1. Bandung-Kota Hujan
Bandara Udara Internasional Husein Sastranegara, Bandung.
Seorang gadis berambut sepinggang membiarkan rambutnya terurai bebas. Kacamata hitam bertengger di hidungnya, menyembunyikan mata sembab akibat kurang tidur selama penerbangan. Dadanya dipenuhi kegelisahan, ia ingin segera melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi pada seseorang yang, dengan berat hati, membuatnya membatalkan seluruh rencana liburan yang telah ia susun rapi selama berbulan-bulan dan membawanya berakhir di kota hujan ini.
Sepanjang perjalanan dari bandara menuju rumah, ia hanya menatap diam ke luar jendela mobil. Langit perlahan menumpahkan air, setetes demi setetes, seolah menyambut kedatangannya.
Setibanya di depan sebuah rumah bergaya klasik dengan nuansa Eropa, seolah telah berdiri puluhan tahun lamanya. Raina berhenti sejenak. Tidak ada sambutan dari siapa pun di dalam sana. Ia menatap sekeliling dengan lekat. Hampir sepuluh tahun ia meninggalkan rumah ini, namun tak ada yang benar-benar berubah. Semuanya masih terasa sama seperti dulu, hanya saja senyum hangat yang biasanya menyambut kepulangannya kini tak lagi terlihat
Raina Elvaretta, gadis berusia sembilan belas tahun itu, melangkah masuk ke dalam rumah yang sepi dan sunyi. Keheningan menyelimutinya, seolah rumah itu ikut menahan napas. Tanpa ragu ia terus berjalan, hanya memiliki satu tujuan yaitu kamar utama yang berada tak jauh dari pintu masuk.
Ia membuka pintu putih yang senada dengan warna dinding rumah, lalu berucap lirih,
“Assalamualaikum, Oma… Raina pulang.”
Wanita paruh baya yang telah melewati lebih dari setengah abad kehidupannya itu menoleh perlahan dari atas ranjang. Tubuhnya tampak lemah, namun senyum lembut tetap terukir di wajahnya.
“Raina… itu benar kamu, Nak?”
“Iya, Oma. Raina datang buat Oma,” jawab Raina pelan. Ia segera menghampiri, memeluk tubuh wanita yang sangat disayanginya itu, lalu membantu Oma duduk dan bersandar di tepi ranjang.
“Gimana kuliah kamu di Amerika? Lancar?” tanya Oma sambil menatap lekat cucu perempuannya.
“Iya, Oma. Sebentar lagi Raina bakal jadi psikolog hebat, seperti permintaan terakhir Ayah,” jawab Raina dengan senyum kecil. Sudah bertahun-tahun ia tak merasakan kenyamanan seperti ini, kehangatan yang tak pernah ia temukan di tempat lain.
“Tapi kamu nggak ninggalin kuliah kamu karena Oma, kan?” tanya Oma lagi. Baginya, tidak ada yang lebih penting di dunia ini selain kelancaran pendidikan cucunya.
Raina menggeleng pelan, “Nggak, Oma. Raina lagi libur semester. Jadi, sampai dua bulan ke depan Raina bakal nemenin Oma di sini.”
Senyum lega terlukis di wajah Oma, meski mata tuanya menyimpan kelelahan yang tak bisa disembunyikan. Raina menggenggam tangan renta itu erat-erat, seolah takut waktu akan merenggut momen hangat yang baru saja kembali ia rasakan.
Di tempat lain, seorang pria berada di dalam kamar bernuansa hitam-putih. Ia meringkuk di bawah selimut, menutupi seluruh tubuhnya seolah tak ingin seberkas cahaya maupun suara menembus masuk. Di tengah kamar yang gelap itu, ia hanya memeluk dirinya sendiri, berusaha memaksa kesadaran tenggelam ke dalam alam mimpi. Di luar, suara hujan mengetuk kaca jendela tanpa henti, membuat napasnya semakin tidak tenang. Dalam diam, ia berdoa agar hujan segera berhenti agar awan hitam di langit berganti menjadi awan putih yang indah, satu-satunya pemandangan yang mampu membuatnya merasa aman.
Seorang gadis berambut sepinggang membiarkan rambutnya terurai bebas. Kacamata hitam bertengger di hidungnya, menyembunyikan mata sembab akibat kurang tidur selama penerbangan. Dadanya dipenuhi kegelisahan, ia ingin segera melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi pada seseorang yang, dengan berat hati, membuatnya membatalkan seluruh rencana liburan yang telah ia susun rapi selama berbulan-bulan dan membawanya berakhir di kota hujan ini.
