Bab 10 — Darah
DUG! DUG! DUG!
“Ko! Buka!” Suara Farhan.
Iko segera bangkit dari ranjang. Sarah duduk tegak di sampingnya.
Gedoran itu semakin keras. “Ko! Cepat buka!”
Iko berjalan menuju pintu dan membukanya sedikit.
Di luar, Farhan berdiri dengan napas terengah. Di kedua tangannya ada darah yang masih basah.
Iko membeku.
Farhan menunjuk ke arah lorong. Darah menetes dari tangannya. “Ko, Bayu—”
Iko langsung menutup pintu dengan keras. Kunci diputar.
Sarah menatapnya. “Kenapa?”
“Farhan ngebunuh Bayu,” jawab Iko.
Mata Sarah membesar.
DUG! DUG! DUG!
“Ko! Dengerin dulu!”
Iko mundur dua langkah dari pintu. Dadanya naik-turun cepat. Ia teringat tali dan plastik yang Farhan keluarkan Farhan dari tas Bayu.
“Barang bukti tadi ...,” ucap Iko pelan, lebih pada dirinya sendiri.
Gedoran semakin keras.
“Bayu udah mati sebelum gua ke sana!”
Iko menatap pintu itu tanpa bergerak.
“Ko! Buka, anjing!”
DUG! DUG! DUG!
Sarah menggenggam lengan Iko.
Iko menggeleng. “Jangan dibuka.” Ia mundur beberapa langkah.
Sarah ikut mundur.
DUG! DUG! DUG!
“Ko! Sumpah bukan gua!”
“Dia bohong,” kata Iko—tetap berdiri menghadap pintu.
Sarah tidak menjawab.
Farhan menggedor lagi beberapa kali. “Ko! Sarah!”
Mata Sarah bergerak cepat ke arah pintu. “Aku takut, Ko.” Suaranya gemetar.
Iko menoleh ke Sarah, lalu kembali menghadap pintu.
Sarah mencengkeram lengan Iko. “Kalau dia bisa masuk .…”
Iko menghadap Sarah. Ia memegang tangan wanita itu sambil menatap matanya. “Aku di sini.”
Sarah menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk kecil.
Iko kembali menghadap pintu. Sarah bersembunyi di belakangnya.
Di luar, Farhan masih menggedor pintu lebih cepat dari sebelumnya. “Tolong! Tolong!”
Jantung Iko berdebar kencang.
“Plis buka!”
Petir menggelegar keras di atas vila.
Gedoran di pintu berhenti. Keheningan memenuhi lorong.
Bunyi petir kembali bersahutan.
Iko meletakkan tangan kirinya di daun telinga.
Tidak ada suara di lorong.
“Dia udah pergi?” bisik Sarah.
Iko mengangkat tangan kanannya—isyarat tunggu.
Mereka menunggu lebih lama.
Tidak ada gedoran.
Tidak ada suara langkah.
Hanya hujan yang terus menghantam jendela.
Beberapa menit kemudian Iko bergerak maju. Lalu menempelkan telinganya ke pintu.
Sunyi.
Masih sunyi.
Ia memutar kunci perlahan.
Sarah menahan napas.
Iko membuka pintu sedikit.
Lorong kosong. Lampu di langit-langit masih menyala pucat.
Iko melangkah keluar. Sarah berjalan di belakangnya, mencengkeram lengan Iko.
Pintu kamar Farhan tertutup. Tidak ada suara dari dalam. Celah di bawah pintu gelap. Tidak ada bayangan bergerak.
Mereka melangkah perlahan menuju kamar Bayu, menoleh kiri-kanan.
KRAK! Petir menyambar di luar vila, diikuti dentuman yang mengguncang kaca jendela.
Cengkeraman Sarah semakin kuat.
Beberapa langkah kemudian—yang terasa begitu lama—mereka melihat pintu kamar Bayu terbuka sedikit. Di lantai antara pintu kamar Bayu dan Rudi, ada bercak darah yang cukup banyak.
Iko maju selangkah ....
“Hati-hati,” bisik Sarah, nyaris tak terdengar.
Tangan Iko mendekat ke daun pintu—lalu mendorongnya.
Pintu terbuka lebar.
Ia dan Sarah masuk sedikit.
Di lantai, Bayu masih telungkup dengan tangan terikat ke belakang. Kakinya masih terikat pada rangka tempat tidur. Ia tak bergerak. Ada genangan merah mengalir dari bawah tubuhnya.
Sarah menutup mulutnya.
Iko berdiri terpaku. “Farhan …,” bisiknya.
Iko menoleh ke lorong. Tidak ada Farhan.
“Kita kembali ke kamar,” bisik Iko.
Sarah mengangguk dan menelan ludah.
Mereka mundur keluar dari kamar Bayu.
Iko menutup pintu tersebut.
Pintu kamar Rudi di belakangnya terbuka.
Iko menoleh—
Sebuah bayangan melesat dari balik pintu.
Benda keras menghantam kepalanya.
Pandangan Iko pecah menjadi kilatan putih.
Tubuhnya roboh ke lantai.
Kegelapan menelan semuanya.
Other Stories
Weird Husband
Kanaya bersinar di ballroom Grand Hyatt Jakarta, mengenakan gaun emerald dan kalung berlia ...
Aroma Kebahagiaan Di Dapur
Hazea menutup pintu rapat-rapat pada cinta setelah dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya ...
Cinta Dua Rasa
Aruna merasa memiliki kehidupan yang sempurna setelah dinikahi oleh Saka, seorang arsitek ...
Suara Cinta Gadis Bisu
Suara cambukan menggema di mansion mewah itu, menusuk hingga ke relung hati seorang gadis ...
Senja Terakhir Bunda
Sejak suaminya pergi merantau, Siska harus bertahan sendiri. Surat dan kiriman uang sempat ...
Lam Biru
Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...