Seratus Juta Untuk Sebuah Restu

Reads
412
Votes
24
Parts
12
Vote
Report
Seratus juta untuk sebuah restu
Seratus Juta Untuk Sebuah Restu
Penulis Rista

Bab 11 Ending

Keputusan itu terasa seperti simpul terakhir yang harus Nadia buka sebelum benar-benar melangkah ke fase hidup yang baru.

“Apa kamu siap jika dia menyambut mu dengan sikap seperti kemarin?” tanya Daniel hati-hati ketika mobil yang mereka tumpangi dalam perjalanan ke rumah.

“Entahlah. Sebenarnya aku juga ragu. Tapi kalau tak sekarang ku lakukan kapan lagi. Iya kan? Mumpung ini hati baik.”

Suaranya tidak lagi gemetar seperti semalam. Masih rapuh, tapi ada ketegasan yang baru tumbuh.

Daniel menatapnya lama lalu menggenggam tangannya. “Aku akan selalu mendukungmu, Sayang.”

Nadia mengangguk. “Kalau aku tidak selesaikan hari ini, mungkin aku akan terus membawa luka ini ke mana-mana.”

Daniel tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya berkata, “Iya, kamu benar.”

Setengah jam perjalanan akhirnya mereka sampai.
Rumahnya tampak tertutup dan terlihat sepi. Lain dengan rumah tetangga kanan kiri yang terbuka dan terlihat ramai.

Nadia melangkah dengan degup jantung yang kini mulai tak beraturan. Membayangkan reaksi ibunya saat ia dan Daniel datang lagi. Membayangkan penghakiman apa lagi yang akan diucapkan ibunya.

Satu helaan napas ia hembuskan setelah beberapa kali pintu ia ketuk. Tak berselang lama pintu terbuka. Dan yang sudah ia tunggu muncul di pintu. Ibunya.

Tatapannya terkejut, lalu berubah kaku seperti biasa.
“Kalian ke sini lagi?” suaranya datar. Ia berbalik badan lalu melangkah masuk. Begitu juga Nadia dan Daniel yang kemudian mengikuti.

Nadia menelan ludah. Jantungnya berdebar, tapi kali ini bukan karena takut. Melainkan karena ia ingin menyelesaikan sesuatu.

“Ibu… aku cuma ingin bicara.” Ucapnya pelan tapi berusaha menguatkan hati. Tiba-tiba rasa amarah yang ia tekan muncul kembali.

Daniel berdiri sedikit di belakangnya. Tidak ikut campur. Hanya mengawasi.

Mereka duduk di ruang tamu yang dulu menjadi saksi Nadia kecil dimarahi karena nilai delapannya dianggap kurang, saksi Nadia remaja yang pulang kelelahan setelah berjualan sementara Rani tertawa menonton televisi.

Nadia menarik napas panjang.
“Semalam aku marah. Aku hancur,” katanya jujur. “Aku merasa hidupku runtuh. Tapi tadi di masjid… aku sadar satu hal.”

Ibunya diam. Wajahnya masih keras, tapi matanya tidak lagi setajam tadi malam.

“Aku memang lahir dari kesalahan. Tapi itu juga bukan inginku. Takdir Tuhan yang membawaku tumbuh di keluarga ini.”

Kalimat itu menggantung di udara.
“Aku tidak memilih untuk dilahirkan seperti ini. Dan Ibu juga mungkin tidak memilih untuk disakiti seperti itu. Kita sama-sama korban dari keputusan orang lain.”

“Korban dari keegoisan dan kebodohan bapak yang tidak bisa menahan nafsunya.”

Ibunya menunduk sedikit. Jemarinya meremas ujung kerudungnya.

Nadia melanjutkan, suaranya mulai bergetar namun tetap jelas.

“Kalau selama ini Ibu menuntut aku kerja keras karena sakit hati… aku mengerti sekarang. Tapi aku tidak ingin lagi hidup sebagai pelampiasan luka.”

Air mata Nadia jatuh, tapi kali ini bukan air mata putus asa.

“Aku datang bukan untuk menyalahkan Ibu. Aku datang untuk memaafkan.”

Ruangan itu sunyi. Bahkan suara takbir dari televisi tetangga terdengar sayup.

“Aku memaafkan Ibu… karena aku juga ingin hidupku ringan. Aku ingin memulai membangun keluarga tanpa membawa dendam.”

Kata “keluarga” membuat Daniel sedikit menahan napas.

“Yang bisa kulakukan cuma meminta maaf dari ibu.”

Ibunya yang tadi memandang kaku dengan raut wajah yang terlihat benci, akhirnya berbicara. Suaranya pecah untuk pertama kali.

“Kamu pikir Ibu tidak menyesal?” bisiknya. “Setiap kali melihat wajahmu… Ibu teringat pengkhianatan itu. Ibu marah. Ibu benci. Tapi Ibu juga takut… kalau suatu hari kamu pergi dan Ibu benar-benar sendirian.”

