Perjalanan Terakhir Bersama Bapak

Reads
110
Votes
28
Parts
14
Vote
Report
Perjalanan terakhir bersama bapak
Perjalanan Terakhir Bersama Bapak
Penulis Sveetnona

Liburan

Uap tipis mengepul dari cangkir kopi yang baru saja Bapak seduh, aromanya berpadu mesra dengan sejuknya pagi.

“Nggak! Pokoknya Ale mau liburannya tetep minggu ini.”

Namun, pagi itu pecah oleh keributan kecil yang bersumber dari kamar kedua putranya. Tanpa menunggu lama, Bapak segera melangkah menuju sumber suara, mencari tahu apa yang sedang terjadi.

“Ada apa ini pagi-pagi sudah ramai?” tanya Bapak begitu sampai di ambang pintu.

Ale langsung menoleh dengan wajahnya yang ditekuk. Mengadu bahwa Abangnya, Khalil, meminta liburan ditunda dulu. “Itu Abang, minta liburannya diundur. Ale kan sudah sembuh, sudah bisa jalan sendiri, Pak!”

Ale mengatakan itu sambil memperagakan cara jalannya yang terlihat masih sangat pelan dan sedikit menyeret.

Khalil yang berdiri di dekat kasur langsung menyambar, “Bapak coba liat, jalan aja masih kaya siput. Ujung-ujungnya pasti minta gendong ke Bapak. Ngerepotin.”

Ale tidak mau kalah. Bukan tanpa alasan Ale sangat semangat dengan liburan kali ini. Liburan kali ini Bapak ajak mereka ke pantai dan menginap di penginapan dekat pantai. Biasanya, liburan hanya diisi dengan rutinitas sederhana, seperti berkeliling taman kota atau duduk santai sambil memakan jajanan di pinggir jalan, memperhatikan orang berlalu-lalang, yang kemudian ditutup dengan makan ayam crispy kesukaan Ale. Meski begitu, Ale selalu menikmati momen-momen kecil yang mereka lakukan selama liburan sekolah.

Bapak menghela nafas pendek, mendekat ke arah Ale. Ia berjongkok, menyetarakan tingginya dengan Ale agar bisa menatap mata bungsunya dengan lembut.

“Bapak tau Ale ingin sekali ke pantai. Tapi Ale kan baru sembuh, masih perlu pemulihan. Liburannya di tunda dulu nggak papa, ya? Nurut sama Abang, sama Bapak.”

Ale terdiam sebentar, wajahnya nampak kecewa.

“Berapa lama lagi?” tanyanya pelan.

“Minggu besok, ya?”

“Lama sekali, Ale nggak sabar.”

Bapak tersenyum, “Empat hari lagi, Nak. Nanti Ale sudah sehat, bisa lari-lari di pantai.”

Ale sempat memasang wajah memelas, namun melihat tatapan teduh Bapak, akhirnya ia mengangguk setuju.

Khalil yang sejak tadi memperhatikan langsung memutar bola matanya malas. “Giliran sama Bapak langsung mau,” sahutnya sinis.

Bapak bangkit berdiri, menepuk bahu kedua anaknya bergantian. “Sudah, sudah. Abang mandi, habis itu Ale. Bapak sudah masak sarapan. Kita sarapan bareng, ya.”



Other Stories
Hold Me Closer

Pertanyaan yang paling kuhindari di dunia ini bukanlah pertanyaan polos dari anak-anak y ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Setinggi Awan

Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...

Aruna Yang Terus Bertanya

Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...

Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Menjelang pernikahan, Devi dan Dimas ditugaskan meliput 7 keajaiban dunia. Pertemuan Devi ...

Naik Ke Langit, Turun Tuk Tuntaskan Kisah

Bagaimana jika kesempatan untuk memperbaiki kesalahan ternyata datang setelah semuanya ter ...

Download Titik & Koma