Seratus Juta Untuk Sebuah Restu

Reads
410
Votes
24
Parts
12
Vote
Report
Seratus juta untuk sebuah restu
Seratus Juta Untuk Sebuah Restu
Penulis Rista

Bab 10 Khutbah Pengetuk Hati

Pagi itu langit tampak cerah. Takbir masih menggema ketika Nadia dan Daniel berjalan berdampingan menuju masjid kecil di dekat hotel.

Daniel tidak banyak bicara. Ia hanya memastikan langkah Nadia tidak goyah. Sesekali tangannya hampir menyentuh lengannya bukan untuk menggenggam—hanya berjaga.

Nadia masih mengenakan mukena putihnya, dilapisi gamis sederhana. Wajahnya pucat, tapi sorot matanya tidak lagi sekosong semalam.

Masjid sudah penuh. Orang-orang bersalaman, tersenyum, anak-anak berlarian dengan baju baru.
Kontras sekali dengan hati Nadia yang tengah luluh lantak.

Ia berdiri di saf perempuan. Mengangkat takbiratul ihram saat sholat mulai.

“Allahu akbar.”

Suara itu bergetar di tenggorokannya. Sepanjang sholat, Nadia mencoba fokus. Setiap bacaan imam terdengar seperti mengetuk sesuatu di dalam dadanya. Ia masih hancur, ya. Tapi kali ini ia tidak lari dari rasa itu. Ia membawanya dalam sujud.

Saat dahinya menyentuh sajadah masjid, Nadia berbisik dalam hati:
Ya Allah… kalau Engkau masih mengizinkanku hidup, ajari aku cara menerimanya. Ajari aku cara memaafkan.

Sholat kemudian selesai. Khutbah dimulai.
Khatib naik ke mimbar dengan suara tenang namun tegas.

Ia membuka dengan pujian kepada Allah, lalu berkata—

“Saudara-saudaraku, hari ini kita merayakan kemenangan. Tapi kemenangan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga.”

“Kemenangan disini adalah ketika hati kita mampu mengalahkan dendam, mengalahkan ego, dan mengalahkan luka.”

Nadia menegakkan punggungnya perlahan.

“Kita sering merasa paling terluka. Paling dizalimi. Paling tidak beruntung. Tapi sesungguhnya, setiap kita memikul ujian yang berbeda-beda.”

Angin pagi berhembus pelan melewati jendela masjid dengan sinar mentari yang mulai masuk lewat celah -celah lubang pilar.

“Ada anak yang lahir tanpa ayah. Ada yang lahir tanpa ibu. Ada yang bahkan tidak tahu siapa orang tuanya. Namun kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak pernah ditentukan oleh nasabnya. Tidak oleh nama ayahnya. Tidak oleh status kelahirannya.”

Nadia menahan napas. Kalimat itu seperti diarahkan tepat ke dadanya. Kalimat itu seolah sama dengan apa yang sedang ia alami.

“Yang Allah lihat adalah takwanya. Usahanya. Kesabarannya.”

Suara khatib semakin dalam.

“Jangan pernah merasa hina karena masa lalu orang tua kita. Sebab dosa tidak diwariskan. Yang diwariskan hanyalah kesempatan untuk memilih jalan yang lebih baik.”

Air mata Nadia mengalir lagi, tapi kali ini lebih tenang. Kata-kata itu merasuk di hatinya paling dalam.

“Dan tentang memaafkan…” lanjut sang khatib, “memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan. Memaafkan adalah membebaskan hati kita dari beban kebencian.”

Nadia menunduk. Menafsirkan kata-kata tadi.
Membebaskan hati. Bukan membenarkan.

“Boleh jadi orang tua kita pernah salah. Boleh jadi mereka melukai kita dengan kata-kata. Tapi hari kemenangan adalah saat kita memilih untuk tidak mewariskan luka itu ke generasi berikutnya.”

Duarr. Kalimat itu membuatnya ingat akan ibunya.
Wajah tegang. Mata penuh amarah. Perempuan yang juga sebenarnya korban pengkhianatan.

“Jika hari ini kita masih diberi pendidikan, diberi akal, diberi kesempatan memperbaiki hidup—maka kita jauh lebih beruntung daripada mereka yang lahir dari keadaan yang sama namun tak pernah diberi kesempatan bangkit.”

Kalimat itu kembali menghantam lembut.
Nadia terpekur. Memaknainya dan meresapinya.

Betul, ia memang lahir dari pengkhianatan. Tapi ia tidak dibuang.

Ia tetap disekolahkan dan karena pendidikannya itu ia bisa bekerja dan berdiri sendiri.

Berapa banyak anak di luar sana yang mungkin senasib dengannya—lahir tanpa status jelas—namun tak pernah diberi akses pendidikan? Yang akhirnya tumbuh di jalanan? Terjerumus pada hidup yang kelam karena tak ada yang membimbing?

Nadia menelan ludah. Otaknya yang lelah seolah berubah terang benderang.

