Bab 4 – Makan Malam
Meja makan panjang itu sudah tertata rapi ketika Iko dan yang lain turun dari lantai dua.
Beberapa hidangan telah diletakkan di tengah meja: sup bening dalam mangkuk besar, daging sapi dan ayam panggang, berbagai jenis sayuran, dan sepiring nasi hangat yang masih mengepulkan uap tipis.
Darius duduk di kepala meja. Sarah dan Iko di sebelah kiri dan kanannya. Gaun merah yang dikenakan Sarah kontras dengan taplak meja krem di depannya.
Di sisi lain meja, Rudi, Bayu, dan Farhan telah mengambil tempat masing-masing.
Pelayan itu berdiri di sisi meja. Ia menusukkan garpu ke permukaan daging lalu mengirisnya perlahan. Pisau itu bergerak lurus dan rapi, memotong lapisan daging merah menjadi irisan tipis.
Beberapa potong ia susun di piring saji sebelum mendorongnya ke tengah meja.
Darius mengangkat tangan sedikit.
Pelayan itu mengangguk. “Permisi.” Lalu berjalan menjauh sambil membawa pisaunya yang berkilau terkena cahaya lampu.
Ruangan itu hanya dipenuhi suara sendok yang menyentuh piring selama beberapa saat.
Darius menatap mereka satu per satu sebelum akhirnya berbicara, “Saya senang kita bisa duduk bersama malam ini.” Suaranya tenang dan jelas, seperti orang yang telah terbiasa berbicara di depan publik.
“Sarah bilang kalian pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Jadi saya pikir … tidak ada salahnya kita bertemu dengan cara yang baik.”
Ia berhenti sebentar. “Sekalian halalbihalal sebelum kami menikah.” Ia menoleh ke Sarah.
Sarah tersenyum tipis.
Darius menoleh ke yang lain. “Mohon maaf lahir dan batin kalau ada yang kurang berkenan.”
“Sama-sama,” jawab Iko dan yang lain hampir bersamaan.
Darius melanjutkan, nadanya tetap santai. “Selain itu, saya juga berencana mencalonkan sebagai wakil wali kota di pilkada berikutnya. Jadi … mohon doa dan dukungannya.”
Farhan mengangguk lebih dulu. “Terima kasih sudah mengundang kami.”
Bayu menyandarkan punggungnya ke kursi. “Kami bakal nyoblos,” katanya ringan. Ia menoleh ke yang lain.
Iko tersenyum kecil.
Rudi menyandarkan sikunya di meja. “Jarang ada orang yang mau ngumpulin mantan pasangannya kayak gini.” Kalimat itu terdengar seperti setengah bercanda.
Bayu terkekeh pelan. Farhan hanya menatap piringnya.
Sarah tersenyum—Iko menangkap sedikit ketegangan di sudut bibirnya.
“Hebat,” lanjut Rudi. “Salut.”
Darius tidak menanggapi. Ia hanya tersenyum tipis sebelum kembali memotong ayam di piringnya. Beberapa detik berlalu dalam keheningan ringan.
“Apa kesibukan kalian sekarang?” tanya Darius akhirnya.
Tak ada yang langsung menjawab.
Darius lalu mengangkat telapak tangannya sedikit ke arah Rudi. “Rudi dulu.”
Rudi menyeka tangannya dengan tisu. “Kontraktor kecil-kecilan. Proyek rumah sama ruko.”
Darius mengangguk. Ia menoleh ke Bayu.
“Kalau saya trading kripto,” kata Bayu. “Kadang juga bisnis online.”
“Menarik.” Darius lalu menoleh ke Iko.
Iko merasa semua mata ikut mengarah padanya. “Saya cuma … analis data.” Ia sedikit menunduk ke piringnya setelah bicara.
Darius memandang Farhan.
Farhan sempat melirik Iko sekilas sebelum menjawab. “HRD.”
Darius mengangguk sekali lagi.
“Kalau boleh tahu,” kata Farhan kemudian, “Pak Darius apa latar pendidikannya?”
Darius menelan makanannya sebelum menjawab. “Saya dulu meteorologi.”
Rudi tertawa kecil. “Dari cuaca ke politik. Jauh juga.”
Darius hanya tersenyum.
Angin tiba-tiba menggesek kaca jendela dengan bunyi tipis. Iko menoleh dan melihat langit di luar begitu gelap.
Rudi melirik Sarah sekilas, lalu menoleh ke Darius. “Anda beruntung dapat wanita seperti Sarah.”
Darius menoleh ke arah Sarah. Ia berhenti makan sebentar. Lalu kembali melanjutkan seolah tidak terjadi apa-apa. Iko melihat gerakan kecil itu.
Di sebelah kanan Iko, Bayu diam-diam mengikuti setiap gerakan Sarah—seperti tadi di lorong. Iko memalingkan pandangan.
Rudi meneguk air minumnya. “Soal berita yang lagi viral itu, pendapat kalian gimana?” tanyanya tiba-tiba.
Bayu langsung menyahut. “Info yang saya dengar dari sumber tepercaya, itu bukan kecelakaan kerja.”
Rudi mengangkat alis. “Oh ya?”
“Bentrok pekerja lokal sama pekerja dari Cina.” Ia menyendok nasi dengan santai. “Pemerintah sering nutupin info penting yang kayak gitu.”
Farhan mengamati percakapan itu sambil mengangguk kecil.
Rudi menoleh ke Iko. “Menurut lu gimana?”
Iko berhenti mengunyah. Ia menelan makanannya sebelum menjawab. “Saya … tidak berani berpendapat.”
Rudi mengangkat bahu.
“Saya tidak lihat sendiri kejadiannya,” lanjut Iko.
Rudi tersenyum kecil, lalu menoleh ke Darius. “Kalau menurut Pak Darius?”
Darius mengangkat wajahnya. Ia tampak berpikir sebentar sebelum menjawab. “Dalam kondisi tertentu,” katanya pelan, “stabilitas negara jauh lebih penting daripada menyampaikan sesuatu apa adanya.”
Tak ada yang langsung menanggapi. Percakapan itu berhenti begitu saja.
Beberapa menit kemudian, piring-piring sudah mulai kosong.
Darius mengelap bibirnya dengan serbet. “Santai saja.”
Rudi meregangkan bahunya. “Kita seru-seruan yuk habis ini. Main game atau apa gitu.”
“Game apa?” tanya Sarah.
“Truth or dare,” jawab Bayu sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia menatap yang lain satu per satu. “Berani nggak?”
Tak ada yang langsung menjawab.
Sarah menoleh ke Darius. Darius mengangkat bahu. Iko memerhatikan mereka berdua.
Keseruan di vila itu baru saja mulai.
Other Stories
Hujan Yang Tak Dirindukan
Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...
The Museum
Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...
Naik Ke Langit, Turun Tuk Tuntaskan Kisah
Bagaimana jika kesempatan untuk memperbaiki kesalahan ternyata datang setelah semuanya ter ...
Jodoh Nyasar Alina
Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...
Cangkul Yang Dalam ( Halusinada )
Alya sendirian di dapur. Dia terlihat masih kesal. Matanya tertuju ke satu set pisau yang ...
Love Of The Death
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...