Reuni Mantan

Reads
1.7K
Votes
21
Parts
15
Vote
Report
reuni mantan
Reuni Mantan
Penulis Komandala Putra

Bab 1 – Demi Ibu

Iko melingkarkan cincin itu di jari manis Putri. Jemarinya halus dan hangat—berbanding terbalik dengan telapak tangan Iko yang terasa dingin.

Putri tersenyum lebar, menatapnya dengan mata yang berbinar seperti seseorang yang baru saja menerima sesuatu yang sudah lama ia nantikan.

Di sekitar mereka, beberapa orang berdiri sambil bertepuk tangan. Ada yang bersiul pelan. Ada yang tertawa kecil. Ruang tamu itu cepat dipenuhi tepuk tangan dan suara-suara yang saling tumpang tindih.

Putri memandang cincin di jarinya seolah ingin memastikan cincin itu benar-benar ada di sana. Ia mengangkat wajahnya lagi. “Terima kasih,” katanya pelan.

Iko mengangguk kecil sambil tersenyum.

Putri tertawa kecil, lalu menggenggam tangan Iko.

Iko membalas genggaman itu. Senyumnya tetap terpasang, rahangnya sedikit mengeras—matanya tidak ikut tersenyum.

Ia menoleh ke arah Arif yang berdiri di antara para tamu. “Yakin lu bakal bahagia?” tanya Arif beberapa minggu yang lalu.

Iko menoleh ke arah ibunya yang sedang menepuk-nepuk lengan ibu Putri sambil tersenyum. Mata mereka berbinar saat saling menatap.

Iko teringat kalimat ibunya beberapa waktu yang lalu. “Ibu cuma mau kamu bahagia, Nak. Ibu cuma mau yang terbaik buat kamu. Putri itu anaknya baik, sopan, keluarganya juga terpandang.”

Iko hanya mengangguk waktu itu—terlalu cepat, seperti ingin segera mengakhiri pembicaraan.

Ibunya berhenti sebentar, lalu menatap Iko lebih lama. “Tidak seperti mantan kamu yang itu.”

Ibunya tidak menyebut nama siapa pun. Karena keduanya sama-sama tahu siapa yang dimaksud.

Iko mengangguk lagi seperti biasa—tidak membantah, tidak menjelaskan.

“Mas?” Suara Putri menariknya kembali ke ruang tamu.

Wanita berhijab itu masih memegang tangannya. Senyumnya tidak berubah. Orang-orang mulai kembali duduk. Beberapa kerabat bercakap-cakap dengan suara rendah.

Iko mengangguk kecil. “Iya.”

Putri terkekeh lagi, nada tawanya ringan, seolah Iko baru saja mengatakan sesuatu yang lucu.

***

Beberapa tamu sudah pamit. Ruangan terasa lebih lengang. Suara percakapan yang tersisa lebih pelan.

Putri sedang berbicara dengan ibu Iko di dekat meja makanan, membicarakan sesuatu sambil sesekali tertawa.

Iko berjalan sedikit menjauh. Layar ponselnya menyala. Satu notifikasi pesan muncul. Pengirimnya: Sarah.

Iko tidak langsung membuka pesan itu—hanya memandangi nama pengirimnya.

Seketika, kilasan masa lalu terbayang di ingatan.

Suaranya yang pernah menjadi melodi terindah. Senyumnya yang pernah mewarnai dunia. Belaiannya yang pernah menghangatkan jiwa.

Iko membuka pesan itu.

Isinya, undangan halalbihalal di sebuah vila milik keluarga tunangannya. Sekadar makan malam dan saling memaafkan. Mantan yang lain ikut diundang.

Iko membaca ulang pesan itu. Lalu sekali lagi. Lalu terdiam.

Rasa bersalah datang menghantam. Disusul keraguan yang sulit dijelaskan.

Iko tidak menjawab pesan itu.

Ketika ia mengangkat kepala, ibunya dan Putri masih berdiri di dekat meja—membicarakan sesuatu dengan serius, mungkin tentang gedung atau daftar tamu. Putri tertawa lagi.

Di satu sisi ruangan, masa depan terlihat jelas. Di layar ponselnya yang sekarang gelap, masa lalu baru saja mengetuk.

Iko memandangi cincin di jari manisnya. Lalu ponsel di tangannya.


Other Stories
Blind

Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...

The Fault

Sebuah pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan. Sebuah awalan selalu memiliki akhiran. ...

Desviar : Libur Dari Kata-kata

Dua penulis yang berniat berlibur justru terjebak dalam kolaborasi tak disengaja ketika ke ...

Melodi Nada

Dua gadis kakak beradik dari sebuah desa yang memiliki mimpi tampil dipanggung impian. Mer ...

Mewarnai

ini adalah contoh uplot buku ...

Kota Ini

Plak! Terdengar tamparan keras yang membuat Jesse terperanjat dari tempat tidurnya. "S ...

Download Titik & Koma