Sepanjang perjalanan dari bandara menuju rumah, ia hanya menatap diam ke luar jendela mobil. Langit perlahan menumpahkan air, setetes demi setetes, seolah menyambut kedatangannya.
Setibanya di depan sebuah rumah bergaya klasik dengan nuansa Eropa, seolah telah berdiri puluhan tahun lamanya. Raina berhenti sejenak. Tidak ada sambutan dari siapa pun di dalam sana. Ia menatap sekeliling dengan lekat. Hampir sepuluh tahun ia meninggalkan rumah ini, namun tak ada yang benar-benar berubah. Semuanya masih terasa sama seperti dulu, hanya saja senyum hangat yang biasanya menyambut kepulangannya kini tak lagi terlihat
Raina Elvaretta, gadis berusia sembilan belas tahun itu, melangkah masuk ke dalam rumah yang sepi dan sunyi. Keheningan menyelimutinya, seolah rumah itu ikut menahan napas. Tanpa ragu ia terus berjalan, hanya memiliki satu tujuan yaitu kamar utama yang berada tak jauh dari pintu masuk.
Ia membuka pintu putih yang senada dengan warna dinding rumah, lalu berucap lirih,
“Assalamualaikum, Oma… Raina pulang.”
Wanita paruh baya yang telah melewati lebih dari setengah abad kehidupannya itu menoleh perlahan dari atas ranjang. Tubuhnya tampak lemah, namun senyum lembut tetap terukir di wajahnya.
“Raina… itu benar kamu, Nak?”
“Iya, Oma. Raina datang buat Oma,” jawab Raina pelan. Ia segera menghampiri, memeluk tubuh wanita yang sangat disayanginya itu, lalu membantu Oma duduk dan bersandar di tepi ranjang.
“Gimana kuliah kamu di Amerika? Lancar?” tanya Oma sambil menatap lekat cucu perempuannya.
“Iya, Oma. Sebentar lagi Raina bakal jadi psikolog hebat, seperti permintaan terakhir Ayah,” jawab Raina dengan senyum kecil. Sudah bertahun-tahun ia tak merasakan kenyamanan seperti ini, kehangatan yang tak pernah ia temukan di tempat lain.
“Tapi kamu nggak ninggalin kuliah kamu karena Oma, kan?” tanya Oma lagi. Baginya, tidak ada yang lebih penting di dunia ini selain kelancaran pendidikan cucunya.
Raina menggeleng pelan, “Nggak, Oma. Raina lagi libur semester. Jadi, sampai dua bulan ke depan Raina bakal nemenin Oma di sini.”
Senyum lega terlukis di wajah Oma, meski mata tuanya menyimpan kelelahan yang tak bisa disembunyikan. Raina menggenggam tangan renta itu erat-erat, seolah takut waktu akan merenggut momen hangat yang baru saja kembali ia rasakan.
Di tempat lain, seorang pria berada di dalam kamar bernuansa hitam-putih. Ia meringkuk di bawah selimut, menutupi seluruh tubuhnya seolah tak ingin seberkas cahaya maupun suara menembus masuk. Di tengah kamar yang gelap itu, ia hanya memeluk dirinya sendiri, berusaha memaksa kesadaran tenggelam ke dalam alam mimpi. Di luar, suara hujan mengetuk kaca jendela tanpa henti, membuat napasnya semakin tidak tenang. Dalam diam, ia berdoa agar hujan segera berhenti agar awan hitam di langit berganti menjadi awan putih yang indah, satu-satunya pemandangan yang mampu membuatnya merasa aman.
Other Stories
Pintu Dunia Lain
Wira berdiri di samping kursi yang sedari tadi didudukinya. Dengan pandangan tajam yang ...
Kota Ini
Plak! Terdengar tamparan keras yang membuat Jesse terperanjat dari tempat tidurnya. "S ...
Menolak Jatuh Cinta
Maretha Agnia, novelis terkenal dengan nama pena sahabatnya, menjelajah dunia selama tiga ...
Bisikan Lada
Tiga pemuda nekat melanggar larangan sesepuh demi membuktikan mitos, namun justru mengalam ...
Rest Area
Hidup bukan tentang menemukan tempat tanpa luka, tetapi bagaimana tetap hidup untuk esok d ...
Persembahan Cinta
Rendra pria tampan dari keluarga kaya, sedangkan Fita gadis sederhana. Namun, Mama Fita ra ...