Perjalanan Terakhir Bersama Bapak

Reads
143
Votes
28
Parts
14
Vote
Report
Perjalanan terakhir bersama bapak
Perjalanan Terakhir Bersama Bapak
Penulis Sveetnona

Sebelum Keberangkatan

Malam sebelum keberangkatan, di sudut kamar, Ale tampak begitu sibuk. Ia memenuhi tas ranselnya dengan berbagai perlengkapan, mulai dari baju, kacamata hitam, dan tidak lupa mobil kecil pemberian Bapak karena Ale berhasil mendapat peringkat lima besar. Semuanya sudah ia siapkan jauh-jauh hari.

Namun, tidak dengan Khalil. Remaja itu duduk di sofa ruang tengah, membiarkan tasnya masih terbuka kosong di kamar. Pandangannya tertuju pada sosok Bapak yang baru saja melangkah masuk ke dalam rumah.

Khalil memperhatikan punggung Bapak yang berjalan perlahan menuju dapur. Begitu Bapak berbalik untuk mengambil segelas air, lampu dapur menyorot wajahnya. Bapak terlihat sedikit pucat, serta cekungan di bawah mata yang semakin jelas. Bapak sempat melemparkan senyum tipis saat menyadari Khalil yang memandangnya dari ruang tengah.

Khalil beralih masuk ke kamar, langkahnya terhenti sejenak di ambang pintu. Di sana, ia melihat Ale sedang berlutut di lantai, sibuk menata barang-barang sambil bersenandung kecil.

Melihat adiknya sebahagia itu, ada bagian kecil di dalam hatinya yang merasa tersentuh. Namun, kenyataan pahit kembali menghantam pikirannya.

Bagi Khalil, kehadiran Ale membuat Ibu meninggalkan mereka. Disaat adiknya menghirup nafas pertamanya, Ibu justru menghembuskan nafas terakhirnya. Khalil merasa hidup Ibu ditukar dengan nyawa Ale. Ditambah lagi, Bapak yang selalu memanjakan Ale, menurut Khalil itu dilakukan untuk menutupi rasa bersalah Bapak tidak bisa menyelamatkan Ibu.

Ale yang menyadari tas abangnya masih kosong, menghentikan aktivitasnya sejenak. Menatap Khalil dengan raut bingung.

“Bang Khalil nggak passing?” Pertanyaan itu sukses membuat orang yang ditanya menautkan kedua alis.

“Ngapain passing? Emang Abang lagi main voli?”

“Ini loh Bang. Kaya Ale, masuk-masukin barang yang mau dibawa,” jelas sang adik sambil menunjuk tas ranselnya yang sudah siap. “Kenapa Abang bawa-bawa voli?” lanjutnya bingung.

“Packing, Le. Nggak usah sok inggris kalo masih salah.”
Kalimat itu hanya dibalas Ale dengan cengiran tanpa dosa.


Other Stories
Di Luar Rencana

Hening yang tidak akur dengan Endaru, putrinya, harus pulang ke kampung halaman karena Ibu ...

Cowok Hujan

Ia selalu terlihat tenang. Tapi setiap kali langit mulai gelap dan angin berhembus kencang ...

Kehidupan Yang Sebelumnya

Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang b ...

Cinta Dibalik Rasa

Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. ...

Pra Wedding Escape

Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...

Institut Tambal Sains

Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...

Download Titik & Koma