Reuni Mantan

Reads
5
Votes
0
Parts
5
Vote
Report
reuni mantan
Reuni Mantan
Penulis Komandala Putra

Bab 1 – Demi Ibu

Arif melingkarkan cincin itu di jari manis Putri. Jemarinya terasa halus dan hangat.

Putri tersenyum lebar, menatapnya dengan mata yang berbinar seperti seseorang yang baru saja menerima sesuatu yang sudah lama ia nantikan.

Di sekitar mereka, beberapa orang berdiri sambil bertepuk tangan. Ada yang bersiul pelan. Ada yang tertawa kecil. Ruang tamu rumah Putri yang tidak terlalu besar itu terasa penuh oleh suara dan kegembiraan.

Putri memandang cincin di jarinya seolah ingin memastikan cincin itu benar-benar ada di sana. Ia mengangkat wajahnya lagi. “Terima kasih,” katanya pelan.

Arif mengangguk kecil sambil tersenyum.

Putri tertawa kecil, lalu menggenggam tangan Arif, seolah ingin menegaskan sesuatu pada semua orang yang melihat.

Arif membalas genggaman itu. Senyumnya tetap terpasang, tapi matanya tidak ikut tersenyum.

Ia menoleh ke arah Rahman yang berdiri di antara para tamu. Lalu teringat pertanyaan sahabatnya itu beberapa hari yang lalu. “Yakin lu bakal bahagia?”

Arif menoleh ke arah ibunya yang sedang menepuk-nepuk lengan ibu Putri sambil tersenyum. Kebahagiaan terpampang jelas di wajah mereka.

Arif teringat kalimat ibunya beberapa waktu yang lalu. “Ibu cuma mau kamu bahagia, Nak. Ibu cuma mau yang terbaik buat kamu. Putri itu anaknya baik, sopan, keluarganya juga terpandang.”

Arif hanya mengangguk waktu itu.

Ibunya berhenti sebentar, lalu menatap Arif lebih lama. “Tidak seperti mantan kamu yang itu.”

Ibunya tidak menyebut nama siapa pun. Karena keduanya sama-sama tahu siapa yang dimaksud.

Arif hanya mengangguk lagi waktu itu. Seperti biasa.

“Mas?” Suara Putri menariknya kembali ke ruang tamu.

Wanita berhijab itu masih memegang tangannya. Senyumnya tidak berubah. Orang-orang mulai kembali duduk. Beberapa kerabat bercakap-cakap dengan suara rendah.

Arif mengangguk kecil. “Iya.”

Putri terkekeh lagi, nada tawanya ringan, seolah Arif baru saja mengatakan sesuatu yang lucu.

***

Beberapa tamu sudah pamit. Ruangan terasa lebih lengang. Suara percakapan yang tersisa lebih pelan.

Putri sedang berbicara dengan ibu Arif di dekat meja makanan, membicarakan sesuatu sambil sesekali tertawa.

Arif berjalan sedikit menjauh. Layar ponselnya menyala. Satu notifikasi pesan muncul. Pengirimnya: Sarah.

Arif tidak langsung membuka pesan itu. Ia hanya menatap nama itu beberapa detik.

Kemudian jarinya bergerak. Pesan itu terbuka. Isinya tidak panjang.

Sarah menulis bahwa ia akan mengadakan halalbihalal kecil sebelum pernikahannya. Acara itu diadakan di sebuah vila milik keluarga tunangannya. Ia mengundang semua mantannya untuk datang, sekadar makan malam dan menutup masa lalu dengan baik.

Arif membaca pesan itu sekali. Lalu sekali lagi. Ia berhenti bergerak.

Nama itu saja sudah cukup untuk membuat sesuatu yang lama terkubur kembali bergelora di dalam jiwanya. Sesuatu yang tak ingin usai namun terpaksa diakhiri.

Lalu muncul rasa bersalah yang sulit dijelaskan. Disusul keraguan yang datang tiba-tiba.

Arif tidak menjawab pesan itu.

Ketika ia mengangkat kepala, Putri masih berdiri bersama ibu Arif di dekat meja. Mereka sedang membicarakan sesuatu dengan serius, mungkin tentang gedung pernikahan atau daftar tamu.

Putri tertawa lagi.

Arif memandang mereka beberapa detik.

Di satu sisi ruangan, masa depan terlihat jelas. Di layar ponselnya yang sekarang gelap, masa lalu baru saja mengetuk.

Arif memandangi cincin di jari manisnya, lalu menatap ponsel itu sekali lagi. 


Other Stories
Deru Suara Kagum

Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Mr. Perfectionist

Arman dan Audi sebenarnya tetangga dekat, namun baru akrab setelah satu sekolah. Meski ser ...

Lam Biru

Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...

Bisikan Lada

Tiga pemuda nekat melanggar larangan sesepuh demi membuktikan mitos, namun justru mengalam ...

Bumi

Seni mencintai terkadang memang menyenangkan, tetapi tak selamanya berada dalam titik mani ...

Download Titik & Koma