Seratus Juta Untuk Sebuah Restu

Reads
412
Votes
24
Parts
12
Vote
Report
Seratus juta untuk sebuah restu
Seratus Juta Untuk Sebuah Restu
Penulis Rista

Bab 6 Bukan Anak Kandung

Ruang tamu itu terasa makin sempit. Udara seperti habis. Detik - detik berlalu menunggu jawaban.

Nadia cuma menunduk, perasaannya bercampur aduk. Malu ,sedih dan marah. Menunggu keputusan sang kekasih.

Daniel yang sejak tadi menahan diri akhirnya berdiri. Wajahnya tetap tenang, tapi sorot matanya berubah lebih tegas.

“Baik, Bu,” katanya pelan namun jelas. “Kalau itu syaratnya, saya akan penuhi.”

Semua orang terdiam. Dan Nadia bisa melihat sekilas dibalik wajah keras ibunya, terselip senyum tipis. Senyum yang membuatnya muak.

Nadia menoleh cepat. “Daniel…”

“Saya akan memberikan seratus juta seperti yang Ibu minta,” lanjut Daniel tanpa memutus tatapannya dari ibu Nadia. “Dan untuk Jaka, saya akan tanggung kuliahnya sampai lulus.”

Jaka tersentak. Rani membelalak.
Ibunya terdiam beberapa detik tapi akhirnya tersenyum lebar.

“Tuh, kan. Ibu bilang juga apa. Daniel ini laki-laki bertanggung jawab. Dia pasti mau.”

“Tapi,” suara Daniel memotong lembut, “setelah itu, urusan keuangan rumah ini bukan tanggung jawab Nadia lagi.”

Senyum ibunya perlahan memudar. “Maksud kamu?”

“Setelah menikah, Nadia adalah tanggung jawab saya. Bantuan yang kami beri nanti adalah bantuan, bukan kewajiban. Dan tidak akan ada lagi tuntutan lanjutan.”

Nada itu sopan, tapi tak bisa ditawar. Nadia menatap Daniel dengan campuran rasa terharu dan panik.
Ia tahu Daniel berbicara dari hati.

Tapi justru itu yang membuatnya semakin sesak. Dia tak tega membiarkan pria itu jadi jerat akal bulus ibunya. Sekarang seratus juta, apa lagi yang akan terjadi nanti. Meski Daniel mengatakan tak akan lagi ada bantuan, tapi ia tahu hati pria itu tak akan tega jika terus dirong-rong oleh permintaan ibunya. Tidak, ia tak akan membiarkan kebaikan Daniel disalah gunakan.

Tiba-tiba Nadia berdiri. “Daniel… sebaiknya kita batalkan saja.”

Suasana langsung beku.

“Apa?!” ibunya berseru. “Kamu sudah gila, Nadia? Jangan mulai bikin kacau ya kamu.”

Daniel menoleh, juga terkejut. “Nad…”

“Jarang ada laki-laki sebaik Daniel!” lanjut ibunya dengan suara meninggi. “Mau kasih uang, mau tanggung adikmu kuliah! Kamu malah mau batalkan?”

“Kamu gak waras ya?!”

Nadia menatap ibunya dengan mata yang kini tak lagi sekadar marah—tapi terluka.

“Bu,” suaranya bergetar, “apa Ibu pernah minta hal yang sama waktu Mbak Rani menikah?”

Rani terdiam. Ia kembali menunduk.

“Ibu minta uang pengganti susu juga seperti sekarang?” lanjut Nadia. “Minta mahar tambahan di luar kemampuan mereka?”

“Itu beda!” potong ibunya cepat.

“Bedanya di mana?” Nadia mendesak. “Kami sama-sama anak perempuan. Kalau memang ini soal adat atau balas budi, seharusnya Mbak Rani juga diperlakukan sama. Meski bukan seratus juta!”

Wajah ibunya memerah.

“Kamu lancang sekali!” bentaknya. “Berani-beraninya kamu membandingkan dirimu dengan kakakmu!”

“Aku cuma minta keadilan!” Nadia tak lagi menahan suaranya. “Selama ini aku diam. Aku kirim uang. Aku nggak pernah protes. Tapi kenapa selalu aku yang diperas?”

“Kamu benar-benar nggak tahu diri!”

“Justru aku terlalu tahu diri, Bu!” air mata Nadia jatuh deras. “Aku hormati Ibu. Aku berbakti. Tapi aku nggak pernah dianggap! Aku nggak minta disanjung. Aku cuma mau dihargai!”

“Aku lelah selalu dituntut masalah uang, uang dan uang terus.”

Ruang itu kembali sunyi. Hanya napas Nadia yang terengah.

