Bab 3 – Vila
Iko menekan tombol remote di kunci mobil. Pintu mobil terkunci dengan bunyi pendek.
Ia berdiri beberapa detik di halaman vila, merasakan dinginnya udara pegunungan.
Di kejauhan hanya ada lereng hijau dan jalan sempit yang berkelok turun. Tidak tampak vila lain di sekitar.
Iko mendongak ke langit. Awan kelabu menggantung rendah di atas punggung gunung, bergerak pelan seolah sedang menutup langit.
Ia kemudian menatap bangunan tiga lantai dengan dinding putih dan jendela-jendela besar yang kini ada di hadapannya. Di teras, seorang pria duduk santai di kursi rotan sambil memainkan ponselnya.
Pria itu mengangkat kepala. Mereka saling menatap sebentar.
Iko berjalan mendekat dan menaiki tiga anak tangga. Ransel hitamnya ia jinjing.
Pria itu berdiri. Senyumnya santai, seolah mereka sudah lama saling kenal. “Gua Rudi,” katanya sambil mengulurkan tangan.
Iko menjabat tangan itu. “Iko.”
Rudi mengangguk ke arah mobil yang baru saja Iko kunci. “Mantan Sarah yang ke berapa?”
Iko terdiam sejenak. “Kalau nggak salah, yang keempat.”
“Gua yang pertama,” kata Rudi sambil tersenyum.
Iko mengangguk pelan—tak tahu harus menjawab apa.
Tak lama kemudian, bunyi mesin mobil terdengar dari jalan kecil di depan vila. Lalu kendaraan itu mendekat dan berhenti tak jauh dari mobil Iko.
Seorang pria bertubuh tegap dengan kacamata tipis turun dari kursi pengemudi. Ia menutup pintu mobil lalu berjalan mendekat. “Selamat sore,” katanya.
Iko dan Rudi mengangguk hampir bersamaan.
“Rudi,” kata pria bertubuh agak gempal itu sambil mengulurkan tangan. Senyumnya masih selebar seperti menyambut Iko tadi.
Pria itu menjabat tangannya. “Farhan.” Lalu ia menoleh ke Iko. “Iko?”
“I-iya,” kata Iko sedikit terbata-bata.
“Oh,” jawab Farhan singkat.
Iko mengulurkan tangan.
Farhan tidak langsung menyambutnya.
Rudi menoleh ke arah mereka berdua.
Setelah jeda cukup lama, Farhan baru menyambutnya—dan menghentak tangan Iko agak keras.
Begitu jabatan tangan itu lepas, Iko mundur setengah langkah.
Farhan menggeser berat badannya dan melirik ke arah lain.
“Jadi, kalian berdua pewaris gua?” tanya Rudi sambil tersenyum.
Iko tersenyum tipis tanpa tahu harus menjawab apa.
Farhan menatap Rudi tanpa perubahan ekspresi, lalu duduk di kursi.
Suara mobil lain terdengar lagi dari jalan. Lalu kendaraan itu masuk halaman dan berhenti di samping mobil Arif.
Seorang pria keluar dari mobil dengan langkah santai. “Wah. Banyak juga,” katanya saat sudah sampai di teras.
Rudi memperkenalkan diri lebih dulu. Iko dan Farhan menyusul.
Pria bernama Bayu itu mengangguk-angguk sambil menilai wajah mereka satu per satu. Lalu ia menoleh ke arah Rudi. “Lu ya yang buka segel?”
Rudi tersenyum lebar.
Iko menahan napas sebentar sebelum mengeluarkan ponselnya dari saku—menghindari obrolan lebih lanjut.
Layar menyala. Cincin tunangan di jari manis kirinya memantulkan cahaya layar sesaat. Pesan dari Putri muncul di bagian atas.
“Udah sampai?”
Iko mengetik balasan. “Belum.”
Beberapa detik kemudian balasan muncul. “Hati-hati di jalan ya.”
Iko mulai mengetik lagi, tetapi suara pintu vila yang terbuka membuatnya mengangkat kepala.
Sarah berdiri di ambang pintu. Hidung mancung dan belahan kecil di dagunya masih sama seperti yang Iko ingat. Untuk sejenak, Iko lupa menarik napas.
Wanita dengan sweater rajut tebal itu berjalan mendekat. Senyumnya lebar. Manis. Ia menyalami Rudi, Bayu, dan Farhan sambil mengucapkan “Mohon maaf lahir dan batin.”
“Mana angpao-nya?” tanya Bayu saat menjabat tangan Sarah.
Karena Sarah tak menjawab, Bayu melanjutkan, “Serius loh aku. Kamu kan sekarang udah ...” Bayu menoleh ke arah vila.
“Ntar aku bilang ke calon suamiku.”
“Jangan bilang dialah.”
Sarah tak menanggapi—namun mendekat ke arah Iko yang masih berdiri membeku. Sarah pun memandangi wajah Iko lekat-lekat.
“Hai,” kata Sarah.
“Hai,” jawab Iko pelan.
Beberapa detik berlalu sebelum Sarah seolah tersadar dan merapikan rambutnya sekilas. Ia menjulurkan tangan. “Mohon maaf lahir dan batin.”
Iko menyambutnya—tangan itu terasa lembut dan hangat. “Sama-sama.” Ia menarik tangannya sambil mengalihkan pandangan.
Sarah menarik napas kecil dan kembali pada sikap tuan rumah. “Masuk dulu. Di luar dingin.” Ia masuk.
