Bab 2 – Dilema
Arif berdiri di depan meja kasir sambil memegang dompet.
Samar-samar terdengar suara orang di sekitar.
Lalu terdengar lagi.
“Oh, maaf,” kata Arif begitu tersadar dari lamunannya.
Seorang pria berjaket hitam yang berdiri di belakangnya melangkah ke depan kasir, lalu meletakkan dua botol minuman energi.
Arif menatap pria itu sebentar. Beberapa orang di belakangnya ikut memerhatikan.
“Silakan duluan,” kata Arif sambil mundur ke belakang pria itu.
Kasir menggeser botol air mineral dan permen mint milik Arif, lalu memindai botol milik pria berjaket itu.
Arif mengeluarkan ponselnya. Layar menyala. Pesan WA Sarah masih berada di bagian atas. Ia menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas pendek.
***
Rahman duduk di kursi plastik di luar minimarket. Botol kopi dingin di tangannya sudah setengah kosong.
Arif duduk di depannya.
“Anggap aja liburan sebelum lu nikah,” kata Rahman.
Arif menoleh ke jalan raya. Beberapa mobil berpelat merah sedang lewat.
Arif menatap sahabatnya itu. “Gua cuma ...,” ia berhenti.
Rahman menunggu.
“Gua nggak enak.”
“Nggak enak sama siapa?”
Arif tidak menjawab.
Rahman menyesap kopinya. “Putri? Nyokap lu?”
Arif mengangguk kecil.
Rahman menatapnya beberapa saat. “Sampai kapan lu bakal terus ngorbanin diri sendiri demi orang lain?”
Arif memandang jalan tanpa berkata apa-apa.
Rahman berdiri dari kursinya. Botol kopi yang sudah kosong itu ia remas, lalu ia masukkan ke tempat sampah.
Ia mengeluarkan kunci mobil dari sakunya, lalu memegangnya sebentar di antara dua jari sebelum melemparkannya pelan ke arah Arif.
Arif refleks menangkapnya.
“Kalau Putri atau keluarga lu nanya,” kata Rahman, “bilang aja lagi nemenin gua.”
Arif menoleh ke arah mobil putih yang terparkir di depannya. Catnya memantulkan kilau matahari yang menyilaukan.
Ia menunduk—menatap kunci di telapak tangannya.
Other Stories
Ibu, Kuizinkan Engkau Jadi Egois Malam Ini
Setiap akhir tahun, ia pulang dengan harapan ibunya ada di rumah. Yang berulang justru dap ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Broken Wings
Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...
Di Bawah Panji Dipenogoro
Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...
Melepasmu Dalam Senja
Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...