Nadia terdiam. Jadi selama ini bukan hanya kebencian. Ada ketakutan.

“Ayahmu pergi begitu saja,” lanjut ibunya. “Ibu tidak ingin kehilangan kamu juga. Tapi Ibu tidak tahu cara mencintaimu tanpa mengingat rasa sakit itu.”

“Kamu tak pernah ada di posisiku. Jadi bahan gunjingan tetangga karena mau saja merawat anak hasil selingkuh suaminya. Belum lagi tatapan masyarakat sekitar yang melihatku dengan wajah kasihan karena di tinggal suami begitu saja.”

“Bayangkan aku hidup dengan tekanan sebesar itu. Belum lagi harus cari nafkah dan membesarkan kalian bertiga.”

Air mata ibu Nadia kini perlahan. Tapi ia cepat-cepat menghapusnya. Ia tak ingin dilihat lemah.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Nadia tidak melihat sosok perempuan keras yang selalu menyalahkannya.
Ia melihat seorang wanita yang patah, yang gagal menyembuhkan dirinya sendiri.

Nadia bangkit perlahan dan mendekat.
“Bu… aku tidak akan pergi. Tapi aku juga tidak bisa terus hidup dalam bayang-bayang kesalahan masa lalu.”

Tangannya terulur. Ragu sejenak. Lalu memeluk.
Pelukan itu canggung. Kaku. Tapi nyata.
Ibunya cuma terdiam kaku tapi airmatanya meleleh.

“Maafkan Ibu…” kata-kata itu lirih tapi Nadia bisa mendengar jelas.

“Ibu marah… bukan karena kamu salah. Ibu marah karena Ibu lemah! Ibu tidak sanggup membenci ayahmu, jadi Ibu melampiaskannya ke kamu.”

Kalimat itu menghantam Nadia lebih keras dari apa pun.

“Aku tidak pernah membencimu…” ibunya terisak.

“Aku membenci diriku sendiri karena tetap mencintai pria yang meninggalkanku. Aku benci diriku sendiri karena saat bapakmu marah dan hendak membawamu pergi, aku malah tak tega. Aku menangis kamu saat itu.”

Nadia tak lagi sanggup berdiri tegak. Ia mendekat, lututnya hampir lemas.

Kalimat yang tak pernah Nadia dengar seumur hidupnya. Semua keluh kesah ibunya yang tertahan bertahun-tahun.

Daniel menunduk, memberi ruang pada momen itu.
Beberapa menit kemudian, Nadia melepaskan pelukan itu. Wajahnya basah, tapi tidak lagi kosong.

“Aku ingin menikah, Bu. Bukan untuk lari. Tapi untuk membangun hidup yang lebih sehat.”

“Aku memang bukan anak kandung ibu. Tapi setidaknya seumur hidupku yang ku tahu, orang tuaku adalah kamu, ibuku.”

“Jadi tidak salah kan jika sebagai anak tak jelas ini pamit untuk terakhir kalinya. Aku minta restu ibu untuk meridhoi pernikahanku dan Daniel.”

Mata tua itu memandang Nadia dengan nanar. Lalu menoleh pada Daniel. Kali ini tidak dengan tatapan curiga, melainkan penuh penilaian yang lebih jernih.

“Sekarang kamu sudah tahu siapa Nadia kan? Asal usulnya?” tanyanya.

“Saya tahu,” jawab Daniel mantap. “Dia perempuan yang lahir dari situasi yang tidak ia pilih. Tapi dia memilih menjadi baik. Itu cukup bagi saya.”

Ibunya terdiam. Lalu menarik napas dalam.
“Yakin, kamu tak akan menyesal dan mengungkitnya di saat kamu kesal atau lagi marah sama dia?”

“Insyaallah tidak, Bu.”

“Kalau kamu sudah berjanji. Maka harus kamu tepati. Dan aku mau jangan sampai kau pulangkan Nadia ke sini jika pernikahan kalian ada masalah.”

Ucapan ibunya itu membuat Nadia tersentak. Kata-kata yang terasa ambigu. Apakah itu ultimatum buat Daniel agar tak macam-macam atau itu kode kalau ia sudah bukan bagian dari keluarga ini lagi? Entahlah.

Daniel memahami, kalau kalimat itu adalah keresahan dan ketidakyakinan seorang ibu pada pria yang akan menyunting putrinya dan ia tak ingin Nadia overthinking dan kembali risau.

“Saya paham keresahan seorang ibu. Yang ibu harus ketahui, saya menikah untuk selamanya. Insyaallah saya akan berusaha agar rumah tangga kami tetap rukun dan tenang.”

“Saya tahu beban ibu banyak dan saya akan berusaha untuk menyelesaikan setiap persoalan kami berdua tanpa merepotkan ibu.” Ucap Daniel tegas.

“Kalau begitu…” suaranya berat namun tegas, “Ibu restui.”“Ibu restui kamu menikah dengan Daniel.” Air mata kembali jatuh. “Ibu tidak mau jadi alasan Nadia tidak menikah.”

Daniel maju satu langkah. “Terima kasih Bu.”

“Saya tidak peduli bagaimana Nadia dilahirkan,” ucapnya tegas namun sopan. “Yang saya tahu, dia perempuan yang kuat, jujur, dan penuh tanggung jawab. Itu yang akan saya nikahi.”

Ruangan kembali hening.

Ibunya menarik napas panjang.
“Kalau begitu, besok datanglah lagi.”

Dunia Nadia seperti berhenti sesaat. Kata-kata itu seperti isyarat kalau ibunya sudah menurunkan egonya.

“Ibu akan siapkan berkas-berkasnya,” lanjut ibunya. “Kartu keluarga, surat-surat… semua yang dibutuhkan. Kalian urus sendiri.”

Itu bukan persetujuan penuh. Tapi juga bukan penolakan. Dan bagi Nadia, itu sudah cukup.

“Dan jangan lupa, kamu lamar Nadia dulu. Bawa keluargamu kemari. Biar kita saling kenal.”

Kalimat itu membuat Nadia tak kuasa menahan tangisnya. Ia tahu ibunya tak pernah menunjukkan kasih sayangnya selayaknya ibu yang pada umumnya. Tapi setidaknya ini sebuah pengakuan kalau ia mau terlibat di moment penting seorang anak.

“Iya Bu, nanti akan saya kabari lagi. Oh iya, sesuai permintaan ibu, saya sudah transfer dua ratus juta ke rekening Rani. Jadi saya sudah penuhi janji saya ya Bu.” Ucap Daniel dengan senyum tipis.

Nadia langsung menoleh ke arahnya dan Daniel cuma mengedip kecil.

Ibu Nadia terpana sejenak. “Sudah, kamu transfer?”

“Iya Bu.”

Dengan cepat ia panggil Rani. “Ran, Rani!”

“Iya Bu, ada apa?” Rani keluar dengan tergopoh tapi saat melihat mereka berdua ia sedikit terkejut.

“Coba kamu lihat notifikasi di hapemu, ada transferan masuk gak?” tanya Misna dengan tak sabar.

Rani segera mengecek dan seketika itu membelalak. “Eh, iya. Ada Bu, aku baru tahu.”

“Jangan lupa Bu, yang seratus juta lagi buat kuliah Jaka. Nadia harap uang itu dipergunakan dengan bijak. Maklum setelah ini, Nadia akan fokus pada pernikahan...,”

“Iya-iya aku sudah ngerti. Gak usah kamu ingetin lagi.” Ucap Misna dengan bibir cemberut.

“Yank..,” ia raih punggung Nadia dan memberikan kedipan agar tak bicara lagi. Nadia cuma bisa menghembus napas.

Setengah jam kemudian mereka keluar dari rumah untuk kembali ke hotel.

“Aku tidak tahu apakah Ibuku benar-benar akan berubah, Daniel” katanya pelan.

“Semoga saja dengan membaiknya hubungan kami, dia tak memanfaatkan hal ini. Maksudku tentang masalah uang.”

Daniel tersenyum tipis. “Sudah tidak usah kau risaukan masalah itu. Aku sudah menepati permintaannya. Aku yakin dia paham.”

“Tak usah kau pikirkan ibumu. Kalau ada rejeki, pasti aku juga akan sisihkan untuk keluargamu di desa.”

“Yang penting. Kita Songsong hari esok kita berdua, Yank. Selama kamu di sisiku, aku akan bekerja keras untuk bisa membahagiakanmu. Itu janjiku, Nad.”

Nadia tersenyum. Perasaan haru itu kembali hadir. Ia menatap langit yang seakan berubah cerah.

Ia memang lahir dari cerita yang rumit. Tapi ia bukan lagi anak yang selalu kurang. Bukan lagi anak yang harus membayar dosa orang lain dengan kerja keras tanpa henti.

Hari ini, di hari kemenangan, ia memenangkan satu hal yang paling sulit: memaafkan.

Dan ketika Daniel menggenggam tangannya, Nadia tidak lagi merasa seperti kutukan. Ia merasa… dipilih.
Bukan karena asal-usulnya sempurna. Tapi karena hatinya layak diperjuangkan.

Dan untuk pertama kalinya sejak identitasnya terbuka, Nadia tidak takut pada masa depan.



Other Stories
I See Your Monster, I See Your Pain

Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...

Eksperimen Kuasa

Sepuluh hari di pulau terpencil. Sekelompok mahasiswa-aktivis antikorupsi dibagi secara ac ...

Hanya Ibu

kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...

Yume Tourou (lentera Mimpi)

Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...

Metafora Diri

Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...

Mr. Perfectionist

Arman dan Audi sebenarnya tetangga dekat, namun baru akrab setelah satu sekolah. Meski ser ...

Download Titik & Koma