Bab 8 – Ikatan
Mereka berada di ruang keluarga tanpa banyak bicara.
Iko dan Sarah duduk di sofa panjang. Sarah masih terisak pelan.
Farhan berdiri di dekat meja—tidak duduk sejak turun dari lantai dua. Rahangnya mengeras. Pandangannya sesekali beralih ke arah Bayu yang berdiri di dekat jendela besar.
Di luar, hujan menghantam kaca tanpa henti. Kilat menyambar halaman vila. Dalam kilatan itu, terlihat batang pohon besar tumbang melintang di jalan masuk.
“Jalannya ketutup,” gumam Bayu sambil menatap keluar.
Tak ada yang menimpali.
Bayu berjalan perlahan ke tengah ruangan. “Waktu lihat ke bawah tadi, kabel lift-nya putus.”
Sarah menoleh.
“Mungkin ada yang celakain dia,” sambung Bayu.
Farhan menatapnya. “Siapa?”
Bayu tampak ragu sebentar. Bahunya naik sedikit. “Mungkin pelayan.”
Farhan menatapnya tajam. “Lu mau bilang pelayan juga yang bunuh Rudi?”
Bayu mengangkat bahu. “Kecuali lu mau ngaku.”
Farhan melangkah maju. Bayu membusungkan dadanya. Ketegangan di antara mereka terasa seperti dua bilah pisau yang saling bersentuhan.
“Berhenti!” kata Iko sambil mengangkat kedua tangan.
Sarah dan kedua pria itu menoleh ke arahnya.
Iko menarik napas pendek. “Biar adil ... aku punya ide.”
Tak ada yang memotong.
“Kita periksa kamar satu-satu,” lanjut Iko. “Kalau di antara kita ada yang bunuh Rudi, mungkin petunjuk atau barang buktinya ada di kamar.”
Farhan dan Bayu kembali saling tatap.
“Kalau nanti nggak ada benda yang mencurigakan,” lanjut Iko, “baru kita cari pelayannya bareng-bareng.”
Farhan menoleh Iko dan mengangguk.
Bayu menghembuskan napas panjang. “Oke.”
Iko berdiri. Sarah ikut bangkit perlahan.
“Kita mulai dari kamar yang paling dekat tangga,” kata Iko sambil menatap Bayu.
“Siapa takut?” kata Bayu sambil mengangkat dagu.
Iko menaiki tangga, berjalan paling depan. Sarah berpegangan pada lengannya.
Farhan di belakang Sarah. Bayu yang paling belakang. Hujan masih terdengar keras di atap vila.
Sesampainya di lantai lorong dua, Iko berhenti di depan pintu kamar Bayu. “Lu tunggu di sini.”
Bayu mengerutkan dahi. “Kenapa?”
“Biar adil,” kata Iko, “penghuni kamar nggak boleh ikut meriksa.”
Bayu mengumpat pelan tapi tidak membantah.
Farhan menatap Bayu dari kepala sampai kaki “Buka baju sama celana lu.”
Bayu menatapnya. “Apa?”
“Buka,” kata Farhan lagi. “Siapa tahu ada yang disembunyiin.”
Iko menimpali. “Nanti gua sama Farhan juga gitu.”
Bayu menatap mereka bergiliran sebelum akhirnya melepas baju.
Saat Bayu akan membuka celana training-nya, Sarah memalingkan wajah dan masuk ke kamar Bayu.
“Puas?” tanya Bayu.
Farhan memeriksa saku celana Bayu, lalu menjatuhkannya lagi ke lantai.
“Maaf,” kata Iko. “Pakai lagi.”
Bayu memungut pakaiannya di lantai dan memakainya kembali.
“Tunggu di sini,” kata Farhan.
Iko dan Farhan masuk ke kamar Bayu. Lampu kamar menyala terang. Tempat tidur rapi. Sebuah tas berwarna hitam tergeletak di kursi dekat meja.
Mereka mulai memeriksa.
Iko membuka lemari. Tidak ada apa-apa selain handuk.
Sarah membuka laci meja. Tidak ada apa-apa selain charger dan dompet.
Farhan membuka resleting tas Bayu. Beberapa pakaian terlipat di dalam. Ia mengeluarkannya satu per satu.
Tiba-tiba, Farhan terdiam.
“Ko,” kata Farhan beberapa detik kemudian. Suaranya pelan.
Iko menoleh.
Farhan mengeluarkan sesuatu dari dalam tas itu. Seutas tali. Kemudian tangannya merogoh lebih dalam. Kantong plastik kuning.
