Bagian 9 - Amanah
Ruang rapat lantai delapan terasa terlalu terang pagi itu.
Lampu LED putih memantul di meja kaca panjang, membuat wajah-wajah di sekelilingnya tampak lebih pucat dari biasanya. Pendingin ruangan berdengung halus, kontras dengan suasana yang perlahan berubah tegang.
Di layar proyektor, terpampang judul besar:
‘Rencana Proyek Pembangkit Listrik Panas Bumi – Flores’
Arman, selaku kepala divisi Redaksi, berdiri di depan meja panjang dengan kemeja rapi dan ekspresi serius. Di sekelilingnya, beberapa staf senior duduk memperhatikan.
"Kita baru saja dapat informasi resmi," katanya membuka rapat. "Ada proyek pembangkit listrik panas bumi baru di Flores. Skalanya besar. Investor pusat terlibat."
Beberapa orang langsung bersenandung pelan.
"Flores?" tanya Riri. "Yang dekat kawasan danau itu?"
"Ya," jawab Arman sambil mengganti slide. Peta lokasi muncul di layar. Titik merah berkedip di sebuah lembah yang dikelilingi perbukitan. "Lokasinya di area yang sebelumnya sudah ada fasilitas kecil. Tapi proyek ini ekspansi besar."
Dion, staf teknis, menyilangkan tangan. "Kenapa mendadak? Biasanya proyek begini butuh waktu sosialisasi panjang."
"Betul," jawab Arman. "Tapi kali ini berbeda."
Slide berganti. Grafik tekanan bawah tanah muncul, garis merah menanjak tajam dalam dua minggu terakhir.
Riri mengangkat tangan. "Ini data terbaru?"
"Ya. Ada peningkatan tekanan uap signifikan."
"Artinya aktivitas di bawah tanah meningkat," gumam Dion.
"Secara teknis, itu bisa jadi peluang produksi lebih besar," sahut seorang analis keuangan.
"Dan secara teknis juga bisa jadi risiko," potong Dion cepat.
Ruangan mendadak lebih hening.
Slide berikutnya menampilkan laporan singkat: Gangguan minor pada fasilitas eksisting. Beberapa laporan masyarakat belum terverifikasi.
"Belum terverifikasi?" Riri mengernyit. "Maksudnya apa?"
Arman menarik napas. "Ada isu soal air tanah berubah warna, atap rumah bocor akibat kondensasi ekstrem, dan keluhan iritasi kulit warga."
Dion bersandar. "Kedengarannya bukan minor."
"Belum ada bukti langsung," jawab Arman datar. "Itulah sebabnya kita rapat."
Ia berjalan mendekati layar, menunjuk titik merah di peta.
"Lokasinya di lembah dekat danau kecil. Desa terpencil. Akses terbatas."
Riri tiba-tiba membeku. "Tunggu," katanya pelan.
Semua menoleh.
"Desa dekat danau kecil? Ada cerobong uap di belakangnya?"
Arman mengangguk. "Iya."
Riri membuka ponselnya cepat. Jarinya menggulir layar grup kantor.
"Aluna sama Nisa lagi liburan di Flores. Mereka bilang dekat fasilitas panas bumi. Aku ingat karena fotonya estetik banget."
Ruangan langsung riuh kecil.
"Serius?" tanya Dion.
Riri menunjukkan layar ke Arman. Foto itu menampilkan Aluna dan Nisa berdiri di depan rumah kayu. Di belakangnya, samar terlihat cerobong uap menjulang.
Arman mendekat. "Zoom."
Riri memperbesar gambar. Titik cerobong itu sangat mirip dengan yang ada di slide presentasi. Dan, logo kecil di pagar fasilitas terlihat samar, cukup jelas untuk dikenali.
Dion mengembuskan napas pelan. "Itu lokasi yang sama."
Hening. Suasana berubah. Bukan lagi sekadar rapat proyek. Melainkan sesuatu yang lebih dekat.
Arman berdiri tegak. "Kapan mereka ke sana?"
"Lima hari lalu," jawab Riri.
Dion bersiul pelan. "Kebetulan yang terlalu rapi."
Arman menatap layar proyektor lagi. Grafik tekanan meningkat, laporan gangguan kecil, dan rencana ekspansi proyek besar.
Lalu ia berkata pelan, "Atau bukan kebetulan."
***
Sementara itu, di desa yang terperangkap kabut, Aluna dan Nisa duduk di kamar dengan tas yang belum dibongkar. Sinyal ponsel naik turun sejak pagi. Terkadang satu bar, lalu hilang lagi.
Tiba-tiba ponsel Aluna bergetar. Nama Arman muncul di layar. Aluna dan Nisa saling pandang.
