Bab 12 – Pelaku Dan Korban
Beberapa hari kemudian, Rian duduk di ruang tunggu dengan dinding putih dan kursi berderet rapi. Pendingin ruangan menyala terlalu dingin.
Seorang pria berkemeja biru duduk dua kursi darinya. Rambutnya disisir rapi. Sepatunya mengilap. Ia menatap lurus ke depan tanpa menyentuh ponsel di tangannya.
Di sisi lain, seorang perempuan dengan blazer krem membaca majalah tanpa benar-benar membalik halaman.
Tak lama kemudian, Rian sudah berada di dalam sebuah ruangan, duduk di hadapan seorang psikiater pria.
“Tidur gimana akhir-akhir ini?” tanya psikiater itu tenang.
Rian menatap lantai sebentar. “Bangun-bangun.”
Psikiater mencatat sesuatu. “Nafsu makan?”
“Kadang ada. Kadang nggak.”
“Ada keluhan fisik?”
“Saya sembelit akhir-akhir ini.”
“Stres bisa memengaruhi pencernaan,” kata psikiater itu singkat. Ia mencatat sesuatu. “Sudah berapa lama?”
“Dua minggu lebih, Dok.”
Beberapa pertanyaan lain menyusul. Rian akhirnya bercerita soal pertemuannya dengan Nara. Psikiater itu sesekali mengangguk pelan.
“Obatnya ringan dulu ya,” kata psikiater itu akhirnya.
Rian mengangguk.
Resep berisi obat gangguan kecemasan dan gangguan tidur disodorkan. Kertas tipis itu berpindah tangan tanpa suara.
Beberapa hari setelahnya, Rian duduk di ruangan berbeda. Tirai tertutup setengah. Cahaya masuk tipis.
Di atas meja, ada papan nama dengan tulisan “Danang Handoko, M.Psi., Psikolog, CCH”. Certified Clinical Hypnotherapist.
Danang menulis sesuatu di formulir asesmen: savior complex.
***
Di sebuah kafe dengan dinding abu-abu pucat, Nara duduk berhadapan dengan seorang pria—bukan Rian.
“Mantan pertama sebenernya penyayang,” kata Nara, “tapi keluarganya terlalu ikut campur.”
Ia mengusap pergelangan tangannya sendiri sebelum melanjutkan. “Kalau ada apa-apa, dia selalu bilang nanti dibicarain dulu sama ibunya.” Ia menghembuskan napas pendek. “Aku kayak cuma tamu.”
Ia menatap pria itu. “Dia juga nggak pernah ngebela aku di depan keluarganya.”
“Mantan kedua nggak bertanggung jawab.” Nara menatap ke luar jendela. “Dia kerja buat dia sendiri. Belanja sehari-hari pakai uang aku.”
Pria itu mengerutkan dahi tipis. “Harusnya dia yang nafkahin kamu,” katanya pelan.
“Aku nggak pernah minta ini-itu,” lanjut Nara. “Aku cuma mau dia nunjukin kalau dia laki-laki yang bertanggung jawab.” Sudut bibirnya terangkat tipis, tapi matanya tidak ikut tersenyum.
“Yang ketiga,” lanjut Nara, “tukang bohong dan selingkuh. Aku paling nggak suka orang yang nggak jujur.”
Pria itu mengangguk pelan.
Tangan Nara berhenti mengaduk es tehnya sesaat sebelum bergerak lagi.
Di luar jendela, senja turun perlahan. Percakapan terus berlanjut.
Other Stories
Mauren Lupakan Masa Lalu
Mauren menolak urusan cinta karena trauma keluarga dan nyaman dengan tampilannya yang mask ...
Aku Ingin Kau Menjadi Ibu Dari Anak-anakku
Cerita ini mengisahkan perjalanan cinta dan perjuangan Maya, seorang desainer muda, dan Ra ...
Kidung Vanili
Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...
Diary Superhero
lanjutan cerita kisah cinta superhero. dari sudut pandang Sefia. superhero berkekuatan tel ...
Rumah Rahasia Reza
Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...