mengetahui asal usul ibunya? Bahwa aku anak....,” Dan Nadia kembali menangis . Perih jika membayangkan itu semua terjadi.
Daniel cuma menghela napas saja. Dia terdiam dan tak mau mengomentari ucapan Nadia yang sedang marah.
“Aku juga bodoh…” isaknya. “Selama ini aku mikir aku cuma kurang disayang. Ternyata aku memang bukan siapa-siapa. Seharusnya aku paham kalau semua tingkah laku ibu adalah tak wajar. Mana ada sih ibu kandung tega menyuruh anaknya jualan meski tahu anaknya sedang sakit?”
“Aku jadi teringat hal itu. Saat aku kelas dua SD, hujan deras, kue belum semuanya terjual. Sedang saat itu badanku demam tapi ibu tetap menyuruh ku jualan di jalan. Kalau kue belum habis aku gak boleh pulang.”
“Kalai ingat saat aku, aku begitu nelangsa. Tapi hati kecilku tetap bertahan dengan harapan kalau aku pulang bawa banyak uang ibu akan kembali senyum sama aku dan aku kembali di perhatikan.”
Daniel yang mendengar itu kembali dibuat terkejut. Ia pandangi Nadia yang bercerita dengan menangis dan meringkuk.
“Aku menyadari sekarang. Itu bukan cara mendidik aku untuk tangguh tapi sebuah balas dendam. Balas dendam seorang ibu angkat pada wanita selingkuhan suaminya yang tak kesampaian.”
“Aku...aku seharusnya mati saja.”
“Nad, istighfar .”
Daniel memegang pergelangan tangannya pelan, menurunkannya dari wajahnya.
“Aku beda dari kecil, Daniel,” katanya dengan suara pecah. “Aku selalu ngerasa ada yang salah. Tapi aku nggak tahu apa.”
Ia menatap kosong ke depan, seperti memutar ulang hidupnya.
“Waktu kecil… aku yang disuruh nyapu, ngepel, cuci piring. Mbak Rani boleh main. Kalau aku capek dan ngeluh, Ibu bilang aku harus tahu diri.”
Daniel diam. Mendengarkan.
“Sepulang sekolah aku bantu jualan kue. Hujan-hujanan. Kadang belum ganti seragam.” Nadia tersenyum pahit. “Mbak Rani tetap di rumah. Katanya dia nggak kuat panas.”
Air matanya jatuh lagi.
“Aku pikir itu karena aku lebih kuat. Karena Ibu percaya sama aku.” Ia tertawa kecil, getir.
“Ternyata bukan. Itu memang disengaja.”
Daniel merasakan dadanya sesak mendengar itu.
“Aku yakin sekarang,” lanjut Nadia pelan. “Perlakuan beda itu bukan kebetulan. Itu pelampiasan.”
Ia menatap Daniel dengan mata sembab.
“Tiap kali Ibu lihat aku, dia lihat luka hidupnya. Luka karena Ayah selingkuh. Dan aku bukti pengkhianatan bapak.”
Suara Nadia melemah.
“Tatapan kebencian itu… sekarang aku paham. Itu bukan karena aku nakal. Tapi karena aku ada.”
Daniel menggeleng pelan. “Kamu nggak pernah salah karena dilahirkan.”
“Tapi keberadaanku bikin dia sakit,” Nadia berbisik.
Ia menarik napas panjang yang bergetar. “Bikin dia menderita batin seumur hidup.”
“Mungkin selama ini aku dipaksa kerja keras bukan cuma karena bakti. Tapi karena Ibu ingin sesuatu kembali. Balasan atas rasa sakit yang dia tanggung.”
Daniel tak menyangkal perasaan itu. Ia tahu, bagi Nadia, kesimpulan itu terasa masuk akal.
“Aku kirim uang bukan cuma karena tanggung jawab,” Nadia melanjutkan. “Aku kirim karena aku pengen diakui. Pengen dia bilang aku anaknya yang berguna. Meski kadang aku muak karena dijadikan ATM berjalan.”
Tangisnya membesar lagi.
“Tapi ternyata aku cuma pengingat dosa suaminya.”
Daniel memeluknya. Nadia menangis di dada pria itu tanpa menahan diri.
“Aku ini paling malang di dunia, Daniel…” suaranya serak. “Punya ibu tapi sebenarnya yatim piatu. Nggak tahu siapa ibu kandungku. Nggak tahu darah siapa yang mengalir di tubuhku.”
Daniel mengusap rambutnya pelan.
“Kamu bukan yatim piatu.”
“Aku nggak punya siapa-siapa,” Nadia membantah. “Identitasku aja nggak jelas.”
Ia menjauh sedikit dari pelukan Daniel.
“Daniel… lupakan aku saja.”
Daniel menegang. “Apa lagi, Nad. Kenapa kata-kata itu selalu kau ulang-ulang?”
