Ilusi Yang Sama

Reads
2.6K
Votes
552
Parts
13
Vote
Report
Penulis Komandala Putra

Bab 8 – Setelah Angka Berpindah

Cahaya matahari menyusup lewat tirai yang tidak tertutup rapat, jatuh tipis di seprai putih. Kabut masih ada, tapi lebih ringan—tidak lagi menempel tebal di kaca.

Ketika Rian membuka mata, Nara sudah duduk bersandar di kepala ranjang, ponsel di tangannya.

Nara menggeser tubuhnya mendekat. Tangannya naik perlahan, merapikan rambut Rian yang jatuh ke dahi. Ujung jarinya menyentuh pipi Rian, ringan.

“Pagi,” kata Rian serak.

Nara tersenyum. “Aku beruntung banget dapetin kamu.” Nada suaranya ringan. Ia menunduk, melirik layar ponselnya sebentar.

Rian tersenyum, masih setengah mengantuk.

Di dapur, Rian menuang air panas ke dalam dua cangkir. Nara berdiri di sampingnya, memotong roti dan mengoleskan selai. Sesekali lengannya bersentuhan dengan lengan Rian tanpa ditarik menjauh.

Mereka duduk berdampingan di meja kecil menghadap jendela. Cahaya pagi membuat lereng di kejauhan terlihat lebih jelas dari kemarin.

“Aku nggak nyangka kamu sesayang ini sama aku,” kata Nara sambil menatap roti di tangannya.

Rian mengangkat wajah. “Kan udah kubilang kalau aku serius banget sama kamu.” Ia menyesap kopinya pelan.

Selesai sarapan, Rian dan Nara duduk di balkon, bersandar pada kursi kayu.

Nara menggenggam tangan Rian lebih lama dari biasanya. “Kalau usaha kita udah jalan,” katanya pelan, “kita lebih enak ke depannya.”

Rian membelai rambut Nara. “Iya. Mudah-mudahan lancar.”

Nara menoleh sebentar, lalu tersenyum kembali ke arah lembah.

Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada diskusi mendalam mengenai detail bisnis. Hanya kata “kita” yang terdengar lebih sering dari biasanya.

Angin bergerak pelan, mengangkat ujung rambut Nara yang jatuh di pipinya.

***

Malam turun perlahan. Lampu ruang tamu menyala kuning redup. Mereka makan dalam jarak yang lebih dekat dari hari-hari sebelumnya. Lutut mereka bersentuhan di bawah meja kecil.

Beberapa menit kemudian, piring Nara sudah bersih. Di piring Rian, nasi dan lauk masih tersisa separuh, mulai dingin di bawah cahaya lampu. Sendoknya terbaring miring di tepi piring, tidak lagi bergerak.

Rian berdiri. “Aku ke kamar mandi dulu sebentar.”

Pintu kamar mandi tertutup. Bunyi pintu dikunci dari dalam. Suara air keran mengalir. Sekitar dua puluh menit kemudian ia baru keluar dari kamar mandi.

“Kebanyakan ngopi?” tanya Nara ringan dari sofa.

“Nggak tahu nih kenapa sembelit,” jawab Rian sambil berjalan ke arah Nara. Ia mengelus perut dari balik sweater-nya. “Padahal biasanya lancar.”

Rian duduk kembali di samping Nara. Nara menyandarkan kepala di bahu Rian.

Beberapa saat kemudian, ponsel Rian bergetar pelan di meja. Bunyi notifikasi singkat.

Nara melirik ke arah layar yang menyala sebentar.

Rian sempat melihat sudut mata Nara menegang sebelum kembali biasa.

“Kantor?” tanya Nara ringan.

Rian meraih ponsel dan membalikkan layar tanpa membuka. “Nggak penting.”

Nara mengangguk, lalu kembali menyandarkan kepalanya.

Di kamar, lampu tidur menyala redup. Udara terasa lebih ringan malam ini. Nara memeluk Rian lebih dulu, wajahnya setengah tersembunyi di dada Rian.

Rian memejamkan mata.

Di luar, kabut tidak setebal malam pertama. Lembah terlihat samar, garis-garisnya lebih jelas dari sebelumnya. Seolah pandangan sudah terbuka. Padahal tidak ada yang benar-benar berubah.


Other Stories
Akibat Salah Gaul

Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...

Perpustakaan Berdarah

Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...

Blek Metal

Cerita ini telah pindah lapak. ...

Chronicles Of The Lost Heart

Ketika seorang penulis novel gagal menemukan akhir bahagia dalam hidupnya sendiri, sebuah ...

Sang Maestro

Mari kita sambut seorang pelukis jenius kita. Seorang perempuan yang cantik, kaya dan berb ...

Download Titik & Koma