Bab 3 Tanggungan Hutang
Langkah Nadia terhenti beberapa detik di depan pintu rumahnya sendiri. Akhirnya ia sampai disini. Semalam Daniel memutuskan istirahat dulu di hotel karena tak mungkin berkunjung malam hari.
Rumah itu tak berubah banyak. Catnya masih kusam. Dindingnya masih menyimpan retak kecil di sudut dekat jendela. Aroma kayu tua bercampur bau tanah menyambut begitu pintu dibuka.
Ia mengetuk pintunya perlahan dengan hati berdebar-debar. Menanti reaksi keluarganya sedang Daniel berdiri dibelakangnya dengan dua koper di tangan kanan kiri.
Pintu kemudian di buka. Yang pertama, ibunya muncul lebih dulu. Wajah itu jelas terkejut.
“Nadia?”
Nada suaranya bukan bahagia. Lebih kepada tidak menyangka.
Dari dalam, kakaknya—Rani—ikut keluar, diikuti Jaka, adik laki-lakinya. Mereka sama-sama membelalak.
“Kamu pulang?” Rani berseru. “Kupikir tahun ini nggak pulang lagi.”
Nadia tersenyum tipis. “Iya. Kebetulan cutiku di setujui dan pekerjaanku udah beres semua. Jadi aku ambil cuti.”
Ia berlindung di balik pekerjaan agar terdengar masuk akal.
Baru kemudian ibunya menyadari pria yang berdiri di samping dirinya. “Ini siapa?” tanyanya cepat.
Nadia menoleh ke Daniel, lalu kembali pada ibunya.
“Ini Daniel, Bu. Pacar Nadia.”
Daniel langsung melangkah sedikit maju. Ia menunduk sopan. “Assalamu’alaikum, Bu.”
Ibunya menjawab salam itu, matanya meneliti Daniel dari atas sampai ke bawah. Rani pun ikut memperhatikan, tatapannya terang-terangan menilai kemeja rapi Daniel, jam tangan di pergelangan tangannya, sepatu kulit yang masih bersih.
Jaka hanya berdiri kikuk.
“Masuk dulu,” ucap ibunya akhirnya.
Mereka duduk di ruang tamu sederhana dengan kursi kayu berlapis busa tipis. Daniel duduk tegak, sikapnya tetap tenang. Obrolan dimulai dengan hal-hal biasa.
“Kerja kamu lancar, Nad?” tanya ibunya pada Nadia.
“Alhamdulillah, lancar,” jawab Nadia pendek.
Ibunya mengangguk pelan. Lalu tanpa jeda, kalimat berikutnya meluncur.
“Sudah lama kamu nggak pulang. Pasti bawa banyak uang, ya.”
Hening. Nadia menghembus napas panjang.
Belum lima belas menit duduk, belum ada segelas air pun di meja, tapi yang ditanyakan sudah soal uang.
Ia melirik Daniel. Pria itu mengedipkan mata kecil, seolah berkata: sabar.
Beruntung tadi mereka sudah makan di luar sebelum datang. Kalau tidak, mungkin Nadia akan merasakan perih perutnya. Ternyata kebiasaan keluarganya kalau ia pulang, tetap tidak berubah.
Dengan nada sedikit tegas, Nadia menoleh ke Jaka. “Jaka, tolong ambilin minum gih buat tamu.”
Kalimat itu jelas sebuah sindiran.
Jaka tampak salah tingkah, lalu buru-buru masuk ke dapur. Tak lama ia kembali membawa dua gelas teh hangat dan sesisir pisang di piring plastik.
Daniel menerimanya dengan senyum sopan. “Terima kasih, Dek.”
Ibunya baru hendak membuka pembicaraan lagi ketika tiba-tiba...
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu terdengar keras. Bukan seperti tamu biasa. Lebih seperti orang yang tak sabar.
Jaka yang paling dekat dengan pintu membukanya.
Dua pria berdiri di luar. Yang satu berwajah kesal, yang satu lagi bertubuh tinggi besar dengan tatapan tajam.
Begitu melihat mereka, wajah ibunya dan Rani langsung berubah pucat.
“Ibu…gimana ini?” Rani berbisik panik. Kumala juga dibuat sebagai salah. Ia berdiri hendak menemui dia orang itu diluar tapi ternyata ia kalah cepat.
