Ilusi Yang Sama

Reads
2.6K
Votes
552
Parts
13
Vote
Report
Penulis Komandala Putra

Bab 6 – Modal Usaha

Pagi di Lembang datang tanpa suara. Cahaya pucat menyusup lewat celah tirai. Kabut masih menempel di kaca jendela.

Rian terbangun lebih dulu.

Nara masih tidur menyamping, rambutnya menutupi sebagian wajah. Napasnya teratur.

Rian memandanginya beberapa saat sebelum bangkit perlahan agar tidak membangunkan.

Di dapur kecil lantai bawah, ia merebus air dan menyeduh kopi instan. Bunyi air mendidih terdengar terlalu keras di ruangan yang sunyi itu. Roti dan telur dadar sudah tersedia di atas piring.

Beberapa menit kemudian, Nara turun dengan sweater tipis yang sedikit kebesaran. Rambutnya dibiarkan tergerai, sedikit kusut di ujung. “Dingin,” katanya sambil menggosok kedua telapak tangan.

Rian tersenyum. “Sarapan yuk.”

Nara mengangguk.

Tidak ada pembicaraan berat selama menyantap sarapan sederhana itu. Hanya komentar kecil tentang dinginnya udara dan rencana jalan sebentar setelah matahari naik.

Selesai sarapan, mereka duduk kembali di ruang tamu menghadap jendela besar. Kabut mulai menipis, memperlihatkan garis lereng yang kemarin tertutup putih.

“Aku sebenarnya kepikiran sesuatu,” kata Nara.

Rian menoleh sedikit.

“Kalau ada modal, aku pengen buka usaha kecil.” Ia menatap keluar, bukan ke arah Rian.

“Usaha apa?”

“Bimbel sama toko alat tulis kecil. Cuma Belum ada kesempatan.”

“Modalnya berapa kira-kira?”

Nara terdiam sebentar. “Lumayan.”

Range?”

“Di atas seratus,” jawabnya pelan.

Angin mendorong tirai tipis hingga menyentuh lantai. Rian menyandarkan punggungnya ke sofa, lalu mengangguk pelan. Hening menggantung di udara.

“Aku ada uang warisan,” kata Rian kemudian, nada suaranya datar. “Udah lama di rekening.”

Nara menoleh. “Dari siapa?”

“Tanah keluarga dijual. Udah lebih dari setahun.”

Nara mengangguk. Tidak ada pertanyaan lanjutan. Ia kembali menatap lembah.

Beberapa saat mereka duduk tanpa bicara.

“Kalau nikah nanti,” kata Rian tiba-tiba, masih menatap ke luar, “kamu maunya harta kita dipisah atau digabung?”

Nara menjawab cepat, “Iya.”

Rian menoleh cepat.

Nara tetap memandang keluar jendela.

“Iya yang mana?” tanya Rian.

“Digabung.” Nara tersenyum tipis. “Buat apa dipisah kalau udah nikah?”

Rian mengerutkan keningnya sedikit, diam sejenak—lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela.

Ia menggaruk kepalanya pelan, lalu berdiri. “Jalan-jalan sebentar?”

Nara ikut berdiri.

Mereka berjalan menyusuri jalan kecil di sekitar kompleks vila. Matahari sudah lebih tinggi, tapi udara tetap sejuk. Sepatu mereka beradu dengan kerikil halus.

Rian memotret pohon-pohon yang menjulang rapat. Nara berdiri di tepi jalan, memandang jauh ke arah lembah.

“Kamu kebayang nggak,” kata Nara pelan, “kalau usaha itu jalan, aku nggak perlu khawatir lagi soal biaya pendidikan anak-anak nanti.”

Rian menatapnya.

“Bukan buat mewah,” lanjutnya, “cuma biar ngerasa lebih aman aja.”

Rian mengangguk. “Betul.”

Nara diam beberapa saat, seperti sedang menunggu Rian melanjutkan ucapannya.

Beberapa detik berlalu tanpa percakapan, sudut bibir Nara terangkat tipis, lalu ia berjalan lebih dulu.

Sepanjang perjalanan kembali, Nara tidak banyak bicara. Jawabannya pendek. Tidak lagi memulai cerita.

“Kamu kenapa?” tanya Rian ketika mereka sudah sampai halaman vila.

“Nggak apa-apa.” Nada suaranya datar.

Di dalam vila, Nara naik ke kamar lebih dulu. Rian berdiri beberapa detik di ruang tamu sebelum akhirnya menyusul.

Nara duduk di tepi ranjang, memegang ponsel tanpa benar-benar mengetik. Ketika Rian masuk, ia tidak mengangkat wajah.

“Kamu marah?” tanya Rian.

Nara menggeleng. “Nggak.”

Tirai bergerak pelan tertiup angin dari jendela yang sedikit terbuka. Cahaya siang jatuh miring ke lantai, memotong jarak di antara mereka dengan garis tipis.

“Kalau ada yang bikin nggak nyaman, bilang aja.”

Nara meletakkan ponselnya di samping, lalu menoleh pelan. “Aku cuma lagi mikir… kadang aku takut berharap terlalu jauh.”

Rian terdiam. Beberapa saat kemudian, ia duduk di sampingnya. “Takut kenapa?” tanya Rian pelan.

Nara mengangkat bahu tipis. “Takut kecewa lagi.” Ia tidak menatap Rian. Pandangannya turun ke lantai. Jarinya memainkan ujung sweater yang menutupi pahanya.

“Aku cuma nggak mau terlalu yakin, terus ternyata aku salah baca orang,” lanjut Nara.

Hening.

Rian menatap wajah Nara lekat-lekat. “Aku serius sama kamu.”

Nara menoleh. Tatapannya lurus, tidak berkaca-kaca. “Aku tahu kamu baik.”

Beberapa detik berlalu tanpa ada yang melanjutkan kata-kata. Hanya suara angin tipis dari luar yang menyentuh kaca.

Rian mengangguk kecil. Tangannya bergerak pelan menyentuh punggung tangan Nara.

Nara tidak menariknya. Ia hanya berkata pelan, “Aku cuma nggak mau sakit hati lagi.”

Rian tidak menjawab. Ia duduk lebih dekat.

***

Malamnya mereka makan tanpa banyak bicara. Sendok beradu dengan piring terdengar jelas.

Di kamar, lampu tidur menyala redup. Nara berbaring membelakangi Rian.

Beberapa menit kemudian, Rian mendekat dan memeluknya dari belakang. Tubuh Nara hangat.

Ia tidak menolak. Tangannya bergerak ke atas lengan Rian, menggenggam sebentar, lalu diam.

Di luar, kabut menempel lagi di kaca. Vila tetap sunyi.


Other Stories
Permainan Mematikan: Narsistik

Delapan orang asing diculik dan dipaksa mengikuti serangkaian permainan mematikan. Tujuh d ...

Reuni

Kutukan Kastil Piano membuat cinta Selina berbalik jadi kebencian, hingga akhirnya ia mema ...

Curahan Hati Seorang Kacung

Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Mak Comblang Jatuh Cinta

“Miko!!” satu gumpalan kertas mendarat tepat di wajah Miko seiring teriakan nyaring ...

Dari 0 Hingga 0

Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...

Download Titik & Koma