Keberangkatan
Semburat warna hangat mulai menyelimuti langit saat mereka bersiap untuk berangkat. Di depan rumah, sebuah Vespa kuning tua milik Bapak sudah terparkir. Motor itu tampak mengkilap meski di beberapa bagian catnya sudah memudar dimakan usia. Satu-satunya kendaraan yang menjadi saksi perjalanan keluarga kecil mereka selama ini.
Ale sudah berdiri di samping motor, binar matanya memperlihatkan semangat yang meluap-luap. Ia berkali-kali membenarkan posisi helmnya yang sedikit kebesaran sambil menoleh ke kebelakang, memastikan Bapak dan Abangnya sudah siap.
Bapak keluar dari rumah bersama Khalil, sembari memastikan sekali lagi bahwa semua pintu sudah terkunci rapat. Khalil yang berdiri di belakang Bapak, memperhatikan bagaimana Bapak sempat terdiam sebentar di atas motor, memijat pangkal hidungnya dengan jempol dan telunjuk. Kemudian Bapak melanjutkan menata tas-tas bawaan mereka ke celah sempit di depan kakinya, menumpuknya hingga setinggi lutut.
“Sudah siap anak-anak Bapak? Ayo naik,” ajak Bapak, suaranya terdengar sedikit serak.
Mereka pun naik ke atas motor satu per satu. Karena mereka berangkat bertiga, Ale yang tubuhnya paling kecil di selipkan di tengah, diapit Bapak dan Khalil agar lebih aman.
Begitu mesin di gas, Vespa kuning itu bergerak perlahan meninggalkan halaman rumah. Ale bersorak senang saat angin mulai menerpa wajahnya, sedikit mengacak surai halus milik bocah itu yang sedikit keluar. Di sisi lain, sepanjang perjalanan Khalil tak henti menatap spion, memantau wajah Bapak yang sesekali mengerjap kuat seolah tengah berjuang menjaga fokusnya di atas jalan.
---
Setelah perjalanan yang memakan waktu sekitar satu jam, Vespa kuning itu akhirnya melambat dan berhenti tepat di depan bangunan yang cukup besar. Begitu mesin dimatikan, suara deru ombak langsung mengambil alih pendengaran mereka.
Ale adalah yang pertama turun. Ia meloncat kecil dan berseru girang sambil berlari menuju pagar pembatas, “Pak! Lihat! Pantainya dekat sekali!”
Bapak sempat tersentak dan sedikit kehilangan keseimbangan saat Ale tiba tiba turun, begitu pula Khalil yang terlihat sedikit terhentak. Ia refleks menumpukan kakinya kuat-kuat ke tanah, berusaha membantu Bapak menahan beban Vespa yang mendadak oleng.
Bapak perlahan turun dari motor dengan gerakan yang tampak sangat hati-hati saat menurunkan tas-tas yang tadi ia himpit di antara kakinya.
“Ale pelan-pelan, nanti jatuh!” seru Bapak mengingatkan. Ia menoleh ke arah putra sulungnya.
“Abang, bantu Bapak angkat tasnya ke dalam, ya.”
Khalil hanya mengangguk singkat, langsung mengambil alih tas-tas besar itu tanpa banyak bicara. Namun, lagi-lagi matanya tertuju pada Bapak yang tampak memijat lehernya pelan.
“Khalil saja yang bawa semua, Pak,” ujar Khalil sambil mengambil tas yang sudah Bapak bawa di bahunya.
“Bapak masih kuat, Bang. Nggak apa-apa.”
Bapak mengulas senyum tipis, seakan paham ada kegelisahan di wajah putra sulungnya. “Cuma pegal sedikit, Bapak sudah lama sekali nggak baw–.”
“Biar Khalil saja, Pak,” potong Khalil cepat, suaranya dingin dan tidak memberi ruang untuk bantahan.
“Bapak ajak Ale masuk saja.”
“Iya, Bang. Terimakasih,” sahut Bapak akhinya.