Pria berwajah kesal itu lebih dulu melangkah masuk tanpa diundang.
“Kapan hutangnya dibayar?!” bentaknya. “Sudah berbulan-bulan kalian nunggak!”
Suasana mendadak tegang. Nadia berdiri perlahan.
“Ada apa ini?” tanyanya.
Pria itu menoleh tajam. “Si Rani ini hutang sepuluh juta. Janji mau bayar bulan lalu. Sampai sekarang nggak ada kabar.”
“Sepuluh juta?” kalimat itu diulang Nadia tentunya dengan wajah syok. Dia tak menyangka keluarganya berhutang begitu besar.
Pria itu menggebrak meja kecil di ruang tamu. “Iya, dia berhutang pada kami. Selama ini kami sudah sabar, tapi jangan dianggap bodoh!”
“Diberi hati malah minta jantung. Tidak ingat kalian saat memohon minta bantuan?”
“Ingat nggak?!”
Daniel langsung berdiri. Wajahnya berubah serius. Semakin lama kok nada bicara orang itu meninggi.
“Maaf Pak,” katanya tenang tapi tegas, “kita bisa bicara baik-baik. Jangan kasar di dalam rumah orang.”
Pria itu melirik Daniel. “Kamu siapa? Suaminya Rani?”
Daniel belum sempat menjawab, Rani buru-buru maju. “Bukan! Dia bukan suami saya! Dia… temannya adik saya.”
“Kalau begitu, suruh adikmu bantu buat bayar!” bentak pria itu lagi. “Kami nggak peduli siapapun!”
Suasana makin kacau. Sebagai ibu Rani, Kumala maju, mencoba menenangkan. “Sabar, Pak. Kami pasti bayar. Kasih waktu lagi.”
“Sudah terlalu banyak waktu! Tapi kalian seolah menghindar.”
Daniel menarik napas panjang. Kesabarannya mulai menipis. Apalagi ini lagi puasa.
“Kalau Bapak terus bersikap seperti ini,” katanya lebih tegas, “saya bisa lapor polisi atas tindakan anarkis.”
Kedua pria itu tertawa mengejek. “Polisi? Hutang kok lapor polisi?”
Daniel menatap lurus tanpa gentar. “Saya kenal Kapolsek sini. Pak Santoso.”
Nama itu membuat keduanya saling pandang. Sedikit kaget mendengar lelaki di depannya ini tahu nama kapolseknya. Sejenak kemudian nada mereka sedikit melunak.
“Ya… nggak usah bawa-bawa polisi juga,” gumam pria yang tinggi besar. “Kami cuma mau dia niat bayar. Nyicil juga nggak apa-apa.”
Rani menunduk dalam-dalam. Ibunya maju, suaranya melembut tiba-tiba. “Bulan depan kami bayar. Nadia juga pulang sekarang. Dia pasti bantu. Ya kan Nad?”
Kalimat terakhir itu seperti petir di siang bolong.
Nadia menoleh tajam. “Bu?”
Ibunya menatapnya seolah itu hal paling wajar di dunia. “Kamu kan kerja. Bantulah saudaramu sedikit.”
Mata Nadia melotot.
Jadi ini maksudnya? Ia baru datang, dan langsung dijadikan tameng pelunasan hutang?
Kedua pria itu mengangguk-angguk. “Baiklah. Kami pegang kata-katanya. Tapi kami minta nomor kamu,” kata salah satu dari mereka pada Nadia.
Nadia yang sejak tadi menahan diri akhirnya meledak.
“Cukup!” suaranya bergetar tapi keras. “Hutang keluarga saya bukan urusan saya!”
“Saya gak tahu masalah hutang ini, dan saya juga gak mau tahu. Titik!”
Semua terdiam.
“Kalian datang marah-marah ke rumah orang. Sekarang minta nomor saya? Saya tidak punya hutang apa pun pada kalian.”
Pria itu menyeringai. “Tapi kamu keluarganya. Ibumu tadi juga bilang kan kamu...”
“Bukan saya yang pinjam!” balas Nadia tajam. Ia lalu menoleh pada ibunya. “Ibu juga, kenapa sih aku yang ditodong begini? Aku cuma pegawai rendahan Bu. Bukan CEO perusahaan.” Ujarnya keras.
