Ibu Itu Bagaimana, Bang?
Suasana di dalam kamar sangat sunyi, diterangi lampu tidur remang-remang yang hanya mampu menerangi separuh ruangan. Di atas kasur, Ale sedang berbaring miring memunggungi pintu, menghadap tembok putih yang dingin. Tubuhnya yang mungil tampak meringkuk, berusaha mengecilkan diri sedalam mungkin ke dalam selimut.
Khalil membuka pintu yang tidak dikunci secara perlahan, berjaga-jaga jika adiknya sudah terlelap. Saat Khalil melangkah mendekat, suara isakan kecil yang tertahan sampai ke telinganya. Bahu adiknya bergetar kecil, mencoba menyembunyikan tangis agar tidak terdengar sampai ke luar.
Dengan posisi yang masih memunggungi pintu, Ale bertanya, mengira sosok itu adalah Bapak.
“Bang Khalil sudah balik, Pak?”
Pertanyaan sederhana itu membuat langkah Khalil berhenti sejenak, rasa bersalahnya kini kembali menyelimuti seluruh tubuhnya menyadari adiknya masih menunggu bahkan setelah ia beri luka.
Ia naik ke atas kasur, lalu ikut berbaring di sebelah adiknya. Kasur itu sedikit berderit, cukup untuk memecah sunyi kamar.
"Belum tidur, Le?" suara Khalil sangat rendah, jauh dari nada membentak yang ia gunakan beberapa jam lalu.
Mendengar suara yang sangat Ale kenali, dia langsung menoleh menampilkan matanya yang sembab.
“Abang?” Suaranya begitu pelan dan bergetar, terselip rasa takut yang tak mampu ia sembunyikan.
“Iya, ini Abang….” masih dengan suara lembutnya.
“Ale takut sama Abang, ya?”
Ale menatap Khalil ragu. “Bang Khalil masih marah? Ale minta maaf…” Menunduk, jemarinya meremas ujung selimut mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan kalimatnya.
“Ale minta maaf karena sudah lahir. Harusnya Ibu yang disini, bukan Ale,” lanjutnya lirih, nyaris tenggelam oleh tangis yang tak bisa ia tahan.
Mendengar itu, pertahanan Khalil yang tersisa runtuh. Rasa bersalah benar-benar menghantamnya tanpa ampun, menimbulkan nyeri hebat di ulu hatinya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia bangkit perlahan dan dengan lembut membantu adiknya duduk hingga bersandar pada kepala ranjang.
“Lihat Abang, Le.”
“Jangan ngomong gitu lagi," bisiknya. “Abang yang bodoh karena nyalahin kamu atas sesuatu yang bukan salahmu.”
Ale terdiam sejenak, lalu perlahan tangan kecilnya memeluk Khalil erat.
“Abang, jangan marah-marah lagi, ya? Jangan galak terus sama Ale, jangan benci sama Ale. Sama Bapak juga….” pinta Ale sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang abang.
“Maaf… Abang minta maaf….”
“Kalau Abang marah-marah lagi, tolong ingetin Abang.”
Air matanya jatuh begitu saja, Khalil tidak sanggup menahan lebih lama.
---
Perlahan, nafas Ale mulai stabil dan tangisnya mulai reda. Tangannya yang melingkar erat di pinggang Khalil merenggang, membiarkan jemarinya menghapus sisa air mata di wajahnya.
“Bang…“ panggil Ale lirih.
“Ale boleh tanya tentang Ibu? Abang jangan marah, ya. Kalau nggak mau jawab nggak pa-pa kok.”
Khalil menarik nafas panjang. “Tanya saja, Abang nggak akan marah. Janji.”
Sebuah pertanyaan meluncur dari bibir mungil milik Ale.
“Ibu itu…. bagaimana, Bang?”
Seketika itu juga, dada Khalil kembali berdenyut. Inilah saat yang paling ia hindari, Khalil tidak pernah menyiapkan jawaban untuk hari ini. Hari dimana sang adik mulai mencari tahu tentang sosok Ibu.