"Angkat," bisik Nisa.
Aluna menekan tombol jawab. "Halo, Pak?"
"Luna, kamu di Flores?" suara Arman terdengar tegang namun berusaha santai.
"Iya, Pak. Kenapa?"
"Kamu dekat fasilitas panas bumi di sana?"
Aluna terdiam sepersekian detik. "Iya, pak. Ada apa itu?"
Di ruang rapat kota, semua orang mendekat ke meja, mendengarkan lewat speaker ponsel Arman.
"Kami baru dapat info ada proyek besar di situ," kata Arman. "Dan ada laporan gangguan aktivitas bawah tanah."
Aluna merasakan tengkuknya dingin. Gangguan. Itu kata yang terlalu ringan untuk menggambarkan apa yang terjadi.
"Pak ..." suaranya pelan, "di sini memang ada yang aneh."
Ruangan rapat di kota langsung hening.
"Aneh bagaimana?" tanya Dion tanpa sadar, suaranya terdengar samar lewat speaker.
Aluna melirik Nisa sebelum menjawab. "Tekanan fasilitas katanya naik. Beberapa rumah bocor. Airnya keruh. Warga mulai sakit kulit."
Arman dan tim saling pandang.
"Apakah ada kejadian lain?" tanya Arman hati-hati.
Aluna ragu. Apakah ia harus menceritakan tentang sosok di danau? Tentang jejak kaki basah? Tentang longsor yang muncul tepat saat mereka hendak pergi? Ia memilih versi yang lebih bisa diterima.
"Ada longsor yang nutup jalan utama," katanya. "Dan ... ada satu pemuda hilang."
Di ruang rapat, Riri menutup mulutnya.
Arman menarik napas dalam. "Luna. Kami butuh informasi langsung dari lapangan. Foto. Video. Apa pun."
"Pak, kami sebenarnya mau pulang—"
"Justru itu," potong Arman. "Kalian sudah di sana. Ini kesempatan."
Kesempatan. Kata itu terdengar aneh di telinga Aluna.
"Kami tidak meminta kalian melakukan hal berbahaya," lanjut Arman cepat. "Hanya observasi. Catat kondisi. Wawancarai warga jika bisa."
Nisa berbisik pelan, "Tanya kompensasi."
Aluna hampir tersenyum dalam situasi yang tidak tepat.
"Pak, situasinya ... tidak biasa," katanya jujur.
Di ruang rapat, Dion berkata pelan, "Kalau memang ada yang ditutup-tutupi, kita harus tahu sebelum proyek jalan."
Arman mengangguk, lalu kembali fokus pada panggilan. "Luna. Kamu percaya sama tim ini, kan?"
Aluna terdiam. Di luar kamar, angin kembali berembus. Kabut mulai turun meski belum sore. Ponselnya tiba-tiba bergetar aneh, seperti ada notifikasi lain yang masuk bersamaan.
Namun layar tetap menampilkan panggilan.
"Pak ..." ia berkata perlahan, "kalau kami kirim data... pastikan ini bukan cuma untuk laporan internal."
Arman terdiam sejenak. "Maksudmu?"
"Kalau memang ada yang salah, jangan ditutup."
Di ruang rapat, semua orang saling pandang.
Arman menjawab tegas, "Kalau ada yang membahayakan warga, kita tidak akan diam."
Beberapa detik hening.
Akhirnya Aluna berkata, "Baik, Pak. Kami akan coba cari tahu."
Panggilan berakhir.
Di kota, rapat berubah arah.
"Siapkan dokumen pendukung," kata Arman. "Dan standby komunikasi."
Sementara di desa, Aluna menurunkan ponselnya perlahan.
Nisa menatapnya. "Kita beneran mau ngelakuin ini?"
Aluna memandang ke luar jendela. Kabut kini menutup hampir seluruh jalan desa. Di kejauhan, suara dentuman rendah terdengar lagi dari arah fasilitas.
"Kita mau pulang pun nggak bisa," katanya pelan.
Ponselnya tiba-tiba menyala sendiri.
Bukan panggilan.
Bukan pesan.
Melainkan kamera yang aktif tanpa disentuh.
Di layar itu, di balik kabut luar jendela ...
Siluet tinggi berdiri diam.
Menghadap langsung ke arah rumah.
Seolah mendengar percakapan mereka.
Seolah tahu.
Bahwa sekarang ...
Mereka bukan hanya tamu.
Melainkan mulai menggali sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.
Lampu LED putih memantul di meja kaca panjang, membuat wajah-wajah di sekelilingnya tampak lebih pucat dari biasanya. Pendingin ruangan berdengung halus, kontras dengan suasana yang perlahan berubah tegang.
