Hidup Kembali
Rumah yang sempat dicekik keheningan canggung kini terasa lebih hidup. Liburan mereka kemarin seakan memutus rantai berkarat yang selama ini membelenggu hati Khalil. Dia sudah tidak lagi mengurung dirinya di kamar atau menjaga jarak dengan sikap dingin seperti sebelumnya.
Seperti sekarang. Di meja makan, piring-piring beserta lauk sederhana masakan Bapak tersusun rapi, ditemani suara sendok yang sesekali beradu dengan piring. Khalil tidak hanya menunduk menghabiskan makanannya. Ia sesekali menyahut cerita Ale tentang liburan kemarin sambil mengunyah sarapannya, bahkan menambahkan beberapa bagian yang membuat Ale langsung berseru heboh.
Bapak keluar dari kamar dengan pakaian kerja yang rapi, meletakkan tas ransel kusamnya di kursi meja makan.
“Bapak mau berangkat kerja sekarang. Mumpung ada tumpangan ke proyek,” ujar Bapak sambil meraih segelas teh hangat.
“Sekarang, Pak? Bapak pasti masih capek.”
“Bapak sudah cukup istirahat kemarin. Kalau nggak diambil nanti keburu ada orang lain yang isi.”
Khalil menghela napas panjang, raut tidak setujunya ia biarkan terlihat jelas di hadapan Bapak. Ia merasa Bapak butuh istirahat setidaknya satu hari lagi, mengingat mereka baru saja menempuh perjalanan jauh setelah sekian lama.
Pikiranya tertuju pada beban kerja di proyek yang sudah pasti sangat berat, apalagi jika harus berada di bawah terik matahari berjam-jam.
Bapak tersenyum kecil sambil menepuk bahu Khalil.
“Nggak usah cemas begitu, Bang. Bapak masih sanggup, kok. Kalau kelamaan diam di rumah malah badan Bapak terasa kaku semua.”
Khalil tau, jika Bapak sudah bicara seperti itu sudah pasti keputusannya tidak akan berubah.
“Ya sudah, Pak. Kalau capek, Bapak istirahat. Jangan dipaksa.”
Tak lama kemudian Bapak bersiap berangkat, Ia mengambil tas kerjanya lalu berjalan menuju pintu depan.
“Bapak hati-hati! Ale sayang Bapak!”
Bapak menoleh dan tersenyum lebar. “Iya, doakan Bapak, ya.”
Khalil ikut berdiri dan berjalan ke depan menyusul Bapak.
“Bapak,” panggilnya pelan.
“Iya, Bang?”
“Itu…. pulangnya Khalil jemput, ya. Kabari Khalil kalau udah mau selesai, biar Bapak nggak nunggu lama.”
Beberapa detik Bapak hanya menatapnya. Anak sulungnya memang tidak pernah benar-benar berhenti peduli. Hanya saja, sejak Ibu tiada, perhatian itu sering bersembunyi di balik sikapnya yang dingin. Sudah lama sekali perhatian itu tidak terdengar dengan nada selembut ini.
Hati Bapak menghangat.
Ia melangkah mendekat dan memeluk tubuh putranya singkat, kemudian menempelkan kecupan di pucuk kepalanya.
“Terima kasih,” ucapnya pelan.
---
Matahari mulai condong ke barat memancarkan cahaya lembut ke halaman rumah dimana Khalil berdiri dengan sebuah karung di tangannya. Di dekatnya, Ale sibuk mencabuti rumput liar yang tumbuh di sela-sela batu halaman.
“Yang ini juga?” tanya Ale sambil menunjuk anakan pohon yang masih ringkih.
“Iya. Cabut aja semua kalau bisa.”
Ale menarik batang pohon muda itu sekuat tenaga hingga akarnya tercabut dari tanah. Dia langsung berdiri dengan bangga sambil mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu berjalan beberapa langkah dan melemparnya itu ke arah Khalil.
“Ale!” Khalil refleks menangkisnya dengan tangan.
“Ale mau lempar ke karung! Ternyata belok ke Abang!” Ale tertawa.
Khalil ikut tersenyum. Ia mengambil tanaman itu lalu memasukkannya ke dalam karung. Setelah karung mulai penuh, ia mengangkatnya dan berjalan ke belakang rumah untuk membuangnya, sementara Ale kembali berjongkok mencabuti rumput-rumput lain dengan penuh semangat.
Beberapa kali Ale sengaja menggoda abangnya dengan melempar sisa rumput kering ke arahnya, memicu aksi kejar-kejaran kecil yang diakhiri gelak tawa keduanya. Sebuah pemandangan sederhana yang terasa indah di sore hari.
