Lombok; Tanah Surga

Reads
13
Votes
1
Parts
3
Vote
Report
Penulis Citarestu

Langkah Kaki Di Desa Adat

Lombok, 4 Desember 2025

Setelah dua jam perjalanan berada di ketinggian akhirnya aku sampai dengan selamat di tujuan, setiap kali aku melakukan perjalanan pasti selalu terlintas di pikiranku bagaimana kemungkinan-kemungkinan terburuk akan terjadi seperti tidak bisa mendarat dengan baik. Saat sampai bandar udara Lombok aku sudah ditunjukkan icon Lombok yang banyak diunggah oleh wisatawan ketika sampai di Lombok; akhirnya aku juga bisa melihatnya secara langsung. Kalau ditanya apa yang aku rasakan saat itu, aku akan menjawab bahwa hari itu merupakan hari yang tidak bisa aku lupakan karena ternyata apa yang orang lain bilang tentang Lombok yang sangat panas dan matahari tampak menyengat lebih liar daripada biasanya benar adanya.

Sade Village
Wujud budaya yang dikemas cantik dan beradat

Sekilas tentang desa adat Sade yang bisa diceritakan dan banyak ditulis di media sosial yaitu bahwa dusun tradisional Suku Sasak ini telah berusia lebih dari 600tahun dan menjadi pusat pelestarian budaya asli. Dari beragam sumber menyatakan bahwa desa ini terkenal dengan beberapa tradisi meliputi rumah adat bale beratap ijuk dan lantai campuran kotoran kerbau. Penduduknya mempertahankan tradisi menenun, "kawin culik", dan gaya hidup pedesaan. Aku akan menjabarkan terkait tradisi yang ada di desa tersebut satu persatu secara runtut dan berdasarkan apa yang disampaikan oleh bang Eno; tour guide kami selama mengelilingi desa tersebut.

Ketika kami mengunjungi desa tersebut ada beberapa aturan yaitu kita akan dikenakan biaya meliputi biaya masuk dan harus menggunakan guide dari warga asli Sade dengan membayar jasa secara sukarela dan seikhlasnya. Perjalanan di desa Sade saat itu dipandu oleh seorang laki-laki yamg memperkenalkan dirinya sebagai bang Eno. Tidak perlu khawatir karena yang menjadi tour guide adalah seseorang yang lahir dan besar di desa tersebut serta memberikan penjelasan secara gamblang dab mudah dipahami.

Ada 3 poin penting yang dijelaskan oleh bang Eno saat itu terkait tradisi desa Sade, meliputi: Tradisi Menenun, Kawin Culik atau Merariq dan Gaya Hidup Pedesaan.

Aku akan menjelaskan satu-persatu yang merupakan garis besar tradisi yang sampai saat ini masih dijalankan oleh warga desa Sade sampai saat ini meskipun dalam bahasan Merariq disesuaikan dengan perkembangan zaman.

1. Tradisi Menenun

Tradisi ini merupakan tradisi turun-temurun suku Sasak di mana perempuan diwajibkan mahir menenun sebagai simbol kedewasaan sebelum menikah. Proses pembuatan kain tenun dilakukan secara tradisional dengan tangan, seringkali membutuhkan waktu hingga empat hari untuk satu kain. Keterampilan ini diajarkan sejak umur 9 tahun dan menenun kini juga menjadi penopang ekonomi warga.

Benang kain tenun di Desa Sade, Lombok umumnya menggunakan bahan kapas, sutra atau sintesis yang diwarnai dengan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan sekitar. Adapun warna-warna khas yang dihasilkan tersebut meliputi hitam (dari daun nila), merah (dari mengkudu), hijau (dari kecipir), dan kuning (dari kunyit) serta sering dipadukan dengan benang emas atau perak.

2. Kawin Culik (Merariq)

Tradisi ini erat kaitannya dengan Pohon Cinta yang digunakan sebagai simbol tempat pertemuan atau penanda ikatan cinta bagi pasangan dalam budaya masyarakat setempat. Tradisi Merariq ini merupakan praktik yang dilakukan oleh mempelai laki-laki untuk membawa mempelai wanita sebelum ada izin resmi dari keluarga. Namun, pada praktiknya saat ini tradisi tersebut digunakan secara simbolis untuk meneruskan budaya. Aku tidak akan menjelaskan panjang lebar terkait tradisi ini karena sejujurnya aku tidak terlalu menyimak apa yang dijelaskan oleh bang Eno. Aku lebih tertarik dengan Pohon Cinta yang dijadikan sebagai simbol dan dianggap keramat oleh masyarakat sekitar dan para wisatawan.

Dewasa ini, Pohkn Cinta ramai diperbincangkan karena mitosnya ketika seseorang foto di pohon tersebut maka tidak lama akan menemukan jodohnya. Hal ini menjadi dinamika sosial yang terjadi meskipun tidak ada aturan tertulis yang berkaitan secara spesifik dengan tradisi adat istiadat masyarakat setempat. Ternyata fakta yang harus diketahui adalah pohon cinta tersebut merupakan pohon nangka yang sudah kering dan tua namun dianggap keramat oleh masyarakat sekitar seperti yang sudah aku jelaskan tadi. Pohon ini melambangkan penghormatan terhadap adat istiadat yang masih terjaga, di mana prosesi pernikahan diatur secara rahasia untuk menghindari keterlibatan keluarga wanita pada tahap awal.

3. Gaya Hidup Pedesaan

Masyarakat adat desa Sade masih sangat tradisional dan memegang teguh adat istiadat Sasak, ditandai dengan hunian warga yang disebut Bale Tani yang terbuat dari bahan alam, lantai yang dibersihkan dengan kotoran sapi yang memiliki maksud agar lantainya bersih dan dipercaya untuk menguatkan lantai serta terhindar dari nyamuk. Informasi yang aku dapatkan dari bang Eno adalah wisatawan boleh memasuki rumah apabila pintu tuan rumahnya terbuka, dan wisatawan akan melihat bahwa rumah tersebut hanya memiliki dua ruangan, yaitu bale dalam (bagian dalam) dan bale luar (bagian luar). Rumah ini memiliki ciri khas pintu rendah, dinding bambu dan lantai campuran tanah liat serta kotoran kerbau.

Other Stories
People Like Us

Setelah 2 tahun di Singapura,Diaz kembali ke Bandung dengan kenangan masa lalu & konflik k ...

Hanya Ibu

kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...

Turut Berduka Cinta

Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...

Hati Yang Terbatas

Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...

Free Mind

“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...

Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat

Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...

Download Titik & Koma