Ilusi Yang Sama

Reads
2.6K
Votes
552
Parts
13
Vote
Report
Penulis Komandala Putra

Bab 4 – Berdua Saja

Keesokan harinya, Rian makan siang bersama rekan kerjanya, Arga, di kantin kantor. Makanan di atas piring mereka hampir habis.

“Seriusan kamu udah ngasih uang sebanyak itu?” tanya Arga.

Rian tersenyum tipis. “Iya. Buat anak-anaknya.” Ia menyuapkan nasi ke mulutnya.

Arga mengangkat alis. “Kenal berapa lama?”

Rian tidak langsung menjawab. Ia meraih botol air mineralnya. “Udah beberapa minggu.”

Arga tertawa kecil. “Kamu gampang kasihan.” Nada itu terdengar bercanda.

Rian berdiri, lalu berjalan menuju wastafel tak jauh dari situ. Air mengalir deras dari keran, menutup suara percakapan di meja lain.

***

Sore itu, setelah jam kerja usai, Rian mampir dulu ke rumah orang tuanya yang juga ada di Bekasi.

“Udah kangen nih sama sayur asem buatan Ibu,” kata Rian saat ibunya menyendokkan nasi ke piringnya.

“Makan yang banyak,” kata ibunya.

“Ibu juga,” jawab Rian.

Di ruang makan itu, suara sendok beradu dengan piring terdengar. Televisi di ruang tengah menyala pelan menayangkan berita. Bau sayur asem bercampur dengan aroma gorengan yang baru diangkat dari wajan.

Rian makan tanpa banyak bicara.

“Masih sering ketemu sama yang kemarin?” tanya ibunya, nadanya biasa saja.

“Masih, Bu. Baru aja kemarin.”

“Udah serius?”

Rian tersenyum. “Iya, Bu. Udah serius.”

Ibunya mengangguk pelan. “Udah kenal keluarganya?”

“Belum.”

Sendok ibunya berhenti sebentar di udara. “Dia punya tiga anak, kan?”

“Iya.”

Keheningan mengambang di antara mereka.

Ibunya menaruh sendoknya. “Seandainya kamu jadi sama dia, kamu bukan cuma nikahin dia aja.” Ibunya menatap Rian lekat-lekat. “Kamu udah siap?”

Rian menjawab terlalu cepat. “Siap.”

Ibunya tidak langsung membalas. “Ibu cuma nggak mau kamu gegabah.”

Rian berhenti mengunyah. Sendoknya tertahan di udara. “Aku nggak gegabah, Bu.” Ia menurunkan pandangan ke piringnya.

Tidak ada yang bicara lagi sampai makan selesai.

Sebelum pulang, ia berdiri di teras sebentar. Lampu halaman menyala redup. Dari dalam rumah terdengar suara televisi dan sendok yang kembali beradu dengan piring.

***

Hari-hari berikutnya berjalan lebih cepat.

Pagi, pesan dari Nara selalu lebih dulu masuk. “Udah bangun?”

Siang, voice note singkat tentang murid yang rebutan penghapus.

Malam, panggilan yang kadang berlangsung sampai salah satu dari mereka terlelap.

***

Suatu malam, layar ponsel Rian menampilkan wajah anak bungsu Nara yang sedang duduk di pangkuannya.

“Halo, Om Rian,” kata Nara sambil melambaikan tangan dan tertawa kecil.

Anak itu melambaikan tangannya ke kamera. “Ao, Om Ian,” katanya dengan suara yang menggemaskan.

Rian tersenyum lebar. “Halo, Deni.”

Percakapan berlanjut.

Beberapa menit kemudian, anak-anak sudah tidur. Nara mematikan lampu kamar dan menyisakan cahaya redup dari sudut ruangan.

“Aku nggak nyangka bisa secepat ini nyaman sama orang,” katanya pelan.

Rian berbaring menyamping, terpaku menatap layar. “Aku juga nyaman banget sama kamu,” timpalnya.

Tak ada yang bicara. Hanya terdengar napas mereka berdua.

“Kalau boleh jujur,” kata Nara, “sebelum sama kamu sebenarnya aku masih agak takut buat buka hati lagi. Masih trauma.”

“Aku nggak bakal nyakitin kamu,” jawab Rian cepat.

Nara tak menjawab.

“Aku janji.”

Nara diam beberapa saat, lalu tersenyum manis.

***

Sejak malam itu, nada percakapan mereka berubah. Tidak lagi sekadar bertukar cerita, tapi mulai membicarakan rencana kecil—hari libur, jatah cuti, dan tempat wisata yang ingin dikunjungi.

Tanpa pernah menyebut frasa “masa depan”, mereka mulai menyusunnya perlahan.

“Kalau nanti nikah,” kata Rian suatu malam, “kamu mau harta kita dipisah atau gimana?”

“Iya,” jawab Nara tanpa jeda.

Rain membuka mulut, lalu menutupnya kembali.

Di malam lainnya, Nara mengajak liburan bersama. “Anak-anak bisa aku titipin ke Ibu,” katanya antusias.

Rian melihat kalender di ponselnya. “Mau liburan ke mana?”

“Lembang mungkin. Dua atau tiga hari. Kita ke vila. Ngobrol sambil nikmatin udara sejuk.”

Rian menandai tanggal 9-16 Mei 2026. “Mending seminggu aja. Kita ambil cuti. Kamu bisa, kan?”

“Tanggal berapa?”

“Kalau 9 sampai 16 Mei, kamu bisa?”

“Sebentar,” jawab Nara. “Hmm ... kayaknya bisa deh.”

Rian melihat foto keluarganya di galeri. “Mau aku ajak Rosa juga? Biar lebih seru liburannya.”

“Hmm ... kita berdua aja dulu kali ya,” jawab Nara. “Aku pengen bener-bener kenal kamu dulu.”

Rian melihat layar ponselnya beberapa detik sebelum mengangguk kecil.

“Nanti kalau liburan lagi,” lanjut Nara, “baru ajak adik kamu sama anak-anakku. Gimana?”

***

Kantin siang itu lebih ramai dari biasanya.

Suara piring beradu dan tawa meja sebelah bercampur dengan suara televisi yang menyiarkan berita kriminal. Bau sambal dan minyak goreng memenuhi udara.

“Ciee yang mau liburan,” kata Arga.

Rian tersenyum.

“Ngomong-ngomong, jangan jor-joran ya, Bro,” kata Arga. “Gua udah pengalaman.”

Rian mengaduk es di gelasnya. Suara denting kecilnya tenggelam di tengah riuh kantin.


Other Stories
Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Perpustakaan Berdarah

Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...

Puzzle

Ros yatim piatu sejak 14 tahun, lalu menikah di usia 22 tapi sering mendapat kekerasan hin ...

Losmen Kembang Kuning

Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...

Hanya Ibu

kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...

Download Titik & Koma