Iko dan yang lain mengekor, memasuki ruang tamu yang luas.
Di situ, sofa panjang menghadap jendela besar. Lampu gantung di langit-langit memantulkan cahaya hangat ke meja kayu di tengah ruangan.
“Silakan duduk,” kata Sarah.
Mereka berlima duduk dan mulai percakapan ringan.
Seorang pelayan pria, mungkin 40-an, keluar dari arah dapur membawa nampan berisi gelas. Di pipi kirinya ada bekas luka tipis yang memanjang hingga dekat telinga. Ia meletakkan gelas-gelas itu di atas meja.
Iko mengambil salah satu. Yang lain ikut mengambil minuman.
Rudi bersandar di sofa sambil menatap pria itu. “Bapak enak ya,” katanya. “Tinggal di vila mewah gratis. Dibayar lagi.” Nada suaranya terdengar merendahkan.
Sarah menoleh ke pelayan itu dan tersenyum seolah menenangkan situasi.
Pria itu menundukkan kepala sedikit. Ekspresinya tidak berubah. “Permisi, Non,” kata pelayan itu sebelum berbalik dan kembali ke dapur. Obrolan ringan mereka berlanjut.
Saat Iko ingin bicara, ia merapatkan mulutnya kembali begitu mendengar suara langkah sepatu dari arah tangga.
Tanpa aba-aba, semuanya menoleh.
Di sana, seorang pria tinggi dengan kemeja putih turun sambil memandang mereka satu per satu.
“Ini tunanganku,” kata Sarah.
Darius menghampiri mereka, menyebutkan nama, dan menjabat tangan setiap orang dengan sikap yang tenang. Tatapannya berhenti sebentar pada setiap wajah. “Senang akhirnya bisa bertemu.”
Percakapan di ruang tamu berjalan sebentar tanpa arah yang jelas. Iko menjawab jika ditanya—tidak memulai obrolan.
Darius meletakkan gelasnya. “Kalian pasti capek di perjalanan.”
Sarah langsung mengangguk. “Aku tunjukin kamar kalian.”
Mereka mengambil tas masing-masing.
Sarah berjalan lebih dulu menuju tangga. Iko dan yang lain mengikuti. Darius tetap duduk.
Sarah membawa mereka menuju lorong lantai dua. Lorong itu tidak terlalu panjang. Empat pintu kamar berjajar di kiri dan kanan, saling berhadapan.
Sarah menunjuk pintu pertama di sisi kiri lorong. “Ini kamar Rudi.” Tangannya bergeser ke pintu di seberangnya. “Ini kamar Bayu.”
Sarah melangkah sedikit lebih jauh menyusuri lorong. Iko dan Farhan mengikuti.
“Itu kamar Kak Farhan.” Tangannya menunjuk pintu di sisi kiri. Ia menoleh ke arah Iko dan menunjuk pintu terakhir. “Itu kamar kamu, Rif.”
“Kalau mau ke kamar mandi, ada dua toilet bersama di ujung lorong,” lanjutnya.
Sarah berbalik, menatap mereka berempat. “Nanti kita makan malam jam tujuh,” kata Sarah sambil tersenyum. Lalu ia berjalan meninggalkan mereka.
Rudi memandangi bokong Sarah ketika wanita itu berjalan menjauh. Rahang Iko mengeras sesaat sebelum ia mengalihkan pandangannya ke lantai.
“Dia masih sama,” kata Rudi pelan.
Sarah tidak menoleh—terus berjalan di lorong.
Iko hanya diam.
Ketika Sarah sudah menghilang dari pandangan, Rudi dan Bayu membuka pintu; Iko dan Farhan berjalan menuju kamar masing-masing.
Ketika Iko memutar gagang pintu—yang menggunakan pegas ringan—pintu kamar Farhan di belakangnya tertutup dengan bunyi agak keras.
Iko menoleh ke kamar Farhan sebentar, lalu masuk ke kamarnya sendiri.
Ia meletakkan tas di kursi dan duduk di tepi ranjang.
Ia membuka ponsel. Pesan terakhir dari Putri masih terbuka di layar. Ikon sinyal di sudut layar hanya satu garis—dan kadang hilang.
Iko menatap layar itu. Jemarinya mengetik balasan, lalu hapus. Ketik lagi. Hapus lagi.
“Iya,” jawab Iko akhirnya. Terkirim.
Iko merebahkan tubuhnya. Di dinding yang menghadap ranjang, terpasang pengharum ruangan otomatis kecil yang sesekali menyemprotkan aroma tipis ke udara. Aroma lavender memenuhi ruangan.Bottom of Form
Kamar itu terasa asing. Namun tatapan Sarah tadi begitu akrab.
Sekilas, memori masa lalu melintas—Sarah berbaring di sebelahnya, tertawa pelan sambil memeluk lengannya.
Iko memejamkan mata sebentar sebelum membukanya kembali.
Other Stories
Wajah Tak Dikenal
Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...
Prince Reckless Dan Miss Invisible
Naes, yang insecure dengan hidupnya, bertemu dengan Raka yang insecure dengan masa depann ...
Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?
Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...
Mr. Perfectionist
Arman dan Audi sebenarnya tetangga dekat, namun baru akrab setelah satu sekolah. Meski ser ...
Jjjjjj
ghjjjj ...
Berkemah, Jangan Berlemah!
Dinda, Skye, dan Sally semangat untuk sebuah liburan seru untuk berkemah. Namun dengan Sta ...