“Karena memang kita harus putus. Kita batalkan saja semuanya. Aku nggak mau bikin malu keluargamu.”
“Kamu nggak memalukan.” Ucap Daniel dengan tatapan kesal. Kesal karena Nadia sekarang malah minta putus.
“Kamu anak tunggal. Keluargamu pasti punya nama. Punya kedudukan.” Suaranya makin gemetar. “Kalau mereka tahu aku anak haram? Anak hasil perselingkuhan?”
Daniel memegang kedua bahunya. “Berhenti ngomong begitu.”
Tapi Nadia terus bicara, seperti air yang sudah jebol dari bendungan.
“Aku ini kutukan, Daniel. Bukti pengkhianatan. Aku takut kalau kita berjodoh, hidupmu nggak akan tenang.”
“Nadia...”
“Aku nggak mau kamu menderita karena aku!” teriaknya tiba-tiba. “Aku nggak mau orang-orang bisik-bisik di belakangmu! Istrinya anak haram! Istrinya nggak jelas asal-usulnya!”
Ia terisak sampai sulit bernapas.
“Lebih baik kamu cari perempuan lain. Yang baik-baik. Yang keluarganya jelas. Yang nggak bawa masalah.”
Daniel menariknya dalam pelukan lebih kuat.
“Aku bahkan nggak pengen hidup lagi,” Nadia berbisik di sela tangis. “Capek, Daniel. Capek banget.”
Kalimat itu membuat Daniel langsung menjauh sedikit dan menatap wajahnya.
“Jangan pernah bilang begitu lagi.Aku benci kamu bilang gitu Nadia.”
Matanya tegas. Tidak marah. Tapi serius.
“Kamu dengar aku? Jangan pernah.”
Nadia menunduk, bahunya masih berguncang.
Daniel mengangkat dagunya pelan agar Nadia menatapnya.
“Kamu bukan dosa siapa-siapa. Kamu bukan kesalahan. Kamu bukan kutukan.”
“Tapi aku lahir dari kesalahan,” Nadia berbisik.
“Kamu lahir dari keputusan orang dewasa yang salah,” Daniel membalas. “Itu bukan salahmu.”
Hening beberapa detik.
Daniel menatapnya dalam-dalam.
“Yang aku lihat dari kamu bukan asal-usulmu,” katanya pelan. “Yang aku lihat adalah perempuan yang kerja keras. Yang tangguh. Yang nggak pernah menyerah meski diperlakukan nggak adil.”
Air mata Nadia masih jatuh, tapi tangisnya mulai mereda.
“Kalau dunia mau menilai kamu dari masa lalu orang tuamu, itu urusan mereka,” lanjut Daniel. “Tapi aku menilai kamu dari siapa kamu hari ini.”
Nadia menggigit bibirnya. Ucapan Daniel itu sedikit menghiburnya.
“Aku nggak malu punya calon istri seperti kamu,” Daniel berkata tegas. “Aku bangga.”
Kalimat itu membuat dada Nadia kembali bergetar—kali ini bukan karena sakit.
“Alu pun bukan lelaki yang sempurna. Dan di mataku, kamu perempuan yang sempurna.”
“Aku takut, Daniel, ” bisiknya. “Takut kamu nanti menyesal. Sedang pernikahan adalah seumur hidup. Aku ingin pernikahan yang langgeng, Daniel.”
Daniel tersenyum tipis, sedih. Nadia seperti anak yang kehilangan rasa aman dan terlihat rapuh. Sangat kontras dengan Nadia yang biasa dia lihat dikantor. Tegas dan ceria.
“Itu juga yang kuinginkan Nadia. Menikah dan menua bersamamu. Kau tahu, kalau ada yang harus takut kehilangan, itu aku. Bukan kamu.”
“Kamu sangat berharga di hidupku. Meski kita pacaran belum lama, tapi sepanjang hidupku baru kali ini aku yakin ingin melangkah ke jenjang pernikahan. Tanpa paksaan atau keraguan.”
“I love you just the way you are, Nadia.”
Nadia menatap kekasihnya, matanya sembab dan masih merah. Untuk pertama kalinya sejak mendengar kebenaran itu, ia merasa ada sesuatu yang masih utuh di dunia ini.
Bukan identitas, status sosial. Ataupun asal usulnya.Tapi seseorang yang memilihnya, melainkan karena dirinya.
Other Stories
After Honeymoon (17+)
Dipaksa menikah demi ambisi keluarga, Kirana dan Rhea terjebak dalam pernikahan tanpa cint ...
Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?
Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...
Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?
Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...
Cinta Satu Paket
Namanya Renata Mutiara, secantik dan selembut mutiara. Kelas sebelas dan usianya yang te ...
Pasti Ada Jalan
Sebagai ibu tunggal di usia muda, Sari, perempuan cerdas yang bernasib malang itu, selalu ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...