Perjalanan Terakhir Bersama Bapak

Reads
110
Votes
28
Parts
14
Vote
Report
Perjalanan terakhir bersama bapak
Perjalanan Terakhir Bersama Bapak
Penulis Sveetnona

Hangat

Matahari pagi bersinar hangat, memantul di atas permukaan air laut yang tenang. Lengkap dengan suara deburan ombak dan tawa kecil yang sudah lama tidak terdengar.

“Masa nggak bisa ngejar Abang, sih?”

Khalil berteriak dari bibir pantai, sengaja meledek adiknya yang tidak bisa membalas kelakuan jahil Khalil.

“Awas aja ya, Abang! Habis Ale sarapan Abang bakal kalah sama Ale!!” teriakan Ale tak kalah keras.

Sebenarnya Ale sudah sempat berdiri untuk mengejar, tetapi tangannya tertahan oleh Bapak. Terpaksa ia hanya bisa duduk menonton kelakuan jahil abangnya dari jauh.

“Selesaikan dulu makannya. Bahaya kalau sambil lari-lari,” ujar Bapak lembut namun tegas.

Bapak duduk bersila di atas tikar yang ia gelar di antara deretan pohon ketapang. Dengan sabar jemarinya memisahkan duri ikan satu per satu, memastikan hanya daging yang tersisa agar anak-anaknya bisa langsung makan dengan aman.

Sebelum berlari ke arah pantai, Khalil sudah menyelesaikan sarapannya lebih dulu. Ia sempat berhenti sejenak hanya untuk mencubit gemas pipi adiknya hingga sang adik memekik protes, lalu tertawa renyah sambil melesat cepat.

Bapak sesekali mendongak, memperhatikan Khalil yang sedang melakukan gerakan konyol di tepi air untuk memancing emosi adiknya. Tanpa sadar, terukir senyuman tipis di bibir Bapak, ada kehangatan yang menyelimuti dadanya saat melihat sebuah pemandangan yang selama ini ia rindukan. Wajah anak sulungnya kembali tampak cerah serta senyumnya yang tulus dan lepas, tidak lagi membatasi jarak di antara mereka.

"Satu lagi, Le. Terakhir," lanjut Bapak sembari menyodorkan potongan ikan terakhir.

Ale yang sejak tadi tidak sabar, menerima suapan itu dengan terburu-buru, segera meneguk sisa air minumnya hingga benar-benar habis. Ia berdiri dengan semangat, matanya tidak lepas dari sosok yang masih melambai-lambai menantangnya dari kejauhan. Tanpa menunggu aba-aba lagi, Ale langsung bergegas menyusul Khalil.

“Abang siap-siap terima serangan dari Ale!”

Khalil yang terlalu percaya diri tetap berdiri mematung di posisinya. Ia sama sekali tidak beranjak, yakin kalau tubuh adiknya tidak mungkin bisa melakukan apa-apa selain berhenti tepat di depannya.

Namun siapa sangka, perhitungan Khalil ternyata meleset total. Begitu jarak mereka tinggal beberapa langkah, Ale melompat dengan seluruh tenaganya tepat ke arah dada Khalil.

“Ale! Eh–!”

Byurrr!

Kaki Khalil yang tadi kokoh mendadak goyah. Tubuhnya terhuyung ke belakang sebelum akhirnya jatuh bersama Ale yang masih memeluknya erat. Beberapa detik hening, sebelum kepala Khalil muncul ke permukaan dengan rambut basah menempel di wajahnya.

“Busettt, Le. Udah gede ya kamu, Abang harus hati-hati, nih!”

Khalil menyeka wajahnya sambil terbahak keras, tangannya langsung menarik Ale yang terbatuk-batuk berusaha mengatur nafas. Ia tidak marah sama sekali, justru memeluk kembali tubuh adiknya yang ternyata kini sudah tidak sekecil yang ia kira.


Other Stories
Bali Before Sun Set

Perjalanan di pulau dewata tak hanya menyajikan sesuatu yang amat indah untuk di pandang t ...

Mereka Yang Tak Terlihat

Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...

Horor

horor ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Bisikan Lada

Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketahui ...

Arti Yang Tak Pernah Usai

Siapa sangka liburan akhir tahun beberapa mahasiswa ini membawa dua insan menyelesaikan se ...

Download Titik & Koma