Bab 11 – Breakdown
Beberapa hari setelah pulang dari Lembang, kamar Rian terlihat sama seperti biasanya—namun terasa berbeda.
Koper masih tergeletak setengah terbuka di sudut ruangan. Beberapa pakaian belum dilipat.
Di atas meja kerja, tiga amplop undangan pernikahan tergeletak berjejer. Nama-nama pengirim tercetak rapi di sudut kiri atas. Tidak ada satu pun yang dibuka.
Rian duduk di tepi ranjang, menatap meja itu cukup lama. Perutnya masih terasa keras.
Ia berdiri dan berjalan ke kamar mandi. Duduk lebih lama dari biasanya. Air keran dibuka, lalu dimatikan. Ia menekan tombol flush meski tidak perlu.
Di depan cermin, wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. Ia menatap pantulannya beberapa detik, lalu keluar tanpa menyalakan lampu kamar.
Ponselnya bergetar pelan di atas meja. WA dari rekan kerjanya. Ia membuka pesan itu, namun merasa tidak punya energi untuk membalasnya.
Ia membuka aplikasi mobile banking. Angka saldo terpampang di layar. Tidak sampai sepuluh juta rupiah.
Ia menahan napas beberapa saat.
Ia membuka riwayat mutasi. Nama Nara muncul di sana. Rp135.000.000. Tidak ada transaksi masuk setelahnya.
Ia menutup aplikasi itu.
Beberapa detik kemudian, ia membukanya lagi. Ia menghitung cepat di kepala. Angka itu terasa seperti bukti tertulis atas kebodohannya sendiri.
Ia tertawa pendek, tanpa suara. Tangan kirinya menepuk pelan dahinya sendiri, sekali. Lalu sekali lagi.
Ia membuka galeri. Foto Lembang muncul. Ia memperbesar wajah mereka. Lalu memperbesar wajah Nara saja. Lalu menutupnya cepat.
Ia menekan tombol kembali, lalu berpindah ke WhatsApp. Gulir perlahan. Percakapan dengan Nara masih ada di urutan atas. Ia membukanya.
Beberapa pesan terakhir terbaca ulang.
“Nanti aku balikin pelan-pelan ya.”
Tanggal dan jam tertera jelas di bawahnya.
Rian menatap kalimat itu cukup lama. Ibu jarinya bergerak seolah ingin mengetik sesuatu, lalu berhenti.
Ibu jarinya kemudian bergerak mencari menu “hapus percakapan”. Ketika opsi itu muncul, jarinya berhenti tepat di atas tulisan itu. Ia tidak menekannya.
Layar diredupkan. Ia meletakkan ponsel kembali ke kasur, lalu menatap ketiga amplop di atas meja.
Siang itu, ibunya menelepon. Rian mengangkatnya setelah dering ketiga.
Setelah beberapa obrolan ringan, ibunya mengucapkan sesuatu yang sangat tidak Rian harapkan saat ini. “Udah tahu uangnya mau dipakai buat apa?” tanya ibunya ringan.
“Belum, Bu,” jawabnya singkat.
“Siapa tahu kamu mau beli franchise kayak Rosa juga. Sayang kalau dianggurin terus,” lanjut ibunya.
Jari-jarinya mengencang di sisi ponsel ketika mendengar kata “franchise”.
“Iya, Bu, nanti aku pikirin lagi.”
Setelah beberapa topik ringan lainnya, telepon ditutup.
Rian tetap memegang ponsel itu beberapa detik sebelum meletakkannya kembali. Ia meraup wajahnya dengan kedua tangan. Tangannya terasa sedikit dingin.
Sore harinya, ia mencoba bekerja dari rumah. Laptop terbuka. Layar menampilkan dokumen yang sama selama hampir satu jam. Kursor berkedip di satu titik tanpa kalimat baru.
Malam datang tanpa perubahan berarti.
Ia berbaring, tapi matanya tidak segera terpejam. Dadanya terasa sesak beberapa saat, seperti udara tidak masuk penuh.
Ketika terakhir ia menoleh, jam menunjukkan pukul 02:14. Lalu ia tertidur. Pukul 03:11, ia terbangun lagi, napasnya pendek. Perutnya terasa melilit.
Ia duduk perlahan, menekan perut bagian bawah. Keringat tipis muncul di pelipis meski udara kamar tidak panas.
Ia berjalan ke kamar mandi lagi. Duduk. Menunggu. Air keran dibuka. Bunyi air jatuh ke wastafel terdengar terlalu keras. Tidak ada hasil.
Beberapa menit kemudian, ia turun dan duduk di lantai. Punggungnya bersandar pada dinding yang dingin. Lututnya terlipat. Tangannya masih menekan perut.
Rian memejamkan mata. Tangannya jatuh ke lantai, telapaknya menyentuh keramik yang dingin.
Ia mencoba berdiri, tapi kakinya terasa lambat, seperti harus diperintah dua kali.
Other Stories
Tenda Dan Hujan Bercerita
Perjalanan liburan kali ini, terasa lebih istimewa baginya. Selain bahagia berkumpul bers ...
The Unkindled Of The Broken Soil
Di dunia yang terpecah belah dan terkubur di bawah abu perang masa lalu, suara adalah keme ...
Absolute Point
Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...
Kumpulan Tulisan
Sebuah bentuk tulisan tentang pikiran-pikiran yang jenuh dan amarah yang terpendam. ...
7 Misteri Korea
Saat liputan di Korea, pemandu Dimas dan Devi terbunuh, dan mereka jadi tertuduh. Bisakah ...
Lam Biru
Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...