Ale sudah berdiri di samping motor, binar matanya memperlihatkan semangat yang meluap-luap. Ia berkali-kali membenarkan posisi helmnya yang sedikit kebesaran sambil menoleh ke kebelakang, memastikan Bapak dan Abangnya sudah siap.
Bapak keluar dari rumah bersama Khalil, sembari memastikan sekali lagi bahwa semua pintu sudah terkunci rapat. Khalil yang berdiri di belakang Bapak, memperhatikan bagaimana Bapak sempat terdiam sebentar di atas motor, memijat pangkal hidungnya dengan jempol dan telunjuk. Kemudian Bapak melanjutkan menata tas-tas bawaan mereka ke celah sempit di depan kakinya, menumpuknya hingga setinggi lutut.
“Sudah siap anak-anak Bapak? Ayo naik,” ajak Bapak, suaranya terdengar sedikit serak.
Mereka pun naik ke atas motor satu per satu. Karena mereka berangkat bertiga, Ale yang tubuhnya paling kecil di selipkan di tengah, diapit Bapak dan Khalil agar lebih aman.
Begitu mesin di gas, Vespa kuning itu bergerak perlahan meninggalkan halaman rumah. Ale bersorak senang saat angin mulai menerpa wajahnya, sedikit mengacak surai halus milik bocah itu yang sedikit keluar. Di sisi lain, sepanjang perjalanan Khalil tak henti menatap spion, memantau wajah Bapak yang sesekali mengerjap kuat seolah tengah berjuang menjaga fokusnya di atas jalan.
---
Setelah perjalanan yang memakan waktu sekitar satu jam, Vespa kuning itu akhirnya melambat dan berhenti tepat di depan bangunan yang cukup besar. Begitu mesin dimatikan, suara deru ombak langsung mengambil alih pendengaran mereka.
Ale adalah yang pertama turun. Ia meloncat kecil dan berseru girang sambil berlari menuju pagar pembatas, “Pak! Lihat! Pantainya dekat sekali!”
Bapak sempat tersentak dan sedikit kehilangan keseimbangan saat Ale tiba tiba turun, begitu pula Khalil yang terlihat sedikit terhentak. Ia refleks menumpukan kakinya kuat-kuat ke tanah, berusaha membantu Bapak menahan beban Vespa yang mendadak oleng.
Bapak perlahan turun dari motor dengan gerakan yang tampak sangat hati-hati saat menurunkan tas-tas yang tadi ia himpit di antara kakinya.
“Ale pelan-pelan, nanti jatuh!” seru Bapak mengingatkan. Ia menoleh ke arah putra sulungnya.
“Abang, bantu Bapak angkat tasnya ke dalam, ya.”
Khalil hanya mengangguk singkat, langsung mengambil alih tas-tas besar itu tanpa banyak bicara. Namun, lagi-lagi matanya tertuju pada Bapak yang tampak memijat lehernya pelan.
“Khalil saja yang bawa semua, Pak,” ujar Khalil sambil mengambil tas yang sudah Bapak bawa di bahunya.
“Bapak masih kuat, Bang. Nggak apa-apa.”
Bapak mengulas senyum tipis, seakan paham ada kegelisahan di wajah putra sulungnya. “Cuma pegal sedikit, Bapak sudah lama sekali nggak baw–.”
“Biar Khalil saja, Pak,” potong Khalil cepat, suaranya dingin dan tidak memberi ruang untuk bantahan.
“Bapak ajak Ale masuk saja.”
“Iya, Bang. Terimakasih,” sahut Bapak akhinya.
Other Stories
Hotel Tanpa Cermin
Kala memilih menetap sementara di sebuah hotel yang terasa berbeda dari tempat-tempat yang ...
Mozarela Bukan Cinderella
Moza, sejak bayi dirawat di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu oleh Bu Kezia, baru boleh diadops ...
Waktu Tambahan
Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...
Desa Di Ujung Senja
Namaku Anin, aku hanya ingin berlibur ke rumah oma untuk mengisi liburanku seperti biasany ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...