Liburan
Uap tipis mengepul dari cangkir kopi yang baru saja Bapak seduh, aromanya berpadu mesra dengan sejuknya pagi.
“Nggak! Pokoknya Ale mau liburannya tetep minggu ini.”
Namun, pagi itu pecah oleh keributan kecil yang bersumber dari kamar kedua putranya. Tanpa menunggu lama, Bapak segera melangkah menuju sumber suara, mencari tahu apa yang sedang terjadi.
“Ada apa ini pagi-pagi sudah ramai?” tanya Bapak begitu sampai di ambang pintu.
Ale langsung menoleh dengan wajahnya yang ditekuk. Mengadu bahwa Abangnya, Khalil, meminta liburan ditunda dulu. “Itu Abang, minta liburannya diundur. Ale kan sudah sembuh, sudah bisa jalan sendiri, Pak!”
Ale mengatakan itu sambil memperagakan cara jalannya yang terlihat masih sangat pelan dan sedikit menyeret.
Khalil yang berdiri di dekat kasur langsung menyambar, “Bapak coba liat, jalan aja masih kaya siput. Ujung-ujungnya pasti minta gendong ke Bapak. Ngerepotin.”
Ale tidak mau kalah. Bukan tanpa alasan Ale sangat semangat dengan liburan kali ini. Liburan kali ini Bapak ajak mereka ke pantai dan menginap di penginapan dekat pantai. Biasanya, liburan hanya diisi dengan rutinitas sederhana, seperti berkeliling taman kota atau duduk santai sambil memakan jajanan di pinggir jalan, memperhatikan orang berlalu-lalang, yang kemudian ditutup dengan makan ayam crispy kesukaan Ale. Meski begitu, Ale selalu menikmati momen-momen kecil yang mereka lakukan selama liburan sekolah.
Bapak menghela nafas pendek, mendekat ke arah Ale. Ia berjongkok, menyetarakan tingginya dengan Ale agar bisa menatap mata bungsunya dengan lembut.
“Bapak tau Ale ingin sekali ke pantai. Tapi Ale kan baru sembuh, masih perlu pemulihan. Liburannya di tunda dulu nggak papa, ya? Nurut sama Abang, sama Bapak.”
Ale terdiam sebentar, wajahnya nampak kecewa.
“Berapa lama lagi?” tanyanya pelan.
“Minggu besok, ya?”
“Lama sekali, Ale nggak sabar.”
Bapak tersenyum, “Empat hari lagi, Nak. Nanti Ale sudah sehat, bisa lari-lari di pantai.”
Ale sempat memasang wajah memelas, namun melihat tatapan teduh Bapak, akhirnya ia mengangguk setuju.
Khalil yang sejak tadi memperhatikan langsung memutar bola matanya malas. “Giliran sama Bapak langsung mau,” sahutnya sinis.
Bapak bangkit berdiri, menepuk bahu kedua anaknya bergantian. “Sudah, sudah. Abang mandi, habis itu Ale. Bapak sudah masak sarapan. Kita sarapan bareng, ya.”
“Nggak! Pokoknya Ale mau liburannya tetep minggu ini.”
Namun, pagi itu pecah oleh keributan kecil yang bersumber dari kamar kedua putranya. Tanpa menunggu lama, Bapak segera melangkah menuju sumber suara, mencari tahu apa yang sedang terjadi.
“Ada apa ini pagi-pagi sudah ramai?” tanya Bapak begitu sampai di ambang pintu.
Ale langsung menoleh dengan wajahnya yang ditekuk. Mengadu bahwa Abangnya, Khalil, meminta liburan ditunda dulu. “Itu Abang, minta liburannya diundur. Ale kan sudah sembuh, sudah bisa jalan sendiri, Pak!”
Ale mengatakan itu sambil memperagakan cara jalannya yang terlihat masih sangat pelan dan sedikit menyeret.
Khalil yang berdiri di dekat kasur langsung menyambar, “Bapak coba liat, jalan aja masih kaya siput. Ujung-ujungnya pasti minta gendong ke Bapak. Ngerepotin.”
Ale tidak mau kalah. Bukan tanpa alasan Ale sangat semangat dengan liburan kali ini. Liburan kali ini Bapak ajak mereka ke pantai dan menginap di penginapan dekat pantai. Biasanya, liburan hanya diisi dengan rutinitas sederhana, seperti berkeliling taman kota atau duduk santai sambil memakan jajanan di pinggir jalan, memperhatikan orang berlalu-lalang, yang kemudian ditutup dengan makan ayam crispy kesukaan Ale. Meski begitu, Ale selalu menikmati momen-momen kecil yang mereka lakukan selama liburan sekolah.
Bapak menghela nafas pendek, mendekat ke arah Ale. Ia berjongkok, menyetarakan tingginya dengan Ale agar bisa menatap mata bungsunya dengan lembut.
“Bapak tau Ale ingin sekali ke pantai. Tapi Ale kan baru sembuh, masih perlu pemulihan. Liburannya di tunda dulu nggak papa, ya? Nurut sama Abang, sama Bapak.”
Ale terdiam sebentar, wajahnya nampak kecewa.
“Berapa lama lagi?” tanyanya pelan.
“Minggu besok, ya?”
“Lama sekali, Ale nggak sabar.”
Bapak tersenyum, “Empat hari lagi, Nak. Nanti Ale sudah sehat, bisa lari-lari di pantai.”
Ale sempat memasang wajah memelas, namun melihat tatapan teduh Bapak, akhirnya ia mengangguk setuju.
Khalil yang sejak tadi memperhatikan langsung memutar bola matanya malas. “Giliran sama Bapak langsung mau,” sahutnya sinis.
Bapak bangkit berdiri, menepuk bahu kedua anaknya bergantian. “Sudah, sudah. Abang mandi, habis itu Ale. Bapak sudah masak sarapan. Kita sarapan bareng, ya.”
Other Stories
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Lust
Bagi Maya, pernikahannya dengan Aris adalah segalanya. Ia memercayai Aris lebih dari si ...
Bisikan Lada
Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketahui ...
Buku Mewarnai
ini adalah buku mewarnai srbagai contoh upload buku ...
Cerella Flost
Aku pernah menjadi gadis yang terburuk.Tentu bukan karena parasku yang menjaminku menjadi ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...