Reuni Mantan

Reads
1.7K
Votes
21
Parts
15
Vote
Report
Penulis Komandala Putra

Bab 13 – “reuni”

Beberapa hari kemudian, Iko duduk berhadapan dengan ibunya di ruang tamu rumah mereka.

Memar tipis masih terlihat di bawah matanya—biru kekuningan yang belum sepenuhnya pudar. Ada plester kecil di sudut dahi yang dipasang dokter IGD pagi itu, dan setiap kali ia menarik napas dalam-dalam, ada ngilu samar di sisi kanan tulang rusuknya.

Ibunya duduk tegak di kursi rotan. Rambut di sekitar pelipisnya semakin banyak yang memutih. Tangannya memegang cangkir teh yang belum diminum, dan matanya tidak berpindah dari wajah Iko sejak tadi—seperti seseorang yang masih memeriksa, masih menghitung, apakah anaknya benar-benar baik-baik saja.

Tidak ada orang lain saat itu. Hanya kucing putih yang sesekali mengeong dari balik pintu dapur, lalu diam lagi.

Iko meletakkan tangannya di atas meja dengan pelan. Ia sudah menyusun kalimat ini berkali-kali dalam kepala—di rumah sakit, di mobil, di kamar sebelum tidur. Tapi sekarang, saat berhadapan langsung dengan ibunya, semua susunan itu terasa tidak cukup.

"Aku hargai maksud baik Ibu," kata Iko pelan.

Ibunya meletakkan sendoknya di cangkir teh dengan bunyi yang sangat pelan. Bukan karena marah—lebih karena hati-hati, seperti seseorang yang tidak ingin suara apa pun memotong momen ini.

"Kalau Ibu memang mau aku bahagia," lanjut Iko, "aku bahagia kalau aku nikah sama Sarah."

Ibunya tidak langsung menjawab. Hanya memandang Iko—wajahnya sulit dibaca, seperti dua perasaan yang sedang berebut tempat di satu ekspresi yang sama.

"Ibu tahu siapa Sarah,” kata ibunya akhirnya.

"Iya, Bu."

"Ibu juga tahu," lanjutnya pelan, "kenapa dulu Ibu tidak setuju."

Iko mengangguk. Ia tidak membantah. Tidak sekarang.

Ibunya memandang cangkir tehnya. Uap tipis mengepul, lalu menghilang. "Ibu tidak mau kamu ... terluka."

"Aku tahu."

"Tapi ternyata," ibunya menghela napas, "Ibu juga tidak bisa memastikan kamu tidak terluka dengan cara Ibu sendiri."

Ruangan itu sunyi. Kucing putih muncul dari balik pintu dapur, berjalan pelan, lalu duduk di atas karpet di antara mereka. Ekornya bergerak malas.

Iko memegang tangan ibunya. Jemari wanita itu terasa lebih kurus dari yang ia ingat—tulang-tulangnya lebih terasa di balik kulit. Ia tidak tahu sejak kapan tangannya menjadi setipis ini.

"Soal Putri dan keluarganya," kata Iko, "biar aku yang bicara secara baik-baik dengan mereka."

Ibunya menunduk, mengaduk tehnya dengan pelan. Putaran sendok itu teratur—satu, dua, tiga—seperti gerakan yang dilakukan bukan karena butuh, tapi karena tangan perlu melakukan sesuatu saat kata-kata belum siap keluar.

Di luar, suara sepeda motor lewat, lalu menghilang. Suara anak-anak di gang sebelah terdengar sayup, bermain sesuatu yang tidak kelihatan dari sini.

Beberapa detik berlalu.

Ibunya menghembuskan napas panjang—bukan napas yang lelah, lebih seperti napas seseorang yang baru saja memutuskan sesuatu dan meletakkan beban yang sudah lama ia gendong.

Lalu ia mengangkat wajah. Matanya masih sama—mata yang sama yang dulu membacakan dongeng sebelum tidur, yang sama yang menangis diam-diam saat Iko wisuda, yang sama yang menyimpan terlalu banyak hal tanpa pernah diucapkan.

"Ibu senang kamu selamat," kata ibu Iko akhirnya.

"Iya, Bu."

Ibunya menghirup tehnya. Uap tipis masih mengepul. Ia meletakkan cangkir itu kembali dengan hati-hati. "Kalau keputusanmu memang sudah bulat," kata ibunya pelan—suaranya tidak bergetar, tapi juga tidak datar, "Ibu hanya bisa mendoakan."

Iko merasakan sesuatu mengendur di dadanya—perlahan, seperti simpul yang selama ini terlalu kencang akhirnya dibiarkan mengurai sendiri.

Iko bangkit dari kursinya, melangkah ke kursi ibunya, lalu memeluknya.

Ibunya terdiam sebentar—lalu kedua tangannya naik, membalas pelukan itu. Pelan. Erat. Seperti cara yang sama saat Iko kecil dan ketakutan, dan ibunya tidak berkata apa-apa karena tahu bahwa kadang kata-kata tidak diperlukan.

Kucing putih itu mengeong sekali, lalu melompat ke kursi rotan yang kosong dan duduk di sana dengan tenang.

Untuk pertama kalinya sejak lama, sesuatu di dada Iko terasa lebih ringan.

***

Beberapa minggu kemudian, Iko duduk di depan Putri di sebuah kafe yang tidak terlalu ramai.

