Chapter: Titik Balik
Jakarta, 4 Desember 2025
Perjalanan ini pertama kali dicetuskan oleh diri sendiri secara sadar dari beberapa bulan sebelum tanggal keberangkatan. Perjalanan yang ingin dimulai saat tubuh mulai merasa lelah menjalani keseharian sebagai manusia dewasa dengan banyak sekali ekspektasi dari keluarga dan orang lain. Sebagai seseorang yang senang berpetualang, aku sangat ingin pergk jauh dari hiruk-pikuk kota Jakarta yang tak pernah istirahat setiap harinya.
Di tengah kegusaran ingin melarikan diri ke mana dan dengan siapa, aku terus mencari dan mempertimbangkan setiap keputusan yang akan diambil. Terlebih lagi menimbang budget yang aku kantungi dari hasil bekerja selama satu tahun ini. Perjalanan ini nantinya bukanlah sekedar perjalanan, tetapi sebuah titik balik dalam pencarian dan proses menemukan jati diri lagi setelah lama menghilang akibat kehilangan arah dan tujuan. Awalnya aku memang bingung mengapa tujuanku kali ini memilih Lombok; bahkan secara geografis aku sangat asing karena tidak paham apa yang menarik dari sini selain Pantai Senggigi yang dulu pernah aku kunjungi sekali seumur hidup untuk pertama kalinya.
Mengingat Lombok merupakan wisata yang underrated dan kebanyakan wisatawan lebih memilih Bali sebagai tujuan untuk berlibur. Namun sedetik kemudian aku teringat bahwa di sana aku memiliki sahabat baik yang tinggal dan menetap meskipun dia lahir dan besar di Bima, tetapi dia sangat hafal betul dengan Lombok karena dia juga memiliki jiwa petualang. Namanya Syarif, seseorang yang namanua nanti akan terus muncul untuk diceritakan di catatan perjalananku kali ini.
Hari yang ditunggu-tunggu tiba, aku melakukan perjalanan singkat dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Zainuddin Abdul Madjid selama kurang lebih 2 jam jarak yang mustk ditempuh. Aku sangat menikmati perjalanan kali ini karena tidak sabar menginjakkan kakiku lagi setelah 12 tahun tidak mengunjungi Lombok setelah acara organisasi yang aku ikuti kala itu. Flashback ke acara organisasi tersebut, ialah aku yang pertama kali naik pesawat dan merasa bangga karena mendapatkan kesempatan tersebut. Di acara dan tempat itulah aku bertemu dengan teman-teman dari wilayah lain dari seluruh Indonesia termasuk Syarif, namun saat itu kami berdua saling tidak mengenal satu sama lain.
Perjalanan menuju Lombok terasa menyenangkan sekaligus membosankan, entah mengapa aku merasa bosan berada di ketinggian selama dua jam. Mungkin karena aku bosan hanya memandang langit dan awan yang beradu menembus pesawat yang aku tumpangi kali ini.
Perjalanan ini pertama kali dicetuskan oleh diri sendiri secara sadar dari beberapa bulan sebelum tanggal keberangkatan. Perjalanan yang ingin dimulai saat tubuh mulai merasa lelah menjalani keseharian sebagai manusia dewasa dengan banyak sekali ekspektasi dari keluarga dan orang lain. Sebagai seseorang yang senang berpetualang, aku sangat ingin pergk jauh dari hiruk-pikuk kota Jakarta yang tak pernah istirahat setiap harinya.
Di tengah kegusaran ingin melarikan diri ke mana dan dengan siapa, aku terus mencari dan mempertimbangkan setiap keputusan yang akan diambil. Terlebih lagi menimbang budget yang aku kantungi dari hasil bekerja selama satu tahun ini. Perjalanan ini nantinya bukanlah sekedar perjalanan, tetapi sebuah titik balik dalam pencarian dan proses menemukan jati diri lagi setelah lama menghilang akibat kehilangan arah dan tujuan. Awalnya aku memang bingung mengapa tujuanku kali ini memilih Lombok; bahkan secara geografis aku sangat asing karena tidak paham apa yang menarik dari sini selain Pantai Senggigi yang dulu pernah aku kunjungi sekali seumur hidup untuk pertama kalinya.
Mengingat Lombok merupakan wisata yang underrated dan kebanyakan wisatawan lebih memilih Bali sebagai tujuan untuk berlibur. Namun sedetik kemudian aku teringat bahwa di sana aku memiliki sahabat baik yang tinggal dan menetap meskipun dia lahir dan besar di Bima, tetapi dia sangat hafal betul dengan Lombok karena dia juga memiliki jiwa petualang. Namanya Syarif, seseorang yang namanua nanti akan terus muncul untuk diceritakan di catatan perjalananku kali ini.
Hari yang ditunggu-tunggu tiba, aku melakukan perjalanan singkat dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Zainuddin Abdul Madjid selama kurang lebih 2 jam jarak yang mustk ditempuh. Aku sangat menikmati perjalanan kali ini karena tidak sabar menginjakkan kakiku lagi setelah 12 tahun tidak mengunjungi Lombok setelah acara organisasi yang aku ikuti kala itu. Flashback ke acara organisasi tersebut, ialah aku yang pertama kali naik pesawat dan merasa bangga karena mendapatkan kesempatan tersebut. Di acara dan tempat itulah aku bertemu dengan teman-teman dari wilayah lain dari seluruh Indonesia termasuk Syarif, namun saat itu kami berdua saling tidak mengenal satu sama lain.
Perjalanan menuju Lombok terasa menyenangkan sekaligus membosankan, entah mengapa aku merasa bosan berada di ketinggian selama dua jam. Mungkin karena aku bosan hanya memandang langit dan awan yang beradu menembus pesawat yang aku tumpangi kali ini.
Other Stories
Rei Kazama
Sebuah helm retak. Sebuah arwah yang tak bisa pergi. Dan seorang gadis yang bisa mendengar ...
Nafas Tahun Baru
Maren pindah ke apartemen kecil di lantai paling atas sebuah gedung yang hampir kosong men ...
Adam & Hawa
Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...
Osaka Meet You
Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...
Cinta Di Balik Rasa
memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...