“Nadia...,” ibunya mendelik. Tapi Nadia tak menggubris , ia kembali duduk dengan wajah kesal. Mukanya memerah dengan napas turun naik. Sial, baru sampai rumah, sudah disuguhi persoalan.
Daniel yang melihat kejadian ini sebenarnya juga geram dengan keluarga Nadia. Tapi ia berusaha menahan diri.
Ia melangkah sedikit ke depan, menghadapi dua penagih itu.
“Sudah. Silakan pergi. Kami akan selesaikan secara baik-baik.”
Pria itu masih terlihat kesal.
Daniel lalu merogoh sakunya. Dari dompetnya, ia mengeluarkan uang tunai yang ada: satu juta rupiah.
Ia menyerahkannya pada pria itu.
“Ini sebagai itikad baik. Sisanya dibicarakan nanti saja.”
Kedua pria itu mengambil uang itu dengan wajah tak sepenuhnya puas.
“Bayar sisanya jangan lama-lama,” ancamnya sebelum akhirnya pergi.
Pintu ditutup dan kembali sunyi.
Hanya terdengar napas berat yang saling bersahutan di ruang tamu kecil itu.
Nadia duduk kaku. Malu. Marah. Terluka.
Ia menoleh pada Daniel. “Kamu nggak perlu lakukan itu.”
Daniel menatapnya lembut. “Aku nggak mau kamu diperlakukan seperti tadi. Sudah tidak apa-apa.”
Nadia menahan air mata. Ia menahan emosinya. Betul-betul puasanya diuji saat ini. Entah sudah batal atau tidak, karena dari tadi ia emosi.
Di seberangnya, ibunya sudah duduk kembali seolah tak terjadi apa-apa. Rani masih menunduk. Entah karena malu atau rasa bersalah.
Dan di dalam dada Nadia, satu hal menjadi semakin jelas...Ia pulang bukan untuk disambut.
Ia pulang untuk kembali dijadikan solusi.
Rumah itu tak berubah banyak. Catnya masih kusam. Dindingnya masih menyimpan retak kecil di sudut dekat jendela. Aroma kayu tua bercampur bau tanah menyambut begitu pintu dibuka.
Ia mengetuk pintunya perlahan dengan hati berdebar-debar. Menanti reaksi keluarganya sedang Daniel berdiri dibelakangnya dengan dua koper di tangan kanan kiri.
Pintu kemudian di buka. Yang pertama, ibunya muncul lebih dulu. Wajah itu jelas terkejut.
“Nadia?”
Nada suaranya bukan bahagia. Lebih kepada tidak menyangka.
Dari dalam, kakaknya—Rani—ikut keluar, diikuti Jaka, adik laki-lakinya. Mereka sama-sama membelalak.
“Kamu pulang?” Rani berseru. “Kupikir tahun ini nggak pulang lagi.”
Nadia tersenyum tipis. “Iya. Kebetulan cutiku di setujui dan pekerjaanku udah beres semua. Jadi aku ambil cuti.”
Ia berlindung di balik pekerjaan agar terdengar masuk akal.
Baru kemudian ibunya menyadari pria yang berdiri di samping dirinya. “Ini siapa?” tanyanya cepat.
Nadia menoleh ke Daniel, lalu kembali pada ibunya.
“Ini Daniel, Bu. Pacar Nadia.”
Daniel langsung melangkah sedikit maju. Ia menunduk sopan. “Assalamu’alaikum, Bu.”
Ibunya menjawab salam itu, matanya meneliti Daniel dari atas sampai ke bawah. Rani pun ikut memperhatikan, tatapannya terang-terangan menilai kemeja rapi Daniel, jam tangan di pergelangan tangannya, sepatu kulit yang masih bersih.
Jaka hanya berdiri kikuk.
“Masuk dulu,” ucap ibunya akhirnya.
Mereka duduk di ruang tamu sederhana dengan kursi kayu berlapis busa tipis. Daniel duduk tegak, sikapnya tetap tenang. Obrolan dimulai dengan hal-hal biasa.
“Kerja kamu lancar, Nad?” tanya ibunya pada Nadia.