Berbeda dengan Khalil yang ingin melarikan diri, bagi Ale, ini adalah pertanyaan yang selalu ia nantikan jawabnya. Pernah beberapa kali Ale bertanya tentang sosok Ibu ke Bapak, ia hanya mendapat satu kalimat yang selalu sama, dan kemudian Bapak pasti pergi ke kamar membawa sisa percakapan itu. Ale tidak tahu mengapa Bapak selalu mengurung diri dikamar setelah dia beri pertanyaan itu.
“Kata Bapak, Ibu itu orang yang paling cantik. Semua perempuan kan memang cantik ya, Bang? Ale mau tahu wajah cantik Ibu bagaimana, jadi kalau Ibu dateng di mimpi, Ale bisa ingat wajah Ibu yang bagaimana.”
Selama sepuluh tahun, Ale menaruh rindu pada seseorang yang bahkan belum pernah ia lihat wajahnya, belum pernah ia dengar suaranya, dan kehadirannya pun tidak pernah ia rasakan.
Khalil merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah benda pipih. Tangannya bergerak menekan sebuah folder di antara deretan aplikasi, lalu mengetikkan serangkaian angka hingga akhirnya folder itu terbuka yang menampilkan deretan foto.
“Sini, Le…”
Layar itu menampilkan sebuah potret di halaman rumah mereka. Di sana, seorang wanita berdiri dengan perut buncit, matanya yang bulat serta bulu mata lentik yang persis sekali dengan milik Ale. Satu tangannya melingkar lembut di bahu Khalil, sementara Bapak berdiri di sisi lain memamerkan senyum lebar miliknya yang nyaris tak pernah terlihat lagi.
Ale mendekat, matanya ikut menatap ke arah ponsel milik Khalil.
“Itu… itu Ibu, Bang?”
“Iya, Ibu. Ibunya Ale sama Abang.”
Benda pipih itu kini beralih ke tangan Ale. Ia menunduk dalam, jarinya menggeser layar perlahan, berpindah dari satu foto ke foto berikutnya.
“Cantik…”
Khalil membuka pintu yang tidak dikunci secara perlahan, berjaga-jaga jika adiknya sudah terlelap. Saat Khalil melangkah mendekat, suara isakan kecil yang tertahan sampai ke telinganya. Bahu adiknya bergetar kecil, mencoba menyembunyikan tangis agar tidak terdengar sampai ke luar.
Dengan posisi yang masih memunggungi pintu, Ale bertanya, mengira sosok itu adalah Bapak.
“Bang Khalil sudah balik, Pak?”
Pertanyaan sederhana itu membuat langkah Khalil berhenti sejenak, rasa bersalahnya kini kembali menyelimuti seluruh tubuhnya menyadari adiknya masih menunggu bahkan setelah ia beri luka.
Ia naik ke atas kasur, lalu ikut berbaring di sebelah adiknya. Kasur itu sedikit berderit, cukup untuk memecah sunyi kamar.
"Belum tidur, Le?" suara Khalil sangat rendah, jauh dari nada membentak yang ia gunakan beberapa jam lalu.
Mendengar suara yang sangat Ale kenali, dia langsung menoleh menampilkan matanya yang sembab.
“Abang?” Suaranya begitu pelan dan bergetar, terselip rasa takut yang tak mampu ia sembunyikan.
“Iya, ini Abang….” masih dengan suara lembutnya.
“Ale takut sama Abang, ya?”
Ale menatap Khalil ragu. “Bang Khalil masih marah? Ale minta maaf…” Menunduk, jemarinya meremas ujung selimut mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan kalimatnya.
“Ale minta maaf karena sudah lahir. Harusnya Ibu yang disini, bukan Ale,” lanjutnya lirih, nyaris tenggelam oleh tangis yang tak bisa ia tahan.
Mendengar itu, pertahanan Khalil yang tersisa runtuh. Rasa bersalah benar-benar menghantamnya tanpa ampun, menimbulkan nyeri hebat di ulu hatinya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia bangkit perlahan dan dengan lembut membantu adiknya duduk hingga bersandar pada kepala ranjang.
