Uap Dari Panas Bumi

Reads
355
Votes
42
Parts
11
Vote
Report
Penulis Rahmayanti Kasman Putri

Bagian 5 - Bukit

Mereka tiba di rumah saat cahaya matahari perlahan mulai memudar.

Susi selaku penanggung jawab mereka selama di sini, akhirnya menunggu duduk di teras, sembari memandangi jalanan desa. "Udah balik?" tanyanya.

"Pantainya sepi banget," jawab Nisa.

Susi terdiam sesaat. "Akhir-akhir ini emang gitu."

"Karena apa?" tanya Aluna.

Susi tersenyum tipis. "Mungkin orang-orang lagi sibuk."

Jawaban yang terlalu sederhana.

Kabut dari arah bukit kini terlihat lebih jelas. Ia bergerak menyusuri jalan tanah menuju desa.

Lampu-lampu rumah mulai menyala satu per satu.

Namun ketika kabut mencapai deretan rumah paling ujung, beberapa lampu padam hampir bersamaan.

Aluna berdiri di tepi teras. Udara mendadak terasa lebih dingin. Kabut itu tidak menyebar acak. Ia bergerak seperti mengikuti jalur tertentu. Dan di antara kepulan tipis itu, Aluna merasa melihat sesuatu.

Siluet tinggi.

Diam.

Menghadap ke arah desa.

Menghadap ke arah rumah mereka.

Ia mengedip.

Siluet itu hilang.

"Alu?" panggil Nisa dari dalam rumah. "Masuk. Dingin."

Aluna melangkah masuk perlahan. Hari pertama liburan mereka seharusnya terasa ringan. Pantai yang indah. Rumah yang nyaman. Udara segar. Namun ketika malam benar-benar turun dan dengungan jauh dari arah bukit kembali terdengar samar, Aluna menyadari satu hal: Desa ini hidup di siang hari.

Tapi saat senja datang, ia seperti berubah menjadi sesuatu yang lain.

Sesuatu yang terdiam.

Dan mereka baru saja memulai hari pertama mereka di sini.

***

Pagi itu, kabut belum sepenuhnya terangkat dari lembah ketika ponsel Aluna bergetar di atas meja kayu kecil kamar sepupu Nisa. Sinar matahari masuk tipis melalui tirai tipis berwarna krem, membelah ruangan menjadi dua warna: hangat dan pucat.

Aluna yang sedang menyisir rambutnya berhenti.

Tiba-tiba ponsel berdering.

Nama di layar membuat Aluna terdiam beberapa detik.

Raka.

Sudah dua hari Aluna tidak menghubungi siapa pun di rumah, sejak ia dan Nisa datang berlibur ke sini. Sinyal di desa itu tidak selalu stabil, apalagi sejak malam tadi. Ketika listrik sempat berkedip tanpa sebab.


Ponsel kembali berdering.

Ia mengangkatnya.

"Halo?"

Suara Raka terdengar sedikit terdistorsi, seperti tertelan angin. "Sayang? Akhirnya. Kamu baik-baik aja?"

Aluna tersenyum tipis, mencoba terdengar santai. "Baik, sayang. Kenapa?"

Di seberang, Raka tidak langsung menjawab. Hanya terdengar napasnya.

"Kamu di desa dekat pembangkit listrik itu, kan?"

Aluna melirik ke jendela. Dari kejauhan, cerobong-cerobong baja berdiri tegak di tengah lembah, menghembuskan uap putih yang menggulung pelan ke langit. Di baliknya, danau kawah terlihat samar, kehijauannya aneh meski diterpa matahari.

"Iya sayang," jawabnya pelan. "Kenapa emangnya?"

"Aku lihat berita tadi malam," kata Raka. "Ada gangguan tekanan di fasilitas itu. Katanya cuma masalah teknis. Tapi ... ada laporan beberapa pekerja hilang."

Aluna merasakan sesuatu mencubit perutnya.

"Hilang?"

"Katanya sih belum pasti. Cuma belum bisa dihubungi. Tapi ...," suara Raka terputus sesaat oleh suara statis.

"Sayang? Sinyalnya jelek."

"Aluna, dengerin aku. Kalau ada apa-apa, kamu jangan keluar malam-malam. Apalagi ke arah danau."

Jantung Aluna berdetak sedikit lebih cepat.

"Kamu tahu dari mana soal danau?"

"Ada yang bilang semalam terlihat cahaya aneh dari sana," jawab Raka. "Orang-orang desa yang lebih tua bilang... itu bukan pertama kalinya."

Aluna menelan ludah.

Ia tidak ingin menceritakan kejadian kemarin. Soal mayat hilang yang baru ditemukan bertahun-tahun lamanya.

"Aku cuma liburan, sayang," katanya akhirnya, mencoba tertawa kecil. "Jangan bikin suasana jadi serem."

Hening sesaat.