“Alhamdulillah, lancar,” jawab Nadia pendek.
Ibunya mengangguk pelan. Lalu tanpa jeda, kalimat berikutnya meluncur.
“Sudah lama kamu nggak pulang. Pasti bawa banyak uang, ya.”
Hening. Nadia menghembus napas panjang.
Belum lima belas menit duduk, belum ada segelas air pun di meja, tapi yang ditanyakan sudah soal uang.
Ia melirik Daniel. Pria itu mengedipkan mata kecil, seolah berkata: sabar.
Beruntung tadi mereka sudah makan di luar sebelum datang. Kalau tidak, mungkin Nadia akan merasakan perih perutnya. Ternyata kebiasaan keluarganya kalau ia pulang, tetap tidak berubah.
Dengan nada sedikit tegas, Nadia menoleh ke Jaka. “Jaka, tolong ambilin minum gih buat tamu.”
Kalimat itu jelas sebuah sindiran.
Jaka tampak salah tingkah, lalu buru-buru masuk ke dapur. Tak lama ia kembali membawa dua gelas teh hangat dan sesisir pisang di piring plastik.
Daniel menerimanya dengan senyum sopan. “Terima kasih, Dek.”
Ibunya baru hendak membuka pembicaraan lagi ketika tiba-tiba...
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu terdengar keras. Bukan seperti tamu biasa. Lebih seperti orang yang tak sabar.
Jaka yang paling dekat dengan pintu membukanya.
Dua pria berdiri di luar. Yang satu berwajah kesal, yang satu lagi bertubuh tinggi besar dengan tatapan tajam.
Begitu melihat mereka, wajah ibunya dan Rani langsung berubah pucat.
“Ibu…gimana ini?” Rani berbisik panik. Kumala juga dibuat sebagai salah. Ia berdiri hendak menemui dia orang itu diluar tapi ternyata ia kalah cepat.
Pria berwajah kesal itu lebih dulu melangkah masuk tanpa diundang.
“Kapan hutangnya dibayar?!” bentaknya. “Sudah berbulan-bulan kalian nunggak!”
Suasana mendadak tegang. Nadia berdiri perlahan.
“Ada apa ini?” tanyanya.
Pria itu menoleh tajam. “Si Rani ini hutang sepuluh juta. Janji mau bayar bulan lalu. Sampai sekarang nggak ada kabar.”
“Sepuluh juta?” kalimat itu diulang Nadia tentunya dengan wajah syok. Dia tak menyangka keluarganya berhutang begitu besar.
Pria itu menggebrak meja kecil di ruang tamu. “Iya, dia berhutang pada kami. Selama ini kami sudah sabar, tapi jangan dianggap bodoh!”
“Diberi hati malah minta jantung. Tidak ingat kalian saat memohon minta bantuan?”
“Ingat nggak?!”
Daniel langsung berdiri. Wajahnya berubah serius. Semakin lama kok nada bicara orang itu meninggi.
“Maaf Pak,” katanya tenang tapi tegas, “kita bisa bicara baik-baik. Jangan kasar di dalam rumah orang.”
Pria itu melirik Daniel. “Kamu siapa? Suaminya Rani?”
Daniel belum sempat menjawab, Rani buru-buru maju. “Bukan! Dia bukan suami saya! Dia… temannya adik saya.”
“Kalau begitu, suruh adikmu bantu buat bayar!” bentak pria itu lagi. “Kami nggak peduli siapapun!”
Suasana makin kacau. Sebagai ibu Rani, Kumala maju, mencoba menenangkan. “Sabar, Pak. Kami pasti bayar. Kasih waktu lagi.”
“Sudah terlalu banyak waktu! Tapi kalian seolah menghindar.”
Daniel menarik napas panjang. Kesabarannya mulai menipis. Apalagi ini lagi puasa.
“Kalau Bapak terus bersikap seperti ini,” katanya lebih tegas, “saya bisa lapor polisi atas tindakan anarkis.”
Kedua pria itu tertawa mengejek. “Polisi? Hutang kok lapor polisi?”
Daniel menatap lurus tanpa gentar. “Saya kenal Kapolsek sini. Pak Santoso.”
