Bab 7 Diakui Agar Pernikahan Selamat
Nadia masih duduk di tempatnya, tubuhnya gemetar tak terkira.
Kata-kata itu terus berputar di kepalanya.
Bukan anak kandungku. Hasil hubungan gelap.
Rasanya seperti mimpi buruk yang tak kunjung selesai.
Ia menatap ibunya dengan mata air mata yang menetes.
“Bu…” suaranya pecah. “Apa yang Ibu bilang itu benar?”
Tak ada lagi nada marah di sana. Hanya seorang anak yang meminta kepastian dengan wajah penuh kekecewaan.
“Atau… ini cuma kebohongan supaya aku berhenti membantah?” lanjutnya lirih. Ia berharap begitu.
Ibunya terdiam beberapa detik. Wajahnya masih keras, tapi sorot matanya mulai goyah.
“Itu benar,” katanya akhirnya, lebih pelan. “Ibu nggak pernah bohong soal itu.”
Dunia Nadia kembali bergetar.
“Bagaimana bisa?” Nadia menggeleng pelan. “Aku… aku selalu pikir aku anak kandung Ibu. Aku tumbuh di sini. Aku panggil Ibu sejak kecil.”
“Semua yang kuingat sejak kecil adalah keluarga ini.”
“Itu semua ayahmu yang mengatur,” jawab ibunya dengan suara berat. Ia menahan diri agar tak meneteskan air mata. Semua sudah terlanjur diucapkan dan tak ada kata ditarik lagi.
“Waktu itu Ibu terlalu cinta sama bapakmu. Ibu takut ditinggal. Jadi Ibu terima saja kamu. Ibu akui kamu sebagai anak.”
Air mata Nadia makin deras.
“Jadi… aku cuma alat supaya Ayah tetap di rumah?” bisiknya.
Ibunya memejamkan mata. “Ibu pikir dengan menerima kamu, dia akan berhenti main perempuan. Tapi ternyata tidak.”
Kata-kata itu seperti serpihan kaca.
“Dia tetap selingkuh. Tetap pergi dengan perempuan lain. Sampai akhirnya dia ceraikan Ibu begitu saja… lalu menghilang tanpa jejak.”
Nadia menutup mulutnya, menahan isak yang semakin keras. Dadanya seketika itu terasa penuh dan sesak. Bahkan menarik napas saja rasanya susah.
Semua kepingan masa kecilnya terasa berubah bentuk.
Tatapan dingin. Perbandingan dengan Rani. Kalimat “kamu mirip bapakmu” yang selalu diucapkan dengan nada penuh kebencian. Sekarang semuanya terasa masuk akal. Itu bukan omong kosong. Tapi sebuah kebenaran.
Tapi justru itu yang paling menyakitkan.
Berarti selama ini… jarak itu nyata. Bukan hanya perasaannya saja kalau ia dibedakan. Tapi memang ia beda. Ia bukan anak kandung dari ibunya. Dan lebih dari itu ia anak dari selingkuhan.
Hidupnya benar- benar plotwist.
Daniel memeluk Nadia lebih erat ketika tubuh perempuan itu mulai terisak tak terkendali. Menangis tak berhenti karena merasa hancur.
Ia yang melihat rasanya tak sanggup. Bingung harus bersikap. Ternyata niat yang ingin mengabarkan hubungan mereka berujung pada sesuatu yang tak ia duga begitu juga Nadia. Sebuah kebenaran pahit yang telah disimpan bertahun-tahun.
“Nadia… cukup. Kita pergi dulu, ya,” bisiknya lembut.
Suasana rumah itu tak lagi kondusif. “Kita istirahat dihotel saja ya.”
Dilihatnya Rani menangis di sudut ruangan. Jaka menunduk tak berani menatap siapa pun.
Ibu Nadia berdiri kaku, wajahnya campuran antara marah dan sesuatu yang lebih dalam—sesal, mungkin. Tapi gengsinya terlalu tinggi untuk mengakuinya. Wanita itu terlihat seperti raja tega.
Daniel mengangkat wajahnya, menatap ibu Nadia dengan tetap sopan meski ada rasa kesal yang memuncak.
“Bu, untuk sementara kami pamit dulu ya.”
Tak ada jawaban.
“Saya takut kalau kami tetap di sini, suasana akan makin panas,” lanjut Daniel tenang.
