Bab 11 – Basement
Napas Iko tersentak. Kepalanya terasa berat. Ada nyeri tumpul di bagian belakang kepala yang berdenyut setiap kali ia menarik napas.
Bau logam mengisi hidung—pekat, bercampur bau oli dan udara lembap. Rasa pahit memenuhi mulut, liurnya mengental. Lantai yang dingin menyentuh telapak kakinya.
Matanya terbuka. Kelopaknya berat. Pandangannya kabur.
Ia mencoba menggerakkan tangan—tidak bisa. Pergelangan tangannya terikat di belakang sandaran kursi.
Ingatan terakhir muncul kembali dalam kilatan singkat—pintu kamar Rudi terbuka, pukulan keras, lantai yang tiba-tiba mendekat.
Iko mengangkat kepalanya perlahan.
Beberapa meter di depannya, dinding beton terpotong oleh lubang besar berbentuk persegi. Kabin lift tersangkut di dalamnya.
Di bawah kabin itu, ada tubuh manusia yang sudah hancur. Genangan darah terlihat jelas di bawah cahaya lampu.
Iko menahan napas.
Tak jauh dari situ, Sarah berdiri. Wajahnya pucat. Matanya tidak lepas dari tubuh yang terjepit di bawah lift. “Pelayan,” bisiknya pelan.
Di belakang Sarah, sebuah rak perkakas bersandar miring. Beberapa alat logam tergeletak di atasnya—obeng, tang, dan kunci Inggris ukuran besar.
Ketika mendengar suara seorang pria berdehem, Iko menoleh ke kanan.
Di sana, Darius berdiri di dekat meja kerja dengan beberapa monitor menyala. Di samping monitor itu ada tiga buah ponsel cerdas.
“Bagus,” katanya pelan. “Akhirnya sadar juga.”
Iko menatapnya tanpa berkedip. “Semua ini,” ia menelan ludah, “kenapa?”
Darius tak menjawab. Ia menoleh ke arah monitor-monitor yang ada di meja.
Layar-layar itu menampilkan gambar hitam-putih dari berbagai sudut vila.
Teras.
Ruang keluarga.
Lorong lantai dua.
Salah satu layar menunjukkan kamar Bayu—tubuhnya telungkup di lantai, darah menggenang.
Layar lain menampilkan kamar Rudi—tubuh Rudi terbaring di ranjang dengan obeng tertancap di tenggorokan.
Di lantai dekat ranjang, tubuh Farhan tergeletak tak bergerak, seperti seseorang yang baru saja diseret ke dalam kamar.
Iko merasakan sesuatu mengeras di dadanya.
Darius tersenyum tipis. “Saya harus memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.”
Iko menatap layar lain. Kamar miliknya. Tempat tidur berantakan. Selimut setengah terjatuh ke lantai. Sudut kamera menghadap tepat ke arah ranjang.
Ia teringat pengharum ruangan di dinding.
Darius berjalan ke meja kerja dan menekan sebuah tombol.
Di salah satu layar, pelayan terlihat menurunkan tuas panel listrik di dinding.
Iko langsung teringat saat lampu ruang keluarga tiba-tiba padam.
Darius menekan beberapa tombol.
Suara statis pendek terdengar dari speaker kecil. Lalu suara Sarah memenuhi ruangan basement.
“Aku ngerasa kehilangan, tapi ... kadang dia nyebelin banget.”
Sarah membeku.
“Dia selalu pengen tahu semua tentang aku.”
Sarah memalingkan wajah.
“Kadang rasanya kayak diinterogasi.”
Darius mematikan rekaman. Basement kembali sunyi.
Beberapa detik kemudian ia menekan tombol lain. Rekaman kedua diputar.
“Dia disiplin. Pekerja keras. Kalau udah mutusin sesuatu, pasti bener-bener dia lakuin sampai tuntas.”
Sarah memejamkan mata—menggeleng pelan.
“Itu yang bikin aku kagum.”
Klik. Rekaman berhenti.
Darius diam beberapa saat sebelum akhirnya menoleh ke arah Iko. “Saya tidak ingin melakukan ini,” katanya pelan.
Ia berjalan perlahan ke arah Iko. “Tapi ucapan kalian,” ia mengangkat dagu Iko agar menatapnya, “memaksa saya.”
Darius menoleh ke arah layar monitor, lalu kembali menatap Iko. “Mereka semua masih menyimpan foto dan video Sarah. Sesuatu yang bisa mereka gunakan untuk memeras dan menghancurkan nama baik saya.”
Darius membungkuk—kepalanya sejajar dengan kepala Iko. “Saya harap kamu mengerti. Ini bukan masalah pribadi.”
Iko menggeleng pelan. “Saya tidak pernah cerita apa-apa ke siapa pun.”
Darius tidak bereaksi.
Iko menarik napas. “Saya dan Sarah juga,” ia melirik Sarah sekilas, “tidak pernah melakukan itu. Tidak pernah.”
Sarah menoleh cepat ke arah Iko.
Darius hanya tersenyum tipis. “Itu tidak penting.” Ia berjalan beberapa langkah ke samping, lalu kembali menghadap Iko. “Sarah masih sering menyebut nama kamu. Membangga-banggakan kamu bahkan.”
Iko tidak menjawab.
Sarah berdiri tak bergerak.
Darius mengambil dua bilah pisau dari meja kerja. Ia memutar pisau yang ada di tangan kanannya sekali sebelum berjalan mendekati Sarah.
Ia menatap wanita itu lekat-lekat. “Kalau kamu benar-benar berkomitmen dengan masa depan kita,” ia melirik ke arah Iko sekilas, “kamu sendiri yang harus menghapus masa lalu kamu.”
Ia mengulurkan pisau di tangan kanannya.
Sarah menatap Darius, menoleh ke Iko sebentar—lalu kembali menatap Darius.
Pria itu mengangkat sedikit pisau tersebut.
Sarah menunduk. Pisau itu berkilau di bawah cahaya lampu.
Iko menatap Sarah. “Sarah, dengerin aku.”
Sarah menoleh.
“Kalau ini satu-satunya cara biar kamu selamat, lakuin saja.”
Sarah menatap Darius. Pria itu mengangguk.
Sarah mengambil pisau itu. Tangannya gemetar.
Basement terasa sangat sunyi.
Iko tidak bergerak.
Sarah akhirnya melangkah.
Satu langkah.
“Aku nggak pernah nyesel kenal kamu,” ucap Iko sambil tersenyum.
Satu langkah lagi.
Darius berdiri di belakang Sarah—menunggu.
Sarah terus melangkah.
Pisau itu terangkat perlahan.
Iko menatap Sarah—siap menyambut maut.
Other Stories
Desa Seribu Sesajen
"Sukma yang datang, sukma yang pulang sebagai persembahan." Liburan semester enam mahasis ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
“Miko!!” satu gumpalan kertas mendarat tepat di wajah Miko seiring teriakan nyaring ...
Painted Distance (tamat)
Dara memutuskan untuk pergi ke Sapporo bukan hanya sekadar liburan. Perjalanannya di kota ...
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Valen sadar Narian tidak pernah menganggap dirinya lebih selain sahabat, setahun kedekat ...
My 24
Apa yang tak ia miliki? Karir yang gemilang, prestasi yang apik, istri yang cantik. Namun ...
Devils Bait
Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...