Bab 13 – “reuni”
Beberapa hari kemudian, Iko duduk berhadapan dengan ibunya di ruang tamu rumah mereka. Memar tipis masih terlihat di bawah matanya.
Ibunya duduk tegak di kursi rotan. Rambut di sekitar pelipisnya semakin banyak yang memutih. Tidak ada orang lain saat itu. Hanya kucing putih yang sesekali mengeong.
“Aku hargai maksud baik Ibu,” kata Iko pelan.
Ibunya meletakkan sendoknya di cangkir teh.
“Kalau Ibu memang mau aku bahagia,” lanjut Iko, “aku bahagia kalau aku nikah sama Sarah.”
Ibunya tidak langsung menjawab. Hanya memandang Iko tanpa berkedip.
Iko memegang tangan ibunya. “Soal Putri dan keluarganya, biar aku yang bicara secara baik-baik dengan mereka.”
Ibunya menunduk, mengaduk tehnya dengan pelan.
Di luar, suara sepeda motor lewat, lalu menghilang.
Beberapa detik berlalu.
Ibunya menghembuskan napas panjang. Lalu kembali mengangkat wajah. “Ibu senang kamu selamat,” kata ibu Iko akhirnya.
“Iya, Bu.”
Ibu menghirup tehnya. Uap tipis masih mengepul.
“Kalau keputusanmu memang sudah bulat,” kata ibu pelan, “ibu hanya bisa mendoakan.”
Iko mengangguk, lalu memeluk ibunya.
Untuk pertama kalinya sejak lama, sesuatu di dada Iko terasa lebih ringan.
***
Beberapa bulan kemudian, Iko dengan jas hitam duduk di depan penghulu. Sarah dengan gaun putih duduk bersanding dengannya.
Bunga putih menghiasi sisi ruangan. Cahaya lampu memantul lembut pada kain dekorasi yang tergantung di dinding.
“Sah,” kata para saksi.
Tepuk tangan memenuhi ruangan.
Iko memasukkan cincin itu ke jari manis Sarah tanpa ragu. Kali ini, matanya ikut tersenyum.
Sarah menatap cincin itu sebentar, lalu mengangkat wajahnya.
Mata mereka bertemu.
Beberapa detik berlalu tanpa kata-kata.
Ketika Iko menatap barisan para tamu, Ariflah yang bertepuk tangan paling keras. Saat mata mereka bertemu, Arif mengangkat alis sedikit lalu tersenyum.
Iko membalasnya dengan anggukan kecil.
Kemudian Iko kembali menatap istrinya dan mencium kening wanita itu.
Iko berbisik di telinganya. “Nanti malam,” ia berhenti sebentar,” kita ‘reuni’.”
Sarah mencubit lengan Iko. Mereka pun tertawa.
Other Stories
Hati Yang Beku
Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...
Tessss
pengaplikasian doang ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...
I See Your Monster, I See Your Pain
Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...
Bukan Cinta Sempurna
Pesona kepintarannya terpancar dengan jelas, rambut sebahunya yang biasanya dikucir ekor ...
315 Kilometer [end]
Yatra, seorang pegawai kantoran di Surabaya, yang merasa jenuh dengan kehidupan serba hedo ...