Perjalanan Terakhir Bersama Bapak

Reads
110
Votes
28
Parts
14
Vote
Report
Perjalanan terakhir bersama bapak
Perjalanan Terakhir Bersama Bapak
Penulis Sveetnona

Ikhlas Milik Bapak

Cahaya lampu kuning yang temaram menjatuhkan bayangan panjang pada sosok pria yang terduduk lesu di kursi kayu ruang depan. Tampak begitu ringkih, bahunya yang dulu kokoh kini sedikit melengkung, tampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya.

Bapak membungkuk pelan, dengan gerakan yang lambat dan gemetar, tangannya perlahan memijat kakinya yang mulai sering kaku. Sesekali berhenti hanya untuk menyeka air mata yang membasahi pipinya.

Akhir-akhir ini, Bapak memang selalu memaksa tubuhnya untuk bekerja jauh lebih keras. Bapak membanting tulang demi bisa membawa kedua putranya berlibur ke tempat yang lebih jauh. Selama itu pula Bapak mulai sering merasakan sakit dan pening yang menusuk tanpa ampun. Namun, rasa sakit itu seolah hilang setelah Bapak membayangkan betapa lebar senyum anak-anaknya nanti.

Selama ini, Bapak menaruh harapan besar di pundak putra sulungnya. Dengan harapan ia akan tumbuh menjadi sosok yang lebih kuat darinya, seseorang yang bisa diandalkan untuk menggantikan posisinya suatu saat nanti ketika beliau sudah menyusul pemilik hatinya.

Bapak menganggap Khalil sudah dewasa, Khalil adalah cerminan dirinya, dan Khalil adalah sosok yang paling bisa ia andalkan untuk kuat. Tanpa sadar, Bapak membebankan standar yang terlampau tinggi pada anak sulungnya, seolah tak lagi membutuhkan pelukan seperti Ale. Ia takut jika terlalu memanjakannya, Khalil tidak akan cukup kuat untuk berdiri menggantikannya.

“Bapak...”

Bapak yang sedang duduk sedikit terlonjak setelah mendengar suara yang memanggilnya. Suara milik seseorang yang sedari tadi dia tunggu hadirnya.

“Bang Khalil, darimana, Bang? Jangan buat bapak takut.” Suaranya bergetar, khas orang yang sedang menahan tangis.

Tanpa menunggu jawaban, Bapak berdiri begitu saja, ia merengkuh tubuh anak sulungnya ke dalam pelukan hangat.

“Khalil minta maaf, Pak. Tolong maafin Khalil…” ia luluh sepenuhnya, tangannya merayap naik mencengkram erat kaos Bapak.

“Bapak yang salah, Nak. Bapak gagal menjadi peran ayah sekaligus ibu buat anak-anak Bapak. Bapak nggak sadar kalau selama ini menuntut kamu untuk kuat sendirian.”

Khalil tidak mengeluarkan suara, masih terisak di bahu Bapak. Lidahnya kelu, terkunci oleh rasa sesak mendengar tangisan pilu milik Bapak. Selama ini Bapak tidak pernah menunjukan sisi lemahnya, bahkan di hari pemakaman Ibu, tidak ada satupun yang melihat Bapak menangis. Namun malam ini, didepan anak sulungnya, Bapak benar-benar menunjukan betapa hancur dan lelah jiwanya.

“Abang boleh marah dengan Bapak, tapi Bapak mohon jangan pernah benci adikmu. Bukan adik yang salah. Takdir yang memutuskan begitu. Abang ingat kan, Ibu selalu bilang kamu akan jadi kakak yang hebat?”

Khalil menganggukan kepalanya sebagai jawaban untuk pertanyaan Bapak.

“Bapak butuh bantuan Abang..... Bapak nggak bisa kalau harus sendirian tanpa Ibu.”

“Bapak bangun pagi buta, banting tulang sampai badan rasanya mau patah…. tiap malam punggung Bapak sakit, Bang. Semua Bapak tahan bukan untuk melihat anak-anak Bapak seperti ini,” melepaskan sedikit pelukannya, memegang kedua bahu Khalil sambil menatap mata anaknya dalam-dalam.

“Abang tolong bantu Bapak jaga adik, ya?” pinta Bapak dengan suara sangat rendah.

Melihat sorot mata Bapak, Khalil tertegun. Entah apa saja yang sudah Bapak lewati sendirian, badai apa yang sudah ia lalui, atau luka mana yang ia jahit sendiri tanpa suara, hingga bisa mencapai tingkat keikhlasan sedalam ini.

“Iya, Pak.” Akhirnya suara terdengar dari mulut Khalil. Hanya dua kata namun terasa diucapkan dengan seluruh sisa nafas yang ia miliki.

Bapak melepas tangannya perlahan, dengan mata yang lelah dan merah menatap ke arah pintu kamar yang tertutup rapat. “Temui adikmu, kasihan, dari tadi nangis cari Abangnya.”

Khalil mengangguk lemah, tenggorokannya masih terasa seperti diikat kuat dari dalam. Ia menarik nafas panjang beberapa kali, menyeka sisa air mata dengan punggung tangannya saat berjalan menuju ruangan itu.


Other Stories
Kucing Emas

Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...

Membabi Buta

Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...

Mother & Son

Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...

Keeper Of Destiny

Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...

Di Luar Rencana

Hubungan Hening sedang tidak akur dengan Endaru, putri semata wayangnya, namun mereka haru ...

Youtube In Love

Wahyu yang berani kenalan lewat komentar YouTube berhasil mengajak Yunita bertemu. Asep pe ...

Download Titik & Koma