Kabar Yang Datang Bersama Malam
Matahari perlahan tenggelam di balik atap-atap rumah, menyisakan langit senja yang kian redup. Ketika mereka akhirnya berhenti bekerja, halaman depan rumah sudah terlihat jauh lebih bersih dari sebelumnya.
Sementara itu, malam datang perlahan, membawa suasana yang lebih tenang ke dalam rumah.
Di ruang tengah, lampu menyala lembut sementara televisi di depan sofa menampilkan sebuah acara yang suaranya mengisi ruangan. Khalil dan Ale duduk berdampingan, menikmati suasana malam dengan beberapa percakapan ringan.
Ale adalah tipikal anak yang ceria dan cerewet jika sudah nyaman dengan seseorang. Akhir- akhir ini Ale menunjukan sifat itu kepada Khalil. Selama ini, ia mungkin terlihat lebih banyak diam hanya karena segan melihat Khalil yang sering kali marah kepadanya dan sulit didekati. Sebagai anak yang baru saja naik ke kelas lima SD, ia sedang berada di fase sangat ingin tahu dan senang bercerita tentang hal-hal kecil.
Ia duduk menempel di samping Khalil, membolak-balik buku tulis barunya sambil bertanya banyak hal tentang rasanya masuk kelas lima.
“Bang, emang kelas lima itu berat, ya?”
Khalil mengerutkan kening. “Kata siapa?”
“Kakak kelas Ale yang bilang, katanya kelas lima pelajarannya sudah susah semua.”
Khalil terkekeh mendengar penjelasan polos adiknya.
“Itu mah nakut-nakutin, Le. Kelas lima ya tetap sekolah biasa saja, paling ada hal-hal baru yang lebih keren.”
“Dulu juga Abang pernah, ini masih bisa hidup sampai sekarang.”
Ale nyengir kaku mendengar jawaban Khalil.
“Tapi kalau nanti Ale nggak bisa?”
“Ada Abang.”
Perhatian Kale beberapa kali teralihkan. Tangannya meraih ponsel di atas meja, menyalakan layar sebentar, lalu mematikannya lagi. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan.
“Bang.”
“Hm?”
“Bapak belum pulang? Ale lapar.”
Ini sudah melewati jam biasanya bapak pulang. Khalil berdiri, "Ale, tunggu di rumah sebentar ya, Abang mau susul Bapak ke proyek. Takut ada apa-apa di sana.”
“Iya, Bang. Hati-hati sudah gelap.”
Khalil segera menyambar kunci motor dan jaketnya.
__
Sesampainya di lokasi proyek, suasana sudah lengang. Beberapa pekerja terlihat berjalan keluar dari area proyek sambil membersihkan tangan mereka yang berdebu. Sebagian sudah menyalakan motor, sebagian lagi berjalan menuju jalan besar. Ia menunggu di depan gerbang selama beberapa menit sampai akhirnya memutuskan untuk masuk ke area konstruksi.
Saat baru saja melewati gerbang, matanya menangkap sosok pria paruh baya yang tampak familiar, itu teman Bapak yang dulu pernah datang ke rumah.
“Pak!” panggil Khalil setengah berlari.
Pria itu menoleh, dahinya berkerut heran. “Lho, ngapain malam-malam ke sini, Dek? Bahaya banyak alat berat.”
“Saya Khalil, Pak. Anaknya Pak Pram. Saya mau tanya, Bapak saya apa masih di dalam?”
Raut wajah pria itu langsung berubah. Ia tampak terkejut sekaligus bingung.
“Oalah, anaknya si Pram…. Kamu belum dikabari? Tadi, Bapakmu dibawa ke rumah sakit karena jatuh pas mau turun.”
“Bapakmu juga sempat pesan, biar dia yang kasih tahu anaknya supaya ndak kaget.”
Khalil mematung, oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Teman Bapak yang melihat perubahan raut wajah Khalil segera menepuk bahunya pelan.
“Wess, jangan mikir macam-macam. Bapakmu orang kuat, Lil. Ayo ikut ke rumah sakit, kebetulan saya memang sudah janji mau antar Bapakmu pulang nanti,”
Khalil hanya mengangguk kaku, masih mencoba mencerna informasi yang baru saja ia dengar. Tanpa berkata apa-apa, langkahnya segera menuju tempat dimana motornya terparkir.
Saat baru saja bersiap menyalakan mesin, sebuah getaran terasa dari saku jaketnya. Khalil merogohnya dan menatap layar yang menyala. Nama ‘Bapak’ tertera disana.
Ia menarik napas panjang, berusaha menstabilkan suaranya sebelum mengangkat panggilan itu.
Suara Bapak terdengar dari seberang.
“Halo, Bang? Bang Khalil di mana?”
“Abang nggak usah jemput Bapak ke proyek ya, ini Bapak mau pulang bareng teman Bapak pakai mobil.”
Tangan kiri Khalil menggenggam stang motornya erat. Bapak masih berusaha membohonginya.
“Khalil sudah tau, Pak. Khalil sekarang lagi sama temen Bapak,” jawabnya singkat.
Beberapa detik berlalu tanpa suara dari seberang telepon.
“Maaf, Bapak ng–”
Sebelum Bapak sempat memberikan penjelasan apa pun, Khalil langsung mematikan sambungan telepon itu secara sepihak. Ia tidak ingin mendengar alasan lagi. Dengan jantung yang masih berdegup kencang, ia segera menginjak memacu motornya menyusul mobil di depannya menuju rumah sakit.
Tolong jangan ada kabar buruk lagi.
Sementara itu, malam datang perlahan, membawa suasana yang lebih tenang ke dalam rumah.
