Bagian 4 - Penginapan
Aluna terbangun perlahan ketika cahaya keemasan menembus tirai tipis kamar mereka. Untuk beberapa detik, ia hanya berbaring tanpa bergerak, mencoba memahami di mana dirinya berada. Langit-langit kayu, aroma segar yang masuk melalui celah jendela, dan suara alam yang lembut segera mengingatkannya. Ia tidak sedang berada di apartemen sempit di tengah kota. Ia sedang berlibur.
Di pulau yang sejak dulu hanya ia lihat di brosur perjalanan.
Di tempat yang terasa begitu jauh dari kehidupan biasanya.
Aluna duduk perlahan, meregangkan tubuh. Tidak ada suara klakson, tidak ada notifikasi ponsel yang bersahutan, tidak ada langkah terburu-buru orang menuju ke kantor. Yang terdengar hanya desir angin dan suara burung yang sesekali memecah kesunyian.
Ia melirik ke ranjang sebelah.
Kosong.
Selimut Nisa terlipat berantakan, tanda sahabatnya itu sudah bangun lebih dulu.
Benar saja.
Ketika Aluna membuka pintu balkon kecil kamar mereka, ia menemukan Nisa sudah duduk di kursi kayu sambil memegang secangkir minuman hangat. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin, tetapi wajahnya terlihat sangat segar.
Tak lupa pula, sarapan sederhana sudah tersaji di meja kayu: nasi hangat, ikan goreng, sambal, dan teh manis mengepul.
"Ayo makan dulu sebelum berangkat," ujar Susi, sepupu Nisa.
Aluna mengangguk sambil tersenyum manis. Segera ia duduk di kursi kayu, ikut bergabung dengan keduanya.
Seketika, dari kejauhan terdengar suara langkah serempak dan bisik-bisik tertahan. Keduanya saling berpandangan saat melihat sekelompok warga berjalan perlahan di jalan utama desa. Di pundak mereka terbentang sehelai kain merah panjang yang membungkus sesuatu. Sesuatu yang bentuknya terlalu kaku untuk diabaikan. Wajah-wajah warga tampak pucat dan tegang, seolah tak satu pun berani menatap lurus ke depan. Saat rombongan itu melewati mereka, Aluna sempat melihat ujung kain tersibak oleh angin, memperlihatkan tangan pucat yang dipenuhi luka-luka terkulai tak bergerak. Jantungnya berdegup kencang, sementara Nisa menggenggam lengannya erat.
Tak ada tangisan, tak ada ratapan.
Hanya bisikan-bisikan pendek yang terdengar seperti doa, atau mungkin peringatan. Ketika rombongan itu berlalu menuju jalan kecil yang mengarah ke pemakaman desa, Aluna merasa kakinya lemas.
"Apa yang barusan terjadi?" bisiknya pelan.
Susi yang menyadari akan hal itu, langsung menepis mereka. "Kalian gak seharusnya lihat terlalu dekat," ucap Susi dengan suara tertahan.
"Tadi itu ... siapa?" tanya Nisa, suaranya bergetar.
Susi terdiam beberapa detik. Ia menoleh ke arah rombongan yang semakin jauh, lalu kembali menatap Aluna dan Nisa. Sorot matanya bukan sekadar sedih, namun ada ketakutan yang lebih dalam di sana.
"Mungkin pria yang hilang," kata Susi pelan.
"Tapi kenapa ditutup sama kafan merah?" tanya Aluna, penasaran.
Susi menyendokkan nasi pada piring mereka masing-masing. "Pria yang hilang bertahun-tahun, kemudian ditemukan, biasanya mayatnya ditutupi kain merah untuk dijadikan ritual."
Aluna dan Nisa saling berpandangan. Kata-kata itu terasa ganjil, seperti bagian dari cerita rakyat yang tak seharusnya terjadi di dunia nyata.
"Maksudnya ... ritual?" Aluna mencoba mencari penjelasan logis.
Susi mengangguk perlahan. "Warga di sini percaya, bahwa setiap desa itu memiliki penjaga. Dan tiap penjaga memiliki aturan masing-masing, agar hidupnya sejahtera. Makanya, tradisi kuno yang disebut ritual persembahan mayat itu sudah jadi turun-temurun."
Susi kini mengubah posisi duduknya dengan menyamping, menatap mereka.