Putri datang lebih dulu. Ketika Iko tiba, wanita berhijab itu sudah memegang segelas es kopi yang belum disentuh. Bibirnya tersenyum—tipis, sopan, seperti senyum seseorang yang sudah menyiapkan diri untuk percakapan yang ia tahu tidak akan mudah.

Iko meletakkan tasnya di kursi. "Terima kasih sudah menunggu."

"Nggak lama kok," jawab Putri.

Mereka berbasa-basi sebentar—tentang kabar, tentang luka di dahi Iko yang hampir hilang, tentang cuaca yang tidak menentu belakangan ini. Pelayan datang dan Iko memesan kopi hitam yang hampir tidak ia minum.

Ketika obrolan itu akhirnya kehabisan basa-basinya sendiri, Iko menarik napas.

"Aku minta maaf, Put."

Putri mengangkat wajahnya.

"Aku tidak adil sama kamu sejak awal." Iko tidak mengalihkan pandangannya. "Kamu tidak bersalah apa-apa. Dan kamu layak dapat seseorang yang sepenuhnya hadir buat kamu."

Putri menatapnya beberapa detik. Ekspresinya tidak berubah drastis—hanya ada sesuatu yang bergeser di matanya, seperti seseorang yang baru saja mengkonfirmasi sesuatu yang sudah lama ia rasakan tapi belum pernah diucapkan dengan lantang.

"Aku tahu," kata Putri akhirnya. Suaranya tenang. Tidak marah. Tidak hancur.

Iko sedikit terkejut.

Putri menyentuh gelasnya, memutarnya pelan. "Aku sudah tahu sejak acara pertunangan itu. Bibir kamu senyum, tapi mata kamu nggak, Ko."

Iko tidak menjawab.

"Aku diam bukan karena aku tidak sadar." Putri mengangkat bahu kecil. "Aku diam karena aku pikir ... mungkin lama-lama bakal berubah."

"Maaf," kata Iko lagi.

Putri menggeleng. "Jangan terlalu banyak minta maaf." Ia menarik napas. "Yang penting kamu jujur sekarang."

Tak lama kemudian, mereka berpisah di depan kafe tanpa drama dan pertengkaran.

Putri mengangguk sekali—matanya tidak merah, tapi tidak pula kosong. Sebuah penutupan yang rapi, seperti menutup buku yang belum selesai dibaca tapi sudah diputuskan untuk tidak dilanjutkan.

Iko berdiri di trotoar sambil menatap taksi Putri menghilang di tikungan.

Ia mengeluarkan ponselnya. Membuka nama Sarah. Dan untuk pertama kalinya, ia mengetik pesan tanpa menghapus ulang berkali-kali.

"Boleh aku telepon malam ini?"

Balasannya datang dalam hitungan detik.

"Nggak boleh nggak nelepon."

***

Beberapa bulan kemudian, Iko dengan jas hitam duduk di depan penghulu. Sarah dengan gaun putih duduk bersanding dengannya. Bunga putih menghiasi sisi ruangan. Cahaya lampu memantul lembut pada kain dekorasi yang tergantung di dinding.

Iko menatap Sarah sesaat sebelum penghulu mulai membacakan akad. Beberapa bulan lalu, ia mengira perempuan itu akan menjadi sosok yang hanya bisa ia kenang. Kini, perempuan yang sama duduk beberapa jengkal di sampingnya.

"Sah." Suara para saksi hampir bertumpuk.

Sesaat kemudian, tepuk tangan memenuhi ruangan.

Iko memasukkan cincin itu ke jari manis Sarah tanpa ragu. Kali ini, tidak hanya bibirnya yang tersenyum, matanya juga.

Sarah menatap cincin itu sebentar, lalu mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu.

Beberapa detik berlalu tanpa kata-kata.

Ketika Iko menatap barisan para tamu, Ariflah yang bertepuk tangan paling keras. Saat mata mereka bertemu, Arif mengangkat alis sedikit lalu tersenyum.

Di samping Arif, ibu Iko duduk dengan senyum yang tenang. Saat mata mereka bertemu, wanita itu mengangguk pelan. Tidak ada lagi keraguan di wajahnya—hanya doa yang kini ia panjatkan bersama pilihan anaknya.

Iko membalasnya dengan anggukan kecil.

Kemudian Iko kembali menatap istrinya dan mencium kening wanita itu.

Iko berbisik di telinganya. “Nanti malam,” ia berhenti sejenak.

Sarah menunggu.

“Kita ‘reuni’,” lanjut Iko.

Sarah menatapnya sejenak, pipinya langsung memerah. Ia lalu mencubit lengan Iko. Mereka pun tertawa.

Untuk pertama kalinya, Iko menjalani hidup yang benar-benar ia inginkan.


Other Stories
Kala Menjadi Cahaya Menjemput Harapan Di Tengah Gelap

Hidup Arka runtuh dalam sekejap. Pekerjaan yang ia banggakan hilang, ayahnya jatuh sakit p ...

Awan Favorit Mamah

Mamah sejak kecil sudah ditempa kehidupan yang keras, harus bekerja untuk bisa sekolah, tu ...

Kala Kisah Tentang Cahaya

Kala, seorang gadis desa yang dibesarkan oleh neneknya, MbahRum. tumbuh dalam keterbatasan ...

Cinta Di Balik Rasa

memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...

Bisikan Lada

Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketah ...

Awas, Ada Bakpao!

Liburan Ramadhan yang Lulu kira bakal adem dan hangat, berubah ketika dia bertemu dengan R ...

Download Titik & Koma