Seperti sekarang. Di meja makan, piring-piring beserta lauk sederhana masakan Bapak tersusun rapi, ditemani suara sendok yang sesekali beradu dengan piring. Khalil tidak hanya menunduk menghabiskan makanannya. Ia sesekali menyahut cerita Ale tentang liburan kemarin sambil mengunyah sarapannya, bahkan menambahkan beberapa bagian yang membuat Ale langsung berseru heboh.
Bapak keluar dari kamar dengan pakaian kerja yang rapi, meletakkan tas ransel kusamnya di kursi meja makan.
“Bapak mau berangkat kerja sekarang. Mumpung ada tumpangan ke proyek,” ujar Bapak sambil meraih segelas teh hangat.
“Sekarang, Pak? Bapak pasti masih capek.”
“Bapak sudah cukup istirahat kemarin. Kalau nggak diambil nanti keburu ada orang lain yang isi.”
Khalil menghela napas panjang, raut tidak setujunya ia biarkan terlihat jelas di hadapan Bapak. Ia merasa Bapak butuh istirahat setidaknya satu hari lagi, mengingat mereka baru saja menempuh perjalanan jauh setelah sekian lama.
Pikiranya tertuju pada beban kerja di proyek yang sudah pasti sangat berat, apalagi jika harus berada di bawah terik matahari berjam-jam.
Bapak tersenyum kecil sambil menepuk bahu Khalil.
“Nggak usah cemas begitu, Bang. Bapak masih sanggup, kok. Kalau kelamaan diam di rumah malah badan Bapak terasa kaku semua.”
Khalil tau, jika Bapak sudah bicara seperti itu sudah pasti keputusannya tidak akan berubah.
“Ya sudah, Pak. Kalau capek, Bapak istirahat. Jangan dipaksa.”
Tak lama kemudian Bapak bersiap berangkat, Ia mengambil tas kerjanya lalu berjalan menuju pintu depan.
“Bapak hati-hati! Ale sayang Bapak!”
Bapak menoleh dan tersenyum lebar. “Iya, doakan Bapak, ya.”
Khalil ikut berdiri dan berjalan ke depan menyusul Bapak.
“Bapak,” panggilnya pelan.
“Iya, Bang?”
“Itu…. pulangnya Khalil jemput, ya. Kabari Khalil kalau udah mau selesai, biar Bapak nggak nunggu lama.”
Beberapa detik Bapak hanya menatapnya. Anak sulungnya memang tidak pernah benar-benar berhenti peduli. Hanya saja, sejak Ibu tiada, perhatian itu sering bersembunyi di balik sikapnya yang dingin. Sudah lama sekali perhatian itu tidak terdengar dengan nada selembut ini.
Hati Bapak menghangat.
Ia melangkah mendekat dan memeluk tubuh putranya singkat, kemudian menempelkan kecupan di pucuk kepalanya.
“Terima kasih,” ucapnya pelan.
---
Matahari mulai condong ke barat memancarkan cahaya lembut ke halaman rumah dimana Khalil berdiri dengan sebuah karung di tangannya. Di dekatnya, Ale sibuk mencabuti rumput liar yang tumbuh di sela-sela batu halaman.
“Yang ini juga?” tanya Ale sambil menunjuk anakan pohon yang masih ringkih.
“Iya. Cabut aja semua kalau bisa.”
Ale menarik batang pohon muda itu sekuat tenaga hingga akarnya tercabut dari tanah. Dia langsung berdiri dengan bangga sambil mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu berjalan beberapa langkah dan melemparnya itu ke arah Khalil.
“Ale!” Khalil refleks menangkisnya dengan tangan.
“Ale mau lempar ke karung! Ternyata belok ke Abang!” Ale tertawa.
Khalil ikut tersenyum. Ia mengambil tanaman itu lalu memasukkannya ke dalam karung. Setelah karung mulai penuh, ia mengangkatnya dan berjalan ke belakang rumah untuk membuangnya, sementara Ale kembali berjongkok mencabuti rumput-rumput lain dengan penuh semangat.
Beberapa kali Ale sengaja menggoda abangnya dengan melempar sisa rumput kering ke arahnya, memicu aksi kejar-kejaran kecil yang diakhiri gelak tawa keduanya. Sebuah pemandangan sederhana yang terasa indah di sore hari.
Other Stories
Keluarga Baru
Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...
Cinta Di Ujung Asa
Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...
Pertemuan Di Ujung Kopi
Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...
Nafas Tahun Baru
Maren pindah ke apartemen kecil di lantai paling atas sebuah gedung yang hampir kosong men ...
Aku Versi Nanti
Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...
Pintu Dunia Lain
Wira berdiri di samping kursi yang sedari tadi didudukinya. Dengan pandangan tajam yang ...