"Dan ritual itu bekerja dengan baik, makanya ... masyarakat di sini pada sejahtera. Saking sejahteranya, pada suatu waktu, mereka lupa mengadakan ritual. Karena lupa, penjaganya marah. Mulai dari situ, tiap tahun ada aja berita warga hilang, lalu tiba-tiba ditemukan sudah tidak bernyawa," jelas, Susi.
Aluna masih kurang paham. "Hubungannya dengan kafan merah?" tanya Aluna, sekali lagi.
"Dari tanah, kembali ke tanah. Mayat mereka yang hilang bertahun-tahun lalu, akan dijadikan ritual untuk dipersembahkan kepada penjaga di sini menggunakan kafan merah," ujar, Susi.
"Dan kalau tidak?" tanya Aluna lirih.
Susi menatap mereka dalam-dalam. "Kalau tidak ... biasanya akan ada lebih dari satu."
Keheningan jatuh di antara mereka. Jauh di ujung jalan, rombongan warga menghilang di tikungan, membawa tubuh yang kini tak lagi bernyawa menuju peristirahatan terakhirnya. Desa kembali tampak tenang, terlalu tenang, seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Namun bagi Aluna dan Nisa, ketenangan itu justru terasa seperti peringatan. Mereka datang untuk berlibur, menikmati pantai, danau, pegunungan dan udara segar desa. Tapi kini, setiap hembusan angin serta setiap retakan tanah di bawah kaki terasa menyimpan rahasia.
"Jadi, rencana kalian hari ini kemana?" tanya Susi berusaha mengalihkan topik. Dirinya tidak mau mereka terlalu berlarut-larut dalam pikiran. Sebisa mungkin, Susi akan menjadikan Flores tempat berlibur paling berkesan untuk mereka.
"Kita mau ke pantai hari ini," jawab Nisa, ceria.
Susi mengangguk. "Boleh, tapi jangan terlalu sore kalau pulang," pesannya.
Aluna mengangkat alis. "Kenapa?"
"Angin di sini cepat berubah menjelang magrib. Ombaknya bisa naik tiba-tiba."
Penjelasan itu terdengar masuk akal. Desa pesisir memang seperti itu.
Namun ketika Susi mengucapkannya, ia sempat melirik ke arah bukit.
Sekilas saja.
Tapi cukup untuk membuat Aluna memperhatikannya.
***
Pantai itu terbuka luas begitu mereka melewati deretan pohon kelapa terakhir. Pasirnya gelap, kontras dengan laut biru kehijauan yang berkilau diterpa cahaya pagi.
"Ini cantik banget," bisik Nisa takjub.
Ombak datang pelan, membasuh kaki mereka saat berjalan di tepi air. Angin laut hangat, membawa aroma garam yang menyegarkan.
Untuk beberapa saat, Aluna merasa semua kekhawatirannya tidak berdasar. Tempat ini memang cocok untuk berlibur.
Namun setelah sepuluh menit berjalan menyusuri garis pantai, ia menyadari sesuatu.
Tidak ada orang lain.
Tidak ada perahu nelayan. Tidak ada jejak kaki selain milik mereka.
Pantai sepanjang itu... kosong.
"Kak Susi bilang biasanya ada yang mancing pagi-pagi," gumam Nisa, seolah membaca pikirannya.
Aluna berhenti dan menatap laut lepas.
Ombaknya normal. Tidak ada badai. Tidak ada tanda bahaya.
Lalu kenapa kosong?
Cekrek!
Cekrek!
Cekrek!
"Lihat ini," katanya sambil menunjukkan layar kamera.
Aluna mendekat.
Foto itu menampilkan laut yang indah dengan cahaya pagi yang sempurna. Namun di sisi kiri frame, dekat deretan pepohonan yang membatasi pantai dan jalur desa... ada sesuatu.
Bayangan tinggi.
Kabur, tapi jelas bukan pohon.
"Orang?" tanya Aluna.
"Kalau orang, harusnya lebih keliatan jelas."
Mereka menoleh bersamaan ke arah pepohonan.
Kosong.
Tidak ada pergerakan.
Hanya dedaunan yang bergoyang pelan.
"Coba foto lagi," kata Aluna.
Nisa mengarahkan kamera ke titik yang sama.
Cekrek!
Hasilnya bersih.
Tidak ada bayangan.
"Cahaya mungkin," kata Aluna, meski suaranya tidak terdengar sepenuhnya yakin.
