Sebelum Keberangkatan
Malam sebelum keberangkatan, di sudut kamar, Ale tampak begitu sibuk. Ia memenuhi tas ranselnya dengan berbagai perlengkapan, mulai dari baju, kacamata hitam, dan tidak lupa mobil kecil pemberian Bapak karena Ale berhasil mendapat peringkat lima besar. Semuanya sudah ia siapkan jauh-jauh hari.
Namun, tidak dengan Khalil. Remaja itu duduk di sofa ruang tengah, membiarkan tasnya masih terbuka kosong di kamar. Pandangannya tertuju pada sosok Bapak yang baru saja melangkah masuk ke dalam rumah.
Khalil memperhatikan punggung Bapak yang berjalan perlahan menuju dapur. Begitu Bapak berbalik untuk mengambil segelas air, lampu dapur menyorot wajahnya. Bapak terlihat sedikit pucat, serta cekungan di bawah mata yang semakin jelas. Bapak sempat melemparkan senyum tipis saat menyadari Khalil yang memandangnya dari ruang tengah.
Khalil beralih masuk ke kamar, langkahnya terhenti sejenak di ambang pintu. Di sana, ia melihat Ale sedang berlutut di lantai, sibuk menata barang-barang sambil bersenandung kecil.
Melihat adiknya sebahagia itu, ada bagian kecil di dalam hatinya yang merasa tersentuh. Namun, kenyataan pahit kembali menghantam pikirannya.
Bagi Khalil, kehadiran Ale membuat Ibu meninggalkan mereka. Disaat adiknya menghirup nafas pertamanya, Ibu justru menghembuskan nafas terakhirnya. Khalil merasa hidup Ibu ditukar dengan nyawa Ale. Ditambah lagi, Bapak yang selalu memanjakan Ale, menurut Khalil itu dilakukan untuk menutupi rasa bersalah Bapak tidak bisa menyelamatkan Ibu.
Ale yang menyadari tas abangnya masih kosong, menghentikan aktivitasnya sejenak. Menatap Khalil dengan raut bingung.
“Bang Khalil nggak passing?” Pertanyaan itu sukses membuat orang yang ditanya menautkan kedua alis.
“Ngapain passing? Emang Abang lagi main voli?”
“Ini loh Bang. Kaya Ale, masuk-masukin barang yang mau dibawa,” jelas sang adik sambil menunjuk tas ranselnya yang sudah siap. “Kenapa Abang bawa-bawa voli?” lanjutnya bingung.
“Packing, Le. Nggak usah sok inggris kalo masih salah.”
Kalimat itu hanya dibalas Ale dengan cengiran tanpa dosa.
Namun, tidak dengan Khalil. Remaja itu duduk di sofa ruang tengah, membiarkan tasnya masih terbuka kosong di kamar. Pandangannya tertuju pada sosok Bapak yang baru saja melangkah masuk ke dalam rumah.
Khalil memperhatikan punggung Bapak yang berjalan perlahan menuju dapur. Begitu Bapak berbalik untuk mengambil segelas air, lampu dapur menyorot wajahnya. Bapak terlihat sedikit pucat, serta cekungan di bawah mata yang semakin jelas. Bapak sempat melemparkan senyum tipis saat menyadari Khalil yang memandangnya dari ruang tengah.
Khalil beralih masuk ke kamar, langkahnya terhenti sejenak di ambang pintu. Di sana, ia melihat Ale sedang berlutut di lantai, sibuk menata barang-barang sambil bersenandung kecil.
Melihat adiknya sebahagia itu, ada bagian kecil di dalam hatinya yang merasa tersentuh. Namun, kenyataan pahit kembali menghantam pikirannya.
Bagi Khalil, kehadiran Ale membuat Ibu meninggalkan mereka. Disaat adiknya menghirup nafas pertamanya, Ibu justru menghembuskan nafas terakhirnya. Khalil merasa hidup Ibu ditukar dengan nyawa Ale. Ditambah lagi, Bapak yang selalu memanjakan Ale, menurut Khalil itu dilakukan untuk menutupi rasa bersalah Bapak tidak bisa menyelamatkan Ibu.
Ale yang menyadari tas abangnya masih kosong, menghentikan aktivitasnya sejenak. Menatap Khalil dengan raut bingung.
“Bang Khalil nggak passing?” Pertanyaan itu sukses membuat orang yang ditanya menautkan kedua alis.
“Ngapain passing? Emang Abang lagi main voli?”
“Ini loh Bang. Kaya Ale, masuk-masukin barang yang mau dibawa,” jelas sang adik sambil menunjuk tas ranselnya yang sudah siap. “Kenapa Abang bawa-bawa voli?” lanjutnya bingung.
“Packing, Le. Nggak usah sok inggris kalo masih salah.”
Kalimat itu hanya dibalas Ale dengan cengiran tanpa dosa.
Other Stories
Tersesat
Qiran yang suka hal baru nekat mengakses deep web dan menemukan sebuah lagu, lalu memamerk ...
Mauren Lupakan Masa Lalu
Mauren menolak urusan cinta karena trauma keluarga dan nyaman dengan tampilannya yang mask ...
Queen, The Last Dance
Di panggung megah, di tengah sorak sorai penonton yang mengelu-elukan namanya, ada air mat ...
Dream Analyst
Dream Analyst. Begitu teman-temannya menyebut dirinya. Frisky dapat menganalisa mimpi sese ...
Suara Dari Langit
Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...
Seribu Wajah Venus
Kisah-kisah kehidupan manusia yang kuat, mandiri, dan tegar dalam menghadapi persoalan hid ...