“Lihat Abang, Le.”
“Jangan ngomong gitu lagi," bisiknya. “Abang yang bodoh karena nyalahin kamu atas sesuatu yang bukan salahmu.”
Ale terdiam sejenak, lalu perlahan tangan kecilnya memeluk Khalil erat.
“Abang, jangan marah-marah lagi, ya? Jangan galak terus sama Ale, jangan benci sama Ale. Sama Bapak juga….” pinta Ale sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang abang.
“Maaf… Abang minta maaf….”
“Kalau Abang marah-marah lagi, tolong ingetin Abang.”
Air matanya jatuh begitu saja, Khalil tidak sanggup menahan lebih lama.
---
Perlahan, nafas Ale mulai stabil dan tangisnya mulai reda. Tangannya yang melingkar erat di pinggang Khalil merenggang, membiarkan jemarinya menghapus sisa air mata di wajahnya.
“Bang…“ panggil Ale lirih.
“Ale boleh tanya tentang Ibu? Abang jangan marah, ya. Kalau nggak mau jawab nggak pa-pa kok.”
Khalil menarik nafas panjang. “Tanya saja, Abang nggak akan marah. Janji.”
Sebuah pertanyaan meluncur dari bibir mungil milik Ale.
“Ibu itu…. bagaimana, Bang?”
Seketika itu juga, dada Khalil kembali berdenyut. Inilah saat yang paling ia hindari, Khalil tidak pernah menyiapkan jawaban untuk hari ini. Hari dimana sang adik mulai mencari tahu tentang sosok Ibu.
Berbeda dengan Khalil yang ingin melarikan diri, bagi Ale, ini adalah pertanyaan yang selalu ia nantikan jawabnya. Pernah beberapa kali Ale bertanya tentang sosok Ibu ke Bapak, ia hanya mendapat satu kalimat yang selalu sama, dan kemudian Bapak pasti pergi ke kamar membawa sisa percakapan itu. Ale tidak tahu mengapa Bapak selalu mengurung diri dikamar setelah dia beri pertanyaan itu.
“Kata Bapak, Ibu itu orang yang paling cantik. Semua perempuan kan memang cantik ya, Bang? Ale mau tahu wajah cantik Ibu bagaimana, jadi kalau Ibu dateng di mimpi, Ale bisa ingat wajah Ibu yang bagaimana.”
Selama sepuluh tahun, Ale menaruh rindu pada seseorang yang bahkan belum pernah ia lihat wajahnya, belum pernah ia dengar suaranya, dan kehadirannya pun tidak pernah ia rasakan.
Khalil merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah benda pipih. Tangannya bergerak menekan sebuah folder di antara deretan aplikasi, lalu mengetikkan serangkaian angka hingga akhirnya folder itu terbuka yang menampilkan deretan foto.
“Sini, Le…”
Layar itu menampilkan sebuah potret di halaman rumah mereka. Di sana, seorang wanita berdiri dengan perut buncit, matanya yang bulat serta bulu mata lentik yang persis sekali dengan milik Ale. Satu tangannya melingkar lembut di bahu Khalil, sementara Bapak berdiri di sisi lain memamerkan senyum lebar miliknya yang nyaris tak pernah terlihat lagi.
Ale mendekat, matanya ikut menatap ke arah ponsel milik Khalil.
“Itu… itu Ibu, Bang?”
“Iya, Ibu. Ibunya Ale sama Abang.”
Benda pipih itu kini beralih ke tangan Ale. Ia menunduk dalam, jarinya menggeser layar perlahan, berpindah dari satu foto ke foto berikutnya.
“Cantik…”
Other Stories
Tersesat
Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...
Waktu Tambahan
Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...
Misteri Kursi Goyang
Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...
Membabi Buta
Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...
Susan Ngesot
Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...
Dari Luka Menjadi Cahaya
Azzam adalah seorang pemuda sederhana dengan mimpi besar. Ia percaya bahwa cinta dan kerja ...