Perjalanan Terakhir Bersama Bapak

Reads
110
Votes
28
Parts
14
Vote
Report
Perjalanan terakhir bersama bapak
Perjalanan Terakhir Bersama Bapak
Penulis Sveetnona

Bapak Yang Paling Hancur

Khalil berdiri cukup lama di tepian pantai, membiarkan ujung kakinya berulang kali tersentuh ombak kecil. Kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya dan surainya berantakan tertiup angin malam, tapi ia tidak peduli.

Ia akhirnya melangkah mundur, terduduk di atas pasir yang dingin, masih dengan nafasnya yang berat.

“Ternyata benar tebakan saya, Khalil Gaharu.”

Khalil tersentak. Suara itu tenang, berat, dan terasa familiar. Dengan cepat ia menoleh dan mendapati seorang pria muda dengan jaket kulit sedang berdiri tidak jauh darinya.

“Pak Raga?” Khalil mengerutkan dahi, segera berdiri dengan sedikit kikuk.

Nuraga Sadjiwa. Guru termuda sekaligus wali kelas Khalil. Di sekolah, Pak Nuraga adalah satu-satunya sosok yang disegani Khalil. Bukan karena galak, tapi karena beliau tidak pernah bersikap menggurui dan pembawaannya yang selalu tenang. Tipe orang yang membuat Khalil merasa tidak perlu menjaga jarak terlalu jauh, namun tetap menaruh hormat.

“Sedang apa Bapak di sini?” tanya Khalil berusaha sopan, meski nadanya masih terdengar kaku.

Nuraga tidak langsung menjawab. Ia justru ikut duduk di atas pasir tanpa mempedulikan celananya akan kotor, lalu menepuk pasir disebelahnya, mengisyaratkan agar Khalil kembali duduk. Dengan penampilannya saat ini, Nuraga tidak tampak seperti guru, melainkan sosok yang lebih pantas diajak duduk untuk membagi beban.

“Liburan dong. Santai saja, diluar sekolah boleh panggil Abang.”

Khalil tampak ragu, namun tetap duduk. “Khalil nggak lagi cari teman ngobrol, Pak.”

Pria itu terkekeh pelan, “Saya juga.”

Tangannya merogoh saku, mengambil pemantik untuk membakar sebatang nikotin. “Kayaknya tembok penginapan disini tipis, ya. Tadi nggak sengaja dengar kam–”

“Jangan campuri urusan orang,” potong Khalil cepat.

“Khalil, saya akui kamu paling pintar di kelas, tapi soal ini kamu payah sekali.” Nuraga menatap lurus ke arah langit, memberi jeda sebentar untuk menghisap dalam-dalam batang nikotinnya.

“Saya disini sendirian, Khalil. Penginapan ini ayah saya yang pesan, sebelum dia meninggal bulan lalu. Dia mau kita berdua pergi liburan, tapi penyakit ayah saya nggak mau nunggu jadwal libur saya.”

“Pak Raga nggak tau rasanya setiap hari harus berhadapan dengan orang yang bikin Ibu tiada. Bapak selalu korbanin perasaan Khalil, lupa kalau Khalil juga kehilangan Ibu.”

Nuraga tersenyum tipis, “Saya tahu, Khalil. Sangat tahu. Ibu saya juga meninggal saat melahirkan saya. Bedanya, saya nggak punya siapa-siapa untuk disalahkan kecuali diri saya sendiri, saya nggak punya adik buat dijadikan sasaran kemarahan. Saya cuma punya Ayah. Dan dulu saya juga punya pikiran yang sama persis dengan kamu, menghukum ayah saya dengan sikap dingin selama bertahun-tahun karena saya merasa dia gagal menjaga Ibu.”

Jantung Khalil seperti dihujani jutaan batu panas. Dia hanya terdiam sampai kalimat dari pria itu selesai diucapkan.

Nuraga sedikit mendekat ke arah Khalil, memperpendek jarak antara mereka.

“Kamu beruntung, kamu punya seseorang yang bisa diajak berbagi beban ingatan tentang Ibu. Dan soal Bapak, beliau hanya sedang menjaga apa yang masih tersisa. Adikmu adalah nafas terakhir Ibu kamu yang masih tersisa di dunia ini. Beliau kehilangan istri, Khalil, kehilangan teman bicaranya, tempatnya mengadu, dan satu-satunya orang yang paham arti tatapan matanya tanpa perlu bicara.”

Nuraga berdiri, menepuk-nepuk pasir di celananya dengan perlahan, “Kamu masih punya banyak kesempatan buat minta maaf. Saya? Saya harus nunggu sampai mati buat bisa ngomong sama mereka. Jangan sampai kamu hidup dengan banyak penyesalan seperti saya.”

Setelahnya, keheningan datang di antara mereka, tak ada satu pun berniat membuka suara. Nuraga sibuk menghabiskan rokok, menariknya perlahan sebelum menghembuskan asap tipis ke udara malam. Sementara Khalil menunduk, menatap jemarinya yang bergetar samar.

“Terima kasih….. Bang,” bisik Khalil lirih, untuk pertama kalinya ia melepaskan sekat formalitas itu, menandakan ia sungguh menerima apa yang dikatakan pria itu sepenuhnya.

Selama ini Khalil salah. Ia menganggap dukanya yang paling besar. Ia lupa bahwa Bapak adalah orang yang paling hancur di malam itu, namun Bapak juga adalah orang yang dilarang jatuh karena ada dua nyawa kecil yang tidak boleh ikut runtuh bersamanya.
Khalil menyadari satu hal; meskipun ia membenci Adik, setidaknya dia tidak sendirian di dunia ini jika Bapak sudah tiada.


Other Stories
Luka

LUKA Tiga sahabat. Tiga jalan hidup. Tiga luka yang tak kasatmata. Moana, pejuang garis ...

Pintu Dunia Lain

Nadiva terkejut saat gedung kantor berubah misterius: cat memudar, tembok berderak, asap b ...

Akibat Salah Gaul

Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...

Seratus Juta Untuk Sebuah Restu

Sudah tiga tahun Nadia tidak pulang saat libur lebaran. Bukan karena sibuk. Bukan karena l ...

Desa Seribu Sesajen

"Sukma yang datang, sukma yang pulang sebagai persembahan." Liburan semester enam mahasis ...

After Meet You

Sebagai seorang penembak jitu tak bersertifikat, kapabilitas dan kredibilitas Daniel Samal ...

Download Titik & Koma