Reuni Mantan

Reads
1.7K
Votes
21
Parts
15
Vote
Report
Penulis Komandala Putra

Bab 9 — Malam Yang Tersisa

Iko berbaring menatap langit-langit kamar bersama Sarah di sampingnya. Lampu menyala redup. Bayangan tirai bergoyang setiap kali angin menghantam jendela dari luar.

“Aku nggak tahu harus ngerasa apa sekarang,” kata Sarah. Suaranya pelan. Hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.

Iko menoleh. “Maksudnya?”

Sarah tidak langsung menjawab. Matanya menatap kosong ke arah dinding. “Darius.”

Nama itu membuat dada Iko sedikit mengeras—ia tidak berkata apa-apa.

Sarah menghela napas pelan. “Aku ngerasa kehilangan, tapi ... kadang dia nyebelin banget.”

Iko menunggu.

Sarah menarik selimut sedikit lebih tinggi ke dadanya. “Dia selalu pengen tahu semua tentang aku.”

“Semua?”

Sarah mengangguk. “Masa lalu. Mantan. Bahkan hal-hal yang aku sendiri pengen lupain.”

Iko tidak menyela.

Sarah menatap jendela sebentar sebelum kembali menatap Iko. “Kadang rasanya kayak diinterogasi.” Ia tersenyum kecil, tapi senyum itu cepat hilang. “Dia juga selalu ngatur-ngatur aku. Harus ini. Harus itu.”

Sarah menatap ujung selimut yang ia genggam. Ibu jarinya menggosok kain itu pelan, seperti sedang merapikan sesuatu yang sebenarnya tidak kusut. “Acara ini juga idenya dia. Bahkan dia yang nentuin tanggalnya. Nentuin aku harus pakai baju apa.”

Iko mengangguk kecil—walau sebenarnya tidak tahu harus bagaimana menanggapinya.

Sarah menarik napas pendek. “Tapi dia selalu bilang cuma pengen lindungin aku.”

Bunyi hujan semakin keras.

“Dia selalu bilang soal citra. Reputasi. Cara orang ngeliat dia.” Sarah mengembuskan napas berat. “Kadang aku ngerasa,” ia menggeleng pelan, “aku nggak tahu harus ngomong apa.”

Iko menatapnya beberapa detik. “Tapi kamu tetap mau nikah sama dia.”

Sarah diam cukup lama sebelum menjawab. “Karena dia juga … hebat.”

Iko tidak berkata apa-apa.

“Dia disiplin. Pekerja keras. Kalau udah mutusin sesuatu, pasti bener-bener dia lakuin sampai tuntas.” Sarah menggigit bibir. “Itu yang bikin aku kagum.”

Sarah memejamkan mata. “Jujur, kadang aku ngerasa bangga jadi pasangannya.”

Kamar itu kembali sunyi.

“Tapi sekarang dia udah nggak ada.”

Hening menggelayuti kamar itu.

Sarah menatap cincin di jari manis Iko. “Kenapa dulu kamu ninggalin aku?”

Iko tidak menjawab.

“Karena ibu kamu nggak setuju atau ada alasan lain juga?” Mata Sarah menatapnya tanpa berkedip.

Iko masih diam seribu bahasa.

“Jawab aku, Iko.” Nada suaranya tegas.

Iko membersihkan tenggorokan. “Waktu itu aku belum mapan.” Ia menggeleng pelan. “Aku takut nggak bisa beliin yang kamu mau. Nggak bisa bahagiain kamu.”

Iko mengembuskan napas pelan. “Aku pikir ... kamu bakal lebih bahagia sama pria yang lebih—“

Plak!

Iko menatap Sarah sambil memegangi pipinya. Panasnya menjalar sampai ke telinga.

“Aku tuh sayang banget sama kamu, Iko.” Suara Sarah bergetar.

Iko membuka mulut. “A—“

“Ngerti nggak sih kamu?!” potong Sarah.

Iko mencoba bicara lagi. “Aku—“

Sarah langsung mencium bibirnya. Iko sempat terdiam sepersekian detik sebelum akhirnya membalas ciuman itu.

Tangan Sarah naik ke pipinya, menyentuh tempat yang baru saja ia tampar. Tangan Sarah beralih ke leher. Hangat—sama seperti dulu. Sebuah ingatan lama muncul di benak Iko.

Waktu itu, Sarah menangis di tepi ranjang dan Iko hanya memeluknya. “Iya, aku di sini. Aku dengerin kamu,” kata Iko.

Ketika tangisnya reda, Sarah menciumi bibir Iko. Tak lama kemudian pakaian mereka jatuh satu per satu ke lantai. Namun ketika semuanya hampir melampaui batas, Iko menggeleng. “Kita nikah dulu.”

Saat itu—

DUG! DUG! DUG!

Gedoran keras menghantam pintu kamar. Ingatan itu langsung pecah. Iko tersentak. Ia dan Sarah saling tatap.


Other Stories
Mewarnai

ini adalah contoh uplot buku ...

Hati Yang Terbatas

Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...

Escape [end]

Setelah setahun berlarut- larut dalam luka masa lalunya, Nadine pun dipaksa oleh sahabatny ...

Seoul Harem

Raka Aditya, pemuda tangguh dari Indonesia, memimpin keluarganya memulai hidup baru di gem ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Cinta Harus Bahagia

Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...

Download Titik & Koma