Hangat
Matahari pagi bersinar hangat, memantul di atas permukaan air laut yang tenang. Lengkap dengan suara deburan ombak dan tawa kecil yang sudah lama tidak terdengar.
“Masa nggak bisa ngejar Abang, sih?”
Khalil berteriak dari bibir pantai, sengaja meledek adiknya yang tidak bisa membalas kelakuan jahil Khalil.
“Awas aja ya, Abang! Habis Ale sarapan Abang bakal kalah sama Ale!!” teriakan Ale tak kalah keras.
Sebenarnya Ale sudah sempat berdiri untuk mengejar, tetapi tangannya tertahan oleh Bapak. Terpaksa ia hanya bisa duduk menonton kelakuan jahil abangnya dari jauh.
“Selesaikan dulu makannya. Bahaya kalau sambil lari-lari,” ujar Bapak lembut namun tegas.
Bapak duduk bersila di atas tikar yang ia gelar di antara deretan pohon ketapang. Dengan sabar jemarinya memisahkan duri ikan satu per satu, memastikan hanya daging yang tersisa agar anak-anaknya bisa langsung makan dengan aman.
Sebelum berlari ke arah pantai, Khalil sudah menyelesaikan sarapannya lebih dulu. Ia sempat berhenti sejenak hanya untuk mencubit gemas pipi adiknya hingga sang adik memekik protes, lalu tertawa renyah sambil melesat cepat.
Bapak sesekali mendongak, memperhatikan Khalil yang sedang melakukan gerakan konyol di tepi air untuk memancing emosi adiknya. Tanpa sadar, terukir senyuman tipis di bibir Bapak, ada kehangatan yang menyelimuti dadanya saat melihat sebuah pemandangan yang selama ini ia rindukan. Wajah anak sulungnya kembali tampak cerah serta senyumnya yang tulus dan lepas, tidak lagi membatasi jarak di antara mereka.
"Satu lagi, Le. Terakhir," lanjut Bapak sembari menyodorkan potongan ikan terakhir.
Ale yang sejak tadi tidak sabar, menerima suapan itu dengan terburu-buru, segera meneguk sisa air minumnya hingga benar-benar habis. Ia berdiri dengan semangat, matanya tidak lepas dari sosok yang masih melambai-lambai menantangnya dari kejauhan. Tanpa menunggu aba-aba lagi, Ale langsung bergegas menyusul Khalil.
“Abang siap-siap terima serangan dari Ale!”
Khalil yang terlalu percaya diri tetap berdiri mematung di posisinya. Ia sama sekali tidak beranjak, yakin kalau tubuh adiknya tidak mungkin bisa melakukan apa-apa selain berhenti tepat di depannya.
Namun siapa sangka, perhitungan Khalil ternyata meleset total. Begitu jarak mereka tinggal beberapa langkah, Ale melompat dengan seluruh tenaganya tepat ke arah dada Khalil.
“Ale! Eh–!”
Byurrr!
Kaki Khalil yang tadi kokoh mendadak goyah. Tubuhnya terhuyung ke belakang sebelum akhirnya jatuh bersama Ale yang masih memeluknya erat. Beberapa detik hening, sebelum kepala Khalil muncul ke permukaan dengan rambut basah menempel di wajahnya.
“Busettt, Le. Udah gede ya kamu, Abang harus hati-hati, nih!”
Khalil menyeka wajahnya sambil terbahak keras, tangannya langsung menarik Ale yang terbatuk-batuk berusaha mengatur nafas. Ia tidak marah sama sekali, justru memeluk kembali tubuh adiknya yang ternyata kini sudah tidak sekecil yang ia kira.
“Masa nggak bisa ngejar Abang, sih?”
Khalil berteriak dari bibir pantai, sengaja meledek adiknya yang tidak bisa membalas kelakuan jahil Khalil.
“Awas aja ya, Abang! Habis Ale sarapan Abang bakal kalah sama Ale!!” teriakan Ale tak kalah keras.
Sebenarnya Ale sudah sempat berdiri untuk mengejar, tetapi tangannya tertahan oleh Bapak. Terpaksa ia hanya bisa duduk menonton kelakuan jahil abangnya dari jauh.
“Selesaikan dulu makannya. Bahaya kalau sambil lari-lari,” ujar Bapak lembut namun tegas.
Bapak duduk bersila di atas tikar yang ia gelar di antara deretan pohon ketapang. Dengan sabar jemarinya memisahkan duri ikan satu per satu, memastikan hanya daging yang tersisa agar anak-anaknya bisa langsung makan dengan aman.
Sebelum berlari ke arah pantai, Khalil sudah menyelesaikan sarapannya lebih dulu. Ia sempat berhenti sejenak hanya untuk mencubit gemas pipi adiknya hingga sang adik memekik protes, lalu tertawa renyah sambil melesat cepat.
Bapak sesekali mendongak, memperhatikan Khalil yang sedang melakukan gerakan konyol di tepi air untuk memancing emosi adiknya. Tanpa sadar, terukir senyuman tipis di bibir Bapak, ada kehangatan yang menyelimuti dadanya saat melihat sebuah pemandangan yang selama ini ia rindukan. Wajah anak sulungnya kembali tampak cerah serta senyumnya yang tulus dan lepas, tidak lagi membatasi jarak di antara mereka.
"Satu lagi, Le. Terakhir," lanjut Bapak sembari menyodorkan potongan ikan terakhir.
Ale yang sejak tadi tidak sabar, menerima suapan itu dengan terburu-buru, segera meneguk sisa air minumnya hingga benar-benar habis. Ia berdiri dengan semangat, matanya tidak lepas dari sosok yang masih melambai-lambai menantangnya dari kejauhan. Tanpa menunggu aba-aba lagi, Ale langsung bergegas menyusul Khalil.
“Abang siap-siap terima serangan dari Ale!”
Khalil yang terlalu percaya diri tetap berdiri mematung di posisinya. Ia sama sekali tidak beranjak, yakin kalau tubuh adiknya tidak mungkin bisa melakukan apa-apa selain berhenti tepat di depannya.
Namun siapa sangka, perhitungan Khalil ternyata meleset total. Begitu jarak mereka tinggal beberapa langkah, Ale melompat dengan seluruh tenaganya tepat ke arah dada Khalil.
“Ale! Eh–!”
Byurrr!
Kaki Khalil yang tadi kokoh mendadak goyah. Tubuhnya terhuyung ke belakang sebelum akhirnya jatuh bersama Ale yang masih memeluknya erat. Beberapa detik hening, sebelum kepala Khalil muncul ke permukaan dengan rambut basah menempel di wajahnya.
“Busettt, Le. Udah gede ya kamu, Abang harus hati-hati, nih!”
Khalil menyeka wajahnya sambil terbahak keras, tangannya langsung menarik Ale yang terbatuk-batuk berusaha mengatur nafas. Ia tidak marah sama sekali, justru memeluk kembali tubuh adiknya yang ternyata kini sudah tidak sekecil yang ia kira.
Other Stories
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Reuni
Kutukan Kastil Piano membuat cinta Selina berbalik jadi kebencian, hingga akhirnya ia mema ...
First Love Fall
Rena mengira dengan mendapat beasiswa akan menjadi petualangan yang menyenangkan. Tapi sia ...
Dear Zalina
Zalina,murid baru yang menggemparkan satu sekolah karena pesona nya,tidak sedikit cowok ya ...
Kala Menjadi Cahaya Menjemput Harapan Di Tengah Gelap
Hidup Arka runtuh dalam sekejap. Pekerjaan yang ia banggakan hilang, ayahnya jatuh sakit p ...
Buku Mewarnai
ini adalah buku mewarnai srbagai contoh upload buku ...