Nama itu membuat keduanya saling pandang. Sedikit kaget mendengar lelaki di depannya ini tahu nama kapolseknya. Sejenak kemudian nada mereka sedikit melunak.
“Ya… nggak usah bawa-bawa polisi juga,” gumam pria yang tinggi besar. “Kami cuma mau dia niat bayar. Nyicil juga nggak apa-apa.”
Rani menunduk dalam-dalam. Ibunya maju, suaranya melembut tiba-tiba. “Bulan depan kami bayar. Nadia juga pulang sekarang. Dia pasti bantu. Ya kan Nad?”
Kalimat terakhir itu seperti petir di siang bolong.
Nadia menoleh tajam. “Bu?”
Ibunya menatapnya seolah itu hal paling wajar di dunia. “Kamu kan kerja. Bantulah saudaramu sedikit.”
Mata Nadia melotot.
Jadi ini maksudnya? Ia baru datang, dan langsung dijadikan tameng pelunasan hutang?
Kedua pria itu mengangguk-angguk. “Baiklah. Kami pegang kata-katanya. Tapi kami minta nomor kamu,” kata salah satu dari mereka pada Nadia.
Nadia yang sejak tadi menahan diri akhirnya meledak.
“Cukup!” suaranya bergetar tapi keras. “Hutang keluarga saya bukan urusan saya!”
“Saya gak tahu masalah hutang ini, dan saya juga gak mau tahu. Titik!”
Semua terdiam.
“Kalian datang marah-marah ke rumah orang. Sekarang minta nomor saya? Saya tidak punya hutang apa pun pada kalian.”
Pria itu menyeringai. “Tapi kamu keluarganya. Ibumu tadi juga bilang kan kamu...”
“Bukan saya yang pinjam!” balas Nadia tajam. Ia lalu menoleh pada ibunya. “Ibu juga, kenapa sih aku yang ditodong begini? Aku cuma pegawai rendahan Bu. Bukan CEO perusahaan.” Ujarnya keras.
“Nadia...,” ibunya mendelik. Tapi Nadia tak menggubris , ia kembali duduk dengan wajah kesal. Mukanya memerah dengan napas turun naik. Sial, baru sampai rumah, sudah disuguhi persoalan.
Daniel yang melihat kejadian ini sebenarnya juga geram dengan keluarga Nadia. Tapi ia berusaha menahan diri.
Ia melangkah sedikit ke depan, menghadapi dua penagih itu.
“Sudah. Silakan pergi. Kami akan selesaikan secara baik-baik.”
Pria itu masih terlihat kesal.
Daniel lalu merogoh sakunya. Dari dompetnya, ia mengeluarkan uang tunai yang ada: satu juta rupiah.
Ia menyerahkannya pada pria itu.
“Ini sebagai itikad baik. Sisanya dibicarakan nanti saja.”
Kedua pria itu mengambil uang itu dengan wajah tak sepenuhnya puas.
“Bayar sisanya jangan lama-lama,” ancamnya sebelum akhirnya pergi.
Pintu ditutup dan kembali sunyi.
Hanya terdengar napas berat yang saling bersahutan di ruang tamu kecil itu.
Nadia duduk kaku. Malu. Marah. Terluka.
Ia menoleh pada Daniel. “Kamu nggak perlu lakukan itu.”
Daniel menatapnya lembut. “Aku nggak mau kamu diperlakukan seperti tadi. Sudah tidak apa-apa.”
Nadia menahan air mata. Ia menahan emosinya. Betul-betul puasanya diuji saat ini. Entah sudah batal atau tidak, karena dari tadi ia emosi.
Di seberangnya, ibunya sudah duduk kembali seolah tak terjadi apa-apa. Rani masih menunduk. Entah karena malu atau rasa bersalah.
Dan di dalam dada Nadia, satu hal menjadi semakin jelas...Ia pulang bukan untuk disambut.
Ia pulang untuk kembali dijadikan solusi.
Other Stories
Keluarga Baru
Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...
Akibat Salah Gaul
Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...
Cinta Di Ibukota
Sari, gadis desa yang polos, terjerat dalam hubungan berbahaya dengan fotografer ambisius ...
Air Susu Dibalas Madu
Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...
Mereka Yang Tak Terlihat
Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...
Aku Pulang
Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...