Ia membuka lipatan plastik itu perlahan. Sesuatu berwarna merah gelap menempel di dalamnya. Ia mengangkatnya ke arah cahaya. Sepasang sarung tangan karet.
Iko merasakan dadanya menegang.
Sarah mendekat, lalu menutup mulutnya dengan tangan. Ruangan mendadak sunyi.
Iko dan Farhan saling mengangguk—lalu keluar dari kamar.
Di lorong, Bayu berdiri dengan wajah tegang. “Apa?” katanya cepat.
Farhan mengangkat plastik itu. “Ini punya lu kan?”
Bayu menatap plastik itu. Wajahnya langsung berubah. “Apa itu?”
Iko dan Farhan menatapnya tajam.
“Barang bukti,” jawab Farhan.
Bayu menggeleng keras. “Hah? Bukan punya gua!”
Farhan melangkah maju. Bayu mundur selangkah.
“Lu yang pertama lihat Rudi,” kata Farhan. “Lu juga yang bangunin kita. Sekarang, ini ada di tas lu.”
Bayu menggeleng lagi. “Gua nggak pernah ...” Ia menoleh kiri-kanan cepat lalu tiba-tiba berlari ke arah tangga.
“Anjing!” Farhan langsung mengejarnya.
Iko ikut mengejar. Langkah kaki mereka menggema di lorong.
Saat Bayu hampir mencapai tangga, Farhan menangkap bahu dan menjatuhkannya ke lantai.
“Lepas! Lepas! Bukan gua!” teriak Bayu sambil meronta.
Farhan memegangi kedua tangan Bayu dan menjepit dadanya dengan kedua kaki.
Iko menekan kaki Bayu ke lantai.
Bayu terus berontak.
Iko menekan tubuh kaki Bayu semakin kuat. “Kita ikat di kamar,” usul Iko.
Farhan mengangguk. “Cepat,”
Iko mengangkat kaki. Farhan mengangkat tangannya.
“Sumpah, bukan gua. Bukan gua yang bunuh,” kata Bayu dengan suara serak.
Di dalam kamar, Iko dan Farhan langsung menelungkupkan Bayu di lantai.
“Sarah, ambil talinya,” perintah Farhan.
Sarah mengambil tali itu dan memberikannya pada Farhan.
Farhan mengikat pergelangan tangan Bayu di belakang punggung sementara Iko memegangi kakinya.
Bayu terus mengumpat dan menyangkal—tidak ada yang menanggapi.
Farhan mengikat kakinya ke rangka tempat tidur. Lalu mengencangkan ikatannya dengan kedua tangan.
Farhan menarik salah satu kaus dari tas Bayu dan menyumpal mulutnya.
Saat tangan Farhan terangkat dan hampir menghantam kepala Bayu, Iko menahannya.
Farhan berdiri. Iko ikut berdiri.
“Dia udah nggak bisa bunuh orang lagi,” kata Farhan.
Iko tidak menjawab. Ia hanya menatap Bayu yang masih berusaha berbicara dengan mulutnya yang tersumpal.
Iko menatapnya beberapa detik lagi sebelum akhirnya berbalik dan berjalan keluar.
Begitu tiba di ambang pintu, ia menoleh sekali lagi.
Bayu masih telungkup di lantai, tubuhnya bergerak sedikit setiap kali menarik napas.
“Kita tunggu besok pagi,” kata Farhan dari luar kamar.
Iko menutup pintu kamar itu perlahan. Sarah segera memeluknya, erat.
“Sekarang gua paham,” kata Farhan sambil meninggalkan mereka dan menuju kamarnya sendiri.
Iko mengelus punggung Sarah. “Apa maksudnya?”
Sarah berhenti memeluk Iko dan memundurkan wajahnya. “Dulu dia nuduh aku mutusin dia karena kamu.”
Iko menatap mata Sarah. Dalam.
“Aku udah nggak sama dia sebelum kenal kamu.”
Sarah kembali memeluk Iko. Iko membalas pelukan itu. Untuk pertama kalinya sejak kematian Rudi, Iko merasa mereka akhirnya aman.
Other Stories
Hati Yang Terbatas
Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...
Di Luar Rencana
Hening yang tidak akur dengan Endaru, putrinya, harus pulang ke kampung halaman karena Ibu ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
After Honeymoon (17+)
Dipaksa menikah demi ambisi keluarga, Kirana dan Rhea terjebak dalam pernikahan tanpa cint ...
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...
Sumpah Cinta
Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...