Di pulau yang sejak dulu hanya ia lihat di brosur perjalanan.
Di tempat yang terasa begitu jauh dari kehidupan biasanya.
Aluna duduk perlahan, meregangkan tubuh. Tidak ada suara klakson, tidak ada notifikasi ponsel yang bersahutan, tidak ada langkah terburu-buru orang menuju ke kantor. Yang terdengar hanya desir angin dan suara burung yang sesekali memecah kesunyian.
Ia melirik ke ranjang sebelah.
Kosong.
Selimut Nisa terlipat berantakan, tanda sahabatnya itu sudah bangun lebih dulu.
Benar saja.
Ketika Aluna membuka pintu balkon kecil kamar mereka, ia menemukan Nisa sudah duduk di kursi kayu sambil memegang secangkir minuman hangat. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin, tetapi wajahnya terlihat sangat segar.
Tak lupa pula, sarapan sederhana sudah tersaji di meja kayu: nasi hangat, ikan goreng, sambal, dan teh manis mengepul.
"Ayo makan dulu sebelum berangkat," ujar Susi, sepupu Nisa.
Aluna mengangguk sambil tersenyum manis. Segera ia duduk di kursi kayu, ikut bergabung dengan keduanya.
Seketika, dari kejauhan terdengar suara langkah serempak dan bisik-bisik tertahan. Keduanya saling berpandangan saat melihat sekelompok warga berjalan perlahan di jalan utama desa. Di pundak mereka terbentang sehelai kain merah panjang yang membungkus sesuatu. Sesuatu yang bentuknya terlalu kaku untuk diabaikan. Wajah-wajah warga tampak pucat dan tegang, seolah tak satu pun berani menatap lurus ke depan. Saat rombongan itu melewati mereka, Aluna sempat melihat ujung kain tersibak oleh angin, memperlihatkan tangan pucat yang dipenuhi luka-luka terkulai tak bergerak. Jantungnya berdegup kencang, sementara Nisa menggenggam lengannya erat.
Tak ada tangisan, tak ada ratapan.
Hanya bisikan-bisikan pendek yang terdengar seperti doa, atau mungkin peringatan. Ketika rombongan itu berlalu menuju jalan kecil yang mengarah ke pemakaman desa, Aluna merasa kakinya lemas.
"Apa yang barusan terjadi?" bisiknya pelan.
Susi yang menyadari akan hal itu, langsung menepis mereka. "Kalian gak seharusnya lihat terlalu dekat," ucap Susi dengan suara tertahan.
"Tadi itu ... siapa?" tanya Nisa, suaranya bergetar.
Susi terdiam beberapa detik. Ia menoleh ke arah rombongan yang semakin jauh, lalu kembali menatap Aluna dan Nisa. Sorot matanya bukan sekadar sedih, namun ada ketakutan yang lebih dalam di sana.
"Mungkin pria yang hilang," kata Susi pelan.
"Tapi kenapa ditutup sama kafan merah?" tanya Aluna, penasaran.
Susi menyendokkan nasi pada piring mereka masing-masing. "Pria yang hilang bertahun-tahun, kemudian ditemukan, biasanya mayatnya ditutupi kain merah untuk dijadikan ritual."
Aluna dan Nisa saling berpandangan. Kata-kata itu terasa ganjil, seperti bagian dari cerita rakyat yang tak seharusnya terjadi di dunia nyata.
"Maksudnya ... ritual?" Aluna mencoba mencari penjelasan logis.
Susi mengangguk perlahan. "Warga di sini percaya, bahwa setiap desa itu memiliki penjaga. Dan tiap penjaga memiliki aturan masing-masing, agar hidupnya sejahtera. Makanya, tradisi kuno yang disebut ritual persembahan mayat itu sudah jadi turun-temurun."
Susi kini mengubah posisi duduknya dengan menyamping, menatap mereka.
"Dan ritual itu bekerja dengan baik, makanya ... masyarakat di sini pada sejahtera. Saking sejahteranya, pada suatu waktu, mereka lupa mengadakan ritual. Karena lupa, penjaganya marah. Mulai dari situ, tiap tahun ada aja berita warga hilang, lalu tiba-tiba ditemukan sudah tidak bernyawa," jelas, Susi.
Aluna masih kurang paham. "Hubungannya dengan kafan merah?" tanya Aluna, sekali lagi.