“Kenapa sih Ibu seolah nggak pernah adil sama aku?” Nadia melangkah mendekat.

“Ibu selalu bela Mbak Rani. Aku kerja jungkir balik, tapi tetap kurang. Apa salahku?”

Airmatanya kembali mengenang.

Ibunya menatapnya dengan mata yang kini penuh emosi.

“Kamu memang beda!” katanya keras. “Sifatmu persis bapakmu! Keras kepala! Nggak tahu diri!”

Nama itu seperti petir. Bapak. Nadia membeku.

“Ibu benci wajahmu,” lanjut ibunya dalam kalap. “Karena setiap lihat kamu, Ibu ingat laki-laki itu!”

Rani tersentak. “Bu, sudah…”

Tapi ibunya tak berhenti. “Kamu tahu kenapa aku nggak pernah bisa sayang sama kamu sepenuhnya?”

“Bu, sudah. Tenang Bu,” Rani seketika itu mencekal lengan ibunya dengan wajah khawatir.

“Biar , dia dia tahu Rani, siapa dirinya sebenarnya!"

Nadia merasakan jantungnya berhenti berdetak. Apa maksudnya kali ini?

Daniel kembali berdiri, merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Ia melihat emosi ibu Nadia yang meluap seolah akan menumpahkan segala amarahnya.

Dan memang keluar.

“Kamu itu bukan anak kandungku.”

Kalimat itu jatuh begitu saja. Tanpa jeda.

Duarr. Kepala Nadia seperti meledak seketika.

“Apa…?” suaranya nyaris tak terdengar. “Ibu bilang apa? Aku...bukan anak ibu?”

Gemetar seluruh tubuhnya. Ia bahkan merasa tak menginjak bumi. Tidak, bukan ini yang ingin ia dengar. Ibunya pasti sedang marah saja hingga ucapannya ngawur.

“Kamu hasil hubungan gelap suamiku dengan perempuan lain!” ibunya berteriak.

“Ibu yang membesarkan kamu! Ibu yang kasih kamu makan! Kalau bukan karena kebaikan Ibu, kamu nggak bakal hidup!”

“Dengar itu! Gak bakal hidup. Bahkan ibu kandungmu sendiri membuang mu. Dengar itu, kau tak diinginkan!”

Dunia Nadia runtuh dalam sekejap. Ia limbung, beruntung tangan Daniel segera menahannya.

“Jadi aku bukan anak kandung. Jadi aku hasil hubungan gelap bapak?” ia terduduk lemas. Tulangnya terasa luluh lantak.

“Nadia...,” suara Daniel terdengar dekat di telinganya. Tapi fokusnya tak pada dia

“Jadi aku anak haram?” gumamnya dengan pandangan kosong.

Semua kenangan masa kecilnya berputar cepat di kepala. Kenapa ia selalu dibandingkan. Kenapa ia selalu terasa asing. Kenapa ibunya berkata ia mirip ayahnya dengan nada benci. Semua potongan itu kini menyatu

“Nadia…kamu dengar aku kan?” tanya Daniel dengan wajah khawatir.

Tapi Nadia tak mendengar. Matanya kosong.
Air matanya mengalir tanpa suara.

“Jadi… selama ini…” bibirnya bergetar. “Aku memang bukan siapa-siapa di rumah ini.”

Rani menangis. “Nad, bukan begitu. Sudah jangan dengarkan ucapan ibu.”

“Tutup mulutmu Rani!” bentak ibunya yang masih dikuasai emosi.

“Kau tahu, kalau kamu nggak pernah ada, hidup Ibu mungkin lebih tenang!”

Kalimat itu yang terakhir menghantam. Tubuh Nadia terasa ringan. Kakinya goyah seolah ototnya melemah seketika.

Daniel memeluknya sebelum ia benar-benar jatuh.
Di dalam pelukannya, Nadia seperti anak kecil yang kehilangan dunia. Bukan karena uang.
Bukan karena tuntutan. Tapi karena satu kebenaran yang tak pernah ia duga.

Ia hidup bertahun-tahun di rumah yang tak pernah benar-benar menganggapnya anak.


Other Stories
People Like Us

Setelah 2 tahun di Singapura,Diaz kembali ke Bandung dengan kenangan masa lalu & konflik k ...

Tiada Cinta Tertinggal

Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...

Dream Analyst

Dream Analyst. Begitu teman-temannya menyebut dirinya. Frisky dapat menganalisa mimpi sese ...

Devil's Bait

Dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal lima temannya akan mengalami kejadian aneh hin ...

Kala Kisah Menjadi Cahaya

seorang anak bernama Kala Putri Senja, ia anak yatim piatu sejak bayi dan dibesarkan oleh ...

I See Your Monster, I See Your Pain

Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...

Download Titik & Koma