Bab 6 — Korban Pertama
Iko membuka pintu dan melihat Bayu berdiri di luar. Wajahnya pucat, napasnya pendek, dan matanya bergerak cepat ke arah lorong.
Pintu kamar Farhan juga terbuka. Farhan keluar sambil mengusap mata. Ia mengangkat dagu.
Bayu menelan ludah. “Rudi ... ada darah di kasur Rudi,” kata Bayu dengan napas tersengal. Ia memegang lehernya. “Mungkin dia udah mati.”
Iko keluar kamar.
“Lu becanda kan?” tanya Farhan.
“Sumpah! Tadi pas mau ke kamar mandi gua liat pintu kamarnya agak kebuka.”
Iko dan Farhan saling pandang.
“Kalau gitu kita periksa bareng,” kata Iko sambil menutup pintu kamarnya.
Mereka bertiga berjalan perlahan ke arah kamar Rudi.
Beberapa langkah kemudian, Iko melihat pintu itu memang sedikit terbuka—tidak ada tanda pintu itu pernah dibuka dipaksa. Dari celahnya, terlihat lampu kamar menyala redup.
Iko mendorong pintu itu perlahan. Engselnya berdecit tipis.
Begitu pintu terbuka lebar, bau logam yang samar langsung menyentuh hidung.
Farhan melangkah lebih dulu melewati ambang pintu. Iko satu langkah di belakangnya.
Di atas kasur, Rudi berbaring telentang. Di tenggorokannya tertancap sesuatu. Iko mengamatinya sebentar sebelum akhirnya bisa mengenali bentuknya. Obeng.
Di sekitar lehernya, darah merembes ke kain seprai, membentuk noda besar yang tak beraturan. Salah satu tangannya berada di atas perut, setengah menggenggam selimut.
Di meja samping tempat tidur, lampu kecil menyala. Gelas air setengah penuh berdiri di samping ponsel yang layarnya gelap.
Bayu mundur selangkah hingga punggungnya menyentuh dinding. “Anjing …,” gumamnya pelan.
Iko menatap tubuh Rudi tanpa berkedip. Tak ada suara selain hujan yang memukul jendela.
Iko mendekat ke sisi tempat tidur. Ia berhenti sekitar satu meter dari tubuh Rudi. Gagang obeng itu mengkilap di bawah cahaya lampu kamar.
Farhan menoleh perlahan ke arah Bayu. “Lu yang ngelakuin ini?” tanyanya datar.
Bayu menggeleng keras. “Gila lu!”
“Yakin lu tadi ke kamar mandi?” kata Farhan.
“Lu tadi yang ngancem mau bunuh dia pake obeng!” Bayu membalas cepat.
Mereka terus saling tuduh dengan suara yang saling meninggi.
Iko masih memandang tubuh Rudi. Darah terus mengalir membasahi seprai.
Bunyi langkah kaki mendekat terdengar di lorong.
Sarah, dengan piyama, muncul di ambang pintu. “Ada apa?” tanyanya pelan.
Tak ada yang langsung menjawab.
Begitu Bayu dan Farhan menggeser posisi, Sarah langsung menutup mulut dan matanya terbelalak.
Langkah lain terdengar di lorong.
Darius muncul di belakang Sarah, mengenakan kaos dan celana hitam. “Ada apa ini?”
Tak ada yang menjawab.
Darius mendekat ke tempat tidur, lalu berhenti beberapa langkah dari tubuh Rudi. “Jangan sentuh apa pun.” Suaranya tetap tenang, tapi tegas.
Farhan menatap Bayu dengan tangan terkepal.
Bayu balas menatapnya dengan rahang mengeras.
Darius menoleh ke Bayu dan Farhan. “Kita harus tetap tenang.”
Iko tidak lagi melihat wajah siapa pun. Tatapannya berhenti pada gagang obeng yang tertancap di tenggorokan Rudi—logam yang sama yang tadi berada di ruang keluarga.
Ingatan itu menempel, tidak mau lepas. Iko pelan mengangkat kepala.
Di ruangan itu, hanya ada mereka berlima. Dan salah satu dari mereka baru saja membunuh.
Other Stories
Bukan Cinta Sempurna
Pesona kepintarannya terpancar dengan jelas, rambut sebahunya yang biasanya dikucir ekor ...
Tukar Pasangan
Ratna, wanita dengan hiperseksualitas ekstrem, menyadari suaminya Ardi berselingkuh dengan ...
Berkemah, Jangan Berlemah!
Dinda, Skye, dan Sally semangat untuk sebuah liburan seru untuk berkemah. Namun dengan Sta ...
Aroma Kebahagiaan Di Dapur
Hazea menutup pintu rapat-rapat pada cinta setelah dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya ...
Coincidence Twist
Kejadian sederhana yang tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh Sera menyeretnya pada hal-h ...
Takdir Cinta
Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...