Bab 10 – Notifikasi
Pagi datang tanpa suara. Cahaya pucat menembus tirai yang tidak tertutup rapat, memantul tipis di dinding krem. Kabut menggantung rendah di luar jendela, membuat garis lembah tampak samar.
Rian sudah terbangun lebih dulu. Ia duduk di tepi ranjang, menunduk, kedua telapak tangan bertumpu di paha. Perutnya masih terasa penuh. Napasnya pelan.
Di belakangnya, Nara bergerak kecil lalu bangun. Rambutnya sedikit berantakan. Ia menatap punggung Rian beberapa detik sebelum berkata, “Udah bangun?”
“Iya.”
Nara turun dari ranjang, berjalan ke kamar mandi, lalu kembali beberapa menit kemudian dengan wajah lebih segar. Ia mengambil ponsel dari meja samping ranjang.
“Selfie dulu sebelum kabutnya hilang,” katanya ringan.
Rian menoleh. Ia berdiri tanpa banyak bicara dan mendekat. Mereka berdiri berdampingan di dekat jendela. Kabut menjadi latar putih pucat di belakang bahu mereka.
Nara mengangkat ponsel. Kamera depan menyala. Wajah mereka muncul berdampingan di layar. Nara menjulurkan lidah, matanya menoleh ke samping. Sementara Rian tersenyum ke arah layar.
Klik.
Notifikasi muncul di bagian atas layar. Ikon aplikasi kencan. Nama aplikasi terlihat jelas.
Senyum Rian hilang seketika. Sementara Nara masih menoleh ke arah lain, belum menyadari. “Ulang sekali lagi,” katanya, menggeser sedikit posisi.
Rian tidak bergerak.
Beberapa detik kemudian Nara menyadari tangan Rian tidak lagi mendekat. Ia menoleh. “Kenapa?”
Rian tidak menjawab. Ia hanya memiringkan layar ponsel sedikit, cukup agar notifikasi itu terlihat jelas.
Hening.
Wajah Nara tidak langsung berubah. “Oh,” katanya singkat. “Itu cuma notifikasi. Aku belum sempat hapus aplikasinya.”
Rian menatapnya.
“Aku nggak pernah buka lagi,” tambah Nara cepat.
Rian tetap diam. Beberapa detik berlalu tanpa ada yang bersuara.
“Buka,” kata Rian akhirnya. Suaranya datar. Tidak tinggi.
Nara menatapnya beberapa detik.
Rian mengangguk. “Buka,” ulangnya lagi.
Nara memutar bola matanya. “Fine.” Ia menekan ikon itu. Aplikasi terbuka.
Beberapa percakapan terlihat di layar. Rian memandanginya tanpa berkedip.
Ia menggulir layar ke bawah, melihat daftar panjang nama para pria. Lalu ia kembali ke chat teratas. Percakapan terakhir: sepuluh jam lalu.
Ibu jarinya menggantung di udara, lalu turun kembali ke samping tubuhnya.
“Itu cuma balas sopan,” kata Nara. “Aku nggak pernah ketemu siapa-siapa.”
Rian masih memegang ponsel itu.
“Aku cuma takut,” lanjut Nara, suaranya mulai berubah. “Takut kamu tiba-tiba berubah pikiran. Takut kamu ninggalin aku juga.”
Rian mengembalikan ponsel itu ke tangan Nara. Ia menatap Nara lurus. “Kamu bilang nggak suka orang yang nggak jujur.” Tidak ada nada marah. Tidak ada tekanan.
Nara menggeleng cepat. “Ini nggak kayak yang kamu pikirin.”
Rian tidak menjawab.
Nara maju selangkah. “Aku cuma chat. Semua orang di posisi aku juga bakal lakuin yang sama.”
Rian memalingkan wajah sedikit.
“Aku takut kamu berubah,” ulang Nara. “Aku belum seratus persen yakin sama kamu waktu itu.”
Rian berjalan melewati Nara menuju lemari. Ia menarik koper keluar, membukanya di atas ranjang, lalu mulai memasukkan pakaian dengan gerakan tenang.
“Kamu mau ke mana?” tanya Nara.
Rian tidak menjawab.
“Aku bisa jelasin semuanya.”
Tidak ada jawaban.
Nara berdiri di samping ranjang. “Jangan kayak gini, Rian.” Suaranya tidak lagi stabil. Bahunya naik-turun. Air mata mengalir tanpa ia seka.
Nara menggeleng pelan, lalu matanya menoleh ke arah koper. “Aku cuma takut ditinggal. Aku nggak pernah niat nyakitin kamu.” Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh.
Rian mengancingkan koper. Zrrrrt.
“Kamu lebay,” kata Nara, nadanya sedikit naik. “Aku cuma chat. Nggak ada apa-apa.”
Rian menutup koper. Tangannya berhenti sebentar di pegangan.
Rasa melilit di perutnya muncul lagi. Ketika ia berdiri terlalu cepat, pandangannya sedikit berkunang-kunang.
“Kita bisa omongin ini secara dewasa, Rian,” kata Nara.
Rian menahan napas beberapa detik, lalu menghembuskannya perlahan. Kemudian, ia mengangkat koper itu dan berjalan menuju pintu kamar tanpa menoleh.
Di ruang tamu, cahaya pagi terasa lebih terang. Kabut di luar jendela mulai bergerak naik dari lembah, perlahan menutup pandangan.
Nara berdiri di ambang kamar, tidak menyentuhnya. “Rian!”
Rian berhenti satu detik di dekat pintu utama, tidak menoleh.
Tangannya membuka pintu itu. Udara dingin langsung masuk.
Rian berjalan menuju mobil. Koper dimasukkan ke bagasi. Pintu ditutup.
Ia membuka gerbang kayu, lalu kembali ke mobil.
Mesin menyala.
Dari kaca spion, Rian melihat Nara masih berdiri di teras. Ia tidak lagi menangis. Hanya diam.
Mobil perlahan keluar dari halaman berumput yang masih basah.
Kabut semakin tebal di tikungan pertama.
Lampu vila mengecil di kaca spion, lalu hilang tertelan putih.
Setir terasa dingin di telapak tangannya. Rian tidak menoleh lagi.
Other Stories
Death Cafe
Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...
Setelah Perayaan Itu Usai.
Amara tumbuh di sebuah dusun kecil, ditemani sahabatnya, Angga. Setiap hari mereka lalui d ...
Perpustakaan Berdarah
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...
Cerita Guru Sarita
Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...
Dream Analyst
Frisky, si “Dream Analyst”, bersama teman-temannya mengalami serangkaian kejadian meny ...
My Love
Sandi dan Teresa menunda pernikahan karena Teresa harus mengajar di Timor Leste. Lama tak ...