Perjalanan Terakhir Bersama Bapak

Reads
143
Votes
28
Parts
14
Vote
Report
Perjalanan terakhir bersama bapak
Perjalanan Terakhir Bersama Bapak
Penulis Sveetnona

Di Meja Makan

Angin laut berhembus bebas, membawa aroma garam, membuat tirai-tirai tipis bergerak pelan. Khalil muncul membawa nampan berisi teh hangat yang ia buat di dapur. Meletakkan gelas-gelas itu di atas meja kemudian bersiap duduk untuk makan.

“Terimakasih, Abang sayang. Galak-galak begini ternyata perhatian sekali, ya?” celetuk Bapak dengan nada menggoda.

Khalil yang mendengar hanya mendengus, mencoba menyembunyikan senyumnya yang hampir terukir.

“Bang Khalil dari tadi mukanya serem, Pak. Ale takut dimakan!” sahut Ale ikut-ikutan menggoda, yang disambut tawa renyah dari Bapak.

Khalil memutar matanya, memilih duduk di kursi kosong di depan Bapak.

“Kalau ada Ibu, pasti tambah seru ya, Pak,” cetus Ale tiba-tiba.

Terdengar suara dentingan lumayan keras dari piring Khalil. “Ibu udah nggak ada, jangan kaya orang bodoh.”

Suasana langsung membeku. Ale tersentak, bahunya menciut. Namun, kalimat Khalil belum selesai, ia mendongak menatap Ale dengan mata yang mulai berair.

“Jangan bawa-bawa orang yang udah nggak ada. Kamu alasan Ibu nggak ada di sini.”

“Khalil!” bentak Bapak dengan suara yang belum pernah anak-anaknya dengar seumur hidup mereka.

“Apa, Pak? Khalil salah?” Khalil justru semakin menjadi, tidak mau kalah. Matanya yang memerah kini menatap Bapak. “Bapak selalu mengusahakan segalanya buat Ale, bahkan liburan ini juga hasil Bapak mati-matian lembur ke sana-sini. Bapak merasa bersalah karena nggak bisa selamatin Ibu, kan?! Bapak jadikan dia penebus dosa Bapak!”

BRAK!!

Bapak menggebrak meja kayu di depannya dengan telapak tangan yang bergetar hebat. Menimbulkan getaran pada gelas-gelas teh di atasnya, bahkan salah satunya terguling hingga airnya membasahi meja.

“Cukup, Khalil! Sudah… Bapak mohon…” kini suara Bapak tak lagi menggelegar. “Ini liburan kita, jangan dihancurkan seperti ini.”

Khalil membuang muka, rahangnya mengeras. “Belain aja terus. Rasanya cuma Khalil yang kehilangan.”

Setelah mengucapkan kalimat itu, Khalil memutar tubuhnya. Ia melangkah keluar meninggalkan Bapak dan Ale.

Ale terisak, suara tangisnya kecil, tertahan di balik telapak tangannya. “Maaf, Bang…. Maaf Ale sudah bikin Ibu pergi...”

Bapak hanya bisa menatap punggung anak sulungnya yang kian menjauh, tangan Bapak mencengkram pinggiran meja, berusaha menahan tubuhnya agar tidak ambruk.

“Sini, Nak…. peluk Bapak,” panggil Bapak ke anak bungsunya dengan suara lembut.

Ale langsung menghambur ke pelukan Bapak, menyembunyikan wajahnya di perut Bapak.

“Bukan salahmu, Le. Bukan salahmu,” gumam Bapak berkali-kali, terlihat berusaha meyakinkan dirinya sendiri lebih daripada kepada Ale.



Other Stories
Reuni Mantan

Iko dan tiga mantan Sarah lainnya menghadiri halalbihalal di vila terpencil milik Darius, ...

Bisikan Lada

Tiga pemuda nekat melanggar larangan sesepuh demi membuktikan mitos, namun justru mengalam ...

32 Detik

Hanya 32 detik untuk menghancurkan cinta dan hidup Kirana. Saat video pribadinya bocor, du ...

7 Misteri Di Korea

Untuk membuat acara spesial di ulang tahun ke lima majalah pariwisata Arsha Magazine, Om D ...

Bunga Untuk Istriku (21+)

Laras merasa pernikahannya dengan Rendra telah mencapai titik jenuh yang aman namun hambar ...

After Meet You

kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...

Download Titik & Koma