"Sayang," suara Raka kali ini lebih rendah. "Semalem aku mimpi."

Aluna mengernyit. "Mimpi?"

"Aku lihat kamu berdiri di tepi air. Kabut tebal. Kamu manggil namaku, tapi suaramu nggak keluar. Di belakangmu ada sesuatu."

Napas Aluna tercekat. Ia teringat sesuatu yang tidak ingin ia ingat.

Semalam, sebelum tidur, ia merasa seperti mendengar siulan panjang dari kejauhan. Nada yang naik turun pelan. Ia sempat mengira itu suara angin melewati cerobong.

Tapi angin malam itu tidak bertiup.

"Cuma mimpi, Sayang," bisiknya.

"Ya. Mungkin cuma mimpi." Namun nada suara Raka tidak terdengar yakin. "Pokoknya kamu hati-hati. Aku nggak enak aja dari tadi pagi."

Di luar kamar, terdengar suara Nisa tertawa kecil bersama sepupunya di dapur. Aroma gorengan dan teh manis mulai masuk ke ruangan. Suasana pagi itu terasa normal. Terlalu normal.

"Aku baik-baik aja," kata Aluna lebih lembut. "Serius."

"Janji?"

"Janji."

Hening lagi.

Lalu Raka berkata pelan, "Kalau malam nanti kamu dengar sesuatu, jangan jawab."

Darah Aluna terasa dingin. "Maksudnya?" tanyanya.

"Seseorang pernah cerita ke aku. Dulu, sebelum fasilitas itu dibangun, orang desa percaya kalau danau itu 'bernapas'. Kalau dia manggil, dan kamu jawab ... kamu udah dianggep dengar."

"Dengar apa?"

"Yang seharusnya tetap terkubur."

Suara statis kembali memotong pembicaraan. Kali ini lebih panjang. Lebih tajam.

"Raka? Sayang?"

Tidak ada jawaban.

Hanya suara seperti hembusan panjang.

Seperti napas.

"Sayang, kamu masih di situ?"

Sinyal terputus.

Layar ponsel kembali ke tampilan utama.

Aluna menatap bayangannya sendiri di layar yang menghitam. Tiba-tiba, ponselnya bergetar lagi.

Pesan masuk.

Dari Raka.
Raka: Aku nggak kirim pesan apa-apa.
Aluna membeku.

Di atas pesan itu, ada satu pesan lain.

Tanpa nama pengirim.

Tanpa nomor.

Hanya satu kalimat.

Kami tahu kamu sudah mendengar.
Tangan Aluna gemetar.

Ia yakin ia tidak pernah memberikan nomor teleponnya kepada siapa pun di desa ini.

Nisa masuk ke kamar dengan wajah cerah. "Lun, ayo! Sepupuku mau ajak kita lihat danau sebelum siang."

Aluna perlahan menurunkan ponselnya.

"Sekarang?"

"Iya. Katanya pagi-pagi paling bagus. Kabutnya tipis."

Kabut.

Aluna kembali menoleh ke jendela.

Kabut memang terlihat lebih tipis sekarang.

Namun di kejauhan, tepat di tepi danau, ada garis gelap yang tidak bergerak.

Seperti seseorang berdiri menghadap ke arah desa.

Menghadap ke arahnya.

Ponselnya kembali bergetar.

Panggilan masuk.

Raka.

Dengan tangan gemetar, ia mengangkatnya.

"Rak?"

Suara di seberang terdengar sangat pelan.

Bukan seperti Raka.

Lebih berat.

Lebih dalam.

"Aluna ..."

Ia tidak pernah memberi tahu siapa pun bahwa ia sedang berdiri dekat jendela. Namun suara itu berbisik jelas: "Jangan melihat ke belakang."

Napas hangat terasa tepat di tengkuknya. Aluna perlahan menoleh. Tidak ada siapa pun di kamar. Tapi di jendela, pantulannya tidak sendirian.

Di belakang bayangan dirinya, berdiri sosok tinggi berwarna gelap, dengan celah-celah merah redup menyala di tubuhnya seperti bara dalam arang.

Ponsel jatuh dari tangannya.

Layar retak.

Panggilan terputus.

Di luar, dari arah danau, terdengar siulan panjang yang sama seperti semalam. Dan untuk pertama kalinya, Aluna menyadari sesuatu yang lebih menakutkan daripada kabut atau bayangan.

Raka mungkin tidak pernah meneleponnya pagi ini.

Karena di riwayat panggilan ...

Tidak ada nama Raka sama sekali.


Other Stories
Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan

Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...

Susan Ngesot

Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...

Romance Reloaded

Luna, gadis miskin jenius di dunia FPS, mendadak viral setelah aksi no-scope gila di turna ...

Kita Pantas Kan?

Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...

Haura

Apa aku hidup sendiri? Ke mana orang-orang? Apa mereka pergi, atau aku yang sudah berbe ...

Testing

testing ...

Download Titik & Koma