Di layar proyektor, terpampang judul besar:
‘Rencana Proyek Pembangkit Listrik Panas Bumi – Flores’
Arman, selaku kepala divisi Redaksi, berdiri di depan meja panjang dengan kemeja rapi dan ekspresi serius. Di sekelilingnya, beberapa staf senior duduk memperhatikan.
"Kita baru saja dapat informasi resmi," katanya membuka rapat. "Ada proyek pembangkit listrik panas bumi baru di Flores. Skalanya besar. Investor pusat terlibat."
Beberapa orang langsung bersenandung pelan.
"Flores?" tanya Riri. "Yang dekat kawasan danau itu?"
"Ya," jawab Arman sambil mengganti slide. Peta lokasi muncul di layar. Titik merah berkedip di sebuah lembah yang dikelilingi perbukitan. "Lokasinya di area yang sebelumnya sudah ada fasilitas kecil. Tapi proyek ini ekspansi besar."
Dion, staf teknis, menyilangkan tangan. "Kenapa mendadak? Biasanya proyek begini butuh waktu sosialisasi panjang."
"Betul," jawab Arman. "Tapi kali ini berbeda."
Slide berganti. Grafik tekanan bawah tanah muncul, garis merah menanjak tajam dalam dua minggu terakhir.
Riri mengangkat tangan. "Ini data terbaru?"
"Ya. Ada peningkatan tekanan uap signifikan."
"Artinya aktivitas di bawah tanah meningkat," gumam Dion.
"Secara teknis, itu bisa jadi peluang produksi lebih besar," sahut seorang analis keuangan.
"Dan secara teknis juga bisa jadi risiko," potong Dion cepat.
Ruangan mendadak lebih hening.
Slide berikutnya menampilkan laporan singkat: Gangguan minor pada fasilitas eksisting. Beberapa laporan masyarakat belum terverifikasi.
"Belum terverifikasi?" Riri mengernyit. "Maksudnya apa?"
Arman menarik napas. "Ada isu soal air tanah berubah warna, atap rumah bocor akibat kondensasi ekstrem, dan keluhan iritasi kulit warga."
Dion bersandar. "Kedengarannya bukan minor."
"Belum ada bukti langsung," jawab Arman datar. "Itulah sebabnya kita rapat."
Ia berjalan mendekati layar, menunjuk titik merah di peta.
"Lokasinya di lembah dekat danau kecil. Desa terpencil. Akses terbatas."
Riri tiba-tiba membeku. "Tunggu," katanya pelan.
Semua menoleh.
"Desa dekat danau kecil? Ada cerobong uap di belakangnya?"
Arman mengangguk. "Iya."
Riri membuka ponselnya cepat. Jarinya menggulir layar grup kantor.
"Aluna sama Nisa lagi liburan di Flores. Mereka bilang dekat fasilitas panas bumi. Aku ingat karena fotonya estetik banget."
Ruangan langsung riuh kecil.
"Serius?" tanya Dion.
Riri menunjukkan layar ke Arman. Foto itu menampilkan Aluna dan Nisa berdiri di depan rumah kayu. Di belakangnya, samar terlihat cerobong uap menjulang.
Arman mendekat. "Zoom."
Riri memperbesar gambar. Titik cerobong itu sangat mirip dengan yang ada di slide presentasi. Dan, logo kecil di pagar fasilitas terlihat samar, cukup jelas untuk dikenali.
Dion mengembuskan napas pelan. "Itu lokasi yang sama."
Hening. Suasana berubah. Bukan lagi sekadar rapat proyek. Melainkan sesuatu yang lebih dekat.
Arman berdiri tegak. "Kapan mereka ke sana?"
"Lima hari lalu," jawab Riri.
Dion bersiul pelan. "Kebetulan yang terlalu rapi."
Arman menatap layar proyektor lagi. Grafik tekanan meningkat, laporan gangguan kecil, dan rencana ekspansi proyek besar.
Lalu ia berkata pelan, "Atau bukan kebetulan."
***
Sementara itu, di desa yang terperangkap kabut, Aluna dan Nisa duduk di kamar dengan tas yang belum dibongkar. Sinyal ponsel naik turun sejak pagi. Terkadang satu bar, lalu hilang lagi.
Tiba-tiba ponsel Aluna bergetar. Nama Arman muncul di layar. Aluna dan Nisa saling pandang.
"Angkat," bisik Nisa.
Aluna menekan tombol jawab. "Halo, Pak?"
"Luna, kamu di Flores?" suara Arman terdengar tegang namun berusaha santai.
"Iya, Pak. Kenapa?"
"Kamu dekat fasilitas panas bumi di sana?"