Selama ini ia merasa paling malang. Padahal mungkin… ia termasuk yang diselamatkan.

Khutbah itu masih berlanjut.

“Jangan jadikan masa lalu sebagai alasan untuk membenci takdir,” suara khatib menggetarkan ruang masjid. “Jadikan ia alasan untuk lebih dekat kepada Allah.”

Nadia menutup matanya. Kata-kata penutup itu seolah menyeretnya untuk berpikir lebih dalam.

Ia memang tidak bisa memilih dari rahim siapa ia lahir. Tapi ia bisa memilih akan menjadi perempuan seperti apa.

Ia bisa memilih tidak mewarisi kebencian ibunya.
Ia bisa memilih tidak hidup sebagai korban.

Takbir kembali berkumandang di akhir khutbah.
“Allahu akbar… Allahu akbar…”

Nadia menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak kemarin, ia tidak merasa sepenuhnya hancur.

Memang luka itu masih ada. Masih menganga .
Tapi kini ada ruang untuk memahaminya.

“Ya Allah, terima kasih kau sudah ketuk hatiku tadi untuk sholat Ied. Terima kasih Engkau telah menuntunku kembali agar tak lemah iman dan terpuruk terus.”

Hatinya sedikit lega. Ternyata, kalimat yang diucapkan pada khotbah tadi jadi obat dari rasa sakit hatinya.

Setelah doa selesai, jamaah mulai bersalaman.
Nadia berjalan keluar masjid. Daniel sudah menunggunya di pelataran, berdiri dengan tenang.

“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya lembut.

Nadia mengangguk pelan. “Aku dengar khutbahnya,” katanya pelan.

Daniel tersenyum tipis. “Aku juga.”

Nadia menatap langit biru di atas mereka. “Semalam aku merasa hidupku paling kacau,” katanya. “Tapi tadi… aku sadar sesuatu.”

Daniel menunggu.

“Aku memang lahir dari kesalahan orang tua. Tapi aku nggak tumbuh jadi sebuah kesalahan lagi.”

Daniel tersenyum lebih jelas. Ia tepuk bahu kekasihnya itu, seolah menunjukkan rasa bangga.

“Aku masih sekolah. Aku bisa kerja. Aku nggak terjerumus ke jalan yang salah.” Nadia menatap Daniel. “Itu artinya Allah masih sayang sama aku.”

Daniel mengangguk. “Sangat Nad.”

Nadia menunduk sebentar, lalu berkata pelan
“Aku nggak mau mewarisi kebencian, Daniel. Meski keluargaku memperlakukan aku tak pantas.”

Hening beberapa detik.

“Aku ingin ke rumah lagi,” lanjutnya.

Daniel terdiam sejenak. “Sekarang?”

“Iya.” Nadia menarik napas dalam. “Bukan untuk ribut. Bukan untuk minta penjelasan lagi. Tapi… mungkin untuk mulai memaafkan.”

“Memaafkan Ibumu?” tanya Daniel hati-hati.

Nadia mengangguk. “Bukan karena dia benar,” katanya pelan. “Tapi karena aku nggak mau dihidupku selanjutnya membawa dendam tak berkesudahan.”

Matanya masih sembab, tapi kini ada keteguhan di sana. “Aku nggak tahu apakah aku bisa memanggilnya Ibu dengan rasa yang sama lagi,” lanjutnya.

“Tapi aku nggak mau pergi dari hidupnya dengan kebencian.”

Daniel menatap perempuan itu dengan kagum.
Kemarin Nadia hancur. Tapi hari ini ia memilih bangkit. Hari yang penuh Rahmat dan pengampunan.

“Kalau kamu siap,” kata Daniel lembut, “aku temani.”

Nadia tersenyum tipis. “Terima kasih Daniel. Terima kasih kamu sudah mendukung ku.”

“Sama- sama calon istriku. Sekarang kamu gak lagi ngotot kan pingin putus?” godanya. Dan Nadia cuma tersenyum kecil.

“Bagaimana aku bisa meninggalkan pria yang sudah tulus dan membersamaiku. Tak hanya saat aku sedang bahagia tapi juga saat aku melewati masa-masa sulit.”

“Tidak Daniel.” Nadia menggelengkan kepala dan itu membuat Daniel gemas.

“Bagus. Tapi jangan diulangi lagi ya. Karena bisa-bisa aku yang dibuat gila.”


Other Stories
Hellend (noni Belanda)

Pak Kasman berkali-kali bermimpi tentang hantu perempuan bergaun kolonial yang seolah memb ...

Cahaya Di Ujung Mihrab

Amara adalah seorang wanita yang terjebak dalam gemerlap dunia malam yang hampa, hingga se ...

The Labsky

Keyra Shifa, penggemar berat kisah detektif, membentuk tim bernama *The Labsky* bersama An ...

Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir

Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...

Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Bahagiakan Ibu

Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...

Download Titik & Koma