"Dari tanah, kembali ke tanah. Mayat mereka yang hilang bertahun-tahun lalu, akan dijadikan ritual untuk dipersembahkan kepada penjaga di sini menggunakan kafan merah," ujar, Susi.
"Dan kalau tidak?" tanya Aluna lirih.
Susi menatap mereka dalam-dalam. "Kalau tidak ... biasanya akan ada lebih dari satu."
Keheningan jatuh di antara mereka. Jauh di ujung jalan, rombongan warga menghilang di tikungan, membawa tubuh yang kini tak lagi bernyawa menuju peristirahatan terakhirnya. Desa kembali tampak tenang, terlalu tenang, seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Namun bagi Aluna dan Nisa, ketenangan itu justru terasa seperti peringatan. Mereka datang untuk berlibur, menikmati pantai, danau, pegunungan dan udara segar desa. Tapi kini, setiap hembusan angin serta setiap retakan tanah di bawah kaki terasa menyimpan rahasia.
"Jadi, rencana kalian hari ini kemana?" tanya Susi berusaha mengalihkan topik. Dirinya tidak mau mereka terlalu berlarut-larut dalam pikiran. Sebisa mungkin, Susi akan menjadikan Flores tempat berlibur paling berkesan untuk mereka.
"Kita mau ke pantai hari ini," jawab Nisa, ceria.
Susi mengangguk. "Boleh, tapi jangan terlalu sore kalau pulang," pesannya.
Aluna mengangkat alis. "Kenapa?"
"Angin di sini cepat berubah menjelang magrib. Ombaknya bisa naik tiba-tiba."
Penjelasan itu terdengar masuk akal. Desa pesisir memang seperti itu.
Namun ketika Susi mengucapkannya, ia sempat melirik ke arah bukit.
Sekilas saja.
Tapi cukup untuk membuat Aluna memperhatikannya.
***
Pantai itu terbuka luas begitu mereka melewati deretan pohon kelapa terakhir. Pasirnya gelap, kontras dengan laut biru kehijauan yang berkilau diterpa cahaya pagi.
"Ini cantik banget," bisik Nisa takjub.
Ombak datang pelan, membasuh kaki mereka saat berjalan di tepi air. Angin laut hangat, membawa aroma garam yang menyegarkan.
Untuk beberapa saat, Aluna merasa semua kekhawatirannya tidak berdasar. Tempat ini memang cocok untuk berlibur.
Namun setelah sepuluh menit berjalan menyusuri garis pantai, ia menyadari sesuatu.
Tidak ada orang lain.
Tidak ada perahu nelayan. Tidak ada jejak kaki selain milik mereka.
Pantai sepanjang itu... kosong.
"Kak Susi bilang biasanya ada yang mancing pagi-pagi," gumam Nisa, seolah membaca pikirannya.
Aluna berhenti dan menatap laut lepas.
Ombaknya normal. Tidak ada badai. Tidak ada tanda bahaya.
Lalu kenapa kosong?
Cekrek!
Cekrek!
Cekrek!
"Lihat ini," katanya sambil menunjukkan layar kamera.
Aluna mendekat.
Foto itu menampilkan laut yang indah dengan cahaya pagi yang sempurna. Namun di sisi kiri frame, dekat deretan pepohonan yang membatasi pantai dan jalur desa... ada sesuatu.
Bayangan tinggi.
Kabur, tapi jelas bukan pohon.
"Orang?" tanya Aluna.
"Kalau orang, harusnya lebih keliatan jelas."
Mereka menoleh bersamaan ke arah pepohonan.
Kosong.
Tidak ada pergerakan.
Hanya dedaunan yang bergoyang pelan.
"Coba foto lagi," kata Aluna.
Nisa mengarahkan kamera ke titik yang sama.
Cekrek!
Hasilnya bersih.
Tidak ada bayangan.
"Cahaya mungkin," kata Aluna, meski suaranya tidak terdengar sepenuhnya yakin.
Other Stories
Way Back To Love
Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...
Cerita Pendekku
Firman salah satu tipe orang yang belum berani mengunkapkan perasaan yang dimiliki kepada ...
Namaku Amelia
Amelia, seorang anak kecil yang penuh rasa ingin tahu, harus menghadapi hari-hari sulit di ...
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...
Yume Tourou (lentera Mimpi)
Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...
Menolak Jatuh Cinta
Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...