Aluna terdiam sepersekian detik. "Iya, pak. Ada apa itu?"
Di ruang rapat kota, semua orang mendekat ke meja, mendengarkan lewat speaker ponsel Arman.
"Kami baru dapat info ada proyek besar di situ," kata Arman. "Dan ada laporan gangguan aktivitas bawah tanah."
Aluna merasakan tengkuknya dingin. Gangguan. Itu kata yang terlalu ringan untuk menggambarkan apa yang terjadi.
"Pak ..." suaranya pelan, "di sini memang ada yang aneh."
Ruangan rapat di kota langsung hening.
"Aneh bagaimana?" tanya Dion tanpa sadar, suaranya terdengar samar lewat speaker.
Aluna melirik Nisa sebelum menjawab. "Tekanan fasilitas katanya naik. Beberapa rumah bocor. Airnya keruh. Warga mulai sakit kulit."
Arman dan tim saling pandang.
"Apakah ada kejadian lain?" tanya Arman hati-hati.
Aluna ragu. Apakah ia harus menceritakan tentang sosok di danau? Tentang jejak kaki basah? Tentang longsor yang muncul tepat saat mereka hendak pergi? Ia memilih versi yang lebih bisa diterima.
"Ada longsor yang nutup jalan utama," katanya. "Dan ... ada satu pemuda hilang."
Di ruang rapat, Riri menutup mulutnya.
Arman menarik napas dalam. "Luna. Kami butuh informasi langsung dari lapangan. Foto. Video. Apa pun."
"Pak, kami sebenarnya mau pulang—"
"Justru itu," potong Arman. "Kalian sudah di sana. Ini kesempatan."
Kesempatan. Kata itu terdengar aneh di telinga Aluna.
"Kami tidak meminta kalian melakukan hal berbahaya," lanjut Arman cepat. "Hanya observasi. Catat kondisi. Wawancarai warga jika bisa."
Nisa berbisik pelan, "Tanya kompensasi."
Aluna hampir tersenyum dalam situasi yang tidak tepat.
"Pak, situasinya ... tidak biasa," katanya jujur.
Di ruang rapat, Dion berkata pelan, "Kalau memang ada yang ditutup-tutupi, kita harus tahu sebelum proyek jalan."
Arman mengangguk, lalu kembali fokus pada panggilan. "Luna. Kamu percaya sama tim ini, kan?"
Aluna terdiam. Di luar kamar, angin kembali berembus. Kabut mulai turun meski belum sore. Ponselnya tiba-tiba bergetar aneh, seperti ada notifikasi lain yang masuk bersamaan.
Namun layar tetap menampilkan panggilan.
"Pak ..." ia berkata perlahan, "kalau kami kirim data... pastikan ini bukan cuma untuk laporan internal."
Arman terdiam sejenak. "Maksudmu?"
"Kalau memang ada yang salah, jangan ditutup."
Di ruang rapat, semua orang saling pandang.
Arman menjawab tegas, "Kalau ada yang membahayakan warga, kita tidak akan diam."
Beberapa detik hening.
Akhirnya Aluna berkata, "Baik, Pak. Kami akan coba cari tahu."
Panggilan berakhir.
Di kota, rapat berubah arah.
"Siapkan dokumen pendukung," kata Arman. "Dan standby komunikasi."
Sementara di desa, Aluna menurunkan ponselnya perlahan.
Nisa menatapnya. "Kita beneran mau ngelakuin ini?"
Aluna memandang ke luar jendela. Kabut kini menutup hampir seluruh jalan desa. Di kejauhan, suara dentuman rendah terdengar lagi dari arah fasilitas.
"Kita mau pulang pun nggak bisa," katanya pelan.
Ponselnya tiba-tiba menyala sendiri.
Bukan panggilan.
Bukan pesan.
Melainkan kamera yang aktif tanpa disentuh.
Di layar itu, di balik kabut luar jendela ...
Siluet tinggi berdiri diam.
Menghadap langsung ke arah rumah.
Seolah mendengar percakapan mereka.
Seolah tahu.
Bahwa sekarang ...
Mereka bukan hanya tamu.
Melainkan mulai menggali sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.
Other Stories
Desa Ria
Tidak ada yang bisa kupercaya. Di sini, di desa sialan ini, tidak ada lagi yang bisa kuper ...
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...
Queen, The Last Dance
Di panggung megah, di tengah sorak sorai penonton yang mengelu-elukan namanya, ada air mat ...
Cinta Kadang Kidding
Seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada teman sekelas saat sedang menempuh pendidika ...
Adam & Hawa
Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...
Youtube In Love
Wahyu yang berani kenalan lewat komentar YouTube berhasil mengajak Yunita bertemu. Asep pe ...