“Nadia perlu waktu untuk menenangkan diri. Saya juga.”
Ia menahan diri untuk tidak berkata lebih jauh.
Tak mungkin ia tinggal di rumah ini. Mereka belum menikah. Belum halal. Dan ia tak ingin memperkeruh keadaan.
“Masalah pernikahan… kita bicarakan besok saja,” katanya pelan. “Setelah semuanya lebih tenang.”
Ibu Nadia hanya terdiam. Wajahnya tegang. Rahangnya mengeras. Seolah menyimpan amarah dan luka yang bercampur jadi satu.
Daniel tak menunggu jawaban. Ia menggenggam tangan Nadia, yang kini terasa dingin dan lemah.
Memapahnya berjalan.
Langkah Nadia terasa berat saat melewati pintu rumah itu.
Rumah yang selama ini ia anggap satu-satunya tempat pulang. Ternyata bukan. Ternyata jadi tempat dimana kebenaran itu akhirnya di katakan.
Begitu keluar, udara siang menyambut dengan panas yang menusuk.
Suara takbir dari masjid kejauhan terdengar sayup-sayup.
Ironis. Orang-orang bersiap menyambut Lebaran. Bersiap memaafkan. Menguatkan ikatan keluarga.
Sementara Nadia justru kehilangan identitasnya.
Begitu sampai di mobil, Nadia tak bisa lagi menahan diri. Ia menangis keras. Tangis yang bukan hanya karena kata-kata kasar. Bukan hanya karena uang.
Tapi karena satu kenyataan pahit—
Ia tak pernah benar-benar punya tempat di rumah itu.
“Aku ini siapa, Daniel?” isaknya di sela napas yang terputus-putus. “Selama ini aku kerja mati-matian buat keluarga itu… tapi ternyata aku cuma anak yang diterima karena kasihan.”
“Aku anak buangan.”
Daniel menggenggam tangannya erat.
“Kamu bukan anak buangan,” katanya tegas namun lembut. “Kamu perempuan paling kuat yang pernah aku kenal.”
“Aku bahkan nggak tahu siapa ibuku yang sebenarnya,” Nadia terisak. “Siapa perempuan yang melahirkan ku? Kenapa dia tega ninggalin aku?”
“Aku tak punya identitas , Daniel.”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Daniel tak punya jawaban. Yang bisa ia lakukan hanya menarik Nadia ke dalam pelukannya berusaha menghiburnya. Rasanya puasa mereka berdua batal sudah.
“Kamu nggak sendirian,” bisiknya di rambut Nadia. “Sekarang kamu punya aku. Kita akan lalui masa sulit ini bersama-sama.”
Mobil melaju pelan meninggalkan gang sempit itu.
Setiap meter yang menjauh terasa seperti memutus satu lapisan kenangan.
Nadia menoleh sekilas ke arah rumah itu melalui kaca jendela. Membayangkan ibunya mengejar dan meminta maaf atas kata-kata yang menyakitkan itu. Tapi tak ada yang mengejar. Tak ada yang memanggil namanya. Tak ada juga yang berkata, jangan pergi.
Air matanya kembali jatuh. Bukan hanya karena kebenaran yang baru ia dengar. Tapi karena untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa selama ini ia berjuang mati-matian untuk cinta yang mungkin memang tak pernah ada.
Dan hari itu, di tengah gema takbir yang bersahutan,
Nadia meninggalkan rumahnya dengan hati yang hancur dan identitas yang retak.
“Kenapa aku harus hidup hanya untuk membayar perbuatan ibu kandungku?”
“Kenapa ya Allah?” gumamnya lirih. Ia merasa tangan Daniel mulai menggenggam tangannya.
“Nadia...sabar...,”
“Sabar? Aku selalu jadi orang yang sabar seumur hidupku Daniel. Tapi apa balasannya sekarang?”
“Bahkan tak ada rasa cinta yang kuterima dari keluargaku. Seolah aku memang sampah yang cuma di pakai jika bermanfaat.”
“Daniel, kita bubar saja ya. Pergilah kamu dari hidupku. Aku rela. Aku tak mau kamu dekat aku. Aku anak haram.”
Kata-kata itu terus berputar di kepalanya.
Bukan anak kandungku. Hasil hubungan gelap.
Rasanya seperti mimpi buruk yang tak kunjung selesai.
Ia menatap ibunya dengan mata air mata yang menetes.
“Bu…” suaranya pecah. “Apa yang Ibu bilang itu benar?”
Tak ada lagi nada marah di sana. Hanya seorang anak yang meminta kepastian dengan wajah penuh kekecewaan.
“Atau… ini cuma kebohongan supaya aku berhenti membantah?” lanjutnya lirih. Ia berharap begitu.
Ibunya terdiam beberapa detik. Wajahnya masih keras, tapi sorot matanya mulai goyah.
“Itu benar,” katanya akhirnya, lebih pelan. “Ibu nggak pernah bohong soal itu.”
Dunia Nadia kembali bergetar.
“Bagaimana bisa?” Nadia menggeleng pelan. “Aku… aku selalu pikir aku anak kandung Ibu. Aku tumbuh di sini. Aku panggil Ibu sejak kecil.”
“Semua yang kuingat sejak kecil adalah keluarga ini.”
“Itu semua ayahmu yang mengatur,” jawab ibunya dengan suara berat. Ia menahan diri agar tak meneteskan air mata. Semua sudah terlanjur diucapkan dan tak ada kata ditarik lagi.
“Waktu itu Ibu terlalu cinta sama bapakmu. Ibu takut ditinggal. Jadi Ibu terima saja kamu. Ibu akui kamu sebagai anak.”
Air mata Nadia makin deras.
“Jadi… aku cuma alat supaya Ayah tetap di rumah?” bisiknya.
Ibunya memejamkan mata. “Ibu pikir dengan menerima kamu, dia akan berhenti main perempuan. Tapi ternyata tidak.”
Kata-kata itu seperti serpihan kaca.
“Dia tetap selingkuh. Tetap pergi dengan perempuan lain. Sampai akhirnya dia ceraikan Ibu begitu saja… lalu menghilang tanpa jejak.”
Nadia menutup mulutnya, menahan isak yang semakin keras. Dadanya seketika itu terasa penuh dan sesak. Bahkan menarik napas saja rasanya susah.
Semua kepingan masa kecilnya terasa berubah bentuk.
Tatapan dingin. Perbandingan dengan Rani. Kalimat “kamu mirip bapakmu” yang selalu diucapkan dengan nada penuh kebencian. Sekarang semuanya terasa masuk akal. Itu bukan omong kosong. Tapi sebuah kebenaran.
Tapi justru itu yang paling menyakitkan.
Berarti selama ini… jarak itu nyata. Bukan hanya perasaannya saja kalau ia dibedakan. Tapi memang ia beda. Ia bukan anak kandung dari ibunya. Dan lebih dari itu ia anak dari selingkuhan.
Hidupnya benar- benar plotwist.
Daniel memeluk Nadia lebih erat ketika tubuh perempuan itu mulai terisak tak terkendali. Menangis tak berhenti karena merasa hancur.
Ia yang melihat rasanya tak sanggup. Bingung harus bersikap. Ternyata niat yang ingin mengabarkan hubungan mereka berujung pada sesuatu yang tak ia duga begitu juga Nadia. Sebuah kebenaran pahit yang telah disimpan bertahun-tahun.
“Nadia… cukup. Kita pergi dulu, ya,” bisiknya lembut.
Suasana rumah itu tak lagi kondusif. “Kita istirahat dihotel saja ya.”
Dilihatnya Rani menangis di sudut ruangan. Jaka menunduk tak berani menatap siapa pun.
Ibu Nadia berdiri kaku, wajahnya campuran antara marah dan sesuatu yang lebih dalam—sesal, mungkin. Tapi gengsinya terlalu tinggi untuk mengakuinya. Wanita itu terlihat seperti raja tega.
Daniel mengangkat wajahnya, menatap ibu Nadia dengan tetap sopan meski ada rasa kesal yang memuncak.
“Bu, untuk sementara kami pamit dulu ya.”
Tak ada jawaban.
“Saya takut kalau kami tetap di sini, suasana akan makin panas,” lanjut Daniel tenang.
“Nadia perlu waktu untuk menenangkan diri. Saya juga.”
Ia menahan diri untuk tidak berkata lebih jauh.
Tak mungkin ia tinggal di rumah ini. Mereka belum menikah. Belum halal. Dan ia tak ingin memperkeruh keadaan.
“Masalah pernikahan… kita bicarakan besok saja,” katanya pelan. “Setelah semuanya lebih tenang.”
Ibu Nadia hanya terdiam. Wajahnya tegang. Rahangnya mengeras. Seolah menyimpan amarah dan luka yang bercampur jadi satu.
Daniel tak menunggu jawaban. Ia menggenggam tangan Nadia, yang kini terasa dingin dan lemah.
Memapahnya berjalan.
Langkah Nadia terasa berat saat melewati pintu rumah itu.
Rumah yang selama ini ia anggap satu-satunya tempat pulang. Ternyata bukan. Ternyata jadi tempat dimana kebenaran itu akhirnya di katakan.
Begitu keluar, udara siang menyambut dengan panas yang menusuk.
Suara takbir dari masjid kejauhan terdengar sayup-sayup.
Ironis. Orang-orang bersiap menyambut Lebaran. Bersiap memaafkan. Menguatkan ikatan keluarga.
Sementara Nadia justru kehilangan identitasnya.
Begitu sampai di mobil, Nadia tak bisa lagi menahan diri. Ia menangis keras. Tangis yang bukan hanya karena kata-kata kasar. Bukan hanya karena uang.
Tapi karena satu kenyataan pahit—
Ia tak pernah benar-benar punya tempat di rumah itu.
“Aku ini siapa, Daniel?” isaknya di sela napas yang terputus-putus. “Selama ini aku kerja mati-matian buat keluarga itu… tapi ternyata aku cuma anak yang diterima karena kasihan.”
“Aku anak buangan.”
Daniel menggenggam tangannya erat.
“Kamu bukan anak buangan,” katanya tegas namun lembut. “Kamu perempuan paling kuat yang pernah aku kenal.”
“Aku bahkan nggak tahu siapa ibuku yang sebenarnya,” Nadia terisak. “Siapa perempuan yang melahirkan ku? Kenapa dia tega ninggalin aku?”
“Aku tak punya identitas , Daniel.”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Daniel tak punya jawaban. Yang bisa ia lakukan hanya menarik Nadia ke dalam pelukannya berusaha menghiburnya. Rasanya puasa mereka berdua batal sudah.
“Kamu nggak sendirian,” bisiknya di rambut Nadia. “Sekarang kamu punya aku. Kita akan lalui masa sulit ini bersama-sama.”
Mobil melaju pelan meninggalkan gang sempit itu.
Setiap meter yang menjauh terasa seperti memutus satu lapisan kenangan.
Nadia menoleh sekilas ke arah rumah itu melalui kaca jendela. Membayangkan ibunya mengejar dan meminta maaf atas kata-kata yang menyakitkan itu. Tapi tak ada yang mengejar. Tak ada yang memanggil namanya. Tak ada juga yang berkata, jangan pergi.
Air matanya kembali jatuh. Bukan hanya karena kebenaran yang baru ia dengar. Tapi karena untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa selama ini ia berjuang mati-matian untuk cinta yang mungkin memang tak pernah ada.
Dan hari itu, di tengah gema takbir yang bersahutan,
Nadia meninggalkan rumahnya dengan hati yang hancur dan identitas yang retak.
“Kenapa aku harus hidup hanya untuk membayar perbuatan ibu kandungku?”
“Kenapa ya Allah?” gumamnya lirih. Ia merasa tangan Daniel mulai menggenggam tangannya.
“Nadia...sabar...,”
“Sabar? Aku selalu jadi orang yang sabar seumur hidupku Daniel. Tapi apa balasannya sekarang?”
“Bahkan tak ada rasa cinta yang kuterima dari keluargaku. Seolah aku memang sampah yang cuma di pakai jika bermanfaat.”
“Daniel, kita bubar saja ya. Pergilah kamu dari hidupku. Aku rela. Aku tak mau kamu dekat aku. Aku anak haram.”
Other Stories
Eksperimen Kuasa
Sepuluh hari di pulau terpencil. Sekelompok mahasiswa-aktivis antikorupsi dibagi secara ac ...
Ada Apa Dengan Rasi
Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...
Makna Dibalik Kalimat (never Ending)
Rangkaian huruf yang menjadi kata. Rangkaian kata yang menjadi kalimat. Kalimat yang mungk ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...
Tersesat
Qiran yang suka hal baru nekat mengakses deep web dan menemukan sebuah lagu, lalu memamerk ...
Pahlawan Revolusi
tes upload cerita jgn di publish ...