Di ruang tengah, lampu menyala lembut sementara televisi di depan sofa menampilkan sebuah acara yang suaranya mengisi ruangan. Khalil dan Ale duduk berdampingan, menikmati suasana malam dengan beberapa percakapan ringan.
Ale adalah tipikal anak yang ceria dan cerewet jika sudah nyaman dengan seseorang. Akhir- akhir ini Ale menunjukan sifat itu kepada Khalil. Selama ini, ia mungkin terlihat lebih banyak diam hanya karena segan melihat Khalil yang sering kali marah kepadanya dan sulit didekati. Sebagai anak yang baru saja naik ke kelas lima SD, ia sedang berada di fase sangat ingin tahu dan senang bercerita tentang hal-hal kecil.
Ia duduk menempel di samping Khalil, membolak-balik buku tulis barunya sambil bertanya banyak hal tentang rasanya masuk kelas lima.
“Bang, emang kelas lima itu berat, ya?”
Khalil mengerutkan kening. “Kata siapa?”
“Kakak kelas Ale yang bilang, katanya kelas lima pelajarannya sudah susah semua.”
Khalil terkekeh mendengar penjelasan polos adiknya.
“Itu mah nakut-nakutin, Le. Kelas lima ya tetap sekolah biasa saja, paling ada hal-hal baru yang lebih keren.”
“Dulu juga Abang pernah, ini masih bisa hidup sampai sekarang.”
Ale nyengir kaku mendengar jawaban Khalil.
“Tapi kalau nanti Ale nggak bisa?”
“Ada Abang.”
Perhatian Kale beberapa kali teralihkan. Tangannya meraih ponsel di atas meja, menyalakan layar sebentar, lalu mematikannya lagi. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan.
“Bang.”
“Hm?”
“Bapak belum pulang? Ale lapar.”
Ini sudah melewati jam biasanya bapak pulang. Khalil berdiri, "Ale, tunggu di rumah sebentar ya, Abang mau susul Bapak ke proyek. Takut ada apa-apa di sana.”
“Iya, Bang. Hati-hati sudah gelap.”
Khalil segera menyambar kunci motor dan jaketnya.
__
Sesampainya di lokasi proyek, suasana sudah lengang. Beberapa pekerja terlihat berjalan keluar dari area proyek sambil membersihkan tangan mereka yang berdebu. Sebagian sudah menyalakan motor, sebagian lagi berjalan menuju jalan besar. Ia menunggu di depan gerbang selama beberapa menit sampai akhirnya memutuskan untuk masuk ke area konstruksi.
Saat baru saja melewati gerbang, matanya menangkap sosok pria paruh baya yang tampak familiar, itu teman Bapak yang dulu pernah datang ke rumah.
“Pak!” panggil Khalil setengah berlari.
Pria itu menoleh, dahinya berkerut heran. “Lho, ngapain malam-malam ke sini, Dek? Bahaya banyak alat berat.”
“Saya Khalil, Pak. Anaknya Pak Pram. Saya mau tanya, Bapak saya apa masih di dalam?”
Raut wajah pria itu langsung berubah. Ia tampak terkejut sekaligus bingung.
“Oalah, anaknya si Pram…. Kamu belum dikabari? Tadi, Bapakmu dibawa ke rumah sakit karena jatuh pas mau turun.”
“Bapakmu juga sempat pesan, biar dia yang kasih tahu anaknya supaya ndak kaget.”
Khalil mematung, oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Teman Bapak yang melihat perubahan raut wajah Khalil segera menepuk bahunya pelan.
“Wess, jangan mikir macam-macam. Bapakmu orang kuat, Lil. Ayo ikut ke rumah sakit, kebetulan saya memang sudah janji mau antar Bapakmu pulang nanti,”
Khalil hanya mengangguk kaku, masih mencoba mencerna informasi yang baru saja ia dengar. Tanpa berkata apa-apa, langkahnya segera menuju tempat dimana motornya terparkir.
Saat baru saja bersiap menyalakan mesin, sebuah getaran terasa dari saku jaketnya. Khalil merogohnya dan menatap layar yang menyala. Nama ‘Bapak’ tertera disana.
Ia menarik napas panjang, berusaha menstabilkan suaranya sebelum mengangkat panggilan itu.
Suara Bapak terdengar dari seberang.
“Halo, Bang? Bang Khalil di mana?”
“Abang nggak usah jemput Bapak ke proyek ya, ini Bapak mau pulang bareng teman Bapak pakai mobil.”
Tangan kiri Khalil menggenggam stang motornya erat. Bapak masih berusaha membohonginya.
“Khalil sudah tau, Pak. Khalil sekarang lagi sama temen Bapak,” jawabnya singkat.
Beberapa detik berlalu tanpa suara dari seberang telepon.
“Maaf, Bapak ng–”
Sebelum Bapak sempat memberikan penjelasan apa pun, Khalil langsung mematikan sambungan telepon itu secara sepihak. Ia tidak ingin mendengar alasan lagi. Dengan jantung yang masih berdegup kencang, ia segera menginjak memacu motornya menyusul mobil di depannya menuju rumah sakit.
Tolong jangan ada kabar buruk lagi.
Other Stories
Ngidam
Clara mengira ngidam anehnya—memegang milik pria lain—akan membuat suaminya murka. Nam ...
Kating Modus!
Kisah seorang pemuda yang mengikuti organisasi internal di kampusnya. Ia diberi mandat ole ...
Cinta Di Balik Rasa
memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...
Reuni Mantan
Iko dan tiga mantan Sarah lainnya menghadiri halalbihalal